JURNALPOST - Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) sebagai salah satu lembaga pelatihan dan sertifikasi sektor migas yang bernaung di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ternyata juga mempunyai kilang sebagai sarana teknis proses pembelajaran dalam pelatihan dan sebagai tempat uji kompetensi serta sertifikasi LSP PPSDM MIGAS. Tak mengherankan jika Kilang PPSDM Migas terus menjadi jujukan mahasiswa untuk melakukan Kunjungan Lapangan.
Selain untuk pengembangan SDM industri migas, kilang PPSDM Migas juga berfungsi untuk Unit Pengolahan Minyak Bumi Crude Distilling Unit. Kilang yang dibangun oleh De Dordtsche Petroleum Maatschappij pada zaman Belanda ini didirikan pada tahun 1889 dan merupakan kilang tertua ke-tiga di Indonesia setelah kilang Pangkalan Berandan Sumatera yang dibangun De Koninklijke pada tahun 1891 dan kilang Wonokromo, Surabaya, yang juga dibangun oleh De Dordtsche Petroleum Maatschappij pada tahun 1889.
Yoeswono, Sub Koordinator Sarana Prasarana Pengembangan SDM menjelaskan bahwa saat ini pengolahan minyak bumi pada unit kilang di PPSDM Migas hanya dilakukan sampai pada tahapan Proses Primer - Crude Distilling Unit (CDU) karena unit proses yang tersedia pada kilang di PPSDM Migas hanya unit proses untuk pengolahan minyak pada tahapan CDU saja. Proses ini dilakukan pada unit distilasi atmosferik. “Unit distilasi atmosferik adalah suatu unit yang bertugas melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pengolahan minyak mentah (crude oil) menjadi produk- produk minyak bumi berdasarkan trayek titik didihnya pada tekanan atmosferik”, jelas Yoeswono.
Menurut Yoeswono sumber bahan baku (yakni campuran minyak mentah) berasal dari lapangan Kawengan dan Ledok yang diambil dari sumur milik PT. Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.
“Produk yang dihasilkan kilang PPSDM Migas adalah Solvent dengan brand Pertasol (CA, CB dan CC), Bahan Bakar Solar dan Long Residu. Untuk Produk Solar didistribusikan ke Terminal BBM Cepu (Semarang Group) melalui jalur pipa, sedangkan Pertasol dan Residu didistribusikan melalui truk – truk tangki”,
“Bahan baku crude oil yang kita olah sebanyak 1.800 bbl/day (avg) diolah di Kilang PPSDM Migas menghasilkan Solvent dengan brand Pertasol CA sebesar 183 bbl/day, Pertasol CB sebesar 115 bbl/day, Pertasol CC sebesar 26 bbl/day; Bahan Bakar Solar sebanyak 954 bbl/day; serta Long Residue 402 bbl/day”. tutup Yoeswono.
Meskipun terhitung kilang tertua di Indonesia, Kilang PPSDM Migas sampai saat ini tetap memberikan sumbangsih yang besar untuk pengembangan SDM sektor minyak dan gas karena sebagai tempat pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang sesuai SKKNI mulai dari Operasi Crude Distilling Unit, Teknisi Operasi Vacuum Distilling Unit, Blending, Loading Master, Inspektur Tangki Timbun, Petugas Pengambil Contoh, Boiler, Inspektur Pipa Penyalur, Petugas Pengukur Isi Tangki dan Sistem Manajemen Lingkungan.
Maka tak mengherankan jika PPSDM Migas menjadi jujukan universitas – universitas di Indonesia untuk melakukan baik itu kunjungan lapangan maupun pelatihan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswanya karena selain dapat melihat langsung proses kilang juga tentunya para pengajar sudah sangat profesional karena Kilang PPSDM Migas juga masih beroperasi hingga kini.
Salah satunya adalah PEM Akamigas (Politeknik Energi dan Mineral) Akamigas yang merupakan institusi pendidikan vokasi khususnya di bidang energi, minyak dan gas bumi selalu melakukan kerja sama untuk melatih mahasiswanya di PPSDM Migas salah satunya dnegan mengadakan kunjungan lapangan.
Pada kunjungan kali ini, PEM Akamigas melakukan kunjungan lapangan di Kilang PPSDM Migas dengan 55 mahasiswa dari Program Studi Teknik Pengolahan Migas yang terbagi dalam dua gelombang kunjungan. Zami Furqon, Dosen Prodi Teknik Pegolahan Migas menjelaskan bahwa tujuan kunjungan ini adalah agar para mahasiswa mendapatkan pemahaman terhadap industri pengolahan migas.
“Ada tiga tujuan yang kami harapkan dengan kunjungan ke Kilang PPSDM Migas ini yaitu adanya pemahaman yang menyeluruh terhadap industri pengolahan migas. Kedua, adanya pemahaman antara teori yang didapatkan di kelas dengan praktek real di lapangan. Dalam hal ini Kilang PPSDM Migas sangat representatif sehingga kami mengirimkan para mahasiswa untuk melakukan kunjungan lapangan”, ungkap Zami. Selain itu, mahasiswa juga harus mengamati metode operasional, budaya kerja serta penerapan K3 di kilang industri migas yang identik dengan resiko kerja tinggi, tambah Zumi ketika dihubungi melalui pesan singkat pada Selasa (13/04/2021).
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda