Oleh: Andiena Awaliatu Nissa, Mahasiswa Prodi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University
JurnalPost.com - Liburan menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh semua orang untuk menghabiskan waktu mereka bersama keluarga, teman, atau pasangan entah hanya di rumah saja ataupun mengunjungi tempat wisata.
Bogor sering kali menjadi tujuan wisata bagi masyarakat dalam maupun luar Bogor. Terdapat banyak pilihan wisata yang dapat dikunjungi entah wisata yang menyajikan wisata alam, rekreasi, kuliner, dan sebagainya. Salah satu wisata alam yang memiliki banyak peminatnya adalah wisata air terjun atau curug yang banyaknya terdapat di daerah pegunungan.
Wisata air terjun atau curug ini banyak didatangi masyarakat yang ingin menikmati segarnya air terjun yang dikelilingi oleh pemandangan alam yang masih asri. Di daerah Pamijahan, Bogor ini ada banyak pilihan objek wisata air terjun dan apabila ingin menikmati semuanya dan berencana menginap di daerah wisata ini, terdapat banyak penginapan yang dapat ditempati oleh wisatawan. Dari banyaknya air terjun atau curug yang ada di Bogor, penulis memilih untuk mendatangi Curug Cigamea pada hari Minggu, 25 Februari 2024 yang berada di daerah Pamijahan, Kabupaten Bogor.
Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan jika menjadikan curug sebagai destinasi wisata liburan seperti menyiapkan uang tunai, karena umumnya curug berada di daerah pegunungan sehingga sinyal internet sering tidak stabil. Selain itu di loket tiket curug, jarang atau mungkin tidak tersedia QR untuk pembayaran secara qris.
Selain uang tunai, pakaian ganti juga harus dipersiapkan mengingat curug merupakan objek wisata air. Botol air dan perbekalan juga sebaiknya dipersiapkan jika ingin lebih berhemat.
Untuk mencapai Curug Cigamea, dari Stasiun Bogor dapat menggunakan transportasi umum Bis Kita di halte terdekat yang tentunya harus menyiapkan kartu e-Money atau sejenisnya agar bisa menaiki Bis Kita dengan ongkos relatif murah yaitu Rp. 4000 atau angkutan kota (angkot) untuk mencapai Terminal Bubulak. Setelah sampai di Terminal Bubulak, lalu perjalanan dilanjut dengan menggunakan angkot biru jurusan Jasinga-Bogor, lalu turun di pertigaan Cibatok dan lanjut menaiki angkot nomor 52 jurusan Gunung Picung.
Namun karena lokasi curug berada di lokasi yang lebih jauh dari titik pemberhentian terakhir angkot 52, maka perlu membayar lebih untuk bisa diantarkan sampai pintu masuk Curug Cigamea. Apabila menggunakan angkutan umum angkot, tentu saja uang tunai yang pas harus dipersiapkan karena tidak tersedia pembayaran lain.
Menaiki angkutan umum memang akan lebih mahal dan waktu yang dihabiskan di jalan akan lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Namun jika ingin mengetahui Bogor yang sebenarnya dan memiliki waktu liburan lebih banyak, penulis lebih merekomendasikan untuk menaiki angkutan umum. Karena hal itu akan mengurangi jumlah kendaraan pribadi sehingga dapat mengurangi kemacetan yang menjadi permasalahan di wilayah Bogor Barat ini. Selain itu juga akan membatu perekonomian masyarakat sekitar.
Membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan dari Stasiun Bogor sampai ke Curug Cigamea jika menggunakan kendaraan umum. Selama perjalanan menuju curug, penulis disajikan dengan pemandangan hijau yang cantik dan menyegarkan. Penulis sampai di curug pukul 9 pagi, di mana jumlah pengunjung masih sedikit dan udara pun masih terasa sejuk. Curug Cigamea ini memiliki tiga pintu masuk, dan penulis menyarankan untuk memilih pintu masuk utama yang memiliki jarak paling dekat dengan curug dibandingkan dua pintu masuk lainnya.
Dari hari Minggu-Kamis dan Sabtu Curug Cigamea akan buka dan tutup pada hari Jumat seperti yang dikatakan oleh Pengelola Curug Cigamea. ”Hari libur atau tanggal merah tetap buka, justru di tanggal merah itu ramai pengunjungnya.” Ungkap penjaga loket tiket Curug Cigamea. Untuk harga tiket sendiri, mulai dari anak-anak umur 7 tahun sampai dewasa dikenakan tarif yang sama yaitu Rp. 10.000; sedangkan untuk anak-anak di bawah 7 tahun tidak dikenakan biaya.
Untuk mencapai lokasi air terjun, penulis harus berjalan di jalur yang sudah tersedia sekitar 10 menit dari pintu masuk. Jalan setapak menuju lokasi dibuat berliuk agar tidak terlalu curam karena rutenya menurun. Setengah perjalanan setapak dari kejauhan Curug Cigamea sudah Nampak dan semakin dekat suara riuh air mulai terdengar.
Sesampainya di lokasi, penulis disajikan pemandangan indah dari Curug Cigamea yang ternyata tidak hanya ada satu, melainkan ada dua air terjun yang berada di lokasi yang sama. Tidak jauh dari air terjun, terdapat balongan atau penampungan air yang berasal dari curug. Selain berenang, pengunjung juga dapat memakai jasa foto untuk mengabadikan momen di Curug Cigamea.
Ada waktu-waktu tertentu di mana curug dalam kondisi rawan seperti ketika curah hujan tinggi yang menyebabkan aliran air menjadi deras, pengunjung dilarang untuk berenang untuk mencegah adanya kecelakaan.
Untuk terus menikmati keindahan alam ini, tentunya semua orang perlu bekerja sama untuk menjaga kelestarian alam di manapun tempat yang didatangi. Perbuatan seperti buang sampah sembarangan atau merusak fasilitas adalah pantangan untuk menjaga alam.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda