Oleh: Manda Nur Iryanti Habibah (Mahasiswa Program Studi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi, IPB University)
Persiapan Menuju Destinasi Wisata JurnalPost.com - Di tengah-tengah kesibukan yang terus saja melanda dan berdatangan, terkadang jiwa pun membutuhkan beberapa ruang untuk merefleksikan diri, salah satu nya yaitu dengan berlibur sebagai sebuah pelarian yang tidak hanya menjauhkan diri dari rutinitas tetapi juga mendekatkan hati pada keindahan yang belum terjamah dalam diri. Itulah yang mendorong saya untuk memulai perjalanan dari rumah menuju ke sebuah surga tersembunyi yang berasa di antara gugusan pulau kecil di sebelah barat laut Lombok, yaitu Gili Trawangan.
Tujuan saya pergi ke Gili Trawangan tepatnya terletak di Nusa Tenggara Barat, Lombok, Indonesia, karena tempat ini dikenal dengan keindahan alamnya yang sungguh menakjubkan dan memanjakan mata, pantai nya yang dikenal indah, tempat ini pun sebagai tempat yang tenang dan hening, jauh dari kebisingan kota dan kesibukan sehari-hari, yang dapat memberikan kesempatan untuk bersantai dan memulihkan pikiran yang stres.
Sebelum melakukan perjalanan yang jauh, saya memiliki rencana perjalanan, dengan beberapa tahapan yang dilalui, hingga saya sampai di tempat tujuan destinasi yang saya datangi. Tahapan pertama yang saya lakukan yaitu berdiskusi bersama dengan keluarga saya, mengenai tempat-tempat apa yang cocok untuk dikunjungi, opsi pertama saya dan keluarga memilih beberapa opsi pantai yang akan dikunjungi, dan akhirnya memilih untuk pergi berlibur ke Gili Trawangan, Lombok. Lalu tahapan selanjutnya, saya dan keluarga mencari tahu tempat tersebut untuk memastikan apakah tempat destinasi ini cukup aman untuk berlibur bersama keluarga. Inilah kisah perjalanan saya untuk sampai ke destinasi wisata.
Perjalanan Menuju Salah Satu Surga Tropis di Indonesia, Yakni Gili Trawangan Hari itu, langit Cibinong yang masih tampak gelap, sebagai awal perjalanan yang baik. Persiapan telah dilakukan beberapa hari sebelumnya, memastikan segala sesuatunya aman. Beberapa koper dan tas sudah siap diangkut, beberapa diantaranya berisi pakaian, makanan ringan, kamera, dan beberapa perlengkapan lainnya untuk menuju ke tempat tersebut. Perjalanan dimulai dengan meninggalkan rumah di Cibinong pagi dini hari, untuk mengejar penerbangan pada jam 06.00 pagi dari Bandara Soekarno-Hatta menuju tujuan Bandar Udara Zainuddin Abdul Madjid, Lombok.
Perjalanan dari Cibinong menuju bandara menggunakan mobil yang penuh dengan barang-barang perlengkapan liburan, biasanya jalan tol dipenuhi beberapa kendaraan beroda empat maupun lebih, kali ini perjalanan saya dan keluarga terasa lancar. Semangat dan antisipasi mengalahkan rasa kantuk dan lelah yang datang. Sesampainya di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, menaruh barang-barang koper besar di bagasi pesawat, lalu melanjutkan melakukan pengecekan identitas atau tiket, lalu menunggu untuk naik ke dalam pesawat pada jam 06.00 kurang.
Sambil menunggu jam terbang pesawat, tiba-tiba perut saya berbunyi dan terasa lapar, akhirnya membeli makanan di salah satu restoran makanan cepat saji di bandara. Tidak lama kemudian baru saja saya menyuap nasi ke mulut, para penumpang pesawat dengan tujuan Lombok, dipanggil untuk persiapan masuk ke dalam pesawat. Setelah masuk ke dalam pesawat dan melakukan pengecekan tiket kembali, saya dan keluarga duduk sesuai dengan nomor yang tertera dalam tiket.
Setelah saya dan keluarga duduk di dalam pesawat, terdapat seorang ibu-ibu yang sedang mengobrol dengan teman-temannya dengan suara yang lantang di dekat tempat duduk saya dan keluarga, yang tentunya sedikit menggangu penumpang lain juga, karena pada saat itu pramugari dan pramugara sedang memberikan instruksi atau petunjuk seputar keselamatan sebelum pesawat lepas landas. Namun tidak lama, ada yang menegur ibu-ibu tersebut dan langsung mengecilkan suaranya.
Dari setiap kilometer yang dilewati pesawat semakin menambah rasa penasaran tentang keindahan yang akan ditemui nantinya. Selama perjalanan terlihat pemandangan kepulauan Indonesia memang tak pernah gagal memukau untuk dilihat. Saya terpaku pada jendela pesawat menikmati pemandangan langit biru yang tak terbatas dan awan-awan putih seperti kapas yang mengelilingi badan pesawat. Sekitar hampir dua jam lebih di pesawat. Akhirnya sampailah di Bandar Udara Zainuddin Abdul Madjid, Lombok. Sesampainya disana kami langsung mengambil barang-barang di bagasi pesawat yang memakan waktu.
Perjalanan selanjutnya, saya dan keluarga menyewa mobil untuk akomodasi selama dua hari disana, yang sebelumnya sudah di pesan via online melalui teman dekat kakak saya. Lalu kami sekeluarga melanjutkan perjalanan untuk ke destinasi wisata Gili Trawangan. Selama perjalanan kami menuju tempat wisata Gili Trawangan, kami melihat pemandangan kota Lombok, ada hal menarik yang saya melihat selama perjalanan, yaitu ada terdapat beberapa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengenakan baju hitam-hitam di hari Jumat, yang ternyata merupakan pakaian adat khas disana. Lalu, setelah hampir satu setengah jam di perjalanan, akhirnya mobil sewaan ini berhenti. Saya mengira sudah sampai di tempat tujuan.
Namun ternyata, belum sampai pada destinasi wisata yang dituju, ternyata kami harus menyambung kendaraan untuk sampai di Pulau Gili Trawangan ini. Kendaraan atau transportasi yang digunakan yaitu menggunakan Speed Boat dari titik berhenti di Pelabuhan Teluk Nare Lombok Utara, menuju ke Gili Trawangan. Di pelabuhan tersebut saya dan keluarga menunggu Speed Boat (Perahu Cepat) yang siap untuk diberangkatkan. Tidak lama Speed Boat ini sudah siap, saat Speed Boat ini ingin diberangkatkan, ternyata ada satu penumpang wanita yang ingin bergabung untuk naik Speed Boat, karena muatan maksimal Speed Boat ini sepuluh orang, karena saya dan keluarga masih berjumlah lima orang, akhirnya ia bergabung bersama kami.

Selama di perjalanan ini kapal tersebut, saya berkenalan dengan seorang penumpang wanita, bernama Tsania yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Kakak Tsania memiliki logat yang sopan, memiliki senyum yang ramah dan mata yang indah. Tsania menceritakan keindahan di tempat tinggalnya yang beragam di Solo. Ia datang sendiri dengan tujuan untuk berlibur ke Gili Trawangan karena keindahannya. Namun ada pengalaman yang tidak akan terlupakan oleh saya dan keluarga yaitu, pada saat di perjalanan menuju wisata tersebut, Speed Boat yang kami naiki berhenti secara mendadak ditengah-tengah lautan yang cukup dalam. Kami semua yang ada di dalam Speed Boat panik.
Tidak hanya saya yang merasakan pengalaman yang mungkin tidak akan pernah terlupakan ini, Kak Tsania pun merasakan hal sama, mengalami kepanikan terkait dengan Speed Boat yang mati secara mendadak di tengah lautan yang dalam. Apalagi hal yang mengejutkan kami sekeluarga dan Kak Tsania baru pertama kali menaiki Speed Boat. Namun, sang supir Speed Boat terus mencoba untuk menyalakan kendaraan ini, dibantu dengan temannya. Hampir lima menitan, Speed Boat akhirnya menyala, mereka mengatakan penyebab Speed Boat ini berhenti mendadak karena terdapat sampah-sampah yang menyangkut di bawah perahu.
Sekitar hampir 20 menit berlalu diperjalanan, tibalah Speed Boat kami di Gili Trawangan. Dengan rasa yang masih takut akan kejadian tersebut. Setelah itu, kami langsung disambut oleh pasir putih yang halus dan air laut yang jernih berwarna biru kristal. Meski pulau ini kecil, tapi memancarkan keindahan yang sangat menakjubkan. Dan sedikit menghilangkan rasa takut dari peristiwa sebelumnya. Namun 10 menit setelah kami sampai di Gili Trawangan cuaca mendung, dan turun gerimis.
Akhirnya kami mencari rumah makan terdekat di sekeliling pantai, sampai menunggu hujan mereda. Saat hujan sudah reda. Saya dan kakak saya ingin mencoba menaiki Cidomo, kemudian yang lainnya menunggu di rumah makan sambil beristirahat, dan mengabadikan momen di tempat tersebut. Cidomo (Cikar Dokar Motor) yang mirip dengan andong atau delman yang menjadi kendaraan atau transportasi tradisional khas dari Lombok untuk berkeliling pulau ini. Lagi-lagi saat saya ingin memilih Cidomo mana yang saya ingin naiki, tiba-tiba kusir dari Cidomo lain menarik saya dan kakak saya untuk menaiki Cidomo tersebut yang dimana di dalam Cidomo tersebut sudah ada penumpang lain. Hal ini dikarenakan masih kurang penumpang untuk dua kursi belakang.
Dari permasalahan itu, saya dan kakak saya tidak mau berpikir terlalu lama akhirnya saya langsung ikut naik dan bergabung di dalam cidomo tersebut. Saya pun memulai percakapan dengan penumpang lain, Ia bernama Ade Safriana dan anak perempuannya. Ia berasal dari Demak, Jawa Tengah. Ia datang bersama dengan travel nya. Selama perjalanan saling bertukar cerita. Tidak terasa, ternyata sudah selesai mengelilingi pulau ini. Dan kemudian berakhirlah pertemuan singkat itu.
Pengalaman saya selanjutnya, menaiki cidomo yaitu memberikan kesempatan untuk saya dan kakak saya menikmati keindahan pemandangan pulau lebih santai dan nyaman, berbeda dari pengalaman menggunakan kendaraan bermotor, lalu tidak hanya saya yang merasakan pengalaman cidomo tersebut, Kak Ade pun merasakan hal yang sama karena ia pun baru pertama kali mencoba naik cidomo yang langsung memberikan kesan menarik di dalam hidupnya karena bisa melihat keindahan sekitar pulau ini.
Lalu perjalanan saya dan kakak saya selanjutnya, yaitu kembali bertemu dengan yang lain dan menuju ke hotel untuk Check-in, dan kembali menggunakan Speed Boat, namun kali ini aman dan tidak ada gangguan selama melintasi pulau tersebut. Kami pun sekeluarga berpisah dengan Kak Tsania karena ia menginap di hotel yang berbeda. Lalu hal yang menjadi perbedaan disana yaitu, perbedaan waktu di Lombok, satu jam lebih cepat (WITA) Waktu Indonesia Bagian Tengah dengan WIB (Waktu Indonesia Bagian Barat), selama perjalanan di jam 18.00 sore langit masih menerangi jalan.
Perjalanan kami langsung ke hotel dan beristirahat. Tiba-tiba terdengar suara notif dari handphone, yang menginformasikan bahwa terdapat pemindahan pesawat dari salah satu maskapai penerbangan, yang membuat sedikit kepanikan di malam itu. Namun tidak lama, maskapai penerbangan itu memberikan informasi atau tahapan untuk pindah ke pesawat lain di waktu yang lebih cepat. Keesokan hari nya perjalanan yang dilalui yaitu mengelilingi tempat hotel dan melihat keindahan sunrise di pagi hari yang dapat memanjakan mata. Kami melanjutkan sarapan di hotel, lalu membeli beberapa oleh-oleh khas Lombok, dan menyiapkan barang-barang untuk pulang ke Jakarta.
Perjalanan selanjutnya, ke Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok. Setelah dua jam lebih di perjalanan, sampailah kami di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Dan kami melanjutkan perjalanan ke rumah Cibinong dengan menggunakan mobil yang di pesan via online.
Akhir Perjalanan Wisata Dari perjalanan yang panjang Cibinong ke Gili Trawangan ini bukan hanya tentang melihat keindahan alam nya saja, melainkan tentang pertemuan dengan orang-orang baru, yang mengingatkan saya bahwa di setiap orang yang kita temui merupakan bagian dari cerita perjalanan kita. Setiap langkah membawa pelajaran dan juga kenangan, seperti hal nya kejadian mengenai permasalahan sampah di tengah laut Gili Trawangan menjadi masalah yang cukup serius, kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sepatutnya menjaga kelestarian alam Indonesia. Lalu, Indonesia juga merupakan surga yang belum sepenuhnya dapat diungkap, dan petualangan sejati terletak pada setiap pertemuan yang ada dan hadir di cerita perjalanan yang kita lalui.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda