JurnalPost.com - Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial ( Kessos ) Fisip USU, Asifa Jelita br Sebayang melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) II di Masyarakat Kelurahan Hamdan, Kec. Medan Maimun, lingkungan 10. PKL ini tidak terlepas dari bimbingan supervisor sekolah yaitu Hairani Siregar, S.sos, MSP. Kegiatan PKL II ini berlangsung selama 3 bulan yang di mulai dari tanggal 03 oktober 2022 dan berakhir pada 23 Desember 2021.
Intervensi yang dilakukan ialah menggunakan metode sosial group work. Metode sosial group work ialah suatu metode yang dilakukan terhadap seseorang dalam suatu kelompok ( dua orang atau lebih ) untuk meningkatkan keberfungsian sosial dari individu tersebut dan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat. Metode Group Work didasarkan pada pengetahuan tentang kebutuhan klien dan keterkaitan di antara mereka. Group Work adalah suatu metode untuk mengurangi atau menghilangkan hambatan untuk berinteraksi sosial dan mencapai tujuan-tujuan yang sesuai dengan norma masyarakat ( Skidmore ; 1994 ; 73 ). Dalam metode social Group Work ini yang sangat ditekankan ialah keaktifan setiap angota kelompok itu sendiri sehingga peran dari seorang pekerja sosial di sini ialah memfasilitasi anggota kelompok untuk terlibat secara aktif dan berkolaborasi dalam proses pemecahan masalah melalui kelompok.
Ibu-ibu rumah tangga merupakan target klien di PKL II ini. Adapun alasan mengapa memilih ibu-ibu rumah tangga ialah praktikan ingin melihat bagaimana permasalahan sosial yang di alami oleh ibu-ibu rumah tangga yang berada di lingkungan 10, kelurahan Hamdan.Selain melakukan intervensi kepada ibu-ibu rumah tangga, praktikan juga menempelkan poster yang bertema “Membuang Sampah Pada Tempatnya” . Praktikan memilih tema ini karena melihat kondisi lingkuangan yang sangat dekat dengan sungai membuat masyarakat banyak yang membuang sampah ke sungai. Sehingga poster tersebut di buat sebagai bentuk ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya.
Adapun tahapan intervensi yang dilakukan dengan klien ini ialah :
1. Assessment
Di tahap ini saya mendatangi ibu-ibu rumah tangga untuk perkenalan dan mengatakan maksud tujuan saya. Lalu kami menetap kan waktu untuk dapat berkumpul bersama. Pada saat sudah berkumpul, dikarenakan saya sudah mendatangi rumah mereka satu persatu dan berbincang dengan mereka sehingga di perkumpulan ini kami sudah saling mengenal dan saya dapat langsung menanyakan kepada mereka kira - kira apa yang menjadi masalah mereka supaya dapat kita selesaikan bersama - sama. Lalu masing- masing di mereka saya persilahkan untuk berbicara. Dari semua masalah yang mereka katakan, mereka berpendapat bahwa masalah utama mereka saat ini ialah kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi harga- harga kebutuhan semuanya sudah naik.
2. Perencanaan
Setelah mendapatkan pokok permasalahan di tahap asesmen maka kami kembali membuat janji untuk berkumpul untuk membahas mengenai perencanaan dari solusi yang mereka hadapi. Setiap ibu rumah tangga saya persilahkan untuk berbicara memberikan pendapat yang menurutnya solusi apa yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Dari pendapat-pendapat yang mereka utarakan, akhirnya dipilihlah satu solusi yang dianggap paling baik yaitu mengadakan pelatihan sabun cuci piring dan pelatihan pembuatan karbol (Pembersih Lantai) untuk bisa menjadi ide usaha bagi mereka , tapi yang lebih penting ialah setidaknya mereka dapat lebih menghemat yang keluar nanti nya karna bisa membuat sabun cuci dan pembersih lantai piring sendiri dengan modal yang cukup hemat.
3. Intervensi
Di tahap intervensi, kami melakukan pertemuan tiga kali. Pertemuan pertama ialah pelatihan pembuatan sabun cuci piring, pertemuan yang kedua ialah pengemasan dan pembagian sabun cuci piring kepada ibu rumah tangga ini. Pembuatan dan pengemasan tidak bisa dilakukan dalam satu hari yang sama karena sabun cuci piring yang sudah dibuat harus didiamkan selama 3 hari untuk bisa digunakan. Pertemuan ketiga ialah pembuatan karbol atau pembersih lantai. Pembersih lantai ini bisa langsung digunakan setelah proses pembuatan. Adapun yang mengajari ibu-ibu rumah tangga dalam pelatihan – pelatihan tersebut ialah praktikan sendiri.
4. Monitoring
Monitoring merupakan tahapan dimana praktikan melihat bagaimana keberhasilan program yang dijalankan. Karena dari awal praktikan menggunakan pendekatan Methodology Participatory Assessment ( Sheafor (2003) mengemukakan bahwa MPA merupakan tenik untuk melakukan asesmen terhadap permasalahan dengan melibatkan masyarakat. Masyarakat yang menentukan, merencanakan, dan memutuskan permasalahan yang dihadapi). Jadi dalam pelaksanaan program tidak ada kendala yang cukup memberatkan karena masyarakat yang terlibat dapat melakukan perannya dengan baik dan semuanya berpartisipasi dalam program tersebut.
5. Terminasi
Tahapan terakhir dalam intervensi group work ini ialah terminasi. Di tahap ini praktikan melihat membandingkan bagaimana perbedaan sebelum dan sesudah pelaksanaan program. Praktikan melihat bahwa mereka sudah ada keinginan untuk mencoba membuat sabun cuci piring dan pembersih lantai tersebut sendiri untuk penggunaan pribadi maupun usaha. Namun karena keterbatasan waktu praktikan dalam PKL ini, praktikan tidak dapat melihat secara langsung bagaimana keberhasilan usaha mereka tersebut.
Demikianlah tahapan intervensi yang saya lakukan di PKL II. Besar harapan saya agar kegiatan pkl II saya ini membawa dampak yang positif bagi masyarakat lingkungan 10 kelurahan Hamdan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda