JurnalPost.com - Jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan salah satu sumber karbohidrat yang terpenting di dunia, selain gandum dan padi. Bulir jagung digunakan sebagai pangan pokok bagi penduduk Amerika Tengah, Amerika Selatan, sebagian penduduk Afrika, dan beberapa daerah di Indonesia. Sehingga, produksi jagung terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut.
Gambar 1. Serangan Hama pada Jagung
Di Indonesia, dalam produksi tanaman jagung masih mengalami kendala salah satunya serangan hama khususnya penggerek tongkol (H. armigera) atau CEW dan penggerek batang (O. furnacalis) atau ACB. Di Amerika, untuk mengatasi masalah tersebut mereka telah mengembangkan jagung transgenik khususnya jagung Bt. Jagung Bt adalah jagung yang telah disisipi gen dari bakteri Bacillus thuringiensis melalui rekayasa genetika. Dari bakteri tersebut diambil gen penyandi protein Bt (delta endotoksin). Gen ini dapat membunuh larva hama lepidoptera sehingga jagung Bt akan tahan terhadap hama.
Tanaman jagung Bt yang telah ditanam di berbagai negara lain memberikan keuntungan dan manfaat bagi para petani berupa penurunan pemakaian insektisida dan ketahanan terhadap serangga hama target. Selain itu tanaman jagung Bt memiliki ketahanan terhadap jamur toksin dari Fusarium (menyebabkan tongkol jagung busuk). Sedangkan, jagung non-Bt tidak tahan terhadap jamur toksin tersebut sehingga mengalami kerusakan berat. Berdasarkan manfaat dan keuntungan tersebut, jagung Bt memiliki prospek dan peluang untuk dimanfaatkan di Indonesia.
Kekhawatiran bahwa tanaman ini mungkin dapat menimbulkan risiko terhadap lingkungan dan kesehatan manusia tidak dapat dihindari. Namun, penelitian menunjukkan bahwa penanaman jagung Bt tidak berpengaruh terhadap serangga berguna seperti coccinellid, nabid, laba-laba, chtysopid, dan aman terhadap burung puyuh Northern Bobwhite. Sehingga, jagung Bt tidak berbahaya bagi lingkungan. Sedangkan, di bidang kesehatan belum ada penelitian lebih lanjut mengenai risiko jagung Bt. Melalui pendekatan kehati-hatian (precautionary approach), kemungkinan timbulnya risiko tersebut dapat diminimalkan.
Saat ini, jagung Bt belum ditanam di Indonesia. Seandainya suatu ketika Indonesia akan menanam jagung transgenik, perlu dilakukan studi pengkajian risiko keamanan hayati dan sosial ekonomi lebih dahulu, sebelum dikomersialkan. Dalam melakukan pengkajian risiko keamanan hayati di Indonesia diperlukan suatu sistem yang terstruktur. Hal ini merupakan tantangan dalam pemanfaatan tanaman transgenik khususnya jagung Bt bagi Indonesia.
Oleh: Riska Kurnelia Ananda, KBK Kimia Hayati, Prodi Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia
Referensi: Fuller, G. (1999). Safety assessment of genetically modified corn: a case study. Regional Symposium on Genetically Modified Foods: Benefits and Awareness. Bangkok, March 17-18, 1999. McLean, M.A. and D.J. MacKenzie. (2001). Principles and practice of nvironmental safety assessment of transgenic plants. Materials presented for Food Safety and Environmetal Assesment Workshop. Bogor, April 10-12, 2001. Munkvold, G. P., Hellmich, R. L., & Rice, L. G. (1999). Comparison of fumonisin concentrations in kernels of transgenic Bt maize hybrids and nontransgenic hybrids. Plant disease, 83(2), 130-138. Suprapto, H.S. dan H.A.R. Marzuki. (2002). Bertanam Jagung. Cetakan ke-22 (edisi revisi). Jakarta: Penebar Swadaya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda