Temanggung, JurnalPost.com - Kelompok 17 KKN MIT UIN Walisongo Semarang turut serta dalam proses pembuatan disinfektan serta arang sekam alami untuk peternakan dan pertanian di Desa Mondoretno, Senin (18/7/22).
Dalam proses pembuatannya, Kelompok 17 KKN UIN Walisongo dipandu dan didampingi oleh anggota Pos Penyuluhan Desa. Kegiatan tersebut dilakukan di Kawasan Terpadu Alam Mondoretno (Almond).
Saat memandu, Rois Maqsum (29), selaku anggota pos penyuluhan desa mengungkapkan ada dua produk yang akan dihasilkan dari kegiatan ini, pertama adalah disinfektan alami dan yang kedua yakni arang sekam.
"Dari sekali proses ini nantinya kita menghasilkan dua produk sekaligus yaitu disinfektan alami untuk pestisida nabati maupun penyemprotan dan juga arang sekam yang bisa dipakai sebagai media tanam," jelas Rois.
Proses pembuatan disinfektan alami dan arang sekam membutuhkan waktu sekitar 6 hingga 7 jam. Selain itu dalam proses pembuatannya pun harus sering dicek agar sekam padi tidak menjadi abu.
Lebih lanjut Rois pun menjelaskan secara rinci terkait proses pembuatan kedua produk ini. Untuk bahan dan alat sangat sederhana yakni hanya menggunakan sisa sekam padi sementara alatnya berupa tungku.
"Pertama kita buat sumber api dahulu di dalam tungku. Kemudian di sekitar tungku itu di luarnya kita taruh beberapa sekam padi hingga menutupi tungku. Secara teori, sekam itu terbakar, asapnya masuk lewat tungku kemudian disalurkan pipa, lalu lewat di bagian pendinginan. Disitu kuncinya yang bisa merubah asap menjadi cair. Nah di outlet nya itu nanti keluar cairan yang merupakan hasil dari pendinginan. Sedangkan hasil dari pembakaran sekam padinya kita namakan arang sekam," tambahnya.
Setiap satu proses pembakaran sendiri dapat menghasilkan 3 karung arang sekam dan 1,5 liter asap cair.
"Dari 5 karung sekam ini jadi 3 karung arang sekam, ada penyusutan 2 karung. Sedangkan untuk asap cairnya itu kurang lebih 1,5 liter dari bahan 5 karung. Sudah cukup banyak jika digunakan untuk satu tangki semprot gendong," ujar Rois.
Anggota divisi Sosial dan Lingkungan, Silfa Maharani (21) mengatakan kegiatan ini dapat mensejahterakan petani dan juga peternak di Desa Mondoretno.
"Menurut saya produk-produk ini justru mensejahterakan masyarakat sendiri ya. Karena bahannya yang murah dan mudah didapat, kita bisa gunakan sisa hasil panen padi dan dimanfaatkan kembali. Dan satu kali proses bisa menghasilkan produk berkali lipat yang bisa dijual sebagai tambahan perekonomian juga," ungkap Silfa.
Terakhir Silfa berharap adanya kegiatan ini dapat menyadarkan masyarakat untuk memproduksi kebutuhan penunjang pertanian dan peternakan
"Untuk kami, semoga ilmu baru ini nantinya dapat di terapkan di desa masing. Sedangkan untuk masyarakat semoga bisa melanjutkan dan menggunakan produk sendiri, tentunya produk ini lebih ramah lingkungan tanpa bahan kimia," pungkasnya.
Reporter: Divisi Medkraf Kelompok 17 KKN MIT 14
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda