JurnalPost.com - Dalam rangka meningkatkan produktivitas hidup santriwati di Pesantren Putri Tahfidzul Qur’an Hidayatullah SMP Darul Madinah Kota Madiun, sekelompok mahasiswi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang melakukan pendekatan berupa penyuluhan fisioterapi dan kesehatan umum pada para santriwati melalui Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) merupakan salah satu bagian dari kegiatan akademik yang bersifat sosial aplikatif, mahasiswa akan terjun langsung ke lingkungan masyarakat dan akan menerapkan ilmu yang sudah didapatkan di perkuliahan sehingga ilmu yang diperoleh dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa maupun masyarakat.
Kegiatan PMM ini berlangsung pada bulan Mei 2024 oleh Kelompok 10 Gelombang 2 Universitas Muhammadiyah Malang, di Pesantren Putri Tahfidzul Qur’an Hidayatullah SMP Darul Madinah Jl. Mulya Bakti No.23B, Mojorejo, Kec. Taman, Kota Madiun, Jawa Timur. Diselenggarakannya kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini bertujuan untuk menambah pengetahuan santriwati di PPTQ Hidayatullah SMP Darul Madinah Madiun sebagai sarana promotif, preventif dan rehabilitatif terhadap kesehatan fisik. Fokus utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan fisik yang lebih berkualitas pada santriwati dengan harapan santriwati di PPTQ Hidayatullah SMP Darul Madinah Madiun dapat memiliki peningkatan pada nilai keagamaan, kemandirian, keberanian, interaksi sosial, pengetahuan kesehatan, kebersihan, serta memberi edukasi tentang bagaimana cara pengaplikasian posisi ergonomis dalam kehidupan sehari-hari dan memperkenalkan mengenai fisioterapi pada beberapa kasus terkhusus yang dialami oleh remaja putri PPTQ Hidayatullah SMP Darul Madinah Madiun.
Seperti yang kita ketahui, anak didik atau santriwati memiliki aktivitas yang padat dalam kesehariannya di sekolah maupun di pondok pesantren. Santriwati di PPTQ Hidayatullah SMP Darul Madinah Kota Madiun pun demikian. Untuk itu diperlukan fisik yang sehat dan bugar agar santriwati bisa mengikuti segala kegiatan di sekolah maupun di pondok pesantren baik pembelajaran maupun aktifitas sehari-hari dengan prima. Saat ini jumlah santriwati berkisar 140 orang dan berusia remaja. Remaja mengalami perubahan dalam 3 aspek yaitu perkembangan psikososial dalam upaya menemukan jati dirinya, perkembangan kognitif atau kemampuan berpikir, dan perubahan fisik. Salah satu perubahan fisik dan biologis pada remaja putri adalah mulai mengalami menstruasi.
Menstruasi merupakan fenomena fisiologis yang terjadi pada semua perempuan. Kenyataannya banyak perempuan yang mengalami masalah menstruasi seperti nyeri haid atau dismenore. Dismenore merupakan suatu kelainan ginekologi yang menimbulkan nyeri akibat ketidakseimbangan hormon progesteron dalam darah. Dismenore primer terjadi di usia remaja antara usia 13 dan 15 tahun dan disertai kram pada perut bagian bawah, nyeri punggung bawah, seringkali disertai diare atau mual, dan ketidakstabilan emosi yang berlangsung 24 hingga 48 jam. Dismenore primer sering mempengaruhi aktivitas fungsional pada remaja putri sehingga memerlukan pengobatan untuk mengurangi nyeri. Dismenore dapat menyebabkan remaja perempuan tidak masuk sekolah, serta tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari sehingga menyebabkan produktivitasnya menurun yang salah satunya bisa disebabkan karena kurangnya berolahraga atau aktifitas fisik.
Untuk itu kami telah memberikan edukasi tentang bagaimana cara memanajemen nyeri Dismenore agar santriwati tetap produktif dalam mengikuti segala kegiatan pembelajaran dan aktifitas sehari-harinya tidak terganggu dengan cara melakukan exercise. Exercise merupakan salah satu manajemen non farmakologis yang dapat menurunkan intensitas dismenore. Olahraga bisa berupa senam, sedangkan untuk latihan core strengthening exercise dan abdominal stretching exercise itu sendiri tidak beda jauh dengan senam.

Mahasiswi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang juga melakukan edukasi kesehatan bidang fisioterapi mengenai cara duduk ergonomis ketika berkegiatan di kelas maupun di luar kelas. Penyuluhan ini penting dilakukan sejak dini, mengingat banyak orang belum mengetahui bagaimana cara duduk yang ergonomis di usia muda, sehingga mengakibatkan banyak gangguan kesehatan di kemudian hari. Sikap duduk seseorang dalam bekerja akan mempengaruhi produktivitas kerja seseorang, di mana selama bekerja dengan sikap duduk yang baik, maka produktivitas akan meningkat dan sebaliknya bila sikap duduk tidak baik, maka produktivitas kerja akan menurun. Postur yang ergonomis akan mengurangi kerja dari otot-otot ekstensor untuk melawan beban yang ditransmisikan pada tulang belakang tubuh. Sehingga kemungkinan terjadinya spasme atau strain pada otot ekstensor tersebut dapat dihindari. Dan juga, ketika postur tubuh dalam posisi ergonomis, struktur seperti diskus intervertebralis mendapat pembebanan yang seimbang pada bagian anterior, posterior, dan lateralnya. Sehingga kemungkinan terjadi kerusakan struktur bagian posterior dari tulang belakang yang paling sensitif dapat dicegah.
Kami melakukan penyuluhan dengan menjelaskan dan memperagakan mengenai bagaimana pengaplikasian posisi duduk ergonomis dalam kehidupan sehari-hari ataupun pada saat melakukan aktivitas tertentu seperti mengerjakan tugas menggunakan komputer, duduk di kursi saat pembelajaran, duduk di lantai menghafal Al-qur’an, dan lain-lain. Karena anak-anak di PPTQ Hidayatullah SMP Darul Madinah Madiun ini masih tergolong sangat muda, akan sangat berguna apabila mulai diedukasi mengenai posisi ergonomis sejak dini. Pentingnya edukasi fisioterapi mengenai cara duduk ergonomis lebih dini ini supaya di masa mendatang tidak terjadi gangguan postur tubuh, kelainan tulang belakang seperti scoliosis, kifosis, lordosis dan gangguan kesehatan lain pada santriwati akibat dari posisi duduk yang tidak ergonomis.
Kami juga mengadakan screening kesehatan seperti pemeriksaan postur tubuh dini, pemeriksaan tekanan darah, nadi, pernapasan dan lain-lain. Memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat untuk penanaman pola pikir pada santriwati sedini mungkin agar dalam proses perkembangannya dapat menumbuhkan sikap dan perilaku baik yang dapat menciptakan generasi baru yang cerdas, berbudaya, disiplin, kreatif, sehat dan produktif sesuai dengan cita-cita bangsa. Adapun Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) oleh Kelompok 10 Gelombang 2 di PPTQ Hidayatullah SMP Darul Madinah Madiun juga memberikan kegiatan berupa game untuk menghibur santriwati dan mengalihkan gangguan stress serta menstabilkan emosi pada santriwati yang cenderung memiliki tingkat depresi yang tinggi.
Program-program edukasi fisioterapi dan kesehatan umum yang kami berikan kepada santriwati juga para guru dan pengasuh pondok disambut dengan antusias. Pasalnya para santriwati belum pernah mendapatkan ilmu khususnya mengenai manajemen nyeri dismenore, cara duduk ergonomis untuk meningkatkan kesehatan fisik dan pola hidup sehat. Santriwati menjadi sadar bahwa menjaga kesehatan fisik itu penting. Setelah dilakukan screening, ada beberapa santriwati yang mengalami gangguan postur dan kelainan tulang belakang akibat kebiasaan sikap duduk yang salah. Meskipun demikian, mereka yang mengalami gangguan postur dan kelainan tulang belakang menjadi punya inistiatif untuk bersegera mengatasi gangguan kesehatan fisik mereka dengan memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
Dengan berbagai manfaat yang telah dirasakan oleh santriwati dan lingkungan pondok pesantren melalui beberapa program yang diinisiasi oleh mahasiswi PMM, terdapat harapan-harapan bahwa kualitas kesehatan generasi penerus bangsa bisa meningkat melalui edukasi kesehatan lebih dini. Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi landasan untuk pengembangan kegiatan serupa di masa depan. Diharapkan adanya keterlibatan guru, pengasuh pondok, orang tua dan masyarakat sekitar secara aktif dalam program ini semakin menambah semangat dan wawasan santriwati akan pentingnya menjaga kesehatan fisik sejak dini, memastikan keberlanjutan program serta menjamin bahwa manfaat yang diperoleh santriwati dapat terus dirasakan dalam jangka panjang, bahkan setelah program berakhir.
Penulis : Intan Hardiana N
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda