JurnalPost - Dewasa ini, profesi yang paling diminati bukan lagi seorang Abdi Negara, melainkan seorang pengusaha terutama bagi para pemuda daerah Kota Malang karena kita tahu sendiri Kota Malang dikenal masyarakat Indonesia sebagai Kota Pendidikan. Banyak Universitas ternama serta banyak para mahasiswa yang merantau dari luar jawa untuk menempuh pendidikan di Kota Malang, maka dari itu banyak pengusaha di daerah tersebut karena peluang bisnis yang bagus. Berbicara mengenai pengusaha, banyak para pengusaha muda daerah Kota Malang menjalankan berbagai macam bisnis mulai dari jasa ataupun kebutuhan primer seperti makanan/minuman (kuliner), pakaian, dan rumah (kos/kontrakan). Tak luput juga, kebutuhan Sekunder pun banyak seperti elektronik bahkan properti.
Banyak para pengusaha dari kalangan muda daerah Kota Malang melakukan berbagai cara agar bisnisnya tidak stuck di situ-situ saja salah satunya dengan cara online promotion dan juga membuka online shop dengan memanfaatkan teknologi digital. Kita tahu bahwa era sekarang merupakan era digital dan tidak luput dari yang namanya teknolgi seperti gadget. Gadget dalam bahasa Indonesia yakni gawai. Dalam KBBI, gawai merupakan suatu perangkat elektronik yang memiliki fungsi yang bersifat portable contohnya yakni smarthphone atau yang biasa kita sebut ponsel yang kita gunakan sehari-hari. Banyak para pelaku usaha muda daerah Kota Malang berusaha untuk bersaing secara sehat dengan cara memberikan ide-ide dan inovasi dengan basis gadget sebagai penunjang marketing bisnnis dengan harapan bisnis tersebut menang secara sehat ( banyak peminat ) dari pesaing pasar lainnya. Maka dari itu, para pengusaha wajib memiliki basic skill untuk marketing bisnisnya seperti kemampuan Leadership ( Kepemimpinan ) dan Teamworking ( Kerja Tim ) yang keduanya dapat dikemas dalam kemampuan komunikasi persuasif.
Komunikasi persuasif merupakan komunikasi yang bersifat mempengaruhi audience atau komunikannya, sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Komunikasi persuasif bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang. Komunikasi persuasif harus dilakukan dengan halus, luwes, yang mengandung sifat-sifat manusiawi. Agar komunikasi persuasif itu mencapai tujuan dan sasarannya, maka perlu dilakukan perencanaan yang matang, yaitu dilakukan berdasarkan komunikasi yaitu komunikator, pesan, dan media demi terealisasikannya Leadership ( Kepemimpinan ) dan Teamworking ( Kerja Sama ) untuk mengkoordinir orang lain bahkan pelanggan.
Penerimaan dan penciptaan pesan komunikasi persuasif menjadi informasi yang dapat mempengaruhi perilaku pembelian. Kita tahu bahwa komunikasi merupakan jalur yang dapat menghubungkan kita di dunia dan sebagai sarana-sarana individu menampilkan kesan, mengespresikan diri , serta dapat mempengaruhi orang lain. Ada 3 langkah untuk melatih kemampuan komunikasi persuasif bagi para pengusaha untuk melatih kemampuan leadership dan teamworking sebagai penunjang marketing bisnis yang berbasis digital , yang pertama yaitu menjelaskan manfaat produk atau jasa anda secara langsung dan online, yang kedua yaitu kita harus membuka diri dan stay humble ( tetap rendah hati ), yang ketiga yaitu jangan terlalu fokus pada produk atau jasa yang anda tawarkan.
Jika pelaku pengusaha khususnya para pemuda dapat mengimplementasikan komunikasi persuasif, maka tentu saja dapat mengkoordinir para karyawan/teman sejawat dan juga dapat menyusun strategi marketing bisnis demi menarik minat konsumen. Tentu saja harus memanfaatkan teknologi digital agar lebih mudah menjangkau konsumen. Jadi, komunikasi persuasif ini tidak hanya untuk menarik minat konsumen, tetapi juga untuk mengkoordinir teman sejawat/karyawan lain, dalam artian yakni leadership and teamworking skills ( kemampuan kepemimpinan dan kerja sama )
Oleh : Ilalang Dwi Sukma Ashari, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Akuntansi Referensi Hill, E. & O‟Sullivan, T. (1999). Marketing. (2nd Edition). New York: Longman. Ginting, Eka Danta Jaya dan Sito Meiyanto. (2010). Postpurchase Dissonance Observed from Consumer’s Intention as an Inovator, Ability as an Opinion Leaders and Level of Creativity. Jurnal Psikologi Volume 37. Morrisan. (2010). Periklanan: Komunikasi pemasaran Terpadu.Jakarta: Kencana. Tubbs, Stewart L dan Sylvia Moss. (1996). Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi. Bandung: PT Remaja.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda