Jurnalpost - Menanggapi penolakan acara penyelenggaraan Asyura yang diadakan di Makassar oleh beberapa pihak intoleran, sesepuh Dakwah Ahlul Bait Sulsel, Buya Nasir sangat menyayangkan hal tersebut (10/10/2016). “Seruan untuk pembubaran itu sendiri adalah bentuk provokasi yang mengadu umat Islam satu dengan yang lainnya. Apalagi mereka, berdasarkan banyak berita, mengancam akan melakukan pembubaran dengan segala tindakan kekerasan, bahkan dengan senjata tajam. Ancaman terhadap nyawa orang lain seperti ini sudah nyata-nyata pelanggaran hukum,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Buya Nasir yang juga ketua salah satu Yayasan Dakwah Ahlul Bait Sulsel ini juga menegaskan bahwa di negara Indonesia yang berdasarkan UUD 1945, kebebasan menjalankan keyakinan agama seharusnya mendapatkan jaminan negara apapun tantangannya. “Negara harus hadir. Aparat seharusnya membubarkan demo semacam itu, karena mengancam kebhinekaan dan kesatuan Indonesia dan nyawa orang lain, bukan malah tunduk pada keinginan sebagian pihak,” ujarnya.
Selama ini dakwah pengikut Ahlul Bait di Indonesia, menurutnya, sama sekali tidak pernah menimbulkan ancaman bagi NKRI, seperti dituduhkan. Bahkan dalam doktrin dakwah Ahlul Bait, kecintaan terhadap tanah air menjadi menjadi bagian tak terpisahkan. “Kalau ada perang antara Indonesia dengan negara manapun, umpamanya, doktrin kami adalah mati mempertahankan Indonesia. Kami tidak tahu yang lain,” tegasnya.
Menurutnya, yang terjadi malah sebaliknya, semua teroris di Indonesia bukan dari madzhab Syiah, dan tidak pernah kejadian terorisme ditenggarai oleh orang-orang Syiah. “Mulai dari Santoso, Ashari, dan semua kejadian terorisme yang sering mengancam Indonesia itu ujung keyakinannya adalah wahabi radikal, yang cirinya adalah intoleran dan selalu mencari-cari dan menyalahkan pemahaman orang lain,” ujarnya mengutip kata-kata KH. Agil Siradj, ketua PBNU beberapa waktu yang lalu.
Dia berharap TNI dan aparat melakukan kajian dan penelitian mendalam terhadap elemen elemen yang menolak terhadap peringatan Asyura, karena kebanyakan ditunggangi oleh kelompok-kelompok radikal yang intoleran, dan seringkali mengancam keberagamaan orang lain. “TNI dan Polisi jangan malah sampai dihegemoni oleh propaganda dan hasutan mereka dan memberikan ruang pada mereka. Suatu saat mereka akan sangat berbahaya bagi kohesi sosial,” ujarnya lebih lanjut.
Madzhab Syiah juga bukan Madzhab terlarang di Indonesia. Peringatan Asyuro juga tradisinya banyak dijumpai di semua bagian daerah Indonesia. “ Kalau kita lihat mulai dari Aceh, bahkan di Sulsel ini, acara Asyuro dalam bingkai budaya banyak dilakukan. Penolakan-penolakan terhadap acara semacam ini sungguh tidak sesuai dengan cita-cita didirikannya negara ini dan hanya berdasarkan fitnah dan hasutan, bukan kajian yang mendalam,”ujarnya.
Pernyataan Buya ini menanggapi beberapa orang yang mengklaim mewakili umat Islam Sulsel, dan bahkan sempat mengintimidasi ketua MUI Sulsel untuk menandatangani penolakan digelarnya upacara Asyuro. “Padahal apa yang dirugikan dari peringatan itu? Kami mengingat kepahlawanan Imam Hussain, salah satu Keluarga Nabi yang tiap sholat, kita kirimkan sholawat padanya. Mencintainya adalah kewajiban. Mengapa harus dilarang?” pungkasnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda