MALANG, JurnalPost.co - Edukasi kesehatan reproduksi melalui media digital menunjukkan hasil positif dalam membantu mahasiswi baru memahami pentingnya menjaga kebersihan selama menstruasi. Penelitian yang dilakukan tim Departemen Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (UM) menemukan adanya peningkatan perilaku higiene menstruasi setelah peserta mengikuti edukasi menggunakan video HIMA-CARE.
Penelitian yang dipimpin Winny Kirana Hasanah tersebut melibatkan 72 mahasiswi tingkat pertama dari program studi non-kesehatan di Kota Malang. Para peserta mendapatkan materi edukasi melalui video yang secara khusus dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan kebiasaan menjaga kebersihan organ reproduksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku higiene menstruasi responden mengalami perbaikan setelah mendapatkan edukasi. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan media audiovisual sebagai salah satu pendekatan promosi kesehatan reproduksi di lingkungan perguruan tinggi.
HIMA-CARE Hadir sebagai Media Edukasi Kesehatan Reproduksi
HIMA-CARE merupakan singkatan dari Hygiene Improvement Media for Awareness, Care, and Reproductive Education. Media ini dikembangkan dalam bentuk video edukatif yang menyajikan berbagai informasi tentang kesehatan dan kebersihan selama menstruasi.
Materi yang disampaikan mencakup pengenalan proses menstruasi, langkah menjaga kebersihan diri, kebiasaan yang perlu diperhatikan, hingga penjelasan mengenai mitos menstruasi yang masih berkembang di masyarakat.
Berbeda dengan penyampaian materi melalui ceramah konvensional, penggunaan video memungkinkan informasi disajikan melalui kombinasi gambar, suara, dan penjelasan yang lebih mudah diikuti.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan karakteristik mahasiswa yang telah terbiasa mengakses informasi melalui perangkat digital.
Dalam penelitian ini, tim mengukur perilaku higiene menstruasi para responden sebelum dan setelah menyaksikan video edukasi. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan untuk melihat perubahan perilaku setelah intervensi diberikan.
Dari perbandingan tersebut, tim menemukan adanya perbaikan perilaku kebersihan menstruasi pada kelompok peserta penelitian.
Mahasiswi Baru Dinilai Rentan Mengalami Kesenjangan Informasi
Ketua tim penelitian, Winny Kirana Hasanah, menjelaskan bahwa mahasiswi tingkat pertama menjadi kelompok yang menarik untuk diteliti karena sedang menghadapi perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian mahasiswa mulai tinggal jauh dari keluarga dan dituntut lebih mandiri dalam mengurus kebutuhan pribadi, termasuk menjaga kesehatan reproduksi.
Namun, kemandirian tersebut belum tentu diikuti dengan pemahaman yang memadai mengenai praktik higiene menstruasi.
"Mereka baru mulai mengurus diri sendiri, termasuk saat menstruasi. Kalau informasi yang mereka punya keliru atau terbatas, kebiasaan yang kurang tepat bisa terbawa terus," ujar Winny.
Menurutnya, mahasiswa dari program studi non-kesehatan juga belum tentu memperoleh pembelajaran khusus mengenai kesehatan reproduksi selama menjalani pendidikan tinggi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan tim dalam menentukan kelompok sasaran penelitian.
Selain persoalan akses informasi, pembicaraan mengenai menstruasi masih sering dianggap sebagai topik pribadi yang sensitif. Akibatnya, sebagian perempuan mungkin merasa kurang nyaman mengajukan pertanyaan atau mencari penjelasan secara langsung.
Padahal, pemahaman yang benar dibutuhkan untuk mencegah terbentuknya kebiasaan kebersihan yang kurang tepat.
Edukasi Menstruasi Penting untuk Kesehatan dan Kenyamanan
Menjaga kebersihan selama menstruasi merupakan bagian dari perawatan kesehatan reproduksi yang perlu diperhatikan sejak usia remaja hingga dewasa.
Praktik kebersihan yang kurang baik dapat meningkatkan risiko iritasi dan keluhan pada area genital. Kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Bagi mahasiswi, gangguan kenyamanan selama menstruasi dapat berdampak pada konsentrasi belajar dan kegiatan akademik.
Karena itu, edukasi tidak cukup hanya menjelaskan proses biologis menstruasi, tetapi juga perlu memberikan panduan praktis mengenai perawatan diri yang tepat.
Informasi mengenai penggunaan dan penggantian produk menstruasi, kebersihan tangan, serta perawatan area genital merupakan bagian penting dari pendidikan kesehatan menstruasi.
Di sisi lain, berbagai informasi yang beredar melalui media sosial tidak selalu memiliki dasar kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kehadiran media edukasi yang disusun secara khusus diharapkan dapat membantu mahasiswa memperoleh penjelasan yang lebih terarah dan mudah dipahami.
Video Digital Dinilai Lebih Nyaman untuk Topik Sensitif
Winny mengatakan penggunaan media audiovisual merupakan salah satu cara untuk mengurangi hambatan komunikasi ketika membahas kesehatan reproduksi.
Melalui video, peserta dapat menerima penjelasan tanpa harus langsung mengungkapkan pengalaman atau pertanyaan pribadi di hadapan orang lain.
"Topik ini sering membuat orang canggung kalau dibahas langsung. Lewat video, pesan yang sama bisa disampaikan dengan lebih ringan tanpa kehilangan ketepatan isinya," kata Winny.
Format video juga memungkinkan materi digunakan kembali dalam kegiatan edukasi kesehatan di lingkungan kampus.
Meski demikian, hasil penelitian pada 72 responden tersebut belum serta-merta menunjukkan bahwa pendekatan serupa akan menghasilkan perubahan yang sama pada seluruh kelompok mahasiswa.
Penelitian lanjutan dengan cakupan peserta lebih luas diperlukan untuk mengetahui konsistensi hasil serta keberlanjutan perubahan perilaku dalam jangka panjang.
Berpeluang Diterapkan dalam Program Kesehatan Kampus
Tim peneliti berharap HIMA-CARE dapat menjadi alternatif media promosi kesehatan yang dimanfaatkan perguruan tinggi dalam mendampingi mahasiswa, khususnya pada masa awal perkuliahan.
Program edukasi semacam ini dinilai berpotensi diintegrasikan dengan kegiatan pengenalan kehidupan kampus, layanan kesehatan mahasiswa, maupun program peningkatan literasi kesehatan reproduksi.
"Kami ingin edukasi seperti ini bisa direplikasi, sehingga mahasiswi punya fondasi perilaku hidup bersih dan sehat sejak awal kuliah dan kesehatan reproduksi tidak menjadi penghambat prestasi mereka," ujar Winny.
Penelitian tersebut juga dikaitkan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera serta tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas.
Melalui pemanfaatan teknologi digital, edukasi kesehatan reproduksi diharapkan tidak lagi terbatas pada pembelajaran formal, tetapi dapat menjangkau mahasiswa secara lebih luas.
Temuan HIMA-CARE sekaligus memperlihatkan bahwa pendekatan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan peserta menjadi salah satu aspek penting dalam upaya meningkatkan kesadaran dan perilaku menjaga kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan tinggi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda