Bogor, JurnalPost.com — Seiring berkembangnya zaman, berbagai sektor mengalami banyak perubahan. Segala sektor mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman yang semakin canggih. Mulai dari sektor pendidikan hingga ekonomi lebih mudah diakses karena beriringan pula dengan berkembangnya tekhnologi. Perkembangan zaman juga mempengaruhi infrastruktur yang ada. Bangunan seperti gedung-gedung tinggi bermunculan khususnya di daerah perkotaan. Tentunya pembangunan gedung tersebut menghabiskan lahan yang lumahan luas.
Lahan untuk pembangunan gedung-gedung tinggi di perkotaan ini bisa saja merupakan lahan yang di alih fungsikan. Hal tersebut selanjutnya menuai pro dan kontra di antara masyarakat, dimana sebagian masyarakat yang mendapatkan keuntungan dari peralihan fungsi lahan menjadi gedung tersebut menyetujui, dan sebaliknya yang merasa dirugikan akan peralihan fungsi tersebut menolak.
Kontra dari masyarakat yang ada dikarenakan peralihan fungsi tersebut berdampak pada sektor pertanian yang mau tidak mau masyarakat yang berprofesi sebagai petani kehilangan pekerjaannya karena lahannya dijadikan bangunan gedung. Lahan yang semula dapat ditanami berbagai macam sayuran atau tumbuhan lainnya untuk kemudian dijual, pada akhirnya kandas begitu saja.
Di Kota Bogor khususnya, berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kota Bogor setiap tahunnya lahan pertanian berkurang dan beralih fungsi menjadi bangunan. Perubahan pola pikir masyarakat yang mulai meninggalkan profesi petani juga dianggap penyebab dari pertanian di Kota Bogor menurun setiap tahunnya. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Seksi Metode dan Informasi Pertanian Dinas Pertanian (Distani) Kota Bogor, Santi Adisti, saat ditanyai mengenai kondisi lahan pertanian yang semakin menipis.
Permasalahan pertanian Kota Bogor tersebut tak dibiarkan begitu saja, pemerintah terus memcari solusi sehingga muncullah ide Pertanian Perkotaan yang di dukung penuh oleh Wali Kota Bogor, Bapak Bima Arya. Pertanian Perkotaan ini memanfaatkan lokasi rumah kemudian menggunakan sistem hidroponik. Lahan yang dibutuhkan untuk hidroponik ini tidak perlu luas, sehingga setiap warga bisa mencobanya. Setiap warga yang mencoba hidroponik ini dapat menanam sayuran untuk dikonsumsi pribadi atau dijual kembali. Sehingga pertanian ditengah perkotaan tetap hidup meskipun tidak ada lahan yang luas.
Beberapa sekolah juga menerapkan sistem hidroponik, hal tersebut disampaikan oleh salah satu siswa sekolah menengah atas di Kota Bogor, Siti Tsalitsa, yang pernah merasakan mempelajari sistem hidroponik. “Awalnya lumayan kurang minat soal pertanian, karna kan disekolah juga gak ada lahan yang luas buat ngelakuinnya. Tapi, waktu itu guru ada yang ngenalin soal hidroponik. Akhirnya di coba dan ternyata lebih simple gak perlu lahan luas, dan sekolah pun memfasilitasi itu akhirnya.” Ujarnya.
Adanya permasalahan tentunya perlu pemyelesaian, sebagai manusia kita harus bisa memanfaatkan apa yang ada untuk membuat segala kemungkinan dari penyelesaian suatu masalah. Seperti apa yang sudah dijelaskan, hidroponik ini dapat menjadi solusi agar pertanian di tengah perkotaan bisa tetap ada keberadaannya.
Di susun oleh : R. Muchlas Mumtaz Taqwa Mahasiswa Komunikasi Sekolah Vokasi IPB
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda