Makassar, JurnalPost.com – Kesehatan ibu selama masa kehamilan tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga kesejahteraan psikologis. Perubahan hormon, kecemasan menjelang persalinan, hingga kekhawatiran terhadap perkembangan janin dapat menjadi sumber tekanan emosional yang perlu mendapatkan perhatian.
Menyadari pentingnya kesehatan mental maternal, tim dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI) menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Pemula di wilayah kerja UPT Puskesmas Tamalanrea Jaya, Kota Makassar, pada 20–21 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Pemberdayaan Ibu Hamil melalui Edukasi Psikososial Berbasis Dukungan Bidan untuk Pencegahan Stres Kehamilan di UPT Puskesmas Tamalanrea Jaya Kota Makassar”.
Program ini dirancang untuk membantu ibu hamil memahami perubahan psikologis yang dialami selama kehamilan sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam mengenali dan mengelola stres melalui pendekatan edukatif dan pendampingan tenaga kesehatan.
Kegiatan dipimpin oleh Bd. Melliyana Nurdin, S.ST., M.Keb., bersama anggota tim Wan Sulastri Emin, S.Kep., Ns., M.Kes., M.Kep., serta melibatkan mahasiswa kebidanan. Pelaksanaannya turut menggandeng bidan, kader kesehatan, dan ibu hamil di wilayah kerja UPT Puskesmas Tamalanrea Jaya.
Kesehatan Mental Ibu Hamil Perlu Mendapat Perhatian
Selama ini, pelayanan kesehatan kehamilan lebih banyak dikenal melalui pemeriksaan kondisi fisik ibu, pemantauan pertumbuhan janin, pemenuhan kebutuhan gizi, dan pencegahan komplikasi persalinan.
Padahal, perubahan psikologis juga menjadi bagian penting dalam perjalanan kehamilan. Sebagian ibu hamil dapat mengalami gangguan tidur, kecemasan menghadapi persalinan, ketakutan terhadap kondisi bayi, hingga kesulitan mengendalikan tekanan emosional.
Apabila tidak dikenali dan ditangani secara tepat, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kenyamanan, aktivitas sehari-hari, serta kesejahteraan ibu selama menjalani kehamilan.
Melalui program pengabdian ini, tim dosen UMI berupaya memperluas pemahaman peserta bahwa menjaga kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan ibu dan janin.
Edukasi diberikan agar ibu hamil semakin memahami faktor-faktor pemicu stres, mengenali tanda kecemasan, serta mengetahui kapan perlu mencari bantuan dari tenaga kesehatan.
Ajarkan Teknik Relaksasi dan Pengelolaan Emosi
Tidak hanya menyampaikan materi melalui penyuluhan, tim pengabdian juga menerapkan pendekatan interaktif dengan melibatkan peserta dalam diskusi kelompok dan demonstrasi teknik relaksasi sederhana.

Ibu hamil diperkenalkan dengan latihan pernapasan yang dapat membantu menciptakan rasa lebih tenang ketika menghadapi situasi yang menimbulkan kecemasan.
Selain itu, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya membangun pola pikir positif, mengenali perubahan emosi, dan menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekat.
Dukungan suami, keluarga, bidan, serta lingkungan sosial menjadi salah satu materi penting dalam kegiatan tersebut. Kehadiran orang-orang yang memberikan perhatian dan dukungan emosional diharapkan dapat membantu ibu hamil menghadapi berbagai tantangan selama masa kehamilan.
Sebagai pelengkap kegiatan, tim dosen turut membagikan leaflet edukasi yang memuat informasi mengenai pengenalan stres kehamilan dan langkah-langkah sederhana untuk mengelolanya.
Media tersebut diharapkan dapat digunakan kembali oleh ibu hamil di rumah maupun dimanfaatkan oleh bidan dan kader kesehatan ketika memberikan edukasi kepada masyarakat.
Peran Bidan dan Kader Kesehatan Diperkuat
Salah satu perhatian utama dalam program ini adalah penguatan peran bidan sebagai tenaga kesehatan yang memiliki hubungan langsung dengan ibu hamil.
Selain menjalankan pemeriksaan kehamilan dan pemantauan kesehatan ibu serta janin, bidan juga memiliki peran penting dalam memberikan informasi, dukungan emosional, dan konseling awal terkait kondisi psikologis pasien.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu ibu hamil merasa lebih nyaman untuk menyampaikan keluhan, termasuk kekhawatiran atau kecemasan yang mungkin tidak selalu terungkap saat pemeriksaan kesehatan rutin.
Di sisi lain, keterlibatan kader kesehatan menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan pendampingan di lingkungan masyarakat.
Melalui kegiatan posyandu dan interaksi sehari-hari, kader diharapkan mampu membantu mengenali kebutuhan dukungan psikososial ibu hamil serta mendorong mereka untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika diperlukan.
Kolaborasi antara bidan dan kader kesehatan juga diharapkan dapat memperkuat kesinambungan edukasi, sehingga informasi mengenai kesehatan mental selama kehamilan tidak hanya diterima peserta ketika mengikuti kegiatan pengabdian.
Dorong Pendampingan Psikososial Berkelanjutan
Program ini sekaligus mendorong penguatan pelayanan kesehatan ibu di UPT Puskesmas Tamalanrea Jaya melalui perhatian yang lebih menyeluruh terhadap aspek fisik dan psikologis.
Edukasi dan deteksi dini terhadap kondisi emosional ibu hamil menjadi langkah penting agar tanda-tanda kecemasan maupun tekanan psikologis dapat dikenali sejak awal.
Apabila ditemukan ibu hamil yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, tenaga kesehatan dapat memberikan pendampingan atau mengarahkan pasien untuk memperoleh pelayanan sesuai kebutuhannya.
Keberlanjutan kegiatan menjadi perhatian tim pengabdian. Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan diharapkan dapat diterapkan oleh bidan dan kader kesehatan dalam aktivitas pelayanan maupun pendampingan ibu hamil secara rutin.
Dengan demikian, edukasi psikososial tidak berhenti sebagai kegiatan penyuluhan sesaat, tetapi berpotensi berkembang menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu di tingkat masyarakat.
Program tersebut juga menjadi wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) Universitas Muslim Indonesia.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, puskesmas, bidan, dan kader kesehatan, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan mental maternal, memperkuat pemberdayaan perempuan, serta mendukung terciptanya lingkungan kehamilan yang lebih sehat dan suportif.
Upaya tersebut menegaskan pentingnya pelayanan kehamilan yang tidak hanya berorientasi pada keselamatan fisik, tetapi juga memberikan ruang bagi ibu untuk memperoleh dukungan emosional selama mempersiapkan kelahiran buah hati.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda