JurnalPost.com - Muhammadiyah merupakan organisasi pembaharu yang mengedepankan kemajuan segi pendidikan. Sebelum berdirinya organisasi Muhammadiyah, K.H Ahmad Dahlan sebagai tokoh utama Muhammadiyah telah memikirkan perihal pendidikan agama bagi segenap masyarakat. dalam Muhammadiyah mendirikan sekolah masyarakat yg menggabungkan sistem pesantren menggunakan sistem pendidikan barat. sekolah ini tidak hanya mengajarkan pendidikan yang bercirikan islam, namun jua pendidikan umum. Ini artinya kombinasi kurikulum pada “konsep keterpaduan pendidikan”. Gagasan tentang konsep pendidikan Muhammadiyah, kini telah dikembangkan sang pakar pendidikan serta dilembagakan di institusi pendidikan islam, yang bertujuan buat mencerdaskan bangsa, terutama umat islam, supaya bisa berpikir rasional meninggalkan kebekuan nalar serta taklid buta yg amat merugikan. berdasarkan ide-ide. gagasan dan pemikiran Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, dipahami bahwa metode pembaharu pendidikan yang digunakannya artinya berdasarkan pendekatan self corrective terhadap umat islam. sikap semacam ini perlu dikembangkan buat kemajuan global pendidikan islam. Bila senantiasa diupayakan tentu saja forum atau institusi pendidikan islam semakin mapan eksistensinya, serta menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Kebodohan, kemiskinan, serta kejumudan masih merajalela. oleh karena itu, keliru satu langkah yang ditempuh sang Muhammadiyah buat mengentaskan persoalan tadi artinya dengan mendirikan sekolah. sampai dengan ketika ini, sekolah atau universitas yang dibangun Muhammadiyah sudah menghiasi setiap sudut negeri. Banyak peneliti, seringkali dianggap sebagai representasi gerakan Islam terkini di Indonesia, Al-Irsyad serta sebagainya. Berkat langgamnya yang modernis tersebut, maka tidak heran Bila kebanyakan yg sebagai rakyat atau kadernya, merupakan warga muslim kelas menengah ke atas. Atau yang umumnya disebut menjadi kaum urban (perkotaan). Tapi, ciri khasnya yang modernis tadi telah melahirkan suatu hal tersendiri bagi Muhammadiyah. Salah satu persoalan itu merupakan Muhammadiyah tampak begitu kewalahan dalam melebarkan sayap serta pengaruhnya ke muslim pedesaan. Mereka gagap dalam membaur dan mengkomunikasikan gagasannya kepada umat Islam yang berada di desa. Hal itu tentu sangat kontras dengan NU (Nahdlatul Ulama), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia selain Muhammadiyah. Organisasi ini amat dekat dengan rakyat muslim pedesaan. keliru satu faktornya bisa jadi ditimbulkan sang karakteristik khas NU yang tradisional, dalam artian adaptif terhadap norma dan tradisi lokal.
Lewat tulisan ini, saya akan sedikit bercerita perihal bagaimana pengalaman saya sebagai orang Muhammadiyah yang berada di desa dan sedikit menyinggung bagaimana pandangan-pandangan rakyat desa terhadap Muhammadiyah.
Dilahirkan dalam keluarga yang bukan berasal Muhammadiyah (ayah saya anggota NU) tidak dan merta membentuk saya mengenal organisasi yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan ini semenjak dini. saya baru mengenal Muhammadiyah dan intens mengkaji pikiran-pikirannya nanti waktu sudah duduk pada bangku kuliah. Meskipun saya lahir berasal anggota keluarga yg bukan dari Muhammadiyah, tetapi bukan berarti famili melarang saya buat menjadi bagian asal Muhammadiyah. ketika saya memasuki dunia perkuliahan, saya bertemu dengan teman saya yg cukup aktif berorganisasi Muhammadiyah. sahabat saya semakin intens ‘mencecoki’ saya mengenai segala hal ihwal Muhammadiyah. Setiap kali dia bertandang ke kosan buat mengunjungi saya, semua isi obrolan kami absolut sebisa mungkin dia arahkan kepada Muhammadiyah. berasal hal yang kecil seperti wudhu hingga kepada hal yg besar lainnya. saya mulai sering disarankan mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan Pimpinan Muhammadiyah daerah serta diwajibkan mengikuti pengkaderan IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). saya manut saja. karena sepintas, terdapat hal yg saya senang serta respek dari Muhammadiyah, yakni slogan ‘Islam Berkemajuan’-nya. Kesukaan saya terhadap jargon Muhammadiyah itu mungkin ditimbulkan sang latar belakang saya yang tinggal pada daerah santri terkini serta juga berkat kegandrungan saya pada pikiran-pikiran tokoh islam.
Sampai suatu ketika ketika libur datang, saya akhirnya pulang ke desa. pada desa saya beberapa kali mengikuti program. di sela-sela program itu, saya sedikit mendengar obrolan-obrolan warga perihal Muhammadiyah. dari obrolan mereka saya menerima bahwa stereotip masyarakat desa terhadap Muhammadiyah relatif jelek. Bukan karena dicap Wahabi. karena rakyat kampung saya tidak tahu-menahu soal itu. akan tetapi karena pada dalam benak mereka, Muhammadiyah adalah organisasi yang ‘keras’. Organisasi yg tidak ramah terhadap budaya lokal, anti tahlilan serta anti barzanji. Alih-alih bersikap reaktif, saya justru menganggapnya menjadi tantangan untuk menandakan serta menghadirkan wajah Muhammadiyah yang lain, paras Muhammadiyah yg selalu ditampilkan oleh Kiai Ahmad Dahlan, KH. AR. Fachruddin dan Buya Hamka. Metode dan pola dakwah yang mereka pakai sangat ramah, toleran, dan penuh ikut merasakan. sehingga umat tidak kabur.
Ini tentu tidak mudah. Menghadapi rakyat yg telah sedemikian buruk pandangannya terhadap Muhammadiyah kentara penuh rintangan. tapi saya yakin hal itu absolut bisa, karena duduk perkara pada atas jelas hanya dilema kesalahpahaman. rakyat desa saya bisa mendapat evaluasi yg demikian terhadap Muhammadiyah karena memang kebetulan di lapangan mereka mendapati da’i-da’i Muhammadiyah rata-rata keras. dan saya bersyukur, sehabis memakan waktu yg cukup panjang, usaha saya buat mengubah pandangan rakyat terhadap Muhammadiyah akhirnya menemukan titik terperinci. rakyat tidak lagi menaruh curiga terhadap saya dan famili saya yang notabenenya bagian asal Muhammadiyah. Bahkan pada banyak kesempatan, aku tak jarang diberi diunggah sang rakyat desa buat menghadiri acara tadi.
Dari keadaan yang saya jelaskan pada atas, kentara bahwa pola dakwah kultural merupakan hal yg mendesak buat segera diterapkan. Da’i-da’i Muhammadiyah tidak boleh lagi menampilkan gaya dakwah yang murka, akan tetapi ramah. tidak menakutkan, melainkan menggembirakan. norma yg dulu-dulu, mirip mencap suatu perbuatan menjadi “bid’ah”, jelas tidak boleh lagi dilakukan. Hal ini adalah niscaya-niscaya tindakan yang perlu dilakukan Bila tidak ingin umat menjauh dan bertambah ketidaksenangannya terhadap Muhammadiyah. Da’i-da’i Muhammadiyah tidak boleh lagi alergi dengan tradisi-tradisi lokal mirip tahlilan dan barzanji. karena, Jika diperhatikan, jenis-jenis kegiatan seperti itu juga banyak mendatangkan manfaat. di antaranya ialah merekatkan korelasi antar tetangga. Mereka berkumpul serta saling membantu pada hal menyiapkan keperluan-keperluan program. Atau dalam bahasa yang lebih canggih, kita melihat bahwa solidaritas mewujud di pada kegiatan-kegiatan di atas.
Meskipun saya sendiri belum ikut dan pada organisasi ke-Muhammadiyah, namun saya senang apabila diundang atau diajak dalam acara ke-Muhammadiyah. Pernah suatu ketika saya diajak sahabat saya pulang ke suatu tempat beserta sahabat temannya yg mana mereka adalah anggota berasal pemuda Muhammadiyah. serta tempat tadi ialah panti asuhan, daerah tersebut memang acap kali dikunjungi oleh teman saya karena mereka umumnya mengajar anak-anak panti. saya cukup senang dan terkesan mampu ikut serta dalam membangun karakter anak-anak disana, mulai asal bermain, belajar serta bercerita. Kadang yang mereka butuhkan bukan materi, tetapi kepedulian dan kasih sayang oleh masyarakat. Dari merekalah saya mulai belajar tentang kekuatan dan kesederhanaan. dan banyak Pelajaran yang bisa saya ambil selama mengikuti kegiatan ini, baik itu menerima sahabat yang banyak, banyak mendapatkan ilmu tentang organisasi, mampu sebagai seorang pemimpin, serta yang paling utama yaitu saya lebih mengetahui lagi apa itu Muhammadiyah. Mungkin sekian dulu cerita saya maaf jika terdapat kesalahan kata dalam penulisan.
Penulis: Ayu Nilna Syalsabillah/Ekonomi Pembangunan/Universitas Muhammadiyah Malang
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda