JurnalPost.com - Pelayanan anak berbakat menjadi fokus kajian dalam tulisan ini mengingat Pentingnya pelayanan tersebut. Whitmore (1980) melihat kehadiran anak berbakat intelektual Sebagai kebutuhan masyarakat yang akan berperan dalam bidang-bidang tertentu, misalnya Saintis, politikus, dan artis. McLeod dan Cropley (1989) juga berpendapat sama, bahwa Pelayanan pendidikan bagi anak berbakat intelektual merupakan investasi bagi suatu bangsa,Mereka akan memberikan keuntungan yang besar pada masa mendatang.
Pendapat ini juga Dikemukakan oleh Howley dan Pandarvis (1990) yang melihat pelayanan anak berbakat Intelektual merupakan upaya untuk menyiapkan pemimpin di masa mendatang (Reni Akbar, 2005). Yohanes Surya (2006) menyatakan pentingnya pelayanan pendidikan khusus bagi anak berbakat agar mereka dapat mengembangkan kemampuan dan ilmunya sehingga dapat melakukan inovasi-inovasi untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar.
Pelayanan anak berbakat intelektual di Indonesia sudah dilakukan dengan berbagai Cara. Dimulai dari pemberian beasiswa bakat dan potensi pada tahun ajaran 1974/1975 Kepada siswa SD, SMP, SMA, dan SMK yang berbakat dan berprestasi tinggi tetapi lemah Kemampuan ekonominya . Pada tahun ajaran 1983/1984 sampai 1985/1986 pemerintah mengembangkan model program anak berbakat intelektual dalam Sekolah Perintis Anak Berbakat.dengan memanfaatkan kelas-kelas yang sudah ada, dengan Cara kelas biasa ditambah dengan program pengayaan.
Lingkungan pendidikan bagi anak berbakat yaitu keseluruhan alternatif lingkungan pendidikan pada dasarnya memungkinkan bagi anak berbakat, di sesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Misalnya menyangkut ketersediaan gitu yang bisa memberi pelayanan khusus. Tidak bisa mengatakan bahwa model yang satu lebih baik dari yang lain atau sebaliknya.
Model kelas terpisah (full- time dan part- time) pada tingkat SD di dasarkan bukti empiris banyak guru gagal pada diferensiasi siswa mereka di kelas. Pendekatan lain adalah membentuk kelompok siswa pada penekanan pengembangan kemampuan siswa dalam bidang-bidang inti.
Beberapa pelayanan yang dapat diberikan pada anak berbakat adalah:
1. Menyelenggarakan program akselerasi khusus untuk anak-anak berbakat. Program akselerasi ini yaitu dengan cara “lompat kelas”, artinya, anak dari Taman Kanak-Kanak misalnya tidak harus melalui kelas I Sekolah Dasar, tetapi langsung ke kelas II, atau bahkan ke kelas III Sekolah Dasar. Demikian juga dari kelas III Sekolah Dasar bisa saja langsung ke kelas V jika memang anaknya sudah matang untuk menempuhnya. Jadi program akselerasi dapat dilakukan untuk seluruh mata pelajaran (akselerasi kelas atau akselerasi untuk beberapa mata pelajaran saja). Dalam program akselerasi untuk seluruh mata pelajaran berarti anak tidak perlu menempuh kelas secara berturutan, tetapi dapat melompati kelas tertentu, misalnya anak kelas I Sekolah Dasar langsung naik ke kelas III. Dapat juga program akselerasi hanya diberlakukan untuk mata pelajaran yang luar biasa saja. Misalnya saja anak kelas I Sekolah Dasar yang berbakat istimewa dalam bidang matematika, maka ia diperkenankan menempuh pelajaran matematika di kelas III, tetapi pelajaran lain tetap di kelas I. Demikian juga kalau ada anak kelas II Sekolah Dasar yang sangat maju dalam bidang bahasa Inggris, ia boleh mengikuti pelajaran bahasa Inggris di kelas V atau VI.
2. Home-schooling (pendidikan non formal di luar sekolah). Cara lain yang dapat ditempuh selain model akselerasi adalah memberikan pendidikan tambahan di rumah atau di luar sekolah, yang sering disebut home-schooling. Dalam home-schooling orang tua atau tenaga ahli yang ditunjuk bisa membuat program khusus yang sesuai dengan bakat istimewa anak yang bersangkutan. Pada suatu ketika jika anak sudah siap kembali ke sekolah, maka ia bisa saja dikembalikan ke sekolah pada kelas tertentu yang cocok dengan tingkat perkembangannya.
3. Menyelenggarakan kelas-kelas tradisional dengan pendekatan individual. Dalam model ini biasanya jumlah anak per kelas harus sangat terbatas sehingga perhatian guru terhadap perbedaan individual masih bisa cukup memadai, misalnya maksimum 20 anak. Masing-masing anak didorong untuk belajar menurut ritmenya masing-masing. Anak yang sudah sangat maju diberi tugas dan materi yang lebih banyak dan lebih mendalam daripada anak lainnya; sebaliknya anak yang agak lamban diberi materi dan tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Demikian pula guru harus siap dengan berbagai bahan yang mungkin akan dipilih oleh anak untuk dipelajari. Guru dalam hal ini menjadi sangat sibuk dengan memberikan perhatian individual kepada anak yang berbeda-beda tingkat perkembangan dan ritme belajarnya.
4. Membangun kelas khusus untuk anak berbakat. Dalam hal ini anak-anak yang memiliki bakat/kemampuan yang kurang lebih sama dikumpulkan dan diberi pendidikan khusus yang berbeda dari kelas-kelas tradisional bagi anak-anak seusianya. Kelas seperti ini pun harus merupakan kelas kecil di mana pendekatan individual lebih diutamakan daripada pendekatan klasikal. Kelas khusus anak berbakat harus memiliki kurikulum khusus yang dirancang tersendiri sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat. Sistem evaluasi dan pembelajarannyapun harus dibuat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Oleh Penulis : Novita Sari, Reni Novita Sari, Resna Nerisya, Sri Roza Elina, Tiara Puspita Dosen Pengampu : Dea Mustika,S.Pd.,M.Pd
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda