JurnalPost.com - Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah bentuk penyelenggaraan kegiatan Pendidikan dan pelatihan dengan bekerja secara langsung,secara sistematik dan terarah dengan supervisi yang berkompeten. PKL dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang profesional dan diharapkan akan menerapkan ilmu yang diperoleh, sekaligus dapat dipraktekkan oleh peserta PKL pada dunia kerja. Kegiatan ini juga di laksanakan oleh salah satu mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakutltas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara yang bernama Sarah Shahiba dengan NIM 190902106. Dimana Sarah Shahiba di bimibing oleh Supervisor Sekolah sekaligus dosen pengampu pada mata kuliah Praktikum I yaitu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos.,M.Kessos. Kegiatan Praktikum I ini dilaksanakan di Lembaga Swadaya Masyarakat Komunitas Peduli Anak (LSM KOPA), yang beralamat Jl. Syah Bandar No.23, A U R, Kec. Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20212 . pelaksanaann kegiatan PKL ini berjalan kurang lebih sekitar 3 bulan yaitu mulai dari 9 Maret sampai 10 Juni 2022.
Komunitas Peduli Anak (KOPA) adalah sebuah Organisasi berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang Sosial, Pendidikan, Keagamaan, dan Kesejahteraan Sosial Keluarga dan Anak. Dari pengalaman penanganan anak jalanan dan anak bermasalah pada masa berdirinya sebuah yayasan sosial di bidang anak, maka Syafri Tanjung dan rekan-rekan membentuk lembaga Komunitas Peduli Anak (KOPA). Lembaga ini didirikan pada tahun 2005 dan dilahirkan atas dasar untuk kesejahteraan dan kemandirian anak jalanan dan anak-anak bermasalah seperti anak Yatim/Piatu, Autis, serta anak yang orangtuanya bekerja sebagai Pedagang Kaki Lima (Pedagang Kecil) dan orangtuanya yang berstatus Cerai/Broken Home.
Pada Praktikum I ini kegiatan dapat dilakukan secara berkelompok maupun individu dimana yang menjadi fokusnya menggunakan metode intevensi mikro (Casework) .Dimana dalam pelaksanaan praktikum ini mahasiswa diharapkan melakukan mini project menggunakan metode intervensi mikro (casework) guna membantu klien mengatasi masalah yang dihadapi oleh klien. Sebelum melakukan mini project Sarah dan juga kedua rekannya yaitu Helga dan Azzahra melakukan pendekatan kepada anak-anak yang ada di LSM KOPA dengan mengadakan berbagai macam kegiatan seperti belajar berhitung, mewarnai,membaca dan juga berlajar Bahasa inggris bersama, selain kegiatan belajar Sarah dan rekannya juga mengadakanaada games untuk melatih kekompakan dan mengajak anak-anak untuk mengasah bakatnya. Tidak hanya itu, Sarah,Helga,dan Azahra memberikan edukasi melalui media poster. Yang menjadi tema pada poster Sarah yaitu “Si Covid” yang diharapkan dengan menempelkan dan memberikan penjelasan kepada anak-anak KOPA tentang COVID-19 mereka jadi tau mengenai bahaya Covid serta mematuhi protokol Kesehatan.
Bulan berikutnya, Sarah mulai melakukan mini project dengan mengambil salah satu klien dengan insial AD yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas IV dan saat ini berusia 9 tahun, dimana AD memiliki masalah kurangnya minat belajar dan juga tidak memiliki kepercayaan diri. Selama melakukan pendekatan dengan anak-anak LSM KOPA Sarah melihat bahwa AD acuh tak acuh dengan pembelajaran dan lebih memilih main handphone dengan temannya. Setelah mendapatkan informasi dari bapak Syafri Tanjung selaku pendiri LSM KOPA bahwasanya AD merupakan anak ke 2 dari 4 bersaudara , dimana AD dan kembarnya juga abangnya setiap harinya harus berjulan koran dan asongan atas suruhan ibunya. Karna itu AD tidak memiliki waktu untuk belajar dan bermain sehinga AD tidak begitu dekat dengan teman-teman seusianya. Dalam membantu klien untuk meningkatkan minat belajarnya serta kepercayaan dirinya Sarah menggunakan metode casework oleh Zastrow dengan tahapan-tahapan penyelesaian masalah berikut ini:
1. Engagemnet, Intake, Contract: tahap ini merupakan tahap awal yang berisikan pendekatan terhadap klien, kemudian penjelasan maksud dan tujuan, dan melakukan kesepakatan kontrak antara klien dan pekerja sosial.
Disini Sarah melakukan pendekatan kepada AD dengan memulai berdiskusi dan mendengarkan curhatan AD mengenai kehidupan sehari-harinnya serta harapannya. Pada awalnya Sarah sedikit mengalamin kesulitan dalam berkomunikasi dengan AD karna ia sangat tertutup, namun lama kelamaan AD mulai terbuka dan menceritakan yang ia rasakan.Kemudian Sarah mulai menjelaskan tentang profesi pekerja social yang akan membantu AD, dan terakhir melakukan kesepakatan kontrak yang berisi jangka waktu proses penyelesaian masalah.
2. Assessment : Tahap ini merupakan penyelesaian masalah serta mengetahui penyebab dan potensi yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Ditahap ini menggunakan form assessment sebagai landasan wawancara dan juga tools assessment ecomap. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, diketahui bahwa AD tidak memiliki minat belajar dan juga kepercayaan diri dikarnakan setiap pulang sekolah ia harus berjualan. AD mengatkan kalau ia sudah capek dari sekolah lalu berjualan sehingga ia malas untuk ikut belajar bersama di LSM KOPA. Tidak hanya itu AD juga tidak memiliki kepercayaan diri karna sering di ecek oleh temannya karna harus berjualan dan juga memiliki hobby yaitu bermain bola.
3. Planning/Perencanaan : tahap ini merupakan tahapan yang berisikan tentang rencana strategi yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah klien.
Ditahap ini Sarah memilih strategi partisipatif yang dimana AD terlibat dalam penyelesaian masalahnya, yang bertujuan agar penyelesaian masalah mampu di lakukan oleh AD terutama dalam membangun kepercaya dirian dan juga meningkatan minat belajar . dengan cara memberikan metode belajar “fun learning” menggunakan Platform Youtube dan memberikan motifasi kepada AD agar lebih percaya diri.
4. Intervensi : tahap ini merupakan tahapan yang berisikan pelaksanaan program yang telah direncanakan dengan tujuan untuk memberikan perubahan terhadap klien.
Pada program ini Sarah memberikan beberapa video pembelajaran yang menarik dengan animasi agar menarik minat belajar AD melalui platform Youtube. Selain itu Sarah juga memberikan soal soal yang menarik yang sudah disediakan melalui media handphone maupun laptop. Selain itu Sarah juga memberikan edukasi dan motifasi agar AD lebih percaya diri, dan juga melibatkan AD dalam berbagai kegiatan selama pelaksanaan Praktikum di LSM KOPA melalui kelompok diskusi.
5. Evaluasi : tahap ini merupakan tahapan yang berisikan tentang monitoring dan control terhadap klien, sekaligus memastikan apakah sasaran atau tujuan dapat tercapai.
Setelah dilakukan beberapa kali pertemuan dengan AD , Sarah dapat melihat banyak perubahan dari AD, kini ia semakin rajin dalam belajar serta mulai berani tampil didepan teman temannya. Hal ini dapat dilihat dari AD yang selalu aktif dalam kegiatan bersama anak-anak di LSM KOPA dan AD selalu meluangkan waktunya sebelum berjualan untuk berlajar di LSM KOPA. tidak hanya di KOPA saja berdasarkan pengakuan dari teman AD jadi lebih percaya diri dalam proses belajar di sekolah dan juga menerapkan metode belajar yang ia dapatkan melaui youtube.
6. Terminasi : tahap ini merupakan tahap akhir yaitu pemutusan hubungan dengan klien ketika tujuan yang direncanakan telah tercapai.
Disini Sarah melakukan pemberhentian pemberian bantuan terhadap AD. Karna AD sudah dapat meningkatkan kemauannya dalam belajar dan juga meingkatkan kepercayaan dirinya dengan sangat baik.
Diakhir kegiatan praktikum (PKL) I ini Sarah dan kedua rekannya yaitu Helga dan Azzahra memberikan kenang-kenangan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat Komunitas Peduli Anak (LSM KOPA) serta mengucakap terima kasih banyak atas bantuan dari bapak Syafri Tanjung dan ibu Sri Pohan selaku pengurus dan juga penangung jawab di LSM KOPA. Dan juga mengharapkan baik AD maupun anak-anak lainnya yang ada di LSM KOPA dapat menerapkan ilmu baik yang telah Sarah dan rekannya berikan.
Oleh : Sarah Shahiba (190902106) Mahasiwa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU


Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda