JurnalPost.com - Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang membutuhkan pelayanan khusus karena adanya keterbatasan mental, fisik, maupun materi. Anak-anak ini membutuhkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) terdiri dari dua kelompok, yaitu ABK temporer (sementara) dan ABK permanen (tetap).
Adapun yang termasuk kategori ABK temporer adalah anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, dan anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak difabel netra, tunarungu, tunadaksa, tunalaras, autis, Attention Dificiency and Hiperactivity Diorders (ADHD), anak berkesulitan belajar, anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain (Efendi, 2006).
Anak berkebutuhan khusus memiliki berbagai kekurangan dan masing-masing sehingga hal tersebut menjadi salah satu hambatan bagi sekolah umum karena kurangnya alat dan media pembelajaran yang memadai, untuk membantu memeratakan pendidikan bagi seluruh kalangan maka pemerintah membentuk Sekolah Luar Biasa (SLB) yang didalamnya terdapat banyak anak ABK dengan berbagai kekurangannya.
Namun banyak hambatan yang dihadapi oleh SLB seperti kurangnya tenaga pendidik, media pembelajara, sarana dan prasarana bahkan kurangnya SLB di berbagai daerah. Di Indonesia sendiri hanya terdapat 552 SLB berstatus negeri dan 1.465 SLB berstatus swasta. Hal ini tidak sebanding dengan kebutuhan yang diinginkan. Terhitung Per September 2021 jumlah siswa berkebutuhan khusus ada sebanyak 57.155 siswa. Kekurangan sekolah menyebabkan banyak anak SLB yang didik tidak sesuai dengan metode yang harusnya ia dapatkan.
Media pembelajaran yang didapatkan tentunya tidak sesuai dengan cara pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan sehingga dapat menghambat perkembangan pada anak ABK. Guru merupakan elemen penting dalam mempengaruhi anak berkebutuhan khusus. Seorang guru harus memiliki sikap terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Guru memiliki tanggung jawab menciptakan suasana kelas yang dapat menampung secara penuh dan menekankan suasana yang mampu menghargai perbedaan individu.
Keterbatasan yang dimiliki oleh ABK mengakibatkan informasi yang didapatkan juga sangat terbatas. Keterbatasan informasi yang didapatkan oleh anak berkebutuhan khusus lebih banyak dialami oleh anak difabel netra, karena kurang lebih 85% pengamatan dan informasi manusia dilaksanakan oleh mata.
Penulis : Muhammad Nuralfian, Adelia Putri, Della Anelya Saktiva
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda