JurnalPost.com - Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu bentuk implementasi dan aktualisasi seorang mahasiswa di masa perkuliahannya, PKL juga merupakan bentuk implementasi langsung Tri Dharma perguruan tinggi sebab di dalam pelaksanaannya PKL yang dilakukan banyak berkegiatan dengan bentuk pengabdian terhadap masyarakat.
Hal ini lah yang dilakukan oleh Muhammad Abduh Farras Gibran Nasution (190902085), Gibran merupakan mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU yang sedang melakukan kegiatan PKL, dengan bimbingan dari supervisor sekolah Ibu Dra.
Tuti Atika, MSP dan arahan dari Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kessos sebagai dosen pengampu mata kuliah Praktikum I. Gibran melakukan PKL di Sanggar Pelita yang beralamat di Jalan STM Gang Perbatasan Barat, Kota Medan.
Sanggar ini merupakan sanggar ketiga yang dimiliki oleh Sanggar Pelita setelah sanggar yang berada di Jalan Katamso dan Deli Tua, kegiatan PKL dilaksanakan mulai dari tanggal 25 Februari sampai 10 Juni 2022.
Sanggar pelita sendiri merupakan sanggar yang didirikan sebagai sarana pembelajaran alternatif kepada anak-anak dengan tujuan memberikan pembekalan pendidikan sejak dini kepada anak-anak, sesuai dengan motto mereka “ belajar mengajar, mengajar belajar ” sanggar ini juga dapat menjadi wadah bagi beberapa mahasiswa ataupun relawan yang ingin berlatih bagaimana caranya menjadi seorang pendidik.
Tenaga pendidik sanggar ini berasal pengurus sanggar pelita dan para relawan yang silih berganti. Sanggar Pelita hadir sebagai sarana pembelajaran alternatif bagi anak dengan metode pembelajaran belajar sambil bermain dan tidak terlalu monoton berhasil membuat anak-anak betah untuk belajar.
Selain memberikan pendidikan terhadap anak-anak sanggar ini juga bergerak dikegiatan sosial seperti penyemprotan disinfektan gratis, dan pembagian takjil selama bulan Ramadhan kepada masyarakat.
Diawali dengan pertemuannya dengan ketua Sanggar Pelita yaitu Teuku Muhammad Taslim, Gibran memulai kegiatan PKL bersama dengan 2 orang teman satu kelompoknya di sanggar tersebut, Sesuai dengan tugas perkuliahan Praktikum I yaitu melakukan praktik Intervensi Mikro Gibran melakukan Praktik Intervensi kedalam beberapa tahapan, dan kegiatan yang dipilihnya adalah pengenalan “ calistung ” ( membaca, menulis dan berhitung ) dengan metode penguatan motivasi kepada anak-anak usia dini.
Pengenalan calistung ia anggap penting karena disekitaran sanggar masih banyak anak-anak usia SD yang masih kesulitan untuk menulis dan berhitung padahal calistung merupakan hal yang paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari dan dibeberapa sekolah menetapkan calistung sebagai syarat seorang anak dapat masuk ke sekolahnya.
Pada bulan pertama kegiatan PKL Gibran dan teman satu kelompoknya memulai kegiatan dengan melakukan perkenalan terhadap anak-anak sanggar, sembari mengajar pelajaran-pelajaran dasar SD tidak lupa mereka menyelingi pembelajaran dengan membuat games sebagai cara peningkatan motivasi mereka dalam belajar, media poster edukasi pun cukup ampuh untuk membuat mereka tertarik dan dapat dilakukan sebagai alat bantu pembelajaran. Di bulan kedua selama PKL, Gibran pun melakukan sebuah mini project dengan mengambil satu klien berinisial NF berusia 7 tahun yang memiliki permasalahan yaitu kurangnya minta belajar dan masih belum bisa membaca, menulis dan berhitung, setelah berbincang dengan NF dan orang tuanya Gibran mendapatakan informasi bahwa NF sempat ditolak untuk masuk ke salah satu sekolah karena belum bisa membaca dan berhitung, orang tuanya pun berkata bahwa ia sebenarnya anak yang rajin dan pintar hanya karena lingkungan ia menjadi malas, ia lebih sering bermain game bersama anak-anak sebayanya dari pada belajar membaca. Dengan metode intervensi casework oleh Skidmore Gibran melakukan beberapa tahapan intervensi terhadap NF antara lain :
1. Tahap Pengkajian (Assesment Phase) Tahap ini Gibran lakukan dengan menggunakan metode analisis SWOT (Strenght, Weak, Oppurtunity, Threathmen) terhadap NF untuk memudahkan Assesment kepada klien dan dari hasil analisis itu ia dapatkan NF memiliki Strenght (kekuatan) seperti ia memiliki minat belajar dan sangat didukung oleh orang tuanya tentunya ini sangat berpengaruh dalam penyelesaian masalah, NF memiliki Weak (kelemahan) seperti ia sangat ketergantungan terhadap HandPhone dan bermain game, kemudian ia memiliki Oppurtunity (Keuntungan) seperti rumah yang berdekatan dengan sanggar, ini sangant membantu Gibran apabila NF tidak datang kedalam sanggar maka dapat langsung ia jemput ke rumahnya, dan yang terakhir NF memiliki Threatmen (Ancaman) yaitu lingkungan dan kawan sebaya yang selalu mengganggu fokus NF untuk belajar. Cara Gibran menanggulangi ancaman adalah dengan mengajak seluruh teman-teman sebaya NF untuk belajar di sanggar dengan iming-iming membuat perlombaan berhadiah, dengan hadiah seperti jajanan dan voucher top up game.
2. Perencanaan Program Setelah melakukan Assesment Gibran lalu merencanakan program yang akan dibuat dengan berdiskusi bersama klien Hal ini didukung oleh pendapat Isbandi Rukminto Adi dalam bukunya yang berjudul Kesejahteraan Sosial (2013). Ia menyebutkan bahwa praktisi diharapkan akan mengajak kliennya untuk berpartisipasi aktif dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi, karena tanpa partisipasi aktif dari klien, maka tujuan dari terapi tersebut sulit untuk dicapai, dan dari hasil diskusi dengan NF dan orang tuanya, mereka pun menetpakan program yang akan dilaksanakan yaitu metode fun learning belajar sambil bermain dengan mengiksertakan teman-teman sebaya NF dan memberikanya hadiah sebagai penumbuh motivasinya untuk belajar.
3. Tahap Intervensi Setelah menetapkan program yang akan dilaksanakan Gibran langsung melakukan Intervensi terhadap NF, intervensi ia lakukan dengan langsung mengeksekusi program. Hal pertama yang dilakukan adalah menulis abjad dari A sampai Z dan kemudian dari abjad-abjad itu diubah menjadi sebuah kata dan setiap kata yang berhasil diucapkan dan ditulis oleh NF akan menjadi sebuah poin dan akan diberikan hadiah diakhir sesuai dengan poin-poin yang terkumpul, hal ini sesuai dengan teori motivasi pada jenis teori ensintrik yaitu jenis motivasi yang muncul karena adanya pengaruh yang datangnya dari luar maupun orang lain. Motivasi ini biasanya datang ketika seseorang menginginkan untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain atau juga biasanya mendapatkan barang yang orang lain punya. Gibran lalu mengajak teman-teman sebaya NF untuk ikut bergabung sebagai salah satu upaya peningkatan motivasi belajar NF, hal yang ia lakukan selanjutnya adalah belajar berhitung dengan menggunakan HandPhone masing-masing anak, dengan menggunakan aplikasi Quizizz (aplikasi kuis online) sebagai sarana pembelajaran Gibran lalu memberikan mereka kuis berhitung sederhana melalui aplikasi tersebut, hal ini menunjukan respon yang positif dari mereka terkhusus NF bahkan dia jauh mengungguli teman-temannya yang lain dalam pembelajaran ini. Program ini terus Gibran laksanakan sebagai mini project nya selama ia PKL di sanggar tersebut.
4. Tahap Evaluasi Setelah melaksanakan program diatas Gibran lalu memulai monitoring terhadap program sekaligus melihat apakah sasaran program telah tercapai, Gibran membuat semacam tes kepada NF baik tertulis maupun tidak, dan hasilnya sangat memuaskan. NF yang awalnya hanya mampu membaca tiap kata sambal terbata-bata kini mulai mampu untuk membaca satu kalimat dan mampu menuliskannya begitu juga dengan berhitung, yang awalnya ia hanya mampu berhitung angka satuan kini ia sudah bisa berhitung angka puluhan, semangat kian bertambah ketika Gibran memberikannya hadiah berupa sebuah voucher untuk games kesukaannya asalkan ia mampu mendapatkan nilai baik pada saaat tes evaluasi, dan hal inilah yang mendorong NF untuk mengikuti dan berhasil menjawab seluruh tes dengan nilai yang baik.
5. Tahap Terminasi Pada tahap ini Gibran pun menghentikan proses intervensi terhadap NF. Gibran sudah melihat kemampuan dan minat NF untuk belajar membaca, menulis dan berhitung meningkat, sesuai dengan apa yang diharapkannya. Gibran lalu memberikan hadiah sebagai kenang-kenangan kepada NF sebagai bentuk penghargaan terhadap NF dan memberikan kata motivasi agar NF selalu senantiasa memiliki semangat untuk belajar. Dengan berakhirnya mini project dan kegiatan PKL Gibran di Sanggar Pelita, Gibran mengucapkan terima kasih kepada bang Taslim selaku pimpinan sanggar dan seluruh pengurus sanggar pelita karena telah diberikan izin untuk melakukan praktik kerja lapangan di sanggar mereka, ia juga menitipkan pesan kepada seluruh pengurus sanggar untuk tetap semangat dan konsisten dijalur pendidikan.

Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda