Oleh: Fadli Hafizulhaq*
JurnalPost.com - Sudah menjadi rahasia umum jika pertanian hidroponik menjadi booming sejak beberapa tahun terakhir. Bagaimana tidak, teknologi pertanian tersebut membantah stigma bahwa bertani itu bermain tanah dan lumpur. Pantaslah tidak jarang kita lihat anak-anak muda hingga ibu rumah tangga mulai bertani (atau paling tidak berkebun) dengan sistem hidroponik. Salah satu alasannya adalah karena lebih bersih dari pada pertanian konvensional yang menggunakan tanah.
Oleh karena tidak menggunakan tanah, sistem hidroponik mengharuskan petani untuk menyuplai unsur hara atau nutrisi langsung ke akar tanaman. Ada beberapa jenis hidroponik di lapangan, mulai dari yang paling sederhana yaitu sistem budidaya pot (pot culture system), kemudian sistem terapung (floating hydroponic system), hingga teknik lapisan nutrisi (nutrient film technique/NFT).
Sistem tanam bebas tanah juga memberikan keuntungan bagi petani dalam bercocok tanam. Penggunaan media air mengurangi resiko tanaman terkena hama dan penyakit. Hal ini meminimalisir penggunaan pestisida hingga fungisida sehingga produk yang dihasilkan lebih sehat dari pada teknik penanaman konvensional. Fakta itulah yang kemudian mendorong sebagian orang menyebut produk hidroponik sebagai produk organik.
Produk Hidroponik Bukan Organik
Meskipun produk hasil pertanian hidroponik lebih sehat dan tidak menggunakan pestisida, ia tidak serta merta bisa disebut organik. Namun sebelum membahas “organik” lebih lanjut, kita perlu memahami bahwa frasa “produk organik” berbeda dengan “pertanian organik”.
Dikutip dari publikasi Purwantini dan Sunarsih (2020) yang bertajuk "Pertanian Organik: Konsep, Kinerja, Prospek, dan Kendala", pertanian organik adalah konsep pertanian yang bebas dari substansi kimia (baik pupuk maupun pestisida) yang mampu merusak lingkungan dan kesehatan. Pertanian organik tetap menggunakan media tanah namun menggunakan pupuk hingga pestisida alami. Jika kita merujuk pada definisi tersebut, hidroponik jelas bukan pertanian organik karena tidak menggunakan tanah.
Sementara itu, produk organik dapat berarti lebih umum—tidak terbatas pada produk hasil pertanian saja. Produk organik merupakan produk yang proses produksinya bebas dari bahan kimia yang mampu merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Bertolak dari definisi produk organik ini, mispersepsi produk hidroponik itu organik muncul dikarenakan produknya yang lebih aman untuk kesehatan manusia. Hanya saja, sebagian besar praktek hidroponik masih menggunakan bahan kimia, tepatnya pada pupuk nutrisi yang sering dipakai.
Pada prakteknya, petani atau penghobi hidroponik menggunakan pupuk AB Mix untuk nutrisi tanaman. Jenis pupuk satu ini digemari lantaran unsur hara makro dan mikro yang dikandungnya terbilang lengkap. Hanya saja, pupuk AB Mix sendiri tergolong pupuk anorganik atau pupuk kimia. Sehingga dengan demikian produk hidroponik pun tidak tepat untuk disebut sebagai produk organik.
Agar Produk Hidroponik Jadi Organik
Berdasarkan uraian-uraian di atas, satu-satunya cara untuk menghasilkan produk organik dari pertanian hidroponik hanyalah mengganti pupuk nutrisinya. Pupuk organik cair dapat menjadi opsi pengganti bagi AB Mix dalam rangka perawatan tanaman. Hanya saja, tidak seperti pupuk kimia, nutrisi dalam pupuk organik lebih lambat untuk diserap oleh tanaman.
Muhadiansyah, dkk., (2016) dalam artikel ilmiah berjudul "Efektivitas Pencampuran Pupuk Organik Cair dalam Nutrisi Hidroponik pada Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Selada (Lactuca sativa L.)" menemukan bahwa tanaman dengan pupuk organik cair tumbuh lebih lambat dari tanaman dengan AB Mix. Namun pertumbuhan tanaman menjadi sedikit lebih baik ketika pupuk AB Mix dicampur dengan pupuk organik dalam konsentrasi tertentu.
Hingga saat ini, penggunaan pupuk organik pada sistem hidroponik baru bisa sebatas pupuk sekunder. Bahkan, pada beberapa penelitian, pencampuran pupuk organik dengan AB Mix juga belum memberikan hasil yang lebih baik dari pada penggunaan AB Mix saja. Fakta ini semakin membantah mispersepsi bahwa produk hidroponik adalah produk organik.
Namun meskipun demikian, produk-produk hidroponik masih memiliki peluang untuk menjadi produk organik. Apalagi memang praktek hidroponik sudah banyak yang bebas pestisida kimiawi. Hanya saja, itu baru akan terwujud jika para peneliti atau ilmuwan menyelesaikan pekerjaan rumah yang masih tersisa. Pekerjaan itu adalah penelitian dan pengembangan untuk menemukan pupuk organik yang daya dan kecepatan serap oleh tanamannya sama atau bahkan lebih baik dari pupuk kimia.[]
*Fadli Hafizulhaq merupakan dosen di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas dan saat ini diamanahkan menjadi Ketua Forum Lingkar Pena Sumatera Barat
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda