Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Citizen Reporter
  3. Melihat perilaku Masyarakat di tengah Pandemi COVID-19

Melihat perilaku Masyarakat di tengah Pandemi COVID-19

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
24 Oktober 2020, 16.03 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Perilaku masyarakat

JURNALPOST - “Kapan ya pandemi ini berakhir?” mungkin menjadi pertanyaan semua masyarakat Indonesia tak terkecuali. Bagaimana tidak, hadirnya virus corona sangat mempengaruhi perputaran roda ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa Pandemi COVID-19 membuat perekonomian memburuk. Untuk saat ini, aktivitas ekonomi yang masih bertahan hanya yang berbasis online digital. Sedikit beruntung bagi mereka yang “melek teknologi” dan memiliki fasilitas maupun pegetahuan seputar dunia online digital, khususnya dalam hal selling atau marketing.

Namun bagaimana nasib masyarakat kelas menengah ke bawah? Dilansir via nasional kontan, Menurut Bhima Yudhistira Adhinegara selaku Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), akan ada potensi rentan miskin bagi masyarakat kelas menengah yang rapuh, bahkan miskin akibat dari pandemi ini. Kelompok yang dimaksud Bhima adalah korban PHK, warga yang kesulitan akses fasilitas kesehatan, terancam krisis pangan, dan berpenghasilan harian yang hilang selama pandemi.

IKLAN

Semua lapisan masyarakat mengalami frustasi akan kehadiran virus corona, semua marah dengan situasi dan kondisi saat ini. Karena menghambat aktivitas, berpotensi atau sudah kehilangan pekerjaan, dan ada yang ditinggal kerabat atau sanak saudara yang meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona. Suasana sudah tidak kondusif, namun jika kita melihat kondisi di lapangan sejak pandemi mulai meluas di Indonesia, banyak masyarakat yang tetap melakukan aktivitas seperti biasa seolah-olah virus corona tidak pernah ada dan PSBB pun seakan tidak ada artinya.

Mahasiswa UNDIP
Baca Juga

Kolaborasi Lintas Jurusan, Mahasiswa UNDIP Kembangkan Dentavera sebagai Inovasi Perawatan Mulut

Banyaknya aktivitas masyarakat seperti biasa yang kemudian ‘didukung’ oleh munculnya orang-orang yang menganggap virus corona merupakan sebuah konspirasi, maka pekerjaan pemerintah dan tenaga kesehatan (Nakes) semakin berat. Tugas pemerintah dan Nakes bukan lagi hanya menekan angka penyebaran virus dengan sosialisasi rajin mencuci tangan dan physical distancing, tetapi juga memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat terkait isu yang menyebar luas tentang konspirasi virus corona. Namun, masih ada saja masyarakat yang tetap percaya dengan konspirasi corona karena belum bisa dibuktikan secara fakta, walaupun ada yang terbantahkan oleh bukti-bukti ilmiah.

Tak berhenti di situ, pemerintah dan nakes dibuat pusing oleh masyarakat nakal yang melakukan mudik lebaran 2020 dengan mengelabui petugas, ada yang memasang stiker palsu pada bus dengan harapan, petugas mengira jika bus tersebut dalam keadaan urgensi. Cukup cerdik, tetapi bukan dalam hal yang benar ya. Menggunakan jasa Travel gelap juga dilakukan para pemudik nakal, harga tiket yang ditawarkan Travel gelap tersebut pun cukup menguras kantong, yaitu sekitar Rp 500 ribu untuk ke Brebes dan Cilacap. Harga yang melambung jauh dari harga normal. Padahal pemerintah sudah melarang terkait masalah mudik, melaui Surat Edaran 4 Tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Pemerintah menetapkan kriteria masyarakat yang diperbolehkan mudik, yaitu Beberapa orang yang bekerja di bidang lembaga pemerintah atau swasta yang bertugas menyelenggarakan pelayanan pertahanan, keamanan, kesehatan, ketertiban umum, kebutuhan dasar, dan elemen penting lainnya. Artinya, masyarakat yang tidak punya kepentingan apapun dilarang bepergian ke luar kota.

Setelah situasi menunjukkan dampak yang cukup baik melalui penerapan PSBB di setiap Daerah, pemerintah mulai memberlakukan New Normal, di mana aktivitas dimulai kembali seperti sedia kala dan pemerintah menganjurkan kita untuk bisa hidup “berdampingan” dengan virus yang telah menelan ratusan ribu jiwa di seluruh dunia, dengan catatan tetap harus mematuhi protokol kesehatan. New normal dilakukan guna memulihkan kondisi ekonomi yang memburuk selama masa PSBB. Berbagai sektor kembali dibuka namun dengan ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah, seperti transportasi umum yang kembali beroperasi dengan kapasitas maksimum 50%. Disusul dengan dibukanya kantor-kantor, tempat makan, mall, dan sektor lainnya.

New normal mungkin dapat menyelamatkan ekonomi, tetapi kita lupa bahwa kasus corona di Indonesia kian melonjak sejak diterapkannya new normal. Benar, ini bukan salah pemerintah yang memberlakukan new normal di tengah kasus yang masih tinggi, namun kita cukup melihat aktivitas masyarakat selama new normal berlangsung. Sudahkah mereka menjalankan aktivitas sesuai dengan himbauan pemerintah? Nampaknya belum lho. Belum lama ini beredar sebuah video yang diposting oleh akun instgram @infia_fact.

penanaman bibit
Baca Juga

KKN Universitas Merdeka Malang Bangun Greenhouse Bambu, Dorong Ketahanan Pangan Warga Pandanrejo

IKLAN

Di video itu terlihat aparat keamanan yang sedang menggrebek sebuah café food & beverage yang dari depan terlihat sepi pengunjung, namun ketika petugas masuk ke dalam, ternyata suasana berbeda 180 derajat. Banyak muda mudi yang sedang berkumpul, walaupun banyak yang menggunakan masker, tetap saja mereka tidak menjalankan protokol kesehatan seperti physical distancing. Tak ambil pusing, aparat pun langsung menindak muda mudi tersebut dengan memeriksa identitasnya. Wah, Nampak seperti kerja sama antara pemilik café dan pengunjung untuk mengelabui petugas. Kalau masyarakatnya seperti ini, pertanyaan “Kapan ya pandemi ini berakhir?” akan terus terbayang di kepala kita ya.

Setelah pemerintah yang dibuat jengkel oleh masyarakat yang tidak menjalankan protokol kesehatan, sekarang giliran masyarakat yang kesal dan bertanya-tanya kepada pemerintah. Kira-kira kenapa ya? Yap, betul.. masalah Pilkada serentak yang tetap dilaksanakan di tengah pandemi membuat masyarakat bertanya-tanya.

Tidak sedikit masyarakat yang kontra dengan keputusan ini. Wakil ketua DPD RI, Sultan Bakhtiar Najamudin juga ikut menunjukkan kekhawatirannya. Beliau khawatir jika Pilkada tetap dilaksanakan, akan memicu gelombang kedua pandemi COVID-19. Kekhawatiran itu bukan tidak berdasar, karena melihat jejak garda terdepan pandemi yang sudah memenuhi aturan APD pun masih bisa terpapar virus.

Meski begitu, pemerintah memiliki pertimbangan mengapa Pilkada harus tetap dilaksanakan pada saat pandemi. Kementerian Dalam Negeri menjelaskan bahwa tidak bisa diprediksinya pandemi corona menjadi pertimbangan pertama kenapa Pilkada 2020 tetap dilaksanakan. Pertimbangan kedua, pemerintah melihat aktivitas pemilu Negara lain sebagai contoh, sehingga bisa menyiapkan penyelenggaraan Pilkada secara lebih matang. Selain itu, Kemendagri juga menjelaskan aka nada 270 Daerah yang akan dijabat oleh Pelaksa tugas (Plt) jika penundaan Pilkada 2020 terjadi, dan bisa mempengaruhi kebijakan Daerah tersebut.

KKN 179 UMM
Baca Juga

KKN 179 UMM Pasang Papan Jadwal Pembagian Air di Bangelan, Cegah Perebutan Antarwarga

Banyak sekali pro dan kontra yang terjadi selama pandemi corona ini, mulai dari ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya. Namun apapun yang terjadi, kesehatan kita tetap nomor satu. Mengingat kasus corona yang terus meningkat. Terlebih pada tanggal 21 Oktober 2020 dilansir dari covid19.go.id, Indonesia mencatat kasus baru, yakni 4.267 positif corona dalam sehari.

Sekarang ada total 373.109 di seluruh Indonesia. 12.857 orang meninggal dunia, 297.509 pasien dinyatakan sembuh, dan 62.743 pasien dalam perawatan. Dalam kondisi seperti ini, bukan waktunya untuk saling menyalahkan, sekarang waktunya bersinergi untuk Indonesia sehat. Semua elemen diharapkan bisa bekerja sama dalam menekan angka penularan virus corona sampai vaksin resmi diproduksi massal dan dapat diedarkan ke seluruh lapisan masyarakat.

Oleh : Ismail Aji adalah mahasiswa S1 semester 3 program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Pamulang. Penulisan artikel ini terkait dengan pemenuhan tugas individu pada salah satu mata kuliah. Di samping itu juga diharapkan memberi sedikit wawasan bagi pembaca.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/melihat-perilaku-masyarakat-di-tengah-pandemi-covid-19/12873/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.08 WITA

  • #Perilaku masyarakat

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Warga Desa Tlekung Diajak Manfaatkan Urine Sapi Jadi Pupuk Organik Cair untuk Percepat Pertumbuhan Pakan Ternak

PPK Ormawa Universitas Pakuan Terapkan Biopori untuk Konservasi Air di Desa Cipelang

Mahasiswa KKN MAs Latih Petani Bumiaji Buat Pupuk Organik Cair

KKN-MAs Kelompok 88 Kembangkan Gunungsari Circular Farm di Kota Batu

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3
  2. 2

    UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

  3. 3

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  4. 4

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  5. 5

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.