ABSTRACT Currently the world is being rocked by worries because of a virus, namely Corona or Covid-19, a small virus that is capable of killing hundreds of thousands of people, the emergence of this virus is a source of grief for the whole world, because it has spread almost throughout the world, Indonesia is one of them. The attitude of tolerance does not have a time limit, place and with whom we do it, but the attitude of tolerance we do with everyone. The attitude of tolerance is not only carried out by respecting race, religion, culture, ethnicity and other groups of people, but also respecting people's opinions, including tolerance.
BAB 1 \ PENDAHULUAN Budaya berasal dari kata buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (akal). Diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal dan budi pekerti manusia (Wikipedia, 2019). Budaya merupakan sesuatu yang melekat pada peradaban manusia. Seperti Bung Hatta bilang, kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa. Identitas suatu bangsa, bisa terlihat dari budayanya. Seperti contoh bagaimana kita mengenali orang timur dengan keramahannya yang khas dan mengenali karkater.
Sikap toleransi tidak memiliki batas waktu,tempat dan dengan siapa kita melakukannya namun sikap toleransi kita lakukan dengan semua orang. Sikap toleransi tidak hanya dilakukan ketika menghargai ras,agama, budaya, suku dan golongan orang lain saja tetapi menghargai pendapat pemikiran orang jugatermasuk dari toleransi. Saat ini dunia sedang diguncang oleh kekhawatiran karena sebuah virus yaitu Corona atau Covid-19, virus kecil yang mampu membunuh ratusan ribu orang, munculnya virus ini menjadi sumber duka bagi seluruh dunia, karena sudah menyebar hampir ke seluruh dunia, Indonesia salah satunya.
Diharapkan dua pendekatan tersebut menjadi kolaborasi yang baik untuk menciptakan tatanan masyarakat yang bisa menerima perbedaan tanpa mempermasalahkan perbedaan, terlebih di tengah pandemi seperti sekarang kedua pendekatan ini diharapkan mampu membantu mengeratkan rasa toleransi terhadap sesama manusia.
BAB II PEMBAHASAN A. Dasar Hukum Toleransi Menurut sensus BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2010, terdapat 1.340 suku yang ada di Indonesia yang tersebar dari kota Sabang hingga kota Merauke. Dengan beragamnya suku yang ada, menyebabkan dinamika sosial yang beragam pula. Tidak jarang muncul konflik di tengah-tengah masyarakat yang majemuk ini. Dari mulai konflik kecil hingga konflik besar pun tak dapat terelakkan..Dari riset saya di internet dan beberapa teman saya yang memberikan pendapat, permasalahan yang timbul dalam masyarakat majemuk di Indonesia biasanya dipicu oleh dua hal. Pertama, berbedanya cara pandang. Setiap individu atau kelompok pasti memiliki perbedaan dalam memandang suatu perkara. Ini merupakan hal yang mendasar ketika terjadi konflik. Kedua, loyalitas terhadap golongannya. Mencintai budaya sendiri akan membentuk sikap loyal yang tinggi, sehingga terkadang ada individu yang mengutamakan kepentingan golongannya dibanding kepentingan bersama. Diperlukan sebuah sikap yang berfungsi sebagai pemersatu perbedaan tersebut.
Kementerian Agama telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah Dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman COVID di Masa Pandemi. Setelah Surat Edaran tersebut resmi disebarluaskan ke masyarakat, banyak umat kristiani yang bertanya-tanya, kapan bisa kembali beribadah di rumah ibadah? Menindaklanjuti hal tersebut, Berita Satu Channel sebagai salah satu media elektronik langsung mengundang Dirjen Bimas Kristen, Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si. untuk membahas lebih lanjut Surat Edaran tersebut dalam acara Lunch Talk Live pada Minggu (28/06) pukul 13.15 WIB. Tema yang diusung melalui wawancara pembawa acara, Julita Telaumbanua bersama Dirjen adalah “Merawat Toleransi di Tengah Pandemi.”
Masalah lain yang timbul karena covid-19 adalah banyaknya pekerja yang di PHK, serta para pekerja yang di rumahkan dan pekerja serabutan yang kehilangan mata pencaharian seperti ojek online, pedagang dll terlebih setelah di berlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah.
Sehingga masa pandemi ini menjadi masa yang sangat tepat untuk merajut kebersamaan, toleransi, tolong menolong antar umat beda agama dan kepercayaan, tanpa mempertanyakan apa suku dan kebudayaan mereka tetapi atas nama kemanusiaan dalam memerangi virus covid-19 ini. Masyarakat harus bisa meningkatkan toleransi di tengah pandemi, seperti tidak memberikan stigma kepada pasien yang positif covid-19, terhadap keluarga maupun kerabatnya melainkan memberikan suport dan menghindarkan pasien Covid-19 dari hukuman sosial seperti pengasingan dan pengucilan oleh masyarakat
B. Manfaat Nilai Toleransi Terutama di Tengah Pandemi Nilai toleransi memiliki manfaat yang luar biasa yang perlu dikembangkan dalam kehidupan karana Allah menciptakan manusia yang memiliki latar belakang yang berbeda dan perbedaan ini merupakan alamiah yang tidak bisa dipungkiri, diantara manfaat toleransi dalam kehidupan manusia yang pluralistic 1. Menguatkan sikap nasionaisme Toleransi bisa menunjukkan seberapa besar rasa nasionalisme dikalngan generasi milineal yang merupakan agen perubahanyang tentunya harus menumbuhkan rasa cinta yang tinggi pula terhadap tanah airnya. Adanya sikap toleranmaka akan timbul rasa nasionalismepada diri sendiridan akan semakin cinta tanah airnya dengan keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia. 2. Menciptakan keharmonisan dan kedamaian Dengan ditanamkan sikap toleran dalam kehidupan akan menumbuhkan kedamaian, sikap ini akan mampu menahan dirinya untuk tidak memaksakan pendapat pribadi kepada orang lain. Sehingga keharmonisanpun akan tetap terjaga, karena mereka bisa saling memahami satu sama lain. Dengan begitu kedamaianpun akan tercipta karena memahami latar belakang dari perbedaan yang dimiliki oleh setiap individu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan merupakan hal yang wajar dan alamiyah yang tidapat dipungkiri. 3. Meningkatkan rasa Persaudaraan Persaudaraan merupakankunci sukses dalam menciptakan dan melestaarikan tata kehidupan masyarakatyang baik, terhormat, dan bermartabat. Dengan sikap toleransi yang dimiliki seseorang akan meningkatkan rasa persaudaraan , akan timbul rasa kasih sayang kepada sesame meski memiliki perbedaan, apalagi bangsa Indonesia merupakan negara yang majemuk penduduknya. Sesuai dengan al-qur’an surat al-Hujurat ayat 10 penjelasan ayat ini Allah menegaskan bahwa walaupun orang- orang mukmin itu berbeda-beda bangsa,etnis, Bahasa, warna kulit, dan adat kebiasaannya serta stratifikasi sosialnya. Penjelasan dari para ulama bahwa persaudaraan atau ukhuwah terdiri dari ukhuwah Islamiyah, ukhuwah diniyah , ukhuwah basariyah dan ukhuwah wathoniyah.
Ukhuwah basariah ( persaudaraan dengan manusia)dengan tidak melihat latar belakang perbedaan, begitu juga dengan ukhuwah wathoniyah. Toleransi merupakan sikap yang menghargai dan memperbolehkan suatu pendapat yang berbeda serta seseorang harus menghargai pendapat tersebut, dalam hal ini ditegaskan bahwa setiap individu memiliki pandangan yang berbeda- beda. Islam mengajarkan kepada kita untuk menghormati dan menghargai agama lain sebagai landasan dalam alqur’an dan hadits. Salah satu penerapan sikap toleransi dalam kehidupan beragama islam sudah mengajarkan di dalam Qs al-Kafirun ayat 1 sampai 6 secara tegas dan jela. Batasan toleransi dalam beragama, dalam kehidupan negara yang bermajemuk dengan agama tentunya sikap toleransi menjadikan karakter yang harus di tanamkan oleh bangsa ini apalagi dikalangan generasi milineal yang rentan dengan perpecahan .
Saat ini kita sudah terasuk ke dalam generasi milenial,milenial kadang disebut echo boomers karena adanya “booming”(peningkatan besar). Generasi milenial sudah termasuk ke dalam generasi yang canggih,karena sudah banyak menggunakan media dan teknologi digital.
Berbicara terkait era milenial, milenials merupakan istilah populer atau yang sering kita sebut ABG (Anak Baru Gede). Menariknya generasi yang satu ini selalu dianggap spesial dan berbeda dari generasi yang lain atau sebelumnya. Kelahiran mereka selalu dikaitkan dengan teknologi. Mereka lahir di saat kecanggihan tenologi diperkenalkan dan ini membuat generasi ini menjadi perbicangan yang hangat di kalangan masyarakat Mulai dari segi pendidikan, moral, budaya, dan cara mereka bersosialisasi di kalangan masyarakat.
Di negara Indonesia sendiri penduduk yang termasuk generasi milenial berkisar 81 juta penduduk atau sekitar 32 persen dari total penduduk indonesia. Namun bukan jumlah kaum milenialnya yang perlu kita bahas saat ini akan tetapi, apakah mereka mampu menyatukan keberagaman yang ada di negeri ini dengan sikap toleransi yang semakin hari semakin hilang di tengah masyarakat kita? Inilah merupakan tantangan terberat bagi generasi milenial indonesia saat ini. Di era saat ini dimana dunia bergerak tanpa batas membuat generasi milenial menjadi generasi yang sangat mahir menggunakan teknologi dan sarana apapun dibanding generasi sebelumnya yang membuat mereka seakan menjadi primadona termasuk dalam media sosial.
Perkembangan kehidupan membuat pemuda menjadi tidak akrab terhadap lingkungan yang mana melalui teknologi manusia jaman sekarang tidak lagi membutuhkan bantuan orang lain. Sikap individualis menjadi sangat tinggi di kalangan masyarakat sekarang ini. Mereka juga terkontaminasi dengan paham intoleran dan radikal karena sesuai dengan sifat mereka yang ingin tau dan dengan mudah mengakses informasi, maka mereka banyak mengakses media sosial yang kemudian lebih memilih konten intoleran yang menyuguhkan konten konten yang menarik dan membius pemahaman mereka yang masih polos.
BAB III KESIMPULAN Di tengah situasi pandemic pencegahan lain infeksi COVID-19 yaitu dengan menghindari faktor-faktor yang dapat menyebabkan seseorang terinfeksi virus ini di antaranya, menghindari bepergian ke tempat-tempat yang ramai pengunjung, menggunakan masker saat beraktivitas, rutin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, meghindari kontak dengan hewan liar, menutup hidung dan mulut saat batuk dan bersin dengan tisu sekali pakai. Hal ini tentu menyadarkan semua orang baik non-muslim maupun muslim untuk menjaga kebersihan, karena menjaga kebersihan merupakan sebagian dari iman. Sikap toleransi tidak memiliki batas waktu,tempat dan dengan siapa kita melakukannya namun sikap toleransi kita lakukan dengan semua orang, baik dari segi bantuan medis, bantuan secara ekonomi, dll.
Nama : Sharon Carmely Pasaribu Nim : 190501164 Prodi : Ekonomi Pembangunan Judul Esai : Budaya Toleransi Dalam kehidupan Bermasyarakat di Tengah Pandemi Covid19
DAFTAR PUSTAKA https://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum/360253/jaga-toleransi-di-tengah-kemajemukan. https://www.asilha.com/2020/05/29/toleransi-di-tengah-pandemi-covid-19/ https://bdkjakarta.kemenag.go.id/berita/toleransi-di-kalangan-generasi-milenial https://www.uin-antasari.ac.id/covid-19-dan-toleransi-antar-umat-beragama/ https://bimaskristen.kemenag.go.id/news-162-merawat-toleransi-di-tengah-pandemi.html
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda