Oleh: Sasna Fianti B
JurnalPost.com - Definisi krisis nilai tukar (currency crises) adalah suatu situasi di mana adanya serangan pada mata uang yang mengakibatkan depresiasi yang sangat tajam pada mata uang atau penurunan besar – besaran pada cadangan devisa, atau meru- pakan kombinasi antara keduanya.Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang fokus terhadap pembangunan ekonomi nasional. Pembangunan ekonomi di suatu negara membutuhkan dana yang relatif besar. Alternatif pengerahan dana dari luar negeri merupakan salah satu pilihan yang harus dilakukan oleh pemerintah guna pembangunan ekonomi tersebut. Bantuan luar negeri menjadi suatu kebutuhan mengingat kondisi perekonomian Indonesia yang memprihatinkan. Utang luar negeri yang diterima Indonesia tidak diperoleh secara gratis. Tetapi ada kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh Indonesia sebagai debitur negara lain. Pada dasarnya Indonesia sudah berhutang sejak presiden Soekarno menjabat sebagai presiden pertama di Indonesia. Selanjutnya utang diteruskan pada pemerintahan orde baru dan saat itu Indonesia mengalami lonjakan utang yang cukup tinggi. Teori ketergantungan menjelaskan bahwa utang luar negeri meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi menghambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.. Peningkatan utang luar negeri pemerintah ini sebagian disebabkan oleh kurangnya anggaran pemerintah dan pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri yang jatuh tempo, yang mengakibatkan peningkatan utang luar negeri yang signifikan.
Utang-utang tersebut digunakan untuk membiayai berbagai infrastruktur dan fasilitas negara, tetapi pada saat itu dana yang didapat dari utang banyak disalahgunakan oleh oknum untuk memperkaya dirinya sendiri. Negara akan terlibat dalam pembiayaan defisit besar-besaran untuk membayar proyek-proyek sektor publik dan pendanaan pemerintah untuk merangsang ekonomi domestik. Sementara, faktanya, negara-negara dengan defisit publik dan utang yang besar kurang menarik bagi investor asing. Alasannya? Sebuah utang besar mendorong inflasi, dan jika inflasi tinggi, utang tak akan dibayar seketika dan akhirnya terbayar dengan dolar nyata lebih murah di masa depan. Dalam skenario terburuk, pemerintah mungkin mencetak uang untuk membayar sebagian dari hutang yang besar, tetapi meningkatkan jumlah uang beredar pasti menyebabkan inflasi.
Apalagi, jika pemerintah tidak dapat mengatasi defisit melalui cara-cara dalam negeri (menjual obligasi dalam negeri, meningkatkan jumlah uang beredar), maka harus meningkatkan pasokan penjualan sekuritas asing, sehingga menurunkan harga mereka. Akhirnya, utang besar dapat menimbulkan kekhawatiran bagi orang asing, yakni ketika mereka percaya bahwa negara berisiko men-default (memutihkan) utang-utangnya. Orang asing akan kurang bersedia untuk memiliki surat berharga dalam mata uang dalam negeri jika risiko defaultnya besar. Untuk alasan ini, peringkat utang negara (sebagaimana ditentukan oleh Moody atau Standard & Poor, misalnya) adalah penentu penting dari nilai tukar.Adanya utang luar negeri mempengaruhi negara Indonesia. Dalam jangka pendek, utang luar negeri dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Kehadiran utang negara di luar negeri akan memperbaiki kondisi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi serta membantu pemerintah mengisi defisit APBN. Namun, dalam jangka panjang, negara akan menanggung pembayaran angsuran dan bunga utang luar negeri yang terus meningkat. (Cahyaningrum et al., 2022).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ULN Indonesia. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat ULN Indonesia antara lain ekspor, produk domestik bruto (PDB), dan nilai tukar rupiah (kurs).Utang luar negeri diperlukan untuk memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dengan cara meningkatkan produksi (PDB), memperluas kesempatan kerja dan memperbaiki neraca pembayaran. Tetapi, apabila utang digunakan secara tidak wajar maka kemungkinan utang tersebut akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi bahkan mengancam kestabilan makroekonomi negara. Kondisi 4 utang luar negeri Indonesia baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya tidak lepas dari kondisi perekonomian sebelumnya. Dengan kata lain, buruknya kinerja perekonomian di tahun-tahun sebelumnya bisa jadi sebagai pendorong munculnya masalah utang luar negeri saat ini. Utang luar negeri terus meningkat setiap tahunnya baik jumlah maupun cicilannya sehingga Indonesia terjebak dalam perangkap utang (debt trap) dimana pembayaran utang ditutupi dengan utang baru. Hal ini akan mengancam perekonomian suatu negara, dimana apabila suatu negara tidak mampu lagimembayar utang kepada pihak yang bersangkutan maka negara tersebut dinyatakan bangkrut. Secara garis besar pengelolaan utang yang buruk dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu buruknya analisa biaya dan buruknya analisa risiko. Dengan demikian yang perlu dilakukan dalam pengelolaan utang pada dasarnya adalah bagaimana melakukan analisa risiko, dan tentunya juga analisa biaya dengan baik.
Utang negara jenis pinjaman adalah pembiayaan melalui utang yang diperoleh Pemerintah dari pemberi pinjaman dalam negeri atau luar negeri yang diikat oleh suatu perjanjian pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara, yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu. Dampak yang ditimbulkan dari hutang luar negeri adalah beban cicilan dari bunga hutang. Secara tidak langsung alokasi dana yang seharusnya digunakan untuk pengeluaran yang lain harus dialokasikan untuk pembayaran. Pinjaman hutang luar negeri sebagai alternatif dalam pembiayaan untuk pembangunan yang digunakan untuk peningkatan investasi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Banyaknya utang yang semakin melonjak mwmbuat negara harus berusaha agar melunasi. Kebutuhan pinjaman luar negeri merupakan sesuatu yang wajar untuk negaranegara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Pemerintah melakukan pinjaman luar negeri karena penerimaan pemerintah yang berasal dari pajak maupun penerimaan 5 lainnya tidak mencukupi untuk membiayai pengeluaran pemerintah, baik untuk pengeluaran publik maupun pengeluaran aparatur. Dengan demikian pinjaman menjadi salah satu faktor yang menentukan terjadinya kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) suatu anggaran negara. Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan pendapatan negara yang tidak mengalami penurunan. Diketahui bahwa tiap tahun Indonesia selalu saja mengalami krisis keuangan. Krisis keuangan yang terjadi diberbagai negara secara umum memiliki pola tertentu. Oleh karena itu, berbagai penyebab krisis tersebut dapat dibagi ke dalam beberapa tipologi. Secara teoritis krisis dapat dibagi dalam beberapa tipologi berdasarkan sebabnya. Radelet dan sachs (1998) memberikan beberapa tipologi penyebab dari krisis keuangan sebagai berikut. (Harahap, 2013).
Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia membuat utang luar negeri pemerintah meningkat drastis jika dihitung dalam mata uang rupiah. Hal ini disebabkan karena nilai tukar rupiah mengalami depresiasi yang tajam. Kenaikan akumulasi utang luar negeri menyebabkan pemerintah harus mengambil utang luar negeri yang baru untuk membayar utang luar negeri yang jatuh tempo. Beban utang luar negeri berupa cicilan pokok dan bunga utang bertambah besar dari tahun ke tahun sejalan dengan peningkatan utang luar negeri sehingga membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dampak pelemahan nilai tukar rupiah dapat memperbesar utang luar negeri, karena pelemahan nilai tukar rupiah membuat utang luar negeri yang harus dibayarkan semakin tinggi.
Disamping itu, pergerakan nilai tukar yang fluktuatif akan mempengaruhi suatu negara dalam menstabilkan perekonomian negaranya. Krisis terjadi bila pemerintah suatu negara melakukan devaluasi akibat semakin menurunnya cadangan devisa. (Mehdi, 2012) menyatakan bahwa hal ini terjadi karena nilai mata uang domestik mengalami overvaluation terhadap mata uang asing yang dalam hal ini umumnya adalah dolar AS. Konsekuensi dari overvaluation ini adalah menurunnya daya saing harga barang ekspor sehingga pertumbuhan ekspor melambat, sementara harga barang impor menjadi relatif lebih murah di dalam negeri dan menyebabkan meningkatnya pertumbuhan impor.
Dampak putaran akhirnya adalah meningkatnya defisit dalam neraca transaksi berjalan. Bila neraca pembayaran masih relatif baik karena adanya aliran dana masuk berupa penanaman modal asing, pinjaman luar negeri dan investasi portofolio, maka secara umum keadaan ini masih relatif aman. Namun bila faktor-faktor tersebut tidak terjadi, maka cadangan devisa akan terkuras untuk mempertahankan nilai tukar tetap, sampai pada suatu saat di mana devaluasi harus dilakukan untuk mempertahankan cadangan devisa supaya tidak terkuras. Secara teoritis dari diagramatis, dapat ditafsirkan bahwa danpak utama penurunan nilai tukar adalah secara efektif akan menurunkan daya beli (permintaan) konsumen terutama masyarakat berpendapatan menengah dan rendah (miskin). Dampak penurunan permintaan ini akan mendorong menurunnya produksi barang dan jasa . Dari sudut produsen, krisis penurunan nilai tukar dan naiknnya bunga uang dan kandungan input impor cukup besar akan mendorong biaya produksi, sehingga harga barang naik. Besar kemungkinan tekanan inflasi terutama cost push inflation adalah bahaya yang datang menyelinap ke dalam ekonomi Indonesia. Apabila daya beli menurun serta harga barang dan jasa meningkat, maka kemungkinan besar perusahaan akan memotong jumlah produksi (output) yang dapat berdampak terhadap PHK tenaga kerja. Kalau ini terjadi maka urban and rural unemployed labor akan semakin meningkat. Ujungnya adalah keresahan sosial.
Dalam krisis ekonomi, PDB kemungkinan besar akan menurun, likuiditas akan anjlok, dan harga akan naik atau turun karena inflasi atau deflasi. Resesi atau depresi adalah dua jenis krisis ekonomi. Selama periode krisis, ancaman berubah menjadi bahaya yang menjadi dasar untuk mendefinisikan keadaan yang tidak aman dari sistem apa pun. Krisis ekonomi mewakili situasi di mana ekonomi suatu negara melewati penurunan kekuatannya secara tiba-tiba, penurunan yang biasanya disebabkan oleh krisis keuangan. Krisis ekonomi mungkin memiliki bentuk stagflasi, resesi atau depresi ekonomi yang bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal. Misalnya, pecahnya konflik, kebijakan politik, kelangkaan, hingga embargo. Suatu negara yang mengalami krisis ekonomi tentu disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor Eksternal Faktor penyebab krisis keuangan di indonesia datang dari dua sisi yaitu eksternal dan internal. Tindakan pemerintah menanggulangi krisis keuangan dengan mengendalikan SBI dan SPBU dengan mengetatan fiskal menyebabkan terjadinya “stress“ dalam ekonomi. Proses asimetry information antara swasta dan pemerintah maupun masyarakat dan pemerintah serta insvetasi asing membuat keadaan semakin memburuk. Keterangan pemerintah karena kurangnya informasi praktis telah membuat kegiatan ekonomi dalam posisi “wait and see”, baik pemegang rupiah maupun dollar. Dalam kondisi ini pemegang uang rupiah praktis mengalami devaluasi yang sampai saat ini sebesar 35-40% (bandingkanlah dengan devaluasi 1986 senesar 45%). Kalau ditelusuri masa ke kelakang, praktis rupiah didevaluasi tiap akhir PELITA. Hanya bedanya, sekarang devaluasi berjalan melalui mekenisme pasar (nilai rupiah dikoreksi oleh mekanisme pasar). Penyebab mengapa dollar terapresiasi adalah karena faktor eksternal yakni membaiknya ekonomi Amerika dewasa ini, dengan rate of return yang lebih tinggi telah mengalirkan investasi dollar kepasar uang Amerika Serikat, sehingga pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat semakin membaik. Kelangkaan (scarcity) modal di Asia antara lain disebabkan kombinasi dari alasan mengalirnya sebagian modal ke berbagai tempat di dunia, seperti Amerika Latin, Rusia dan Eropa Timur.
Majalah ”Time“ (Nopember 3, 1997) memperkirakan US $ 1 - 16 billion ke luar ke Amerika Latin dan Eropa Timur melalui pasar uang Amerika (mutual funds). Di kedua kontinen ini terjadi proses privatisasi besar-besaran, perusahan milik pemerintah termasuk penyediaan barang publik ke sektor suasta. Akibatnya di Asia permintaan terhadap dollar dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) dan fortofolio investment meningkat sedang penawaran (supply) dollar terbatas. Akibatnya nilai rupiah merosot dan diperketatnya likuiditas rupiah, sehingga perekonomian mengalami pukulan berat. Dalam kaitan ini, perusahaan suasta yang memiliki utang jatuh tempo mendorong pembelian dollar dan mungkin juga dikombinasi dengan kegiatan spekulasi uang. Salah satu kelemahan pinjaman uang suasta adalah digunkannya pinjaman komersial berbunga tinggi pada proyek yang hasilnya berjangka panjang. Akibatnya pihak swasta mengalami kesulitan membeli dollar karena: (a) rupiah diperketat likuiditasnya, dan (b) kelangkaan dolar dipasar uang. Semenjak rupiah mulai mengalami apresiasi 2-3 tahun lalu, juga seperti dialami oleh Baht-Thailand dan Ringgit-Malaysia dengan mudah dimanfaatkan oleh spekulator uang dari dalam dan manca negara.
Faktor Internal Penyebab dari faktor krisis keuangan dewasa ini dapat disebabkan: (a) dolar tidak menggali dollar, yang didapat dari luar tidak digunakan untuk memperkuat ekspor dan lebih bersifat konsumtif, (b) kondisi perbankan yang tidak sehat (terlalu banyak bank bermasalah dan tidak efisien), (c) sistem monitoring dan pengawasan (surveillance system) dibidang keuangan dan moneter sangat lemah dan tidak bekerja dengan baik, (d) faktor struktur ekonomi di berbagai bidang, sektor dan komoditi yang masih terdistorsi karena ketidaksempurnaan bekerjanya pasar, antara lain karena monopoli dan monopsoni dan sejenisnya, dan (e) balance of payment yang defisit
Faktor-faktor internal di atas sesungguhnya jauh lebih baik apabila diletakkan atau membawanya ke dalam kerangka pemikiran pencapaian pertumbuhan ekonomi dan implikasi ekonomi makronya. Krugam (1995) dalam bukunya menjelaskan dengan tegas bahwa pertumbuhan ekonomi Asia bukanlah keajaiban (miracle) seperti dalam laporan Bank Dunia. Saya teringat dua tahun lalu ketika Bank Dunia mengundang saya ke suatu pertemuan di Mauritius menjelaskan pada ekonom peserta dari negara Afrika bahwa tidak ada “economic miracle“ di Asia. Kemudian tahun 1996 ketika ekonomi Thailand masih tinggi pertumbuhannya, pendapat Krugman ini saya ajukan lagi pada ekonom ASEAN. Mengapa ini saya kemukakan karena basis stuktur dan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Tenggara masih rapuh (lemah). Berhasilnya negara Asia Tenggara dan Timur dalam mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi sebelum krisis melanda karena dua faktor yaitu: (a) adanya mobilisasi sumberdaya alam dan tenaga kerja yang murah, baik via migrasi maupun dieksploitasinya kekayaan hutan dan tambang, dan (b) membanjirnya Foreign Direct Investment (FDI) ke Asia, menunjukan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi Asia itu kurang langgeng (unsustainble) karena faktor “efficieency gain” yang mana pertumbuhan diperkirakan sangat kecil. Kita mengetahui salah satu “efficieency gain” yang paling dominan adalah perubahan teknologi. Kalau dilihat kinerja ekonomi sampai saaat ini dapat dikatakan sejalan dengan pendaopat Krugman di atas. Dalam menghadapi suatu krisis nilai tukar dalam negeri sebagai upaya mengurangi penurunan mata uang, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan guna sebegai antisipasi. Beberapa persiapan dalam menghadapi krisis ekonomi yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut.
1. Maksimalkan Tabungan Pribadi Dalam persiapan menghadapi krisis, hal paling fundamental yang harus diperkuat adalah dana tabungan. Hal ini dimaksudkan karena tabungan dapat digunakan sewaktu-waktu jika dalam kondisi mendesak. Maka dari itu untuk memaksimalkan dana tabungan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Mulai dari membuka rekening giro, tabungan deposito, hingga pasar uang. Investasi jangka pendek juga bisa membantu dalam menghadapi krisis. Hindari berinvestasi dalam saham berisiko tinggi. Dalam kondisi krisis, beberapa indeks saham bisa saja anjlok seketika. Buatlah tabungan pribadi di beberapa produk keuangan. Dengan begitu, kamu memiliki beberapa dana tabungan yang bisa digunakan dengan bijak.Memiliki beberapa sumber tabungan juga bisa membuat keuanganmu lebih aman jika sewaktu-waktu kesulitan mengakses rekening dari satu tabungan.
2. Susun Rencana Anggaran Persiapan menghadapi krisis yang kedua adalah menyusun anggaran. Apabila seseorang tidak tau persis berapa banyak uang yang kamu keluarkan setiap bulan, seseorang tidak akan tau berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk dana darurat. Jika kamu tidak memiliki anggaran, kamu juga tidak tau apakah kamu saat ini hidup sesuai dengan kemampuanmu atau terlalu memaksakan diri. Anggaran tidak akan memaksamu untuk mengubah perilaku berbelanja, melainkan dapat menjadi alat untuk membantumu dalam membuat keputusan keuangan.
3. Minimalisir Tagihan Bulanan Persiapan menghadapi krisis selanjutnya adalah mengurangi tagihan bulanan. Banyak pekerja yang gajinya menipis di awal bulan karena harus melunasi tagihannya.Maka dari itu, sebaiknya kamu mulai memangkas kebutuhan belanja yang tidak esensial. Terutama kebiasaan menggunakan pembayaran paylater yang bisa membuatmu sedikit kalap.misalnya, cobalah untuk menghemat penggunaan kuota internet, mengurangi urusan belanja pakaian, dan menekan budget untuk nongkrong ke kafe. Dengan begitu, kamu bisa menekan tagihan bulanan agar tidak semakin besar.
4. Manfaatkan Voucher dan Aset Non Tunai Persiapan menghadapi krisis ini bisa jadi cara dalam menghemat pengeluaran. Saat ini, beberapa marketplace menawarkan berbagai voucher diskon dan cashback yang bisa memperkaya aset non-tunaimu.Menggunakan berbagai promo dengan sebaik mungkin bisa membantumu memperoleh barang yang sama dengan harga yang lebih murah. Selain itu, kamu juga bisa memanfaatkan kupon atau poin lain yang kamu miliki.Beberapa lembaga keuangan sering mengadakan program tukar poin atau tukar kupon menjadi hadiah yang menarik. Kamu bisa memanfaatkannya untuk mendapat keuntungan dan menghemat anggaran.
5. Lunasi Utang dan Kredit Sebelum memasuki masa krisis ekonomi yang semakin buruk, akan lebih bijak jika kamu melunasi semua utang dan tagihan kartu kredit. Dengan melunasinya, kamu bisa mengurangi beban finansial saat krisis datang.Pasalnya, keterlambatan melunasi tagihan akan dikenakan bunga yang cukup membebani finansialmu. Menghadapi krisis dalam kondisi stabil tanpa utang juga bisa membuatmu jadi lebih tenang.
6. Cari Pekerjaan Sampingan Jika memungkinkan, cobalah untuk mencari pekerjaan sampingan sebagai persiapan menghadapi krisis. Memiliki pemasukan tambahan di tengah krisis adalah hal yang sangat penting. Setiap orang memiliki sesuatu yang dapat mereka lakukan untuk mendapatkan uang tambahan, baik itu menjual harta benda yang tidak lagi digunakan, menjadi babysitter anak, mengejar bonus pembukaan rekening bank, pekerja lepas, atau mencoba bisnis. Uang yang kamu peroleh dari pekerjaan sampingan ini mungkin tidak signifikan dibandingkan dengan apa yang kamu peroleh dari pekerjaan utama, tetapi jumlah kecil pun dapat menambah sesuatu yang berarti dari waktu ke waktu.
7. Cek Polis Asuransi Persiapan menghadapi krisis yang terakhir adalah mengecek polis asuransi. Urusan kesehatan merupakan bagian terpenting yang harus dipersiapkan dalam kondisi krisis.Biaya kesehatan sendiri termasuk biaya yang cukup besar dalam anggaran keuangan. Oleh sebab itu, ada baiknya kamu memastikan manfaat apa saja yang akan didapatkan dari asuransi yang kamu miliki.Beberapa asuransi memberikan manfaat penggantian biaya konsultasi dokter, rawat inap, UGD, dokter gigi, hingga asuransi kecelakaan dengan nominal yang berbeda. Pilihlah asuransi dengan manfaat yang paling sesuai dengan kebutuhanmu. Polis asuransi adalah Akta perjanjian asuransi atau dokumen lain yang dipersamakan dengan akta perjanjian asuransi, serta dokumen lain yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan perjanjian asuransi, yang dibuat secara tertulis dan memuat perjanjian antara pihak perusahaan asuransi dan pemegang polis.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda