Shanghai, JurnalPost.com - Perusahaan sarang burung walet asal Indonesia, Yan Taitai, memperkuat ekspansi bisnisnya di China. Perusahaan tersebut mengumumkan peningkatan strategi secara menyeluruh dari pemasok terintegrasi rantai industri sarang burung walet menjadi penyedia layanan inovatif untuk seluruh rantai industri.
Dilansir Xinhua, Jumat (3/7), langkah tersebut dilakukan seiring dengan makin besarnya peluang pasar sarang burung walet yang dapat dikonsumsi atau edible bird's nest (EBN) di China.
Yan Taitai saat ini telah merampungkan pembangunan basis manufaktur cerdas di Distrik Fengxian, Shanghai. Perusahaan juga tengah merencanakan pembangunan tahap II kawasan industri bersama yang akan mencakup seluruh rantai industri sarang burung walet.
Kawasan industri tersebut akan meliputi penelusuran bahan baku, produksi dan pengolahan, inovasi penelitian dan pengembangan atau litbang, hingga layanan saluran distribusi.
Dengan memanfaatkan tahap II kawasan industri itu, Yan Taitai Group berencana membangun Big Health Food Research Institute atau Institut Penelitian Pangan Kesehatan Besar. Fasilitas ini akan menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat inovasi produk berbasis sarang burung walet.
Presiden Yan Taitai Group, Li Li, mengatakan perusahaan kini tengah bertransisi dari model pasokan original equipment manufacturer atau OEM tradisional. Yan Taitai akan bergerak menuju kerangka kerja sama baru yang berfokus pada pemberdayaan terintegrasi di seluruh rantai industri.
Menurut Li, strategi baru itu juga diarahkan untuk mendorong penciptaan bersama industri secara lebih mendalam. Perusahaan akan membangun arsitektur layanan teknis tiga tingkat, yakni pengujian dasar, litbang yang disesuaikan, serta penciptaan bersama gabungan.
Layanan tersebut ditujukan bagi berbagai merek pada tahap pengembangan yang berbeda-beda. Mulai dari perusahaan rintisan atau start-up, perusahaan yang sudah mapan, hingga para pemimpin industri.
Yan Taitai juga akan menggandeng sejumlah universitas terkemuka di China. Di antaranya East China University of Science and Technology dan Universitas Jiangnan untuk membangun laboratorium bersama.
Laboratorium tersebut nantinya akan membantu mengonversi hasil penelitian ilmiah mutakhir ke dalam kebutuhan industri. Cakupannya mulai dari pengujian bahan baku, registrasi khasiat, hingga formula original design manufacturer atau ODM yang disesuaikan.
Melalui langkah tersebut, siklus litbang produk bagi klien diharapkan dapat dipersingkat secara signifikan.
Selain memperkuat fasilitas riset dan produksi di China, Yan Taitai juga meluncurkan Rencana Ekspansi Lima Tahun Rumah Sarang Burung Walet Indonesia.
Program itu menargetkan perluasan kerja sama hingga 500 rumah sarang burung walet terstandardisasi pada masa mendatang.
Seluruh fasilitas yang berpartisipasi dalam program tersebut akan mengikuti standar regulasi setempat di Indonesia. Standar itu mencakup proses penilaian, pengujian, hingga sistem ketertelusuran yang seragam.
Inisiatif ini disebut akan memperkuat siklus industri dari hulu hingga hilir. Rantai tersebut menghubungkan rumah sarang burung walet, pusat pengolahan primer di Indonesia, pusat perdagangan global, kawasan industri domestik, hingga konsumen akhir.
Dengan sistem tersebut, Yan Taitai menargetkan kendali kualitas asal produk dapat semakin diperkuat secara berkelanjutan.
“Saat ini, permintaan konsumen akan EBN berkualitas tinggi terus meningkat di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Inovasi dan kerja sama akan menjadi pendorong penting untuk mencapai pengembangan berkualitas tinggi di industri EBN dalam lima tahun ke depan,” ujar Li.
Li menambahkan, peluncuran strategi baru dan ekosistem kolaboratif tersebut menjadi tonggak penting bagi pengembangan Yan Taitai. Menurutnya, langkah itu juga menjadi titik awal baru untuk memperdalam kerja sama dengan para mitra industri.
Duta Besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, turut mengapresiasi langkah Yan Taitai. Ia menilai perusahaan tersebut telah mematuhi standar industri China dan Indonesia serta menjaga pengendalian mutu di seluruh rantai pasokan.
Djauhari berharap Yan Taitai dapat terus menjadi tolok ukur industri sarang burung walet. Ia juga berharap perusahaan dapat mendorong industri EBN Indonesia bergerak dari ekspor berbasis volume menuju peningkatan berbasis kualitas.
Selain itu, Djauhari menilai kerja sama industri antara Indonesia dan China perlu terus diperdalam. Dengan begitu, sarang burung walet asli Indonesia dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga di China.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda