Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Pelemahan Rupiah sebagai Alarm Transformasi Ekonomi Indonesia

Pelemahan Rupiah sebagai Alarm Transformasi Ekonomi Indonesia

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
09 Juni 2026, 12.32 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Pelemahan Rupiah
Ilustrasi

Oleh: Suriani, S.Pd. ( Akademisi UIN Palopo)

JurnalPost.com - Pelemahan rupiah kembali menjadi perhatian publik. Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah menghadapi tekanan akibat penguatan dolar Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik global, serta perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju. Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi, biaya impor, dan stabilitas ekonomi nasional. Namun di balik berbagai faktor eksternal tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa setiap gejolak global hampir selalu membuat rupiah berada dalam posisi rentan?

IKLAN

Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali rupiah melemah, penjelasan yang muncul hampir selalu sama: dolar Amerika Serikat menguat, konflik geopolitik meningkat, atau pasar global sedang tidak stabil. Semua penjelasan itu memang benar. Akan tetapi, jika penyebabnya hanya faktor eksternal, mengapa sebagian negara mampu bertahan lebih baik dibandingkan Indonesia? Mengapa setiap gejolak global hampir selalu membuat rupiah berada dalam posisi rentan?

Maling Di Kampus
Baca Juga

Menjadi ‘Maling’ Di Kampus Itu Pilihan?

Jawabannya terletak pada satu fakta yang sering diabaikan: Indonesia belum memiliki fondasi industri yang cukup kuat untuk menopang ketahanan ekonominya sendiri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan kontribusi sekitar 18 persen. Namun, sebagian sektor manufaktur nasional masih bergantung pada impor bahan baku, barang modal, dan komponen industri. Kondisi ini menyebabkan setiap pelemahan rupiah segera meningkatkan biaya produksi dan menekan daya saing industri dalam negeri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Namun kontribusinya belum diiringi dengan kemandirian rantai pasok industri karena sebagian bahan baku dan barang modal masih bergantung pada impor. Ketergantungan inilah yang membuat pelemahan rupiah dengan cepat meningkatkan biaya produksi nasional.

Pelemahan rupiah sesungguhnya bukanlah musibah yang datang tiba-tiba. Ia adalah alarm yang mengingatkan bahwa perekonomian nasional masih terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah, impor bahan baku industri, serta arus modal jangka pendek dari luar negeri. Ketika harga komoditas turun atau investor global menarik dananya, rupiah langsung merasakan tekanannya.

Dalam perspektif ekonomi pembangunan, kekuatan mata uang suatu negara bukan semata-mata ditentukan oleh cadangan devisa atau kebijakan bank sentral. Mata uang yang kuat lahir dari ekonomi yang produktif. Negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Jerman, dan Tiongkok tidak memiliki mata uang yang kuat karena keberuntungan, melainkan karena mereka membangun basis industri yang menghasilkan nilai tambah tinggi, inovasi teknologi, dan ekspor manufaktur yang kompetitif.

Kemerdekaan
Baca Juga

Kemerdekaan Belum Usai di Ruang Kelas

Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi paradoks pembangunan. Sebagai salah satu negara terkaya sumber daya alam di dunia, Indonesia justru masih mengimpor berbagai produk industri yang memiliki nilai tambah tinggi. Bahan mentah diekspor keluar negeri, diolah menjadi produk jadi, lalu dibeli kembali dengan harga yang jauh lebih mahal. Pola seperti ini membuat perekonomian rentan terhadap fluktuasi kurs dan memperbesar ketergantungan terhadap mata uang asing.

Persoalannya bukan semata-mata pada pelemahan rupiah, melainkan pada struktur ekonomi yang belum sepenuhnya menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Ketika suatu negara lebih banyak mengekspor bahan mentah dibandingkan produk olahan, maka keuntungan terbesar justru dinikmati oleh negara yang menguasai teknologi dan industri pengolahannya. Dalam kondisi seperti itu, fluktuasi kurs hanya menjadi gejala dari persoalan yang lebih mendasar.

Ekonom pembangunan dari Harvard University, Dani Rodrik, dalam berbagai kajiannya tentang transformasi struktural menegaskan bahwa industrialisasi merupakan salah satu jalur paling efektif untuk meningkatkan produktivitas dan mempercepat pembangunan ekonomi. Tidak ada negara yang berhasil mencapai kemakmuran berkelanjutan tanpa membangun sektor manufaktur yang kuat. Industrialisasi menciptakan produktivitas, menyerap tenaga kerja, memperkuat ekspor, dan pada akhirnya memperkokoh stabilitas ekonomi nasional.

IKLAN

Dari perspektif ekonomi syariah, ketahanan ekonomi tidak hanya diukur dari stabilitas moneter, tetapi juga dari kemampuan sektor riil menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, penguatan industri nasional sejatinya sejalan dengan prinsip maqashid syariah yang mendorong produktivitas, pemerataan kemanfaatan ekonomi, dan kemandirian bangsa.

El Niño
Baca Juga

El Niño Sangat Kuat, Sultra Tak Boleh Menunggu Sawah Mengering

Di Indonesia, pelemahan rupiah seharusnya dibaca sebagai momentum untuk mempercepat agenda tersebut. Daripada hanya sibuk mempertahankan kurs melalui intervensi pasar, pemerintah perlu menjadikan kondisi ini sebagai titik awal reformasi ekonomi yang lebih mendalam.

Langkah pertama adalah memperluas hilirisasi secara menyeluruh. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada sektor pertambangan semata. Pertanian, perikanan, perkebunan, energi terbarukan, industri farmasi, hingga ekonomi digital harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi nasional. Tujuannya sederhana: menciptakan lebih banyak produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.

Langkah kedua adalah memperkuat kemandirian industri dalam negeri. Selama sebagian besar bahan baku dan komponen masih diimpor, setiap pelemahan rupiah akan langsung meningkatkan biaya produksi. Karena itu, pembangunan rantai pasok domestik harus menjadi prioritas nasional. Indonesia membutuhkan kebijakan industri yang mampu mendorong tumbuhnya produsen bahan baku, komponen, dan teknologi dalam negeri.

Langkah ketiga adalah investasi besar-besaran pada sumber daya manusia. Industri modern tidak hanya membutuhkan mesin dan modal, tetapi juga tenaga kerja yang terampil, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pendidikan vokasi, riset, inovasi, dan pengembangan teknologi harus ditempatkan sebagai investasi strategis jangka panjang, bukan sekadar pelengkap pembangunan.

Langkah keempat adalah memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap dolar AS membuat negara berkembang rentan terhadap perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat. Diversifikasi sistem pembayaran internasional dan kerja sama mata uang lokal dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Lebih jauh lagi, Indonesia memerlukan keberanian politik untuk melakukan reformasi struktural secara konsisten. Kepastian hukum, birokrasi yang efisien, tata kelola yang transparan, dan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan industri nasional. Investor tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga stabilitas dan kepercayaan.

Dalam khazanah pemikiran Islam, Ibnu Khaldun telah mengingatkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya sumber daya yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan masyarakatnya menciptakan produktivitas dan nilai tambah. Sebuah negara akan kuat ketika sektor produksinya berkembang, tenaga kerjanya produktif, dan institusinya berjalan dengan baik. Gagasan yang ditulis lebih dari enam abad lalu itu tetap relevan dalam menjelaskan tantangan ekonomi Indonesia hari ini.

Sejarah ekonomi menunjukkan bahwa negara-negara besar tidak lahir dari kurs yang kuat, tetapi dari sektor produksi yang kuat. Rupiah yang tangguh pada akhirnya bukan hasil intervensi jangka pendek, melainkan buah dari industri yang produktif, inovasi yang berkelanjutan, dan sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, pelemahan rupiah hari ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai ancaman, tetapi juga sebagai panggilan untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional. Jika momentum ini mampu dimanfaatkan dengan baik, maka suatu hari nanti Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara kaya sumber daya alam, tetapi juga sebagai negara industri yang kuat dan berdaya saing global.

“Suriani, S.Pd., mahasiswa Magister Ekonomi Syariah UIN Palopo dan Guru Ekonomi-Akuntansi di UPT SMAN 1 Enrekang.”

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pelemahan-rupiah-sebagai-alarm-transformasi-ekonomi-indonesia/94223/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.55 WITA

  • #Opini Akademisi
  • #Opini Dosen

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Pilihan Editor

  1. 1 Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri
  2. 2

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  3. 3

    UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

  4. 4

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  5. 5

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.