Oleh: Suriani, S.Pd. ( Akademisi UIN Palopo)
JurnalPost.com - Pelemahan rupiah kembali menjadi perhatian publik. Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah menghadapi tekanan akibat penguatan dolar Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik global, serta perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju. Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi, biaya impor, dan stabilitas ekonomi nasional. Namun di balik berbagai faktor eksternal tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa setiap gejolak global hampir selalu membuat rupiah berada dalam posisi rentan?
Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali rupiah melemah, penjelasan yang muncul hampir selalu sama: dolar Amerika Serikat menguat, konflik geopolitik meningkat, atau pasar global sedang tidak stabil. Semua penjelasan itu memang benar. Akan tetapi, jika penyebabnya hanya faktor eksternal, mengapa sebagian negara mampu bertahan lebih baik dibandingkan Indonesia? Mengapa setiap gejolak global hampir selalu membuat rupiah berada dalam posisi rentan?
Jawabannya terletak pada satu fakta yang sering diabaikan: Indonesia belum memiliki fondasi industri yang cukup kuat untuk menopang ketahanan ekonominya sendiri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan kontribusi sekitar 18 persen. Namun, sebagian sektor manufaktur nasional masih bergantung pada impor bahan baku, barang modal, dan komponen industri. Kondisi ini menyebabkan setiap pelemahan rupiah segera meningkatkan biaya produksi dan menekan daya saing industri dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Namun kontribusinya belum diiringi dengan kemandirian rantai pasok industri karena sebagian bahan baku dan barang modal masih bergantung pada impor. Ketergantungan inilah yang membuat pelemahan rupiah dengan cepat meningkatkan biaya produksi nasional.
Pelemahan rupiah sesungguhnya bukanlah musibah yang datang tiba-tiba. Ia adalah alarm yang mengingatkan bahwa perekonomian nasional masih terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah, impor bahan baku industri, serta arus modal jangka pendek dari luar negeri. Ketika harga komoditas turun atau investor global menarik dananya, rupiah langsung merasakan tekanannya.
Dalam perspektif ekonomi pembangunan, kekuatan mata uang suatu negara bukan semata-mata ditentukan oleh cadangan devisa atau kebijakan bank sentral. Mata uang yang kuat lahir dari ekonomi yang produktif. Negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Jerman, dan Tiongkok tidak memiliki mata uang yang kuat karena keberuntungan, melainkan karena mereka membangun basis industri yang menghasilkan nilai tambah tinggi, inovasi teknologi, dan ekspor manufaktur yang kompetitif.
Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi paradoks pembangunan. Sebagai salah satu negara terkaya sumber daya alam di dunia, Indonesia justru masih mengimpor berbagai produk industri yang memiliki nilai tambah tinggi. Bahan mentah diekspor keluar negeri, diolah menjadi produk jadi, lalu dibeli kembali dengan harga yang jauh lebih mahal. Pola seperti ini membuat perekonomian rentan terhadap fluktuasi kurs dan memperbesar ketergantungan terhadap mata uang asing.
Persoalannya bukan semata-mata pada pelemahan rupiah, melainkan pada struktur ekonomi yang belum sepenuhnya menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Ketika suatu negara lebih banyak mengekspor bahan mentah dibandingkan produk olahan, maka keuntungan terbesar justru dinikmati oleh negara yang menguasai teknologi dan industri pengolahannya. Dalam kondisi seperti itu, fluktuasi kurs hanya menjadi gejala dari persoalan yang lebih mendasar.
Ekonom pembangunan dari Harvard University, Dani Rodrik, dalam berbagai kajiannya tentang transformasi struktural menegaskan bahwa industrialisasi merupakan salah satu jalur paling efektif untuk meningkatkan produktivitas dan mempercepat pembangunan ekonomi. Tidak ada negara yang berhasil mencapai kemakmuran berkelanjutan tanpa membangun sektor manufaktur yang kuat. Industrialisasi menciptakan produktivitas, menyerap tenaga kerja, memperkuat ekspor, dan pada akhirnya memperkokoh stabilitas ekonomi nasional.
Dari perspektif ekonomi syariah, ketahanan ekonomi tidak hanya diukur dari stabilitas moneter, tetapi juga dari kemampuan sektor riil menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, penguatan industri nasional sejatinya sejalan dengan prinsip maqashid syariah yang mendorong produktivitas, pemerataan kemanfaatan ekonomi, dan kemandirian bangsa.
Di Indonesia, pelemahan rupiah seharusnya dibaca sebagai momentum untuk mempercepat agenda tersebut. Daripada hanya sibuk mempertahankan kurs melalui intervensi pasar, pemerintah perlu menjadikan kondisi ini sebagai titik awal reformasi ekonomi yang lebih mendalam.
Langkah pertama adalah memperluas hilirisasi secara menyeluruh. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada sektor pertambangan semata. Pertanian, perikanan, perkebunan, energi terbarukan, industri farmasi, hingga ekonomi digital harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi nasional. Tujuannya sederhana: menciptakan lebih banyak produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.
Langkah kedua adalah memperkuat kemandirian industri dalam negeri. Selama sebagian besar bahan baku dan komponen masih diimpor, setiap pelemahan rupiah akan langsung meningkatkan biaya produksi. Karena itu, pembangunan rantai pasok domestik harus menjadi prioritas nasional. Indonesia membutuhkan kebijakan industri yang mampu mendorong tumbuhnya produsen bahan baku, komponen, dan teknologi dalam negeri.
Langkah ketiga adalah investasi besar-besaran pada sumber daya manusia. Industri modern tidak hanya membutuhkan mesin dan modal, tetapi juga tenaga kerja yang terampil, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pendidikan vokasi, riset, inovasi, dan pengembangan teknologi harus ditempatkan sebagai investasi strategis jangka panjang, bukan sekadar pelengkap pembangunan.
Langkah keempat adalah memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap dolar AS membuat negara berkembang rentan terhadap perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat. Diversifikasi sistem pembayaran internasional dan kerja sama mata uang lokal dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Lebih jauh lagi, Indonesia memerlukan keberanian politik untuk melakukan reformasi struktural secara konsisten. Kepastian hukum, birokrasi yang efisien, tata kelola yang transparan, dan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan industri nasional. Investor tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga stabilitas dan kepercayaan.
Dalam khazanah pemikiran Islam, Ibnu Khaldun telah mengingatkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya sumber daya yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan masyarakatnya menciptakan produktivitas dan nilai tambah. Sebuah negara akan kuat ketika sektor produksinya berkembang, tenaga kerjanya produktif, dan institusinya berjalan dengan baik. Gagasan yang ditulis lebih dari enam abad lalu itu tetap relevan dalam menjelaskan tantangan ekonomi Indonesia hari ini.
Sejarah ekonomi menunjukkan bahwa negara-negara besar tidak lahir dari kurs yang kuat, tetapi dari sektor produksi yang kuat. Rupiah yang tangguh pada akhirnya bukan hasil intervensi jangka pendek, melainkan buah dari industri yang produktif, inovasi yang berkelanjutan, dan sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, pelemahan rupiah hari ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai ancaman, tetapi juga sebagai panggilan untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional. Jika momentum ini mampu dimanfaatkan dengan baik, maka suatu hari nanti Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara kaya sumber daya alam, tetapi juga sebagai negara industri yang kuat dan berdaya saing global.
“Suriani, S.Pd., mahasiswa Magister Ekonomi Syariah UIN Palopo dan Guru Ekonomi-Akuntansi di UPT SMAN 1 Enrekang.”
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda