Oleh: Arsianita Nur Fattah, S.IP., M.PA. Profesi : Dosen (Universitas Negeri Makassar)
JurnalPost.com - Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengenal dunia sekaligus memahami diri sendiri. Namun dalam perjalanan belajar, saya sering menemukan pengalaman yang terasa ganjil. Banyak percakapan tentang sekolah dan kampus berakhir pada angka, indeks prestasi, dan siapa yang paling unggul. Jarang sekali pembicaraan dimulai dari rasa ingin tahu, keberanian berpikir, atau kegembiraan menemukan pengetahuan baru.
Sejak duduk di bangku pendidikan, nilai sering hadir sebagai pusat perhatian. Ketika hasil ujian dibagikan, suasana kelas berubah menjadi ruang perbandingan yang sunyi sekaligus ramai. Ada yang bangga, ada yang kecewa, dan tidak sedikit yang merasa dirinya ditentukan oleh angka yang tercetak di lembar penilaian. Pada saat itu, saya mulai bertanya apakah belajar sedang dirayakan atau justru sedang diukur tanpa henti.
Fenomena budaya nilai dan ranking tampaknya semakin kuat hari ini. Prestasi akademik sering dipahami melalui posisi peringkat dan skor yang dapat dipamerkan. Orang tua bangga pada angka tinggi, lembaga pendidikan berlomba menunjukkan capaian statistik, sementara peserta didik perlahan belajar bahwa keberhasilan identik dengan hasil yang terukur. Pendidikan pun terkadang terasa seperti perlombaan panjang yang tidak memberi banyak ruang untuk bernapas.
Saya tidak menolak nilai sebagai bagian dari pendidikan. Penilaian diperlukan untuk melihat perkembangan belajar dan membantu mengukur capaian tertentu. Namun persoalannya muncul ketika nilai berubah dari alat menjadi tujuan utama. Ketika angka menjadi pusat orientasi, proses belajar berisiko kehilangan ruhnya. Siswa belajar demi ujian, bukan demi pemahaman; menghafal demi skor, bukan demi makna.
Budaya ranking juga menghadirkan persoalan yang lebih dalam. Kompetisi memang dapat memotivasi, tetapi kompetisi yang berlebihan dapat melahirkan kecemasan dan rasa takut gagal. Tidak semua peserta didik berkembang dengan cara yang sama. Ada yang unggul dalam logika, ada yang kuat dalam empati, kreativitas, atau kepemimpinan. Sayangnya, sistem yang terlalu sibuk menilai sering sulit melihat keragaman potensi manusia itu.
Di tengah realitas tersebut, saya kembali memikirkan makna pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak individu yang pandai menjawab soal, tetapi juga manusia yang mampu memahami kehidupan dan bertanggung jawab terhadap sesama. Pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan proses memanusiakan manusia. Ia semestinya membentuk cara berpikir, membangun karakter, dan menumbuhkan kesadaran moral.
Karena itu, saya merasa perlu membaca ulang arah pendidikan kita. Jangan sampai sekolah dan kampus menjadi ruang yang terlalu sibuk menghitung angka, tetapi kurang memberi perhatian pada pertumbuhan manusia di dalamnya. Jika pendidikan hanya menghasilkan nilai yang baik tanpa melahirkan manusia yang kritis, empatik, dan jujur, maka mungkin kita perlu bertanya ulang: siapa sebenarnya yang sedang dididik, dan untuk tujuan apa pendidikan itu dijalankan?
Bagi saya, pendidikan pada dasarnya bukan sekadar ruang memperoleh pengetahuan teknis atau mengejar kelulusan. Pendidikan adalah proses panjang untuk membentuk cara berpikir, membangun karakter, dan memahami kehidupan secara lebih luas. Melalui pendidikan, manusia seharusnya belajar mengenal dirinya, menghargai perbedaan, serta bertumbuh menjadi pribadi yang mampu hidup bersama orang lain secara bermakna.
Saya sering merasa bahwa makna pendidikan yang demikian perlahan mengalami penyempitan. Pendidikan semakin identik dengan hasil yang dapat dihitung, dicatat, dan dilaporkan. Padahal, banyak aspek penting dalam belajar tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi angka. Kejujuran, empati, rasa ingin tahu, dan keberanian berpikir adalah kualitas yang tumbuh melalui proses, bukan sekadar melalui skor ujian.
Fenomena budaya angka dan ranking memperlihatkan kecenderungan itu dengan cukup jelas. Nilai akademik sering dijadikan simbol utama keberhasilan. Sekolah dan kampus tidak jarang sibuk membandingkan capaian melalui statistik, persentase kelulusan, atau posisi peringkat. Di tengah budaya seperti ini, peserta didik mudah percaya bahwa harga dirinya bergantung pada angka yang berhasil dicapai.
Persaingan akademik memang bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Kompetisi dapat mendorong disiplin dan semangat belajar. Namun saya melihat persoalan muncul ketika ranking menjadi ukuran dominan untuk menilai manusia. Pendidikan kemudian tidak lagi memfasilitasi keberagaman kemampuan, melainkan cenderung menyeragamkan standar keberhasilan. Mereka yang berada di luar ukuran itu sering merasa kurang dihargai.
Selain budaya angka, pendidikan hari ini juga tampak semakin sibuk dengan urusan administrasi. Laporan, dokumen, target, dan berbagai bentuk pencatatan sering menjadi bagian besar dalam aktivitas pendidikan. Administrasi tentu penting untuk tata kelola yang baik, tetapi saya khawatir ketika perhatian terhadap dokumen lebih besar daripada perhatian terhadap pengalaman belajar yang sesungguhnya.
Dalam situasi seperti itu, saya melihat muncul ketegangan antara nilai dan pemahaman belajar. Banyak peserta didik belajar untuk menjawab soal, bukan untuk memahami persoalan. Materi dihafal agar lolos ujian, lalu perlahan dilupakan setelah penilaian selesai. Belajar berubah menjadi strategi memperoleh angka, bukan proses membangun pengetahuan yang bertahan lama.
Saya pernah menyaksikan bagaimana seseorang memperoleh nilai tinggi, tetapi kesulitan menjelaskan kembali makna dari apa yang dipelajarinya. Sebaliknya, ada pula mereka yang tidak selalu unggul secara angka, tetapi memiliki pemahaman yang mendalam dan cara berpikir yang matang. Pengalaman semacam itu membuat saya percaya bahwa nilai tidak selalu mampu menggambarkan kualitas belajar secara utuh.
Persoalan ini juga menghadirkan dampak psikologis yang tidak ringan. Tekanan untuk mendapatkan nilai tinggi sering memunculkan kecemasan dan rasa takut gagal. Sebagian peserta didik mulai memandang kesalahan sebagai ancaman, bukan bagian dari proses belajar. Akibatnya, ruang pendidikan yang seharusnya mendorong eksplorasi justru kadang menjadi ruang yang dipenuhi kecemasan terhadap penilaian.
Dampak sosialnya pun patut dipikirkan. Budaya ranking yang terlalu dominan dapat melahirkan relasi yang kompetitif secara berlebihan. Teman belajar berubah menjadi pesaing, sementara kolaborasi dan saling membantu kehilangan ruangnya. Pendidikan berisiko membentuk generasi yang terbiasa membandingkan diri, tetapi kurang terbiasa bekerja bersama dan menghargai keunikan orang lain.
Karena itu, saya merasa pendidikan perlu kembali menempatkan nilai pada posisi yang proporsional. Penilaian memang penting, tetapi tidak boleh mengambil seluruh makna belajar. Pendidikan seharusnya membantu manusia memahami dunia dan dirinya sendiri, bukan sekadar menghasilkan angka yang terlihat baik di atas kertas. Jika tidak, kita mungkin sedang membangun sistem yang rapi secara administrasi, tetapi kehilangan kedalaman dalam mendidik manusia.
Pada akhirnya, refleksi tentang pendidikan membawa saya pada satu kesadaran penting: pendidikan sesungguhnya tidak pernah anti terhadap penilaian. Penilaian dibutuhkan untuk melihat perkembangan belajar, mengevaluasi proses, dan membantu mengenali capaian tertentu. Tanpa penilaian, pendidikan akan kehilangan salah satu alat untuk membaca kemajuan dan memperbaiki kekurangan yang masih ada.
Karena itu, saya tidak memandang nilai sebagai sesuatu yang harus dihapus dari dunia pendidikan. Nilai tetap memiliki fungsi yang penting, terutama untuk memberi gambaran mengenai penguasaan materi atau keterampilan tertentu. Dalam batas tertentu, penilaian bahkan dapat menjadi dorongan bagi peserta didik untuk belajar lebih disiplin dan bertanggung jawab terhadap proses akademiknya.
Namun persoalannya bukan terletak pada keberadaan nilai, melainkan pada cara kita memaknainya. Ketika nilai ditempatkan sebagai ukuran tunggal keberhasilan, pendidikan perlahan kehilangan keseimbangannya. Angka yang semula berfungsi sebagai alat evaluasi berubah menjadi tujuan yang dikejar tanpa banyak pertanyaan mengenai makna belajar itu sendiri.
Saya melihat bahwa kecenderungan tersebut menghadirkan risiko yang tidak sederhana. Pendidikan dapat terjebak pada logika hasil yang serba cepat dan terukur, sementara proses pembentukan manusia menjadi kurang mendapat perhatian. Dalam situasi seperti itu, keberhasilan sering dibaca melalui laporan angka, bukan melalui pertumbuhan cara berpikir atau kedewasaan sikap peserta didik.
Nilai memang penting, tetapi saya percaya bahwa nilai bukan tujuan akhir pendidikan. Pendidikan yang sehat tidak berhenti pada skor tinggi atau ranking yang membanggakan. Tujuan yang lebih besar adalah membantu manusia memahami pengetahuan, membangun integritas, dan memiliki kemampuan menggunakan ilmunya secara bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.
Saya membayangkan pendidikan sebagai ruang yang memberi kesempatan untuk bertanya, mencoba, bahkan gagal tanpa kehilangan harga diri. Belajar semestinya tidak hanya melatih kemampuan menjawab soal, tetapi juga keberanian berpikir dan kepekaan terhadap persoalan kehidupan. Ketika ruang pendidikan terlalu sibuk menghindari kesalahan, peserta didik justru dapat kehilangan keberanian untuk bereksplorasi.
Refleksi ini membuat saya percaya bahwa pendidikan perlu kembali pada misi kemanusiaannya. Sekolah dan kampus tentu membutuhkan sistem penilaian, tetapi sistem itu tidak boleh lebih besar daripada manusia yang sedang dibimbing di dalamnya. Administrasi dan angka harus mendukung proses pendidikan, bukan menggantikan makna pendidikan itu sendiri.
Pada akhirnya, saya tidak ingin melihat pendidikan terjebak pada kebanggaan yang semu. Jangan sampai rapor tampak baik, statistik terlihat membanggakan, dan angka terus meningkat, tetapi ruang belajar kehilangan kemampuan membentuk manusia yang jujur, kritis, serta memiliki empati. Pendidikan seharusnya tidak hanya melahirkan individu yang mampu bersaing, tetapi juga manusia yang mampu memahami dan memanusiakan sesamanya.
Karena itu, pertanyaan yang perlu terus diajukan bukan hanya berapa nilai yang berhasil dicapai, tetapi juga manusia seperti apa yang sedang dibentuk melalui pendidikan. Sebab jangan sampai pendidikan menghasilkan angka yang baik, tetapi kehilangan manusia yang berpikir dan bertumbuh. Di situlah, menurut saya, makna pendidikan yang sesungguhnya perlu terus dijaga dan diperjuangkan bersama.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda