Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Senjakala Google Search di Tangan Gen Z: Ketika Estetika Visual dan AI Menggusur Dominasi Teks

Senjakala Google Search di Tangan Gen Z: Ketika Estetika Visual dan AI Menggusur Dominasi Teks

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
09 Juni 2026, 00.45 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Google Search

Oleh: Andi Putri Tenriyola, S.E., M.M. Dosen Administrasi Perkantoran UNM

JurnalPost.com - Dalam satu dekade terakhir, mata kuliah Manajemen Pemasaran kerap menempatkan Google sebagai pintu gerbang utama dalam memahami perilaku konsumen digital. Mahasiswa diajarkan bagaimana mengoptimalkan Search Engine Optimization (SEO) berbasis teks agar sebuah produk dapat muncul di halaman pertama Google.

IKLAN

Namun, hari ini kita sedang menyaksikan pergeseran besar dalam lanskap pencarian informasi. Gen Z mulai mengabaikan Google Search. Ketika mencari rekomendasi tempat makan, tren fesyen, hingga tutorial tugas kuliah, mereka lebih memilih mengetik kata kunci di kolom pencarian TikTok atau langsung bertanya kepada kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT.

Lahan Gambut
Baca Juga

Melindungi Wetlands: Ketika Lahan Gambut Kalimantan Barat Terus Terbakar di Tengah Beragam Regulasi

Sebagai dosen pemasaran, saya melihat fenomena ini bukan sekadar perubahan aplikasi, melainkan revolusi radikal dalam cara manusia mengonsumsi informasi. Ini menjadi lonceng peringatan bagi pemasaran tradisional yang selama ini terlalu bergantung pada dominasi teks dan mesin pencari konvensional.

Mari kita bedah mengapa anomali perilaku konsumen atau consumer behavior ini dapat terjadi. Gen Z adalah generasi digital native yang tumbuh di era ledakan visual dan kecepatan informasi. Bagi mereka, halaman pencarian Google saat ini terasa terlalu padat, melelahkan, bahkan cenderung “kotor” oleh berbagai iklan dan konten yang dibuat semata-mata untuk mengejar algoritma.

Saat mengetikkan sesuatu di Google, pengguna kerap menemukan hasil teratas yang didominasi oleh iklan atau sponsored links. Setelah itu, mereka dihadapkan pada artikel-artikel SEO-sentris yang ditulis panjang lebar demi mesin pencari, bukan sepenuhnya demi kebutuhan pembaca.

Konsumen muda hari ini mengalami information fatigue atau kelelahan informasi. Mereka tidak selalu memiliki waktu untuk membaca artikel 1.000 kata hanya untuk mengetahui kafe mana yang menarik untuk dikunjungi di Jakarta. Mereka membutuhkan bukti visual yang nyata, cepat, dan mudah dipahami.

Sibuk Nilai
Baca Juga

Pendidikan yang Sibuk Nilai

Di sinilah TikTok mengambil peran. Sebuah video berdurasi 15 detik mampu memperlihatkan suasana kafe, menu, harga, hingga ulasan langsung dari sesama konsumen. TikTok berhasil memanusiakan mesin pencari melalui pengalaman visual, sementara AI berhasil memangkas birokrasi informasi dengan memberikan jawaban langsung tanpa membuat pengguna harus membuka belasan tautan.

IKLAN

Pergeseran ini melahirkan tantangan etis dan profesional baru dalam dunia pemasaran digital. Pemasaran masa depan tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana memanipulasi kata kunci teks, melainkan bagaimana membangun autentisitas visual dan pemasaran berbasis komunitas, termasuk melalui KOC atau Key Opinion Consumer.

Jika sebuah merek tidak mampu hadir dalam bentuk konten video yang estetik, cepat, dan jujur, atau tidak terindeks dalam basis data AI, maka di mata Gen Z merek tersebut seolah tidak eksis. Kita sedang bergerak dari era Information Age menuju Recommendation Age, yakni era ketika rekomendasi visual, pengalaman pengguna, dan jawaban instan menjadi penentu keputusan konsumen.

Fenomena ini juga menjadi bahan refleksi penting bagi dunia akademik. Kampus tidak boleh terus mengajarkan kurikulum pemasaran digital yang usang. Mahasiswa perlu mulai dilatih untuk menguasai Social SEO, yaitu optimasi pencarian di media sosial, serta memahami bagaimana algoritma rekomendasi berbasis minat bekerja.

Keadilan Sosial
Baca Juga

Selamat Ulang Tahun: Sejauh Mana Keadilan Sosial Menjangkau Setiap Wilayah?

Calon manajer pemasaran masa depan tidak cukup hanya diajarkan mengejar angka klik atau clicks. Mereka juga harus dibekali kemampuan membangun narasi visual yang jujur, relevan, dan bernilai tinggi bagi audiens.

Bagi mahasiswa pemasaran, dinamika ini adalah peluang emas sekaligus alarm peringatan. Jangan hanya menjadi konsumen pasif dari algoritma TikTok. Pelajari struktur di baliknya, analisis mengapa sebuah konten visual mampu menggerakkan keputusan pembelian atau purchase decision, dan kuasai teknologi AI untuk melipatgandakan produktivitas riset pasar.

Pada akhirnya, pasar sedang mengajarkan kepada para pelaku bisnis bahwa era monopoli informasi telah usai. Konsumen adalah pemegang kendali tertinggi, dan mereka telah memilih visual serta kecepatan dibanding tumpukan teks iklan yang panjang.

Merek yang keras kepala dan hanya mengandalkan strategi SEO Google konvensional berisiko tersingkir dan terlupakan. Saatnya menyalakan nalar baru dalam strategi pemasaran: ikuti ke mana insting visual generasi muda bergerak, manusiakan komunikasimu, dan pahami bahwa di era digital modern ini, satu detik video yang jujur dapat jauh lebih berharga daripada seribu kata iklan yang penuh kepalsuan.

Sumber: Prabhakar, R. Senior Vice President Google. Dalam konferensi industri Fortune Brainstorm Tech, perwakilan internal Google secara terbuka mengakui tren ini. Berdasarkan studi internal Google, hampir 40 persen generasi muda berusia 18–24 tahun di Amerika Serikat beralih ke TikTok atau Instagram ketika mencari tempat untuk makan siang, alih-alih menggunakan Google Maps atau Google Search.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/senjakala-google-search-di-tangan-gen-z-ketika-estetika-visual-dan-ai-menggusur-dominasi-teks/94208/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.02 WITA

  • #Opini Dosen
  • #Universitas Negeri Makassar

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Pilihan Editor

  1. 1 Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital
  2. 2

    Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

  3. 3

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

  4. 4

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  5. 5

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.