Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Patriarki dalam Hal-Hal Kecil yang Sering Kali Kita Abaikan

Patriarki dalam Hal-Hal Kecil yang Sering Kali Kita Abaikan

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
15 April 2026, 16.46 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Patriarki
Ilustrasi Patriarki dalam Hal-Hal Kecil. Desain by Annisa/JurnalPost

Ditulis oleh Andi Prawika Utary Mahasiswa Gender dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Unhas

JurnalPost.com - Beberapa pekan yang lalu, dalam kelas perkuliahan Teori Filsafat dan Gender, Prof Dwia, dosen pengampu mata kuliah, menyampaikan sebuah kalimat yang sederhana namun tertinggal menjadi pertanyaan-pertanyaan besar di dalam kepala. Beliau menyampaikan bahwa patriarki tidak hadir begitu saja sebagai sesuatu yang kerap terlihat di masyarakat, melainkan dibentuk oleh sistem sosial yang panjang dan terus dinormalisasi dari generasi ke generasi. Sistem ini diperkuat oleh berbagai institusi sosial, termasuk pendidikan, budaya, media, hingga pola asuh dalam keluarga. Dari ruang keluarga yang paling kecil, nilai-nilai tersebut perlahan berkembang dalam masyarakat dan membentuk batasan tentang apa yang “boleh” dan “tidak boleh” dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki. Batasan ini sering kali tidak tertulis, namun begitu kuat tertanam dalam lingkungan tempat kita bertumbuh. Tanpa disadari, hal-hal ini menjadi semacam norma sosial yang mengatur perilaku hingga cara kita menilai orang lain. Dalam konteks inilah patriarki bekerja secara pelan dan senyap melalui kebiasaan, candaan, ataupun asumsi sehari-hari yang tampaknya sepele.

IKLAN

Jika kita perhatikan lebih lekat, hal-hal kecil ini sebenarnya sangat mudah ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya sesederhana memilih minuman di kedai kopi. Seorang barista mungkin berkata kepada pelanggan perempuan, “Tapi kak, americano itu kopi hitam.” Kalimat ini mungkin terdengar seperti sekadar memastikan pesanan pelanggan, namun dibaliknya tersimpan asumsi bahwa perempuan biasanya tidak menyukai kopi hitam yang pahit. Pun sebenarnya, kita juga sering mendengar candaan ketika seorang laki-laki memesan minuman manis, “Hah? Es coklat? Cowok kok minumnya es coklat, manis banget sih.” Candaan semacam ini mungkin dimaksudkan sebagai gurauan ringan di antara teman.

Balancing Work and Home
Baca Juga

Analisis Beban Ganda Perempuan Bekerja dalam Konstruksi Sosial Rumah Tangga

Namun jika ditelaah lebih dalam, ia menunjukkan bagaimana pilihan pesanan minum pun kerap dikaitkan dengan konstruksi maskulinitas dan feminitas. Minuman pahit diasosiasikan dengan laki-laki yang dianggap kuat, sementara minuman manis dilekatkan pada perempuan yang dianggap lembut. Padahal, pada kenyataannya, pilihan minuman hanyalah soal selera pribadi. Tidak ada hubungan biologis yang membuat kopi hitam lebih maskulin atau es coklat lebih feminin. Namun karena stereotip tersebut terus diulang dalam percakapan sehari-hari, lama-kelamaan ia terasa wajar dan bahkan tidak lagi dipertanyakan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk diskriminasi yang terang-terangan. Ia juga hidup dalam bentuk stereotip kecil yang tampaknya tidak berbahaya, tetapi perlahan membentuk cara pandang kita terhadap identitas gender.

Contoh lainnya dapat kita temukan dalam komentar-komentar spontan yang sering muncul di ruang publik. Siapa yang tidak pernah mendengar kalimat seperti, “Pasti perempuan yang menyetir ini, makanya lama sekali parkir”? Kalimat tersebut sering diucapkan setengah bercanda, namun sebenarnya berisi asumsi bahwa perempuan kurang kompeten dalam mengemudi dibandingkan laki-laki. Begitu pula dengan candaan yang sering muncul dalam tongkrongan, seperti, “Kucing kalau dikasih ikan asin mana bisa nolak, bro.” Dalam metafora tersebut, laki-laki dianalogikan sebagai kucing yang tidak mampu menahan diri, sementara perempuan diposisikan sebagai “ikan asin” yang menjadi objek.

IKLAN

Candaan seperti ini bukan hanya memandang perempuan sebagai objek, tetapi juga secara tidak langsung menormalisasi perilaku laki-laki yang dianggap tidak mampu mengendalikan dirinya di hadapan perempuan.Yang menarik dan sekaligus mengkhawatirkan, adalah kenyataan bahwa stigma-stigma tersebut tidak selalu dilakukan oleh satu kelompok tertentu saja. Sering kali kita sendiri, baik perempuan maupun laki-laki, ikut melanggengkan melalui komentar dan candaan yang tampaknya sepele. Tanpa disadari, kita menjadi bagian dari konstruksi sosial yang terus mempertahankan stereotip gender. Dalam perspektif gender, fenomena ini menunjukkan bahwa ketimpangan tidak hanya terbentuk melalui struktur besar seperti kebijakan atau institusi, tetapi juga melalui praktik sosial sehari-hari. Hal-hal kecil yang terus diulang dapat membentuk cara berpikir tentang peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat.

Padahal jika kita melihatnya secara lebih rasional, tidak ada suatu hal yang mutlak dimiliki oleh satu gender saja. Laki-laki bisa menyukai warna pink tanpa kehilangan identitasnya sebagai laki-laki, ia juga berhak mengekspresikan emosi dan menangis tanpa harus dianggap lemah. Sebaliknya, perempuan bisa memanjat pohon, berpetualang, atau menekuni bidang yang selama ini dianggap maskulin. Kebebasan untuk menjadi diri sendiri seharusnya menjadi hak setiap individu, bukan sesuatu yang dibatasi oleh stereotip sosial. Ketika seseorang memilih sesuatu yang berbeda dari ekspektasi gender yang berlaku, seharusnya itu dilihat sebagai ekspresi personal, bukan sebagai penyimpangan dari norma.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang religius, perspektif ini sebenarnya memiliki landasan yang kuat. Dalam ajaran Islam, misalnya, manusia tidak dinilai berdasarkan jenis kelamin, status sosial, ataupun latar belakang budaya. Ukuran kemuliaan manusia di hadapan Tuhan adalah ketakwaan dan amal saleh. Hal ini menegaskan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh apakah ia laki-laki atau perempuan, melainkan oleh kualitas moral dan perbuatannya. Dengan kata lain, agama pun tidak memberikan kita alasan untuk merendahkan atau membatasi seseorang hanya karena identitas gendernya.

Karena itu, penting bagi kita untuk mulai merefleksikan kembali kebiasaan-kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Apakah candaan yang kita ucapkan masih mengandung stereotip gender? Apakah komentar spontan yang kita lontarkan tanpa sadar memperkuat stigma terhadap kelompok tertentu? Kesadaran kritis semacam ini merupakan langkah awal untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan setara. Perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Kita bisa memulainya dari dari cara kita berbicara, bercanda, dan memandang orang lain.

Jika kita mampu mengurangi stereotip dalam hal-hal kecil, maka secara perlahan kita juga ikut melemahkan struktur patriarki yang selama ini dianggap normal. Pada akhirnya, masyarakat yang setara bukanlah masyarakat yang menghapus perbedaan antara laki-laki dan perempuan, melainkan masyarakat yang memberi ruang bagi setiap individu untuk berkembang tanpa dibatasi oleh label-label yang tidak perlu.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/patriarki-dalam-hal-hal-kecil-yang-sering-kali-kita-abaikan/92199/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.55 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Patriarki

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Pilihan Editor

  1. 1 Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri
  2. 2

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  3. 3

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  4. 4

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

  5. 5

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.