Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Cashless Bukan untuk Semua: Realita di Balik Digitalisasi Perbankan

Cashless Bukan untuk Semua: Realita di Balik Digitalisasi Perbankan

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
13 April 2026, 13.53 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Cashless Bukan untuk Semua: Realita di Balik Digitalisasi Perbankan

Oleh : Aura Mustika Fana Program studi : Ekonomi Syariah, IPB University Dosen Pengampu : Dr. Ranti Wiliasih S.P., M.Si.

JurnalPost.com - Di perantauan, saya mulai terbiasa dengan hal-hal yang dulu terasa asing. Salah satunya adalah membeli sayur dengan memindai QRIS. Tanpa uang tunai, tanpa repot mencari kembalian, transaksi terasa cepat dan praktis. Bahkan, hal seperti ini sudah menjadi pemandangan umum di sekitar kampus.

IKLAN

Namun, pengalaman itu berubah ketika saya pulang ke rumah.

MGB
Baca Juga

Di Balik Kasus Keracunan dan Penipuan Dana MBG, Saatnya Evaluasi Bukan Berhenti

Di lingkungan tempat tinggal saya, transaksi masih didominasi oleh uang tunai. Warung, pedagang kecil, hingga toko sekitar lebih nyaman menggunakan cara konvensional. QRIS bukan sesuatu yang lazim, melainkan masih dianggap sebagai hal baru yang belum tentu diperlukan. Perbedaan ini terasa kontras dan menyadarkan saya bahwa perkembangan sistem pembayaran di Indonesia belum berjalan merata.

Digitalisasi perbankan memang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Melalui inisiatif seperti QRIS yang dikembangkan oleh Bank Indonesia, sistem pembayaran dibuat semakin efisien dan terintegrasi. Tujuannya tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga mendorong inklusi keuangan agar lebih banyak orang dapat mengakses layanan perbankan.

Hal ini terlihat dari meningkatnya penggunaan pembayaran digital, terutama di wilayah perkotaan. Sistem cashless perlahan menjadi bagian dari gaya hidup, khususnya di kalangan mahasiswa dan pekerja muda yang sudah terbiasa dengan teknologi.

Namun, apakah semua orang benar-benar siap dengan perubahan ini?

biyonf
Baca Juga

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Di lingkungan rumah tangga, sistem cashless belum sepenuhnya menjadi kebiasaan. Bukan karena menolak perkembangan, tetapi karena ada berbagai realitas yang memengaruhinya.

Pertama, tingkat literasi keuangan dan digital yang masih beragam. Tidak semua orang memahami cara menggunakan aplikasi pembayaran atau menghubungkannya dengan rekening bank. Bagi sebagian orang, terutama yang tidak terbiasa dengan teknologi, proses ini justru terasa rumit.

IKLAN

Kedua, keterbatasan akses terhadap teknologi. Tidak semua memiliki smartphone yang memadai atau koneksi internet yang stabil. Dalam kondisi seperti ini, uang tunai tetap menjadi pilihan yang paling praktis dan dapat diandalkan.

Selain itu, faktor kebiasaan dan kepercayaan juga berperan besar. Uang tunai memberikan rasa aman karena dapat dilihat dan dihitung secara langsung. Sementara itu, transaksi digital masih menimbulkan keraguan, terutama terkait risiko kesalahan atau keamanan.

masyarakat lintas generasi
Baca Juga

IPB University Kembangkan Persemaian Aren di Citorek Barat, Dorong Konservasi dan Ekonomi Masyarakat

Bahkan, di beberapa warung sekitar rumah saya, pembayaran digital belum menjadi opsi yang ditawarkan kepada pembeli. Hal ini menunjukkan bahwa adopsi cashless tidak hanya bergantung pada konsumen, tetapi juga pada kesiapan pelaku usaha.

Perbedaan ini menciptakan kesenjangan yang cukup jelas. Di satu sisi, masyarakat perkotaan bergerak cepat menuju sistem cashless. Di sisi lain, lingkungan rumah tangga masih berada dalam tahap penyesuaian. Bukan berarti tertinggal, tetapi memang belum berada pada titik yang sama.

Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, sistem cashless memiliki potensi besar. Bagi pelaku usaha kecil, penggunaan QRIS dapat membuka peluang untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Selain itu, pencatatan keuangan juga menjadi lebih rapi dan transparan.

Namun, digitalisasi tidak bisa hanya berfokus pada kecepatan. Tanpa pemerataan, kemajuan ini justru berisiko menciptakan kesenjangan baru dalam akses keuangan. Sistem yang seharusnya mempermudah bisa berubah menjadi penghalang bagi mereka yang belum siap.

Menurut saya, cashless memang merupakan bagian dari masa depan sistem keuangan. Namun, penerapannya perlu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Edukasi yang sederhana, sosialisasi yang dekat, serta sistem yang mudah digunakan menjadi kunci agar semua kalangan dapat ikut beradaptasi.

Pada akhirnya, keberhasilan digitalisasi perbankan tidak hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi dari seberapa luas manfaatnya dapat dirasakan. Jika tidak, maka cashless akan tetap menjadi kemudahan bagi sebagian orang, tetapi belum menjadi solusi untuk semua.

Referensi 1. Puspitasari, A. A., & Salehudin, I. (2022). Quick response Indonesian standard (QRIS): Does government support contribute to cashless payment system long-term adoption? Journal of Marketing Innovation, 2(1), 27–41.  2. Sungkar, H. L. (2024). Integrated QR payment system (QRIS): Cashless payment solution in developing country from merchant perspective. Journal of Economics, Social, and Humanities, 2(1). 3. Batubara, C., & Shifah, L. (2024). Implementasi metode pembayaran cashless di UMKM desa: Tren, tantangan, dan dampaknya. Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa, 2(4).  4. Mustafa, C. W., & Sunarwibowo, R. P. (2025). Pengaruh gaya hidup cashless dan literasi finansial terhadap perilaku keuangan pengguna QRIS. Jurnal Nirta: Studi Inovasi, 5(2).  5. Sari, N. P., & Putri, E. (2024). Driving the cashless economy: The influence of QRIS utilization on consumer purchase intention in Surakarta. International Journal of Economics Development Research, 6(6). 

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/cashless-bukan-untuk-semua-realita-di-balik-digitalisasi-perbankan/92144/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.25 WITA

  • #Digitalisasi Perbankan
  • #IPB University
  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pilihan Editor

  1. 1 Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya
  2. 2

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  3. 3

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  4. 4

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  5. 5

    DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.