JurnalPost.com - Perkembangan zaman membawa perubahan di berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan Islam. Generasi Z (Gen Z) tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital sehingga kebiasaan, cara berkomunikasi, dan kebutuhan belajarnya dapat berbeda dengan generasi sebelumnya. Bagi pesantren, yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga membentuk karakter dan akhlak santri, perubahan ini menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.
Pesantren dikenal dengan sistem pendidikan yang menekankan kedisiplinan, keteladanan, pembiasaan ibadah, dan kehidupan bersama di lingkungan pondok. Nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk dipertahankan. Namun, muncul pertanyaan: apakah pola pembinaan yang selama ini dijalankan sudah cukup menjawab kebutuhan santri masa kini?
Pertanyaan ini bukan berarti pesantren harus meninggalkan tradisi atau mengganti seluruh sistem pendidikannya. Justru, pesantren perlu melihat kembali bagaimana nilai-nilai pendidikan Islam disampaikan agar dapat dipahami dan diterapkan oleh generasi santri saat ini.
Tantangan Pembinaan Karakter Santri di Era Gen Z
Pembinaan karakter merupakan bagian penting dalam pendidikan pesantren. Santri tidak hanya diarahkan untuk memahami materi keagamaan, tetapi juga dibiasakan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti disiplin, tanggung jawab, sopan santun, kepedulian, dan kemampuan hidup bersama.
Tantangan muncul karena santri Gen Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi digital. Mereka memiliki akses terhadap berbagai sumber informasi serta cara belajar dan berkomunikasi yang beragam. Kondisi ini menuntut pesantren untuk lebih memahami kebutuhan santri dalam menerima arahan dan membangun kesadaran terhadap nilai-nilai yang diajarkan.
Penelitian Husni dan Az-Zuhdy (2026) di Pondok Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo mengangkat persoalan tersebut. Penelitian berjudul "Pembentukan Moral untuk Generasi Z dan Alpha di Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo" itu membahas tantangan pembelajaran bagi generasi muda dan pentingnya strategi yang adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus serta melibatkan wawancara dan analisis dokumen. Meskipun belum dapat dijadikan bukti efektivitas pendekatan tertentu, kajian tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pembinaan generasi muda telah menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian lembaga pendidikan Islam.
Artinya, pembinaan santri tidak cukup hanya berorientasi pada penyampaian materi dan penegakan aturan. Santri juga perlu dibantu memahami alasan di balik aturan, menyadari pentingnya nilai yang diajarkan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kearifan Lokal sebagai Pendekatan Pendidikan Karakter
Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan dalam pembinaan santri adalah pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan nilai, kebiasaan, dan tradisi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat serta diwariskan antargenerasi. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, kepedulian sosial, penghormatan kepada orang lain, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Penerapan pendekatan tersebut dapat dilihat dalam penelitian Muhammad Fatwa (2026) di Pondok Pesantren Darul Amanah Kendal. Penelitian ini mengkaji integrasi kearifan lokal Desa Ngadiwarno dalam pendidikan karakter santri. Beberapa kegiatan yang dibahas meliputi mujahadah, manaqiban, pembacaan Maulid Diba', khataman Al-Qur'an, gotong royong, dan sambatan.
Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi sarana pembiasaan nilai keagamaan dan sosial. Melalui kegiatan bersama, santri tidak hanya menjalankan tradisi, tetapi juga memperoleh pengalaman untuk membangun kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama. Menurut penulis, gotong royong, misalnya, dapat melatih tanggung jawab dan kerja sama, sedangkan kegiatan keagamaan bersama dapat memperkuat kebiasaan beribadah dan hubungan sosial antarsantri.
Penelitian Fatwa memang tidak secara khusus membahas Gen Z. Namun, menurut penulis, praktik pendidikan berbasis kearifan lokal tersebut memiliki relevansi dengan pembinaan santri masa kini. Di tengah kehidupan yang semakin dipengaruhi teknologi dan ruang digital, kegiatan komunal dapat menjadi ruang bagi santri untuk berinteraksi secara langsung, bekerja sama, saling membantu, dan belajar menghargai perbedaan.
Tentu tidak semua tradisi lokal otomatis sesuai dengan nilai pendidikan Islam. Pesantren tetap perlu mempertimbangkan kesesuaiannya dengan akidah, syariat, dan akhlak Islam. Dengan demikian, kearifan lokal bukan sekadar tradisi yang dipertahankan, melainkan nilai-nilai positif yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter.
Menjaga Tradisi, Menyesuaikan Pendekatan
Dalam pendidikan Islam, pembentukan karakter tidak dapat dipisahkan dari pendidikan akhlak. Surah An-Nahl ayat 125 mengajarkan prinsip menyampaikan dakwah dengan hikmah dan pengajaran yang baik:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik." (QS. An-Nahl [16]: 125)
Ayat tersebut berbicara mengenai cara berdakwah. Namun, prinsip hikmah dan pengajaran yang baik juga dapat menjadi bahan refleksi dalam proses pendidikan dan pembinaan. Artinya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana nilai-nilai tersebut disampaikan kepada peserta didik.
Pesantren dapat tetap mempertahankan pembiasaan ibadah, kedisiplinan, dan penghormatan kepada guru. Namun, cara menyampaikan dan menerapkan pembinaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan santri. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Menjelaskan alasan di balik aturan. Santri perlu diajak memahami tujuan suatu aturan, misalnya melalui dialog singkat saat apel atau pengajian. Dengan begitu, kepatuhan diharapkan tumbuh dari kesadaran, bukan hanya karena merasa diawasi.
- Mengembangkan pendampingan personal. Pengasuh, ustaz, ustazah, atau pembimbing santri dapat menyediakan ruang komunikasi secara berkala. Santri tidak hanya diperhatikan ketika melakukan pelanggaran, tetapi juga didampingi dalam menghadapi kesulitan dan perkembangan dirinya.
- Mengembangkan pembelajaran yang interaktif. Diskusi, studi kasus, dan penggunaan media visual dapat melengkapi metode ceramah dan hafalan. Pendekatan tersebut tidak harus menggantikan metode tradisional pesantren seperti sorogan dan bandongan, melainkan menjadi pelengkap agar pembelajaran lebih beragam.
- Membimbing literasi digital dan dakwah santri. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar dan menyampaikan pesan keislaman secara kreatif. Namun, pemanfaatannya perlu disertai bimbingan agar materi yang disampaikan memiliki dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan serta tetap memperhatikan adab.
Perubahan pola pembinaan bukan berarti mengganti identitas pesantren dengan budaya digital. Teknologi dan pendekatan interaktif hanya menjadi sarana pendukung, sedangkan nilai-nilai keislaman tetap menjadi landasan utama pendidikan.
Pembinaan Santri Membutuhkan Pengelolaan yang Adaptif
Penyesuaian pola pembinaan tidak akan berjalan tanpa pengelolaan yang baik. Dalam manajemen pendidikan, fungsi pengelolaan umumnya mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan (Winoto, 2020). Keempat fungsi tersebut dapat diterapkan dalam penyusunan program pembinaan santri agar berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
Pertama, pesantren perlu merencanakan program pembinaan berdasarkan kebutuhan dan kondisi santri. Kedua, pengorganisasian diperlukan untuk membagi tugas dan tanggung jawab antara pengasuh, ustaz, ustazah, serta pengurus. Ketiga, program dilaksanakan melalui kegiatan pembiasaan, pendampingan, dan pembelajaran. Terakhir, pengawasan dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana program tersebut berjalan serta bagian mana yang perlu diperbaiki.
Pengasuh, ustaz, ustazah, dan pengurus memegang peran penting dalam proses tersebut. Mereka tidak hanya bertugas memastikan aturan berjalan, tetapi juga menjadi teladan dan pendamping bagi santri. Perpaduan antara ketegasan, keteladanan, pembiasaan, dan komunikasi yang baik dapat membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung pembentukan karakter.
Evaluasi pembinaan pun sebaiknya tidak berhenti pada tingkat kepatuhan santri terhadap peraturan. Pesantren perlu memperhatikan apakah nilai-nilai yang diajarkan mulai tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti tanggung jawab, kepedulian, kedisiplinan, dan sikap menghargai orang lain. Keberhasilan pendidikan karakter tidak cukup diukur dari perilaku santri ketika berada di bawah pengawasan. Nilai-nilai tersebut seharusnya tetap tercermin ketika santri berada di luar lingkungan pesantren dan berinteraksi dengan masyarakat.
Pesantren Tidak Harus Berubah, tetapi Perlu Terus Berkembang
Santri Gen Z memang tumbuh dalam kondisi sosial dan perkembangan teknologi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Perbedaan tersebut perlu dipahami oleh lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Namun, perubahan generasi bukan alasan untuk mengabaikan kedisiplinan ataupun mengurangi pentingnya pendidikan akhlak.
Kekuatan pesantren terletak pada tradisi keilmuan, pembiasaan ibadah, keteladanan guru, dan kehidupan komunal. Kekuatan tersebut justru dapat dikembangkan melalui pola pembinaan yang lebih kontekstual, termasuk pemanfaatan kearifan lokal dan teknologi secara bijak.
Pada akhirnya, pesantren tidak perlu mengubah jati dirinya untuk mendidik Gen Z. Hal yang perlu terus dikembangkan adalah cara mengelola dan menyampaikan pembinaan agar nilai-nilai Islam dapat dipahami, dihayati, dan diterapkan oleh santri dalam kehidupan mereka.
Sebab, tujuan pendidikan pesantren bukan sekadar menghasilkan santri yang patuh terhadap aturan, melainkan membentuk pribadi yang berilmu, berakhlak, dan mampu membawa nilai-nilai Islam ke tengah masyarakat. Tradisi tetap dijaga, tetapi cara mendidik juga perlu terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Sumber Rujukan
- Fatwa, M. (2026). Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dalam membangun pribadi santri di Pondok Pesantren Darul Amanah Kendal. LEARNING: Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 6(1), 537–547. https://doi.org/10.51878/learning.v6i1.9593
- Husni, M., & Az-Zuhdy, A. H. (2026). Pembentukan moral untuk Generasi Z dan Alpha di Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(2), 1123–1127. https://doi.org/10.61104/alz.v4i2.4471
- Winoto, S. (2020). Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: CV. Bildung Nusantara.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahannya, Surah An-Nahl [16]: 125.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda