Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  2. Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

  3. Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  4. Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  5. Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Dari Sapu Lidi sampai Emperan Kamar: Begini Santri Nurul Maghfiroh Menghidupkan Pancasila

Dari Sapu Lidi sampai Emperan Kamar: Begini Santri Nurul Maghfiroh Menghidupkan Pancasila

N
Penulis: Nashichatunnafisah
29 Oktober 2026, 06.14 WITA Editor: Shella Paramitha
6 menit baca
Mahasiswa PJJ

JurnalPost.com - Pukul empat pagi di Pondok Pesantren Nurul Maghfiroh, belum ada yang berteriak. Yang terdengar hanya langkah kaki yang berentak pelan, gemericik air wudu, dan bisikan santri yang membangunkan temannya.

Di pondok, nilai-nilai bangsa tidak hanya dihafal. Nilai-nilai itu dijalani hari demi hari. Keadilan dipelajari dari pembagian makanan di dapur, persatuan dari kegiatan makan bersama yang diikuti santri dari berbagai daerah, dan musyawarah dari obrolan panjang di emperan kamar.

IKLAN

Tembok pesantren memang tinggi, jadwalnya padat, dan aturannya kadang terdengar tegas bagi orang luar. Namun, di baliknya tumbuh rasa memiliki terhadap sesama, terhadap tanah air, dan terhadap nilai-nilai yang menyatukan kita sebagai bangsa.

bersih sampah
Baca Juga

Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

Subuh yang Mengajarkan Disiplin

Lampu musala menyala lebih dulu, seolah memberi tanda bahwa hari sudah dimulai sebelum matahari terbit.

Bagi santri, bangun subuh bukan sekadar kebiasaan. Di sini, mereka belajar bahwa waktu bukan sepenuhnya milik pribadi. Kalau satu orang terlambat, ia tidak hanya tertinggal salat berjamaah, tetapi juga membuat barisan menunggu.

Tak ada slogan soal tanggung jawab. Hanya kebiasaan yang diulang: bangun, bersuci, berjamaah, lalu menjalani hari dengan tertib.

Sila pertama Pancasila hadir bukan sebagai tulisan di dinding, melainkan sebagai ritme hidup yang menuntun santri mengenal dirinya dan Tuhannya.

Toothbrush Offered in the Washroom
Baca Juga

Pelajaran Pancasila dari Sebuah Sikat Gigi

Sapu Lidi dan Ember Air

Setiap Ahad, pondok berubah menjadi panggung kerja bakti. Ada yang menyapu musala, mengangkat ember untuk mengepel lantai, membetulkan kursi, merapikan alas kaki, hingga membersihkan sarang laba-laba.

Tak ada yang menghitung siapa yang paling banyak bekerja. Yang ada hanya candaan yang sesekali pecah dan seruan santai:

“Ayo, sini bantu angkat ember!”

Semangat ini sejalan dengan QS. Al-Ma'idah ayat 2, ketika Allah memerintahkan orang beriman untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, bukan dalam dosa dan permusuhan.

Menjaga Ruh NKRI
Baca Juga

Merawat NKRI dari Ruang Kelas: Harmoni Syariat Islam dan Pancasila dalam Kurikulum Merdeka

Ketika santri membersihkan musala bersama-sama, mereka sedang belajar tentang kemanusiaan yang adil dan beradab.

Semuanya dimulai dari hal kecil: berani mengangkat beban orang lain, walau hanya seember air.

Satu Meja, Banyak Logat

Di dapur umum, perbedaan hampir tak pernah menjadi masalah. Ada santri Jawa dengan logat halus, ada yang berasal dari Sumatera dengan cara bicara lebih tegas, dan ada pula yang membawa cerita kampung dari daerah asalnya.

Semuanya duduk lesehan di tempat yang sama, menikmati porsi makanan yang sama, dan menertawakan lelucon yang sama.

Perbedaan tidak hilang. Perbedaan justru dikenali. Dari situlah santri belajar bahwa teman yang memiliki kebiasaan dan cara pandang berbeda bukanlah orang asing.

QS. Al-Hujurat ayat 13 mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling merendahkan. Kemuliaan diukur dari ketakwaan, bukan dari suku, status, atau latar belakang.

Dalam bahasa sederhana yang akrab bagi santri, pesannya adalah jangan menghakimi teman hanya karena ia berbeda.

Persatuan Indonesia tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kemampuan hidup berdampingan dan tetap merasa sebagai satu keluarga, sejauh apa pun kampung asal.

Musyawarah di Emperan Kamar

Pada malam-malam tertentu, emperan kamar menjadi ruang musyawarah paling jujur. Para santri membahas acara khitobah, lomba antarkamar, atau urusan kebersihan yang belum selesai.

IKLAN

Ada yang banyak bicara, ada yang hanya mendengar, dan ada pula yang baru berani mengangkat tangan setelah lama ragu.

Menariknya, keputusan jarang ditentukan oleh suara paling keras. Setelah perdebatan cukup panjang, biasanya ada yang menengahi dengan tenang:

“Kalau begitu, kita sepakati saja yang ini.”

Semua menerima keputusan, bukan karena merasa kalah, melainkan karena merasa sudah didengar.

Pesantren mungkin jarang menggunakan istilah “demokrasi”, tetapi praktiknya sudah lama hidup. Santri belajar bahwa memimpin bukan soal memerintah, melainkan mendengarkan.

Keputusan terbaik bukanlah yang paling cepat diambil, melainkan keputusan yang mampu menjaga kebersamaan.

Cinta Tanah Air, Bagian dari Iman

Ada satu ungkapan yang akrab di telinga santri: hubbul wathan minal iman, yang berarti cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Ungkapan ini lekat dengan tradisi kebangsaan pesantren dan semangat perjuangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, tokoh besar pesantren yang memperjuangkan persatuan umat dan kemerdekaan Indonesia.

Beliau memadukan semangat keislaman dengan kebangsaan serta mendorong umat Islam bersatu menghadapi penindasan kolonial.

Bagi santri, pesan itu lebih dari sekadar sejarah. Mencintai Indonesia tidak berarti meninggalkan iman. Keduanya justru dapat saling menguatkan.

Santri yang belajar sungguh-sungguh, menjaga amanah, dan berbuat baik kepada lingkungannya telah menjalankan cinta tanah air dalam bentuk paling sederhana.

Ketika santri mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau membela teman dari perlakuan tidak adil, mereka tidak sedang melakukan sesuatu yang asing dari nilai-nilai agama.

Mereka sedang menghidupkan warisan para pendiri pesantren bahwa iman dan kebangsaan dapat berjalan beriringan.

Nilai yang Tak Pernah Pensiun

Pancasila sering dibayangkan sebagai lima sila yang harus dihafal. Di pondok, nilai-nilainya jauh lebih hidup.

Nilai-nilai itu hadir saat santri bangun sebelum subuh, menyapu halaman bersama, menerima teman yang berbeda, bermusyawarah, dan menolong tanpa mengharapkan balasan.

Pancasila tidak selalu hadir melalui bahasa politik, tetapi juga melalui kebiasaan: tangan yang terbiasa bekerja, telinga yang terbiasa mendengar, dan hati yang terbiasa peduli.

Jadi, jika suatu hari Anda melewati sebuah pesantren, jangan hanya melihat temboknya.

Bayangkan santri yang bangun sebelum fajar, sapu yang bergerak di halaman, tawa di ruang makan, dan diskusi panjang di teras asrama.

Di sanalah nilai-nilai bangsa tumbuh dan diwariskan dengan cara yang paling manusiawi.


Profil Penulis

Nashichatunnafisah adalah mahasiswa PJJ Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Nurul Maghfiroh, Tegalrejo, Magelang, yang setiap hari mendampingi santri dalam kegiatan belajar. Dari ruang kelas hingga asrama, ia menulis tentang nilai-nilai kecil yang diam-diam mengajarkan hal besar.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/dari-sapu-lidi-sampai-emperan-kamar-begini-santri-nurul-maghfiroh-menghidupkan-pancasila/98401/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.54 WITA

  • #Nurul Maghfiroh
  • #Pendidikan Karakter
  • #Pesantren
  • #Santri
  • #musyawarah
  • #nilai kebangsaan
  • #pancasila
  • #pondok pesantren

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Pilihan Editor

  1. 1 Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan
  2. 2

    Putusan MA 19 P/HUM/2026: Saatnya Membenahi KKI, MDP, dan Independensi Kolegium

  3. 3

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  4. 4

    Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

  5. 5

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.