JurnalPost.com - Pukul empat pagi di Pondok Pesantren Nurul Maghfiroh, belum ada yang berteriak. Yang terdengar hanya langkah kaki yang berentak pelan, gemericik air wudu, dan bisikan santri yang membangunkan temannya.
Di pondok, nilai-nilai bangsa tidak hanya dihafal. Nilai-nilai itu dijalani hari demi hari. Keadilan dipelajari dari pembagian makanan di dapur, persatuan dari kegiatan makan bersama yang diikuti santri dari berbagai daerah, dan musyawarah dari obrolan panjang di emperan kamar.
Tembok pesantren memang tinggi, jadwalnya padat, dan aturannya kadang terdengar tegas bagi orang luar. Namun, di baliknya tumbuh rasa memiliki terhadap sesama, terhadap tanah air, dan terhadap nilai-nilai yang menyatukan kita sebagai bangsa.
Subuh yang Mengajarkan Disiplin
Lampu musala menyala lebih dulu, seolah memberi tanda bahwa hari sudah dimulai sebelum matahari terbit.
Bagi santri, bangun subuh bukan sekadar kebiasaan. Di sini, mereka belajar bahwa waktu bukan sepenuhnya milik pribadi. Kalau satu orang terlambat, ia tidak hanya tertinggal salat berjamaah, tetapi juga membuat barisan menunggu.
Tak ada slogan soal tanggung jawab. Hanya kebiasaan yang diulang: bangun, bersuci, berjamaah, lalu menjalani hari dengan tertib.
Sila pertama Pancasila hadir bukan sebagai tulisan di dinding, melainkan sebagai ritme hidup yang menuntun santri mengenal dirinya dan Tuhannya.
Sapu Lidi dan Ember Air
Setiap Ahad, pondok berubah menjadi panggung kerja bakti. Ada yang menyapu musala, mengangkat ember untuk mengepel lantai, membetulkan kursi, merapikan alas kaki, hingga membersihkan sarang laba-laba.
Tak ada yang menghitung siapa yang paling banyak bekerja. Yang ada hanya candaan yang sesekali pecah dan seruan santai:
“Ayo, sini bantu angkat ember!”
Semangat ini sejalan dengan QS. Al-Ma'idah ayat 2, ketika Allah memerintahkan orang beriman untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, bukan dalam dosa dan permusuhan.
Ketika santri membersihkan musala bersama-sama, mereka sedang belajar tentang kemanusiaan yang adil dan beradab.
Semuanya dimulai dari hal kecil: berani mengangkat beban orang lain, walau hanya seember air.
Satu Meja, Banyak Logat
Di dapur umum, perbedaan hampir tak pernah menjadi masalah. Ada santri Jawa dengan logat halus, ada yang berasal dari Sumatera dengan cara bicara lebih tegas, dan ada pula yang membawa cerita kampung dari daerah asalnya.
Semuanya duduk lesehan di tempat yang sama, menikmati porsi makanan yang sama, dan menertawakan lelucon yang sama.
Perbedaan tidak hilang. Perbedaan justru dikenali. Dari situlah santri belajar bahwa teman yang memiliki kebiasaan dan cara pandang berbeda bukanlah orang asing.
QS. Al-Hujurat ayat 13 mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling merendahkan. Kemuliaan diukur dari ketakwaan, bukan dari suku, status, atau latar belakang.
Dalam bahasa sederhana yang akrab bagi santri, pesannya adalah jangan menghakimi teman hanya karena ia berbeda.
Persatuan Indonesia tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kemampuan hidup berdampingan dan tetap merasa sebagai satu keluarga, sejauh apa pun kampung asal.
Musyawarah di Emperan Kamar
Pada malam-malam tertentu, emperan kamar menjadi ruang musyawarah paling jujur. Para santri membahas acara khitobah, lomba antarkamar, atau urusan kebersihan yang belum selesai.
Ada yang banyak bicara, ada yang hanya mendengar, dan ada pula yang baru berani mengangkat tangan setelah lama ragu.
Menariknya, keputusan jarang ditentukan oleh suara paling keras. Setelah perdebatan cukup panjang, biasanya ada yang menengahi dengan tenang:
“Kalau begitu, kita sepakati saja yang ini.”
Semua menerima keputusan, bukan karena merasa kalah, melainkan karena merasa sudah didengar.
Pesantren mungkin jarang menggunakan istilah “demokrasi”, tetapi praktiknya sudah lama hidup. Santri belajar bahwa memimpin bukan soal memerintah, melainkan mendengarkan.
Keputusan terbaik bukanlah yang paling cepat diambil, melainkan keputusan yang mampu menjaga kebersamaan.
Cinta Tanah Air, Bagian dari Iman
Ada satu ungkapan yang akrab di telinga santri: hubbul wathan minal iman, yang berarti cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Ungkapan ini lekat dengan tradisi kebangsaan pesantren dan semangat perjuangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, tokoh besar pesantren yang memperjuangkan persatuan umat dan kemerdekaan Indonesia.
Beliau memadukan semangat keislaman dengan kebangsaan serta mendorong umat Islam bersatu menghadapi penindasan kolonial.
Bagi santri, pesan itu lebih dari sekadar sejarah. Mencintai Indonesia tidak berarti meninggalkan iman. Keduanya justru dapat saling menguatkan.
Santri yang belajar sungguh-sungguh, menjaga amanah, dan berbuat baik kepada lingkungannya telah menjalankan cinta tanah air dalam bentuk paling sederhana.
Ketika santri mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau membela teman dari perlakuan tidak adil, mereka tidak sedang melakukan sesuatu yang asing dari nilai-nilai agama.
Mereka sedang menghidupkan warisan para pendiri pesantren bahwa iman dan kebangsaan dapat berjalan beriringan.
Nilai yang Tak Pernah Pensiun
Pancasila sering dibayangkan sebagai lima sila yang harus dihafal. Di pondok, nilai-nilainya jauh lebih hidup.
Nilai-nilai itu hadir saat santri bangun sebelum subuh, menyapu halaman bersama, menerima teman yang berbeda, bermusyawarah, dan menolong tanpa mengharapkan balasan.
Pancasila tidak selalu hadir melalui bahasa politik, tetapi juga melalui kebiasaan: tangan yang terbiasa bekerja, telinga yang terbiasa mendengar, dan hati yang terbiasa peduli.
Jadi, jika suatu hari Anda melewati sebuah pesantren, jangan hanya melihat temboknya.
Bayangkan santri yang bangun sebelum fajar, sapu yang bergerak di halaman, tawa di ruang makan, dan diskusi panjang di teras asrama.
Di sanalah nilai-nilai bangsa tumbuh dan diwariskan dengan cara yang paling manusiawi.
Profil Penulis
Nashichatunnafisah adalah mahasiswa PJJ Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Nurul Maghfiroh, Tegalrejo, Magelang, yang setiap hari mendampingi santri dalam kegiatan belajar. Dari ruang kelas hingga asrama, ia menulis tentang nilai-nilai kecil yang diam-diam mengajarkan hal besar.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda