Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Merawat NKRI dari Ruang Kelas: Harmoni Syariat Islam dan Pancasila dalam Kurikulum Merdeka

Merawat NKRI dari Ruang Kelas: Harmoni Syariat Islam dan Pancasila dalam Kurikulum Merdeka

H
Penulis: Habib Abdullah Fihr
27 Oktober 2026, 17.28 WITA Editor: Shella Paramitha
7 menit baca
Menjaga Ruh NKRI

JurnalPost.com - Perdebatan mengenai hubungan antara agama dan negara seolah tidak pernah benar-benar selesai di Indonesia. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin terbuka, masih muncul pandangan yang menempatkan nilai-nilai keagamaan dan nasionalisme sebagai dua hal yang bertentangan. Bahkan, sebagian kelompok menganggap bahwa kecintaan terhadap negara tidak sejalan dengan ajaran agama.

Padahal, jika menelusuri sejarah panjang bangsa Indonesia, agama dan nasionalisme justru memiliki hubungan yang sangat erat. Pesantren, madrasah, dan para ulama telah memainkan peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan sekaligus mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hubungan tersebut terus berkembang hingga dunia pendidikan modern. Melalui Kurikulum Merdeka, nilai-nilai Pancasila dan ajaran Islam mendapatkan ruang untuk diterapkan secara bersamaan dalam proses pembelajaran. Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena memiliki sejumlah prinsip yang sejalan, terutama dalam membentuk manusia yang beriman, berakhlak, adil, toleran, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bermasyarakat.

Nasionalisme dan Islam dalam Sejarah Pendidikan Indonesia

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan ulama dan kalangan pesantren. Lembaga pendidikan Islam bukan hanya menjadi tempat memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga menjadi pusat pembentukan kesadaran sosial dan semangat kebangsaan.

Salah satu gagasan yang berkembang dalam tradisi keislaman Nusantara adalah Hubbul Wathan Minal Iman, yang berarti cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Ungkapan ini telah lama digunakan untuk menanamkan kesadaran bahwa menjaga tanah air merupakan tanggung jawab yang sejalan dengan nilai-nilai keagamaan.

Ibda (2017), melalui kajiannya mengenai konsep Hubbul Wathan Minal Iman dalam pendidikan Islam, membahas pentingnya menempatkan nasionalisme sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

Dalam konteks Indonesia, mencintai tanah air bukan sekadar menunjukkan kebanggaan terhadap identitas kebangsaan. Nasionalisme juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, penghormatan terhadap perbedaan, serta kesediaan menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Prinsip-prinsip tersebut memiliki titik temu dengan ajaran Islam yang menekankan keadilan, persaudaraan, tanggung jawab, dan kemaslahatan bersama.

Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran strategis untuk memperkenalkan hubungan antara nilai keagamaan dan kebangsaan sejak usia dini.

Kurikulum Merdeka sebagai Ruang Integrasi Nilai Islam dan Pancasila

Penerapan Kurikulum Merdeka memberikan kesempatan bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Di lingkungan madrasah, penguatan karakter tersebut dapat dilakukan melalui integrasi Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (P3RA).

Pendekatan ini menempatkan pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana membentuk sikap, kebiasaan, dan tanggung jawab sosial peserta didik.

Cahyanto dan rekan-rekannya (2024) mengkaji internalisasi dimensi Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan lil Alamin dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Kajian tersebut memperlihatkan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai karakter dengan pengalaman belajar peserta didik.

Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mempelajari Pancasila sebagai materi hafalan atau memahami ajaran Islam sebatas teori. Mereka juga diarahkan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, nilai gotong royong dapat diwujudkan melalui kegiatan kerja kelompok dan kepedulian sosial. Sementara itu, prinsip keadilan dapat diterapkan melalui pembelajaran yang memberikan kesempatan setara kepada seluruh siswa, tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi mereka.

Dengan demikian, pembelajaran agama dan pendidikan kebangsaan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam membentuk karakter peserta didik.

Mengubah Ruang Kelas Menjadi Tempat Belajar Toleransi

Tantangan pendidikan karakter pada masa sekarang semakin kompleks. Peserta didik tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital, media sosial, dan arus informasi yang begitu cepat.

Mereka tidak hanya menerima pengetahuan dari guru atau buku pelajaran, tetapi juga dari berbagai platform digital yang belum tentu menyajikan informasi secara benar dan bertanggung jawab.

Dalam kondisi tersebut, pembelajaran yang terlalu mengandalkan ceramah satu arah berisiko membuat siswa kurang terlibat secara aktif.

Guru perlu menciptakan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik berdiskusi, mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan menghargai pandangan orang lain.

Hijriyah dan rekan-rekannya (2024) membahas inovasi media pembelajaran melalui kegiatan pameran media interaktif yang bertujuan menumbuhkan motivasi mahasiswa pendidikan Islam dalam mengembangkan pembelajaran yang menarik.

Gagasan inovasi tersebut relevan untuk mendorong terciptanya ruang kelas yang lebih partisipatif.

Dalam praktiknya, guru dapat menggunakan diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek, permainan edukatif, serta media digital untuk memperkenalkan nilai toleransi dan kehidupan kebangsaan.

Misalnya, peserta didik diajak membahas contoh kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki perbedaan agama, budaya, dan tradisi. Melalui diskusi tersebut, mereka belajar bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kenyataan sosial yang harus dihormati.

Di sinilah nilai moderasi beragama atau wasathiyah dapat diperkenalkan secara konkret.

Moderasi beragama mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan, serta penghargaan terhadap tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama.

Nilai tersebut akan lebih mudah dipahami ketika siswa memperoleh kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

Peran Budaya Sekolah dalam Membentuk Karakter Kebangsaan

Pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui materi pelajaran di dalam kelas. Kebiasaan dan budaya sekolah juga memiliki pengaruh besar terhadap sikap peserta didik.

Dalam dunia pendidikan, proses ini dikenal sebagai hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi, yaitu pembelajaran nilai yang berlangsung melalui budaya, aturan, interaksi, dan kebiasaan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Di lingkungan pesantren maupun madrasah, kurikulum tersembunyi dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang menghubungkan nilai keagamaan dengan tanggung jawab kebangsaan.

Upacara bendera setiap Senin, misalnya, bukan sekadar kegiatan seremonial. Jika dilaksanakan dengan pemahaman yang tepat, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana menanamkan kedisiplinan, penghormatan terhadap simbol negara, dan kesadaran akan pentingnya persatuan.

Begitu pula dengan kegiatan Pramuka yang mengajarkan kerja sama, kepemimpinan, kemandirian, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan prinsip gotong royong dalam Pancasila sekaligus ajaran Islam mengenai tolong-menolong dan tanggung jawab sosial.

Di sisi lain, pembiasaan kegiatan keagamaan seperti salat Dhuha, salat Zuhur berjemaah, dan tadarus Al-Qur'an dapat membantu membangun kedisiplinan spiritual peserta didik.

Namun, pembiasaan tersebut perlu disertai keteladanan guru dan lingkungan pendidikan yang menghargai perbedaan, menjunjung keadilan, serta menolak tindakan diskriminatif.

Dzofir dan Nur (2024), dalam kajiannya mengenai integrasi nilai moderasi beragama di pesantren, menyoroti pentingnya pendidikan dalam membentuk generasi yang toleran dan memiliki pemahaman keislaman yang moderat.

Artinya, keberhasilan pendidikan karakter tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan keagamaan maupun kebangsaan yang dilaksanakan sekolah, tetapi juga dari bagaimana nilai-nilai tersebut tercermin dalam perilaku peserta didik.

Menjaga Persatuan Bangsa Dimulai dari Pendidikan

Menjaga keutuhan NKRI bukan hanya tanggung jawab pemerintah, aparat keamanan, atau tokoh masyarakat. Dunia pendidikan memiliki peran yang tidak kalah penting dalam membangun kesadaran kebangsaan generasi muda.

Melalui pendidikan, peserta didik dapat memahami bahwa menjadi pribadi yang taat beragama tidak bertentangan dengan tanggung jawab sebagai warga negara.

Sebaliknya, pemahaman agama yang menjunjung keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama dapat memperkuat komitmen untuk menjaga persatuan Indonesia.

Kurikulum Merdeka membuka peluang bagi sekolah dan madrasah untuk menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan, nilai spiritual, dan pengalaman sosial secara lebih bermakna.

Meski demikian, keberhasilannya tetap bergantung pada kesiapan guru, budaya sekolah, dukungan keluarga, serta konsistensi lembaga pendidikan dalam memberikan keteladanan.

Pada akhirnya, merawat NKRI tidak selalu harus dilakukan melalui pidato tentang nasionalisme atau perdebatan panjang mengenai hubungan agama dan negara.

Upaya tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membiasakan siswa menghargai teman yang berbeda pendapat, berlaku adil, bekerja sama, menaati aturan, serta memahami bahwa kehidupan berbangsa membutuhkan tanggung jawab bersama.

Ketika nilai-nilai Islam dan Pancasila benar-benar hadir dalam praktik pendidikan sehari-hari, ruang kelas tidak lagi hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan.

Ruang kelas juga menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki keyakinan kuat, pemikiran terbuka, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap tanah air.

Sebab, masa depan persatuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh keputusan besar di tingkat negara, tetapi juga oleh nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak-anak bangsa sejak mereka duduk di bangku sekolah.


Daftar Pustaka

Cahyanto, B., Suwandayani, B. I., Badaruddin, S., Kamarzaman, M. H., & Syafuddin, A. (2024). The internalization of the Pancasila and Rahmatan Lil Alamin student profiles dimensions in the implementation of the Merdeka Curriculum. Cendekia: Jurnal Kependidikan dan Kemasyarakatan, 22(2), 224–241. https://doi.org/10.21154/cendekia.v22i2.9906

Dzofir, M., & Nur, D. M. M. (2024). Integration of religious moderation values in education at Islamic boarding schools: Building a tolerant and Islamic generation. Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 19(2), 347–368. https://doi.org/10.21043/edukasia.v19i2.30681

Hijriyah, U., Baharudin, Fiteriani, I., Fitriati, & Azizah, N. (2024). Innovative learning media exhibition: Cultivating motivation among Islamic education students to create engaging learning media. Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 19(2), 369–388. https://doi.org/10.21043/edukasia.v19i2.28599

Ibda, H. (2017). Konsep hubbul wathan minal iman dalam pendidikan Islam sebagai ruh nasionalisme. International Journal Ihya' 'Ulum al-Din, 19(2), 245–270. https://doi.org/10.21580/ihya.18.1.1740

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/merawat-nkri-dari-ruang-kelas-harmoni-syariat-islam-dan-pancasila-dalam-kurikulum-merdeka/98383/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.54 WITA

  • #Islam
  • #Kurikulum Merdeka
  • #Moderasi Beragama
  • #NKRI
  • #Nasionalisme
  • #Pendidikan Karakter
  • #Toleransi
  • #pancasila

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.