Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. KADER MOLERA, Dosen FKM UMI Latih Kader Desa Marayoka Cegah Hipertensi pada Akseptor KB Hormonal

  2. Menagih Janji Negara: Mengurai Persoalan Kesejahteraan Guru Honorer di NTT

  3. Koalisi Pemuda Jakarta Soroti Seleksi Ahmad Rijal di DTKJ, Desak Pemprov DKI Lakukan Evaluasi

  4. Kurikulum yang Tak Tertulis di Pesantren: Antara Keteladanan, Pembentukan Karakter, dan Perlindungan Anak

  5. Sinergi Akademisi dan Pemerintah: Sekolah Vokasi IPB University Gelar Edukasi Gizi di Mulyaharja

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Pancasila Bukan Sekadar Hafalan, tetapi Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari

Pancasila Bukan Sekadar Hafalan, tetapi Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari

M
Penulis: Mutia Ayu Dwika
19 Oktober 2026, 02.20 WITA • Editor: Gilang Pamungkas
5 menit baca
United Beneath the Garuda and Flag
Ilustrasi semangat persatuan dan keberagaman masyarakat Indonesia sebagai wujud pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sumber: Ilustrasi AI/JurnalPost.com.

Mutia Ayu Dwika merupakan mahasiswa Program Studi Gizi dan Dietetika Program Sarjana Terapan di Poltekkes Kemenkes Palembang. Melalui tulisannya, ia mengajak masyarakat untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam membangun toleransi, kepedulian sosial, persatuan, dan keadilan.

JurnalPost.com - Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam, nilai-nilai Pancasila memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan, membangun kepedulian, dan memperkuat persatuan. Namun, pengamalan Pancasila tidak cukup hanya dengan menghafalkan kelima silanya. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan tempat tinggal.

IKLAN

Sebagai dasar negara dan pedoman kehidupan berbangsa, Pancasila mengajarkan masyarakat untuk saling menghormati, memperlakukan sesama secara adil, serta mengutamakan kepentingan bersama. Penerapannya dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat.

Worried Student Browsing Textbooks
Baca Juga

Satu Pintu Buku Kampus, Satu Luka bagi Keadilan Sosial

Menghormati Perbedaan dan Menjaga Toleransi

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan pentingnya menghormati keyakinan setiap orang. Dalam kehidupan bertetangga, nilai ini dapat diterapkan dengan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, menghormati kegiatan keagamaan orang lain, serta tidak memaksakan keyakinan kepada siapa pun.

Sikap toleransi menjadi salah satu kunci terciptanya lingkungan yang damai. Perbedaan agama, kebiasaan, maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk menciptakan jarak antarmasyarakat.

Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila setiap individu memiliki kesadaran untuk saling menghormati dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Kepedulian Sosial Dimulai dari Hal Sederhana

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan kita untuk memperlakukan setiap orang dengan baik dan penuh rasa hormat.

Kewarganegaraan
Baca Juga

Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan

Kepedulian terhadap sesama tidak harus diwujudkan melalui bantuan besar. Menjenguk tetangga yang sakit, membantu warga yang mengalami kesulitan, atau menjaga ucapan agar tidak menyakiti perasaan orang lain juga merupakan bentuk pengamalan nilai kemanusiaan.

Tindakan sederhana tersebut menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat dimulai dari diri sendiri. Ketika masyarakat terbiasa saling membantu, hubungan antarwarga akan semakin erat dan rasa kebersamaan dapat tumbuh dengan baik.

Kepedulian juga menjadi pengingat bahwa setiap manusia membutuhkan dukungan dan perhatian dari lingkungan sekitarnya, terutama ketika menghadapi kesulitan.

Gotong Royong sebagai Wujud Persatuan

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, dapat diwujudkan melalui kegiatan gotong royong dan partisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Pancasila di Tengah Patah Hati
Baca Juga

Pancasila di Tengah Patah Hati: Sudahkah Kita Memanusiakan Manusia dalam Hubungan?

Contohnya adalah membersihkan lingkungan bersama, mengikuti kegiatan kemasyarakatan, serta menjaga hubungan baik dengan tetangga tanpa membedakan latar belakang mereka.

Di tengah kesibukan masing-masing, gotong royong menjadi pengingat bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan kerja sama.

Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat dan kebiasaan yang sama, melainkan kesediaan untuk hidup berdampingan serta bekerja sama meskipun terdapat perbedaan.

Melalui gotong royong, masyarakat tidak hanya menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama, tetapi juga membangun rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan tempat tinggal.

IKLAN

Musyawarah untuk Menyelesaikan Persoalan

Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan pentingnya menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.

Ketika warga merencanakan suatu kegiatan atau menghadapi permasalahan lingkungan, setiap orang sebaiknya diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat.

Keputusan perlu diambil dengan mempertimbangkan kepentingan bersama, bukan hanya keinginan satu pihak.

Melalui musyawarah, masyarakat dapat belajar mendengarkan, menghargai pandangan orang lain, dan menerima kesepakatan bersama secara bertanggung jawab.

Sikap tersebut penting untuk mencegah perselisihan sekaligus membangun kebiasaan menyelesaikan persoalan melalui komunikasi yang baik.

Keadilan Harus Dirasakan oleh Semua Warga

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menekankan pentingnya perlakuan yang adil tanpa membeda-bedakan seseorang berdasarkan kondisi ekonomi, pekerjaan, usia, maupun latar belakangnya.

Dalam kehidupan bertetangga, keadilan dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap warga untuk berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat.

Keadilan juga dapat diterapkan melalui pembagian tugas dalam kegiatan lingkungan secara wajar dan sesuai dengan kemampuan masing-masing warga.

Dengan demikian, tanggung jawab tidak hanya dibebankan kepada orang-orang tertentu, tetapi menjadi bagian dari kepedulian bersama.

Lingkungan yang menjunjung tinggi nilai keadilan akan membantu menciptakan rasa aman, nyaman, dan saling menghargai di antara anggota masyarakat.

Dimulai dari Diri Sendiri

Pengamalan Pancasila tidak harus menunggu seseorang memiliki jabatan atau kedudukan tertentu. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menerapkannya, baik di lingkungan keluarga, tempat tinggal, maupun dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

Sebagai mahasiswa, penerapan nilai-nilai Pancasila juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter. Sikap toleransi, kepedulian, gotong royong, musyawarah, dan keadilan perlu dibiasakan agar tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dipelajari di bangku perkuliahan.

Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami Pancasila secara teori, tetapi juga diharapkan mampu menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilainya melalui perilaku sehari-hari.

Pada akhirnya, Pancasila akan semakin bermakna apabila nilai-nilainya benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat. Perubahan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat ikut membangun lingkungan yang rukun, harmonis, dan menghargai setiap orang.

Sebab, menjaga nilai-nilai Pancasila bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/pancasila-bukan-sekadar-hafalan-tetapi-pedoman-dalam-kehidupan-sehari-hari/98250/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 10.26 WITA

  • #Keadilan Sosial
  • #Toleransi
  • #gotong royong
  • #kehidupan sehari-hari
  • #musyawarah
  • #nilai pancasila
  • #pancasila
  • #pedoman hidup

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kurikulum yang Tak Tertulis di Pesantren: Antara Keteladanan, Pembentukan Karakter, dan Perlindungan Anak

Etika Komunikasi Publik dan Integritas Bangsa: Catatan Kritis Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Soroti Urgensi Literasi Digital bagi Generasi Z

“In This Economy”: Mampukah Gen Z Menemukan Strategi Bertahan di Tengah Ketidakpastian?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Menenun Harapan Bebas Stunting dari Saung AEWO Mulyaharja, IPB University Edukasi Ibu Balita tentang Gizi dan PHBS

Komunikasi Gender di Lingkungan Mahasiswa: Stereotip, Interaksi Akademik, dan Negosiasi Identitas

Dosen UMI Berdayakan Guru Pesantren Mizanul Ulum melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik dari Cangkang Telur Itik

Pemanfaatan Anyaman Pandan Sebagai Media Pembelajaran Matematika Berbasis Kearifan Lokal Aceh Timur

Pilihan Editor

  1. 1 Sampah Sudah Dibuang, Masalahnya Belum: Ada yang Keliru dalam Kebijakan Pengelolaan Sampah Indonesia
  2. 2

    Bergantung Pasokan Luar Daerah, Harga Pangan di Pasar Ciputat Mudah Bergejolak

  3. 3

    Ratusan UMKM Ikut Kecipratan Rezeki, Fun Walk HUT ke-58 Semen Tonasa Dibanjiri Puluhan Ribu Warga

  4. 4

    Partisipasi Politik Masyarakat dalam Memperkuat Demokrasi di Indonesia

  5. 5

    Punya 10 Saham Belum Tentu Aman, Begini Cara Markowitz Menentukan Portofolio Investasi yang Efisien

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.