Pendahuluan
Perkembangan era modern dan tuntutan ekonomi telah mendorong peningkatan partisipasi perempuan di ruang publik secara signifikan. Namun, masuknya perempuan ke sektor ketenagakerjaan belum sepenuhnya diikuti oleh pembagian peran yang setara di dalam rumah tangga.
Fenomena ini melahirkan apa yang dikenal sebagai beban ganda (double burden), yaitu kondisi ketika perempuan dituntut untuk menjalankan tanggung jawab profesional di tempat kerja sekaligus menanggung sebagian besar pekerjaan domestik (Rojak, 2025).
Alih-alih dipandang sebagai persoalan struktural, pengorbanan tersebut kerap dianggap wajar oleh masyarakat melalui romantisasi narasi tentang sosok “istri dan ibu serba bisa” (superwoman).
Realitas ketimpangan ini tercermin dalam berbagai pemberitaan media nasional. Berdasarkan laporan BBC News Indonesia (2024), perempuan pekerja kantoran maupun buruh pabrik menghadapi persoalan kelelahan fisik dan mental akibat tuntutan pekerjaan penuh waktu yang masih harus dilanjutkan dengan tanggung jawab mengurus rumah tangga dan mengasuh anak.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perempuan tidak hanya menghadapi tuntutan pekerjaan profesional, tetapi juga menjalani pekerjaan domestik yang sering kali tidak memperoleh pengakuan maupun pembagian tanggung jawab secara adil.
Ketimpangan beban ganda tidak terbentuk secara alami, melainkan dipengaruhi oleh konstruksi sosial melalui praktik komunikasi dan budaya patriarki.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku Komunikasi dan Gender (Tripalupi, 2024), proses sosialisasi gender yang berlangsung melalui bahasa, interaksi keluarga, dan media massa turut membentuk stereotip mengenai pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan.
Konstruksi tersebut dapat menciptakan tekanan psikologis serta rasa bersalah bagi perempuan bekerja ketika mereka dianggap tidak mampu memenuhi ekspektasi domestik yang berkembang dalam masyarakat.
Lebih lanjut, konstruksi sosial atas beban ganda perempuan juga berkaitan dengan internalisasi nilai-nilai budaya yang membawa implikasi terhadap ketidaksetaraan relasi kuasa dalam masyarakat (Septyawan & Imron, 2026).
Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan menganalisis bagaimana ketimpangan beban ganda pada perempuan bekerja dibentuk dan dipertahankan melalui konstruksi sosial, serta bagaimana fenomena tersebut dapat dikaji menggunakan perspektif feminisme dan komunikasi gender.
Melalui pembahasan mengenai relasi kuasa dan konstruksi simbolik dalam kehidupan sehari-hari, tulisan ini menekankan pentingnya perubahan cara pandang terhadap pembagian peran domestik guna mewujudkan keadilan sosial, baik di ruang privat maupun publik.
Pembahasan
Beban Ganda Perempuan dalam Kehidupan Rumah Tangga
Fenomena beban ganda (double burden) yang dialami perempuan bekerja tidak dapat dilepaskan dari cara masyarakat memandang pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan domestik maupun publik.
Sebagaimana disoroti dalam pemberitaan BBC News Indonesia (2024), perempuan pekerja kantoran maupun buruh pabrik dapat menghadapi kelelahan fisik dan mental akibat tuntutan pekerjaan profesional yang kemudian dilanjutkan dengan kewajiban mengurus rumah tangga.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya partisipasi perempuan di dunia kerja tidak serta-merta mengubah struktur pembagian tanggung jawab dalam keluarga.
Dalam sejumlah rumah tangga, kesempatan perempuan untuk bekerja justru menambah tanggung jawab yang harus dijalankan tanpa diikuti perubahan pembagian pekerjaan domestik secara proporsional.
Akibatnya, perempuan berpotensi mengalami keterbatasan waktu istirahat, tekanan emosional, serta kesulitan menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi, keluarga, dan pekerjaan.
Konstruksi Patriarki dan Ketimpangan Peran Gender
Dari sudut pandang komunikasi sosial, ketimpangan tersebut berkaitan dengan kuatnya pengaruh budaya patriarki dalam mengatur hubungan dan pembagian peran di lingkungan keluarga.
Khodijah dan Yuliana (2026) menjelaskan bahwa konstruksi patriarki dalam komunikasi keluarga dapat menempatkan suami sebagai pencari nafkah utama, sementara istri diposisikan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan domestik, meskipun turut bekerja di sektor publik.
Pola komunikasi sehari-hari dalam rumah tangga juga dapat memperkuat ketimpangan tersebut. Penggunaan bahasa, pemberian label, serta anggapan mengenai pekerjaan yang dianggap pantas bagi laki-laki dan perempuan berpotensi membentuk pemahaman bahwa urusan domestik merupakan tanggung jawab utama perempuan.
Sebagai contoh, anggapan bahwa suami hanya perlu “membantu istri” dalam pekerjaan rumah tangga secara tidak langsung menempatkan pekerjaan domestik sebagai kewajiban istri, bukan tanggung jawab bersama.
Pandangan semacam ini memperlihatkan bagaimana bahasa dan komunikasi memiliki peran penting dalam mempertahankan konstruksi gender yang tidak setara.
Internalisasi Nilai Tradisional dan Relasi Kuasa
Ketidaksetaraan pembagian peran dalam keluarga juga berkaitan dengan internalisasi nilai-nilai tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi (Salsabilla & Afrizal, 2026).
Sejak kecil, perempuan sering kali diperkenalkan pada tanggung jawab domestik, sementara laki-laki lebih banyak diarahkan untuk menjalankan peran sebagai pencari nafkah.
Pembentukan pola pikir tersebut dapat memengaruhi hubungan suami dan istri ketika membangun kehidupan rumah tangga.
Situasi menjadi semakin kompleks dalam keluarga muda atau perkawinan usia anak. Nurjanah et al. (2026) mengkaji makna beban ganda bagi perempuan dalam keluarga perkawinan anak dan relevansinya terhadap pembelajaran IPS.
Dalam konteks hubungan keluarga yang tidak setara, keterbatasan kemampuan untuk bernegosiasi atau bargaining power dapat memengaruhi kebebasan perempuan dalam menyampaikan kebutuhan, kelelahan, maupun keberatan terhadap pembagian pekerjaan rumah tangga.
Perempuan yang berada dalam posisi tawar lemah berisiko menerima tanggung jawab domestik secara berlebihan karena adanya tekanan sosial untuk mempertahankan keharmonisan keluarga.
Padahal, keharmonisan rumah tangga semestinya dibangun melalui komunikasi terbuka, penghargaan terhadap kebutuhan masing-masing anggota keluarga, serta pembagian tanggung jawab yang disepakati bersama.
Perspektif Feminisme dan Komunikasi Gender
Dalam perspektif feminisme, beban ganda dapat dipahami sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender yang muncul akibat ketimpangan pembagian kerja produktif dan reproduktif.
Pekerjaan produktif umumnya dikaitkan dengan aktivitas yang menghasilkan pendapatan, sedangkan pekerjaan reproduktif mencakup pengasuhan anak, perawatan anggota keluarga, dan berbagai aktivitas domestik yang menunjang keberlangsungan kehidupan sehari-hari.
Persoalannya, pekerjaan domestik yang memiliki nilai sosial dan ekonomi penting sering kali tidak memperoleh pengakuan setara karena dianggap sebagai kewajiban alamiah perempuan.
Melalui pendekatan komunikasi gender, fenomena tersebut dapat dianalisis dari proses pembentukan makna, penggunaan bahasa, serta penyebaran stereotip mengenai perempuan ideal dalam masyarakat.
Tripalupi (2024), melalui buku Komunikasi dan Gender, membahas hubungan antara praktik komunikasi dan konstruksi gender yang turut memengaruhi cara masyarakat memahami peran laki-laki dan perempuan.
Citra perempuan ideal sebagai sosok yang harus berhasil dalam pekerjaan sekaligus mampu mengelola seluruh urusan rumah tangga dapat memunculkan tekanan tersendiri.
Ketika standar tersebut terus direproduksi melalui komunikasi keluarga, lingkungan sosial, dan media massa, perempuan berpotensi mengalami rasa bersalah saat tidak mampu memenuhi seluruh tuntutan yang dibebankan kepadanya.
Oleh sebab itu, kritik feminisme terhadap beban ganda bukan dimaksudkan untuk mengabaikan pentingnya keluarga, melainkan untuk mendorong pembagian tanggung jawab yang lebih adil serta mengakui kontribusi setiap anggota rumah tangga.
Membangun Komunikasi Keluarga yang Setara
Upaya mengatasi beban ganda perempuan membutuhkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap pembagian peran domestik.
Sebagaimana dibahas oleh Septyawan dan Imron (2026), konstruksi sosial beban ganda perempuan memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat serta pentingnya pemahaman kritis melalui pendidikan.
Dalam kehidupan keluarga, perubahan dapat dimulai dengan membangun komunikasi yang terbuka dan setara antara suami dan istri.
Pembagian pekerjaan rumah tangga seharusnya tidak ditentukan semata-mata berdasarkan jenis kelamin, melainkan mempertimbangkan waktu, kemampuan, kondisi pekerjaan, serta kebutuhan masing-masing anggota keluarga.
Selain itu, pendidikan gender perlu diperkuat sejak dini agar anak laki-laki dan perempuan memiliki pemahaman bahwa pekerjaan domestik merupakan keterampilan hidup dan tanggung jawab bersama.
Media massa juga memiliki peran penting dalam membangun representasi yang lebih adil mengenai kehidupan keluarga, sehingga narasi perempuan sebagai pihak yang harus mampu mengerjakan seluruh tanggung jawab rumah tangga tidak terus dianggap sebagai sesuatu yang ideal.
Dengan demikian, perubahan tidak cukup hanya dilakukan pada tingkat individu, tetapi juga memerlukan dukungan lingkungan sosial, pendidikan, dan budaya komunikasi yang menghargai kesetaraan.
Penutup
Fenomena beban ganda yang dialami perempuan bekerja menunjukkan bahwa meningkatnya partisipasi perempuan di ruang publik belum sepenuhnya diikuti oleh pembagian tanggung jawab yang adil dalam kehidupan rumah tangga.
Ketimpangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh konstruksi sosial, nilai budaya patriarki, serta praktik komunikasi yang membentuk stereotip mengenai peran laki-laki dan perempuan.
Melalui perspektif feminisme dan komunikasi gender, beban ganda dapat dipahami sebagai persoalan struktural yang membutuhkan perubahan cara pandang dan pola hubungan dalam keluarga.
Oleh karena itu, diperlukan komunikasi keluarga yang egaliter, penghapusan stereotip gender, serta pembagian pekerjaan domestik yang lebih proporsional.
Kesetaraan gender bukan berarti menghilangkan peran salah satu pihak dalam keluarga, melainkan menciptakan hubungan yang saling menghargai, mendukung, dan bertanggung jawab.
Dengan terwujudnya pembagian peran yang lebih adil, perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan potensi diri tanpa harus menanggung tekanan domestik secara berlebihan. Pada akhirnya, perubahan tersebut diharapkan mampu menciptakan kehidupan keluarga dan masyarakat yang lebih harmonis, humanis, serta berkeadilan.
Daftar Pustaka
BBC News Indonesia. (2024). Perempuan bekerja dan beban ganda: Ketika karier menanjak tapi pekerjaan rumah tangga tetap di tangan istri. BBC News Indonesia.
Khodijah, D. N., & Yuliana, N. (2026). Konstruksi patriarki dalam pembagian peran gender dan beban ganda perempuan dalam komunikasi sosial. Brand Communication, 5(1), 1–7.
Nurjanah, R. A., Imron, A., & Setyawan, K. G. (2026). Makna beban ganda bagi perempuan pada keluarga perkawinan anak dan relevansinya terhadap pembelajaran IPS. Jurnal Dialektika Pendidikan IPS, 6(1), 252–263.
Rojak, J. A. (2025). Kesenjangan gender dalam work-life balance: Analisis beban ganda dan peran domestik. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 15(2), 34–48.
Salsabilla, A. R. A., & Afrizal, S. (2026). Analisis ketidaksetaraan gender dalam pembagian peran keluarga. Arus Jurnal Sosial dan Humaniora, 6(1), 919–923.
Septyawan, N. E., & Imron, A. (2026). Konstruksi sosial beban ganda buruh perempuan dan relevansinya dalam pembelajaran IPS. ARMADA: Jurnal Penelitian Multidisiplin, 4(8), 4101–4111.
Tripalupi, M. F. (2024). Komunikasi dan Gender. Untag Surabaya Press.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda