Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Komunikasi Gender di Lingkungan Mahasiswa: Stereotip, Interaksi Akademik, dan Negosiasi Identitas

Komunikasi Gender di Lingkungan Mahasiswa: Stereotip, Interaksi Akademik, dan Negosiasi Identitas

Penulis:
  • Randy Kurniawan Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya NIM: 1152300129
Editor: Tim Editor JurnalPost
20 Oktober 2026, 20.57 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
vitaly gariev wAgfqXpYqug unsplash
Ilustrasi interaksi dan komunikasi antarmahasiswa dalam lingkungan akademik yang mencerminkan pentingnya kesetaraan peran dan kesempatan menyampaikan pendapat. Sumber: Vitaly Gariev/Unsplash.

ABSTRAK

Komunikasi gender di lingkungan mahasiswa berlangsung melalui percakapan sehari-hari, pembagian peran dalam kerja kelompok, aktivitas organisasi, serta interaksi di ruang digital. Dalam situasi tersebut, stereotip gender dapat memengaruhi siapa yang dianggap layak memimpin, siapa yang diberi tugas administratif, dan bagaimana gaya bicara seseorang dinilai.

Artikel ini bertujuan membahas bagaimana stereotip gender dapat direproduksi sekaligus dinegosiasikan dalam komunikasi mahasiswa. Penulisan menggunakan studi pustaka deskriptif dengan menelaah artikel ilmiah tentang komunikasi gender, stereotip, representasi, dan interaksi akademik.

Literatur yang ditinjau menunjukkan bahwa perilaku komunikasi tidak tepat dijelaskan hanya melalui perbedaan biologis laki-laki dan perempuan. Norma sosial, konteks interaksi, dan pengalaman individu juga perlu diperhatikan.

Artikel ini tidak menyajikan temuan lapangan baru. Pembahasan menekankan pentingnya pembagian peran yang transparan, kesempatan bicara yang setara, serta evaluasi kritis terhadap candaan dan label berbasis gender di lingkungan kampus.

Kata kunci: Komunikasi gender; mahasiswa; stereotip gender; interaksi akademik; kesetaraan.

ABSTRACT

Gender communication among university students takes place in everyday conversations, group-work role allocation, student organizations, and digital interactions. Gender stereotypes may influence who is considered suitable for leadership, who receives administrative tasks, and how a person's communication style is evaluated.

This article discusses how stereotypes may be reproduced and negotiated in student communication. It uses a descriptive literature review of academic works on gender communication, stereotypes, representation, and academic interaction.

The literature suggests that communication behavior should not be explained solely through biological differences; social norms, interactional context, and individual experience also matter.

This article does not present new fieldwork findings. It highlights transparent role allocation, equal speaking opportunities, and critical evaluation of gender-based jokes and labels on campus.

Keywords: Gender communication; university students; gender stereotypes; academic interaction; equality.

PENDAHULUAN

Perguruan tinggi merupakan ruang belajar sekaligus ruang sosial tempat mahasiswa membangun pengetahuan, jaringan pertemanan, identitas, dan kemampuan berkomunikasi.

Komunikasi tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi perkuliahan, tetapi juga membentuk hubungan, menentukan posisi dalam kelompok, dan menegosiasikan norma yang dianggap wajar. Salah satu aspek yang hadir dalam proses tersebut adalah gender, yakni konstruksi sosial mengenai peran, perilaku, dan harapan yang dilekatkan kepada seseorang berdasarkan kategori gender.

Dalam kegiatan akademik, mahasiswa bekerja dalam kelompok, berdiskusi di kelas, mengikuti organisasi, dan berkomunikasi melalui aplikasi pesan. Situasi tersebut dapat memuat asumsi yang tidak selalu disadari.

Perempuan, misalnya, dapat diasosiasikan dengan tugas mencatat atau mengelola administrasi, sedangkan laki-laki dianggap lebih cocok menjadi juru bicara atau pemimpin. Anggapan ini tidak otomatis berlaku pada semua kelompok mahasiswa, tetapi penting dikaji karena dapat membatasi pilihan peran seseorang apabila terus diulang dan diterima tanpa evaluasi.

Kajian stereotip gender pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta menempatkan stereotip sebagai persoalan yang dapat merugikan individu dan menegaskan perlunya pendidikan berperspektif gender (Chusniatun et al., 2022).

Penelitian mengenai perlawanan terhadap stereotip gender di lingkungan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya juga menggambarkan bahwa pembagian peran dalam organisasi dapat dikaitkan dengan anggapan tertentu tentang perempuan dan kepemimpinan (Hanifah et al., 2024).

Sementara itu, penelitian mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya tentang penerimaan pesan toxic masculinity melalui foto Instagram Jefri Nichol memperlihatkan adanya pemaknaan yang beragam terhadap ekspresi maskulinitas (Nadira et al., 2024).

Persoalan utama artikel ini adalah bagaimana stereotip gender dapat muncul dalam komunikasi mahasiswa dan bagaimana lingkungan akademik dapat membangun interaksi yang lebih setara.

Tujuan artikel ialah menjelaskan bentuk komunikasi yang berpotensi mereproduksi stereotip, membahas peran komunikasi digital dalam pembentukan makna gender, serta merumuskan prinsip komunikasi yang mendukung kesetaraan.

Artikel ini merupakan studi pustaka, bukan laporan penelitian lapangan. Karena itu, pembahasan tidak mengklaim bahwa pola tertentu terjadi pada seluruh mahasiswa atau mahasiswa Untag Surabaya secara khusus.

TINJAUAN PUSTAKA

Komunikasi gender dapat dipahami sebagai proses pertukaran pesan dalam konteks norma dan pemaknaan sosial tentang gender.

Cara seseorang berbicara, memilih kata, mengambil giliran bicara, menanggapi pendapat, atau menampilkan diri dapat ditafsirkan melalui harapan sosial.

Namun, kategori gender tidak seharusnya dipakai untuk menganggap semua laki-laki atau semua perempuan berkomunikasi dengan cara yang sama. Perbedaan individu, pengalaman, situasi, relasi kuasa, dan budaya kelompok juga memengaruhi komunikasi.

Stereotip gender adalah generalisasi mengenai karakteristik atau peran yang dianggap sesuai bagi kelompok gender tertentu. Ketika generalisasi digunakan untuk menentukan kemampuan seseorang sebelum mendengar pendapat atau menilai kinerjanya, stereotip dapat menjadi hambatan.

Di kampus, stereotip mungkin muncul melalui komentar tentang siapa yang dianggap tegas, emosional, cocok memimpin, atau seharusnya mengurus pekerjaan administratif.

Label yang tampak sebagai candaan tetap perlu dilihat dari konteks, frekuensi, hubungan antarpihak, serta dampaknya terhadap partisipasi.

Kajian representasi gender dalam percakapan virtual mahasiswa dan dosen menelaah penggunaan bahasa dalam komunikasi WhatsApp dan mengaitkannya dengan cara gender direpresentasikan dalam teks (Angela et al., 2023).

Temuan dalam satu konteks penelitian tidak dapat digeneralisasi menjadi sifat tetap semua mahasiswa laki-laki dan perempuan. Namun, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa percakapan digital dapat menjadi bahan untuk mengamati bagaimana pilihan bahasa dibaca dan diberi makna gender.

Dalam kajian komunikasi, makna pesan tidak sepenuhnya ditentukan oleh pengirim. Pendekatan resepsi Stuart Hall, sebagaimana digunakan dalam penelitian Nadira et al. (2024), memberi perhatian pada kemungkinan khalayak menerima, menegosiasikan, atau menolak makna yang ditawarkan.

Kerangka ini berguna untuk memahami bahwa mahasiswa dapat memaknai ekspresi gender secara berbeda, tergantung pengalaman, nilai, dan lingkungan sosialnya.

Perbedaan pemaknaan tidak selalu berarti komunikasi gagal. Yang penting adalah tersedianya ruang dialog dan tidak digunakannya perbedaan pendapat untuk merendahkan pihak lain.

Penelitian tentang pembelajaran kolaboratif berbantuan komputer membahas apakah lingkungan belajar tertentu dapat mendorong gaya komunikasi yang tidak terikat stereotip tradisional pada mahasiswa (Can Computer Supported Collaborative Learning..., 2014).

Zamista et al. (2024) meneliti keterampilan komunikasi mahasiswa dan melaporkan perbedaan skor yang sangat kecil antara kelompok perempuan dan laki-laki dalam sampel penelitiannya.

Kedua studi mengingatkan bahwa perbedaan komunikasi perlu diperiksa secara empiris dan kontekstual, bukan diasumsikan sejak awal.

METODE PENELITIAN

Artikel ini menggunakan metode studi pustaka deskriptif. Sumber yang ditelaah berupa artikel jurnal ilmiah yang membahas komunikasi gender, stereotip gender di lingkungan pendidikan, percakapan digital, representasi, dan penerimaan pesan.

Penelusuran dilakukan melalui laman jurnal dan hasil pencarian akademik, dengan prioritas pada artikel yang identitas bibliografisnya dapat diperiksa serta relevan dengan fokus mahasiswa dan komunikasi.

Analisis dilakukan melalui tiga langkah.

Pertama, mengidentifikasi tema yang berulang, yaitu stereotip gender, pembagian peran, gaya komunikasi, representasi digital, dan negosiasi makna.

Kedua, membandingkan fokus serta konteks tiap penelitian agar hasil satu studi tidak diperlakukan sebagai gambaran universal.

Ketiga, menyusun sintesis konseptual untuk menjawab tujuan artikel dan merumuskan implikasi praktis bagi komunikasi di lingkungan kampus.

Karena tidak ada wawancara, observasi lapangan, atau survei yang dilakukan penulis, artikel ini tidak menghasilkan data primer dan tidak menyatakan adanya temuan empiris baru.

Keterbatasan metode ini adalah cakupan sumber bergantung pada publikasi yang dapat diakses dan diverifikasi.

Oleh sebab itu, artikel ini lebih tepat diposisikan sebagai draf kajian pustaka awal. Sebelum digunakan sebagai naskah final, daftar referensi perlu diperiksa kembali berdasarkan metadata resmi setiap artikel dan disesuaikan dengan templat jurnal yang dipilih.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Stereotip dalam Pembagian Peran Akademik

Pembagian tugas kelompok merupakan salah satu konteks yang dapat memperlihatkan bekerjanya harapan gender.

Ketika anggota kelompok otomatis menunjuk laki-laki untuk presentasi dan perempuan untuk mencatat, pembagian tersebut berisiko mengubah kebiasaan menjadi batasan.

Masalahnya bukan pada seseorang yang memilih tugas tertentu secara sukarela, melainkan pada situasi ketika pilihan ditentukan oleh asumsi mengenai gender, bukan kemampuan, minat, atau kesepakatan anggota.

2. Stereotip dalam Gaya Bicara dan Penilaian

Gaya komunikasi yang sama dapat dinilai berbeda bergantung pada siapa yang menggunakannya.

Ketegasan dapat dibaca sebagai kepemimpinan pada satu orang, tetapi dianggap kasar pada orang lain. Sikap berhati-hati dapat dipuji sebagai kesopanan atau dinilai sebagai kurang percaya diri.

Artikel ini tidak menyimpulkan bahwa pola tersebut selalu terjadi. Poin utamanya adalah penilaian komunikasi dapat dipengaruhi harapan sosial.

Penilaian akademik sebaiknya merujuk pada isi argumen, bukti, cara menyampaikan, dan konteks interaksi, bukan label gender.

3. Komunikasi Digital dan Reproduksi Makna

Grup WhatsApp kelas, media sosial, dan ruang diskusi daring memperluas konteks komunikasi mahasiswa.

Pesan singkat, meme, komentar, dan unggahan dapat menyebarkan stereotip sekaligus menjadi ruang untuk menantangnya.

Penelitian tentang representasi gender dalam percakapan virtual mahasiswa dan dosen menunjukkan relevansi bahasa digital sebagai objek kajian (Angela et al., 2023).

Namun, teks pendek tidak selalu cukup untuk mengetahui niat penulis atau dampaknya pada penerima.

Analisis perlu memperhatikan konteks, hubungan sosial, pola interaksi, serta respons pihak yang terlibat.

4. Maskulinitas, Ekspresi Diri, dan Penerimaan Khalayak

Kajian Nadira et al. (2024) mengenai penerimaan mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya terhadap pesan toxic masculinity melalui foto Instagram Jefri Nichol memperlihatkan posisi pemaknaan yang berbeda terhadap pakaian dan ekspresi yang dianggap feminin.

Kajian ini relevan karena menunjukkan bahwa maskulinitas bukan hanya persoalan ciri pribadi, melainkan juga makna sosial yang diperdebatkan melalui media.

Dalam lingkungan kampus, diskusi semacam ini dapat menjadi kesempatan belajar untuk membedakan kritik terhadap gagasan dari penghinaan terhadap identitas atau ekspresi seseorang.

5. Strategi Membangun Komunikasi yang Setara

Pertama, pembagian tugas kelompok perlu dilakukan secara terbuka.

Peran seperti ketua, presenter, pencatat, pencari referensi, dan penyusun laporan dapat dirotasi atau disesuaikan dengan kesepakatan dan kompetensi, bukan langsung dilekatkan pada gender.

Kedua, dosen dan pengurus organisasi dapat memastikan kesempatan bicara tidak didominasi orang tertentu dengan memberi giliran, meminta tanggapan dari anggota yang belum berbicara, dan menilai gagasan berdasarkan substansinya.

6. Implikasi bagi Lingkungan Kampus

Lingkungan kampus yang setara bukan berarti setiap orang harus berbicara atau berperilaku dengan cara yang sama.

Kesetaraan lebih tepat dimaknai sebagai akses yang adil untuk berpartisipasi, memperoleh kesempatan, menyampaikan keberatan, dan dinilai berdasarkan kontribusi.

Praktik ini membutuhkan konsistensi, antara lain aturan kelompok yang jelas, fasilitasi diskusi yang inklusif, respons terhadap pelecehan, dan refleksi berkala terhadap kebiasaan komunikasi.

Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, kepekaan gender perlu tampak dalam proses pengambilan keputusan, kerja tim, produksi pesan, serta evaluasi dampak komunikasi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan studi pustaka yang ditelaah, komunikasi gender di lingkungan mahasiswa dapat dipahami melalui interaksi antara stereotip sosial, pembagian peran, penilaian terhadap gaya bicara, representasi di ruang digital, dan negosiasi makna.

Literatur yang dikaji menunjukkan bahwa kampus merupakan konteks yang relevan untuk memeriksa bagaimana norma gender dapat dipertahankan atau dipertanyakan melalui komunikasi.

Akan tetapi, artikel ini tidak menyajikan data lapangan sehingga tidak dapat menyatakan tingkat kejadian stereotip gender pada mahasiswa secara umum atau di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya secara khusus.

Upaya membangun komunikasi yang lebih setara dapat dimulai melalui pembagian tugas yang transparan, kesempatan bicara yang seimbang, kritik yang berfokus pada perilaku dan argumen, evaluasi candaan berbasis gender, serta literasi media dan gender.

Penelitian lanjutan disarankan melakukan wawancara atau observasi pada kelompok mahasiswa yang jelas batasannya, misalnya dalam diskusi kelas atau organisasi kampus.

Penelitian tersebut perlu menjelaskan pemilihan informan, prosedur pengumpulan data, etika penelitian, dan cara analisis sehingga kesimpulan dapat ditelusuri berdasarkan bukti empiris.

DAFTAR PUSTAKA

Angela, N., Rafli, Z., & Iskandar, I. (2023). Representasi gender dalam percakapan virtual mahasiswa dan dosen. Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 12(2). https://doi.org/10.31000/lgrm.v12i2.8580

Chusniatun, Inayati, N. L., & Harismah, K. (2022). Identifikasi stereotip gender mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta: Menuju penerapan pendidikan berperspektif gender. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 32(2). https://journals.ums.ac.id/index.php/jpis/article/view/21610

Hanifah, N. R., Atriska, F. E., Damayanti, F. F., Santoso, M. D. S. P., & Listyani, R. H. (2024). Representasi perlawanan stereotip gender di lingkungan Universitas Negeri Surabaya. Jurnal Kajian Gender dan Anak, 7(2). https://doi.org/10.24952/gender.v7i2.6511

Nadira, N. D., Danadharta, I., & Ayodya, B. P. (2024). Analisis resepsi mahasiswa Ilkom Untag terhadap pesan toxic masculinity melalui foto Instagram Jefri Nichol. Sintesa, 3(1), 80–94. https://doi.org/10.30996/sintesa.v3i01.10506

Purnamasari, N. P., & Tutiasri, R. P. (2021). Analisis resepsi remaja perempuan terhadap gaya hidup berbelanja fashion melalui tayangan video 'Belanja Gak Aturan' dalam akun TikTok @handmadeshoesby. Representamen, 7(1). https://doi.org/10.30996/representamen.v7i01.5129

Qibtiyah, A. (2017). Sensitivitas gender dan pola komunikasi mahasiswa/i UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam, 16(2), 153–168. https://doi.org/10.14421/musawa.2017.162.153-168

Zamista, A. A., Azmi, K., & Onia, S. I. (2024). Bridging the gender gap: Investigating disparities in student communication skills in the digital education era. An-Nisa’ Journal of Gender Studies, 17(1), 1–12. https://doi.org/10.35719/annisa.v17i1.219

Can computer supported collaborative learning (CSCL) promote counter-stereotypical gender communication styles in male and female university students? (2014). Procedia - Social and Behavioral Sciences, 116, 4384–4392. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.01.952

Connell, R. W., & Messerschmidt, J. W. (2005). Hegemonic masculinity: Rethinking the concept. Gender & Society, 19(6), 829–859. https://doi.org/10.1177/0891243205278639

Hall, S. (Ed.). (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. Sage Publications.

West, C., & Zimmerman, D. H. (1987). Doing gender. Gender & Society, 1(2), 125–151. https://doi.org/10.1177/0891243287001002002

Wood, J. T. (1994). Gendered lives: Communication, gender, and culture. Wadsworth.

European Institute for Gender Equality. (2024). Gender stereotypes. https://eige.europa.eu/

World Health Organization. (2021). Gender and health. https://www.who.int/health-topics/gender

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (2019). From access to empowerment: UNESCO strategy for gender equality in and through education 2019–2025. UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/komunikasi-gender-di-lingkungan-mahasiswa-stereotip-interaksi-akademik-dan-negosiasi-identitas/98269/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 10.27 WITA

  • #Kesetaraan
  • #Mahasiswa
  • #Pendidikan Tinggi
  • #interaksi akademik
  • #komunikasi gender
  • #stereotip gender
  • #studi pustaka

Artikel Terkait

Sinergi Akademisi dan Pemerintah: Sekolah Vokasi IPB University Gelar Edukasi Gizi di Mulyaharja

HMI Cabang Pamekasan Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim Lewat Program BAKTI CITA

Dosen UMI Bekali 30 Santri Tahfidz Pesantren Mizanul Ulum Literasi Keuangan dan Kewirausahaan Digital

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.