ABSTRAK
Komunikasi gender di lingkungan mahasiswa berlangsung melalui percakapan sehari-hari, pembagian peran dalam kerja kelompok, aktivitas organisasi, serta interaksi di ruang digital. Dalam situasi tersebut, stereotip gender dapat memengaruhi siapa yang dianggap layak memimpin, siapa yang diberi tugas administratif, dan bagaimana gaya bicara seseorang dinilai.
Artikel ini bertujuan membahas bagaimana stereotip gender dapat direproduksi sekaligus dinegosiasikan dalam komunikasi mahasiswa. Penulisan menggunakan studi pustaka deskriptif dengan menelaah artikel ilmiah tentang komunikasi gender, stereotip, representasi, dan interaksi akademik.
Literatur yang ditinjau menunjukkan bahwa perilaku komunikasi tidak tepat dijelaskan hanya melalui perbedaan biologis laki-laki dan perempuan. Norma sosial, konteks interaksi, dan pengalaman individu juga perlu diperhatikan.
Artikel ini tidak menyajikan temuan lapangan baru. Pembahasan menekankan pentingnya pembagian peran yang transparan, kesempatan bicara yang setara, serta evaluasi kritis terhadap candaan dan label berbasis gender di lingkungan kampus.
Kata kunci: Komunikasi gender; mahasiswa; stereotip gender; interaksi akademik; kesetaraan.
ABSTRACT
Gender communication among university students takes place in everyday conversations, group-work role allocation, student organizations, and digital interactions. Gender stereotypes may influence who is considered suitable for leadership, who receives administrative tasks, and how a person's communication style is evaluated.
This article discusses how stereotypes may be reproduced and negotiated in student communication. It uses a descriptive literature review of academic works on gender communication, stereotypes, representation, and academic interaction.
The literature suggests that communication behavior should not be explained solely through biological differences; social norms, interactional context, and individual experience also matter.
This article does not present new fieldwork findings. It highlights transparent role allocation, equal speaking opportunities, and critical evaluation of gender-based jokes and labels on campus.
Keywords: Gender communication; university students; gender stereotypes; academic interaction; equality.
PENDAHULUAN
Perguruan tinggi merupakan ruang belajar sekaligus ruang sosial tempat mahasiswa membangun pengetahuan, jaringan pertemanan, identitas, dan kemampuan berkomunikasi.
Komunikasi tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi perkuliahan, tetapi juga membentuk hubungan, menentukan posisi dalam kelompok, dan menegosiasikan norma yang dianggap wajar. Salah satu aspek yang hadir dalam proses tersebut adalah gender, yakni konstruksi sosial mengenai peran, perilaku, dan harapan yang dilekatkan kepada seseorang berdasarkan kategori gender.
Dalam kegiatan akademik, mahasiswa bekerja dalam kelompok, berdiskusi di kelas, mengikuti organisasi, dan berkomunikasi melalui aplikasi pesan. Situasi tersebut dapat memuat asumsi yang tidak selalu disadari.
Perempuan, misalnya, dapat diasosiasikan dengan tugas mencatat atau mengelola administrasi, sedangkan laki-laki dianggap lebih cocok menjadi juru bicara atau pemimpin. Anggapan ini tidak otomatis berlaku pada semua kelompok mahasiswa, tetapi penting dikaji karena dapat membatasi pilihan peran seseorang apabila terus diulang dan diterima tanpa evaluasi.
Kajian stereotip gender pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta menempatkan stereotip sebagai persoalan yang dapat merugikan individu dan menegaskan perlunya pendidikan berperspektif gender (Chusniatun et al., 2022).
Penelitian mengenai perlawanan terhadap stereotip gender di lingkungan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya juga menggambarkan bahwa pembagian peran dalam organisasi dapat dikaitkan dengan anggapan tertentu tentang perempuan dan kepemimpinan (Hanifah et al., 2024).
Sementara itu, penelitian mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya tentang penerimaan pesan toxic masculinity melalui foto Instagram Jefri Nichol memperlihatkan adanya pemaknaan yang beragam terhadap ekspresi maskulinitas (Nadira et al., 2024).
Persoalan utama artikel ini adalah bagaimana stereotip gender dapat muncul dalam komunikasi mahasiswa dan bagaimana lingkungan akademik dapat membangun interaksi yang lebih setara.
Tujuan artikel ialah menjelaskan bentuk komunikasi yang berpotensi mereproduksi stereotip, membahas peran komunikasi digital dalam pembentukan makna gender, serta merumuskan prinsip komunikasi yang mendukung kesetaraan.
Artikel ini merupakan studi pustaka, bukan laporan penelitian lapangan. Karena itu, pembahasan tidak mengklaim bahwa pola tertentu terjadi pada seluruh mahasiswa atau mahasiswa Untag Surabaya secara khusus.
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi gender dapat dipahami sebagai proses pertukaran pesan dalam konteks norma dan pemaknaan sosial tentang gender.
Cara seseorang berbicara, memilih kata, mengambil giliran bicara, menanggapi pendapat, atau menampilkan diri dapat ditafsirkan melalui harapan sosial.
Namun, kategori gender tidak seharusnya dipakai untuk menganggap semua laki-laki atau semua perempuan berkomunikasi dengan cara yang sama. Perbedaan individu, pengalaman, situasi, relasi kuasa, dan budaya kelompok juga memengaruhi komunikasi.
Stereotip gender adalah generalisasi mengenai karakteristik atau peran yang dianggap sesuai bagi kelompok gender tertentu. Ketika generalisasi digunakan untuk menentukan kemampuan seseorang sebelum mendengar pendapat atau menilai kinerjanya, stereotip dapat menjadi hambatan.
Di kampus, stereotip mungkin muncul melalui komentar tentang siapa yang dianggap tegas, emosional, cocok memimpin, atau seharusnya mengurus pekerjaan administratif.
Label yang tampak sebagai candaan tetap perlu dilihat dari konteks, frekuensi, hubungan antarpihak, serta dampaknya terhadap partisipasi.
Kajian representasi gender dalam percakapan virtual mahasiswa dan dosen menelaah penggunaan bahasa dalam komunikasi WhatsApp dan mengaitkannya dengan cara gender direpresentasikan dalam teks (Angela et al., 2023).
Temuan dalam satu konteks penelitian tidak dapat digeneralisasi menjadi sifat tetap semua mahasiswa laki-laki dan perempuan. Namun, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa percakapan digital dapat menjadi bahan untuk mengamati bagaimana pilihan bahasa dibaca dan diberi makna gender.
Dalam kajian komunikasi, makna pesan tidak sepenuhnya ditentukan oleh pengirim. Pendekatan resepsi Stuart Hall, sebagaimana digunakan dalam penelitian Nadira et al. (2024), memberi perhatian pada kemungkinan khalayak menerima, menegosiasikan, atau menolak makna yang ditawarkan.
Kerangka ini berguna untuk memahami bahwa mahasiswa dapat memaknai ekspresi gender secara berbeda, tergantung pengalaman, nilai, dan lingkungan sosialnya.
Perbedaan pemaknaan tidak selalu berarti komunikasi gagal. Yang penting adalah tersedianya ruang dialog dan tidak digunakannya perbedaan pendapat untuk merendahkan pihak lain.
Penelitian tentang pembelajaran kolaboratif berbantuan komputer membahas apakah lingkungan belajar tertentu dapat mendorong gaya komunikasi yang tidak terikat stereotip tradisional pada mahasiswa (Can Computer Supported Collaborative Learning..., 2014).
Zamista et al. (2024) meneliti keterampilan komunikasi mahasiswa dan melaporkan perbedaan skor yang sangat kecil antara kelompok perempuan dan laki-laki dalam sampel penelitiannya.
Kedua studi mengingatkan bahwa perbedaan komunikasi perlu diperiksa secara empiris dan kontekstual, bukan diasumsikan sejak awal.
METODE PENELITIAN
Artikel ini menggunakan metode studi pustaka deskriptif. Sumber yang ditelaah berupa artikel jurnal ilmiah yang membahas komunikasi gender, stereotip gender di lingkungan pendidikan, percakapan digital, representasi, dan penerimaan pesan.
Penelusuran dilakukan melalui laman jurnal dan hasil pencarian akademik, dengan prioritas pada artikel yang identitas bibliografisnya dapat diperiksa serta relevan dengan fokus mahasiswa dan komunikasi.
Analisis dilakukan melalui tiga langkah.
Pertama, mengidentifikasi tema yang berulang, yaitu stereotip gender, pembagian peran, gaya komunikasi, representasi digital, dan negosiasi makna.
Kedua, membandingkan fokus serta konteks tiap penelitian agar hasil satu studi tidak diperlakukan sebagai gambaran universal.
Ketiga, menyusun sintesis konseptual untuk menjawab tujuan artikel dan merumuskan implikasi praktis bagi komunikasi di lingkungan kampus.
Karena tidak ada wawancara, observasi lapangan, atau survei yang dilakukan penulis, artikel ini tidak menghasilkan data primer dan tidak menyatakan adanya temuan empiris baru.
Keterbatasan metode ini adalah cakupan sumber bergantung pada publikasi yang dapat diakses dan diverifikasi.
Oleh sebab itu, artikel ini lebih tepat diposisikan sebagai draf kajian pustaka awal. Sebelum digunakan sebagai naskah final, daftar referensi perlu diperiksa kembali berdasarkan metadata resmi setiap artikel dan disesuaikan dengan templat jurnal yang dipilih.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Stereotip dalam Pembagian Peran Akademik
Pembagian tugas kelompok merupakan salah satu konteks yang dapat memperlihatkan bekerjanya harapan gender.
Ketika anggota kelompok otomatis menunjuk laki-laki untuk presentasi dan perempuan untuk mencatat, pembagian tersebut berisiko mengubah kebiasaan menjadi batasan.
Masalahnya bukan pada seseorang yang memilih tugas tertentu secara sukarela, melainkan pada situasi ketika pilihan ditentukan oleh asumsi mengenai gender, bukan kemampuan, minat, atau kesepakatan anggota.
2. Stereotip dalam Gaya Bicara dan Penilaian
Gaya komunikasi yang sama dapat dinilai berbeda bergantung pada siapa yang menggunakannya.
Ketegasan dapat dibaca sebagai kepemimpinan pada satu orang, tetapi dianggap kasar pada orang lain. Sikap berhati-hati dapat dipuji sebagai kesopanan atau dinilai sebagai kurang percaya diri.
Artikel ini tidak menyimpulkan bahwa pola tersebut selalu terjadi. Poin utamanya adalah penilaian komunikasi dapat dipengaruhi harapan sosial.
Penilaian akademik sebaiknya merujuk pada isi argumen, bukti, cara menyampaikan, dan konteks interaksi, bukan label gender.
3. Komunikasi Digital dan Reproduksi Makna
Grup WhatsApp kelas, media sosial, dan ruang diskusi daring memperluas konteks komunikasi mahasiswa.
Pesan singkat, meme, komentar, dan unggahan dapat menyebarkan stereotip sekaligus menjadi ruang untuk menantangnya.
Penelitian tentang representasi gender dalam percakapan virtual mahasiswa dan dosen menunjukkan relevansi bahasa digital sebagai objek kajian (Angela et al., 2023).
Namun, teks pendek tidak selalu cukup untuk mengetahui niat penulis atau dampaknya pada penerima.
Analisis perlu memperhatikan konteks, hubungan sosial, pola interaksi, serta respons pihak yang terlibat.
4. Maskulinitas, Ekspresi Diri, dan Penerimaan Khalayak
Kajian Nadira et al. (2024) mengenai penerimaan mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya terhadap pesan toxic masculinity melalui foto Instagram Jefri Nichol memperlihatkan posisi pemaknaan yang berbeda terhadap pakaian dan ekspresi yang dianggap feminin.
Kajian ini relevan karena menunjukkan bahwa maskulinitas bukan hanya persoalan ciri pribadi, melainkan juga makna sosial yang diperdebatkan melalui media.
Dalam lingkungan kampus, diskusi semacam ini dapat menjadi kesempatan belajar untuk membedakan kritik terhadap gagasan dari penghinaan terhadap identitas atau ekspresi seseorang.
5. Strategi Membangun Komunikasi yang Setara
Pertama, pembagian tugas kelompok perlu dilakukan secara terbuka.
Peran seperti ketua, presenter, pencatat, pencari referensi, dan penyusun laporan dapat dirotasi atau disesuaikan dengan kesepakatan dan kompetensi, bukan langsung dilekatkan pada gender.
Kedua, dosen dan pengurus organisasi dapat memastikan kesempatan bicara tidak didominasi orang tertentu dengan memberi giliran, meminta tanggapan dari anggota yang belum berbicara, dan menilai gagasan berdasarkan substansinya.
6. Implikasi bagi Lingkungan Kampus
Lingkungan kampus yang setara bukan berarti setiap orang harus berbicara atau berperilaku dengan cara yang sama.
Kesetaraan lebih tepat dimaknai sebagai akses yang adil untuk berpartisipasi, memperoleh kesempatan, menyampaikan keberatan, dan dinilai berdasarkan kontribusi.
Praktik ini membutuhkan konsistensi, antara lain aturan kelompok yang jelas, fasilitasi diskusi yang inklusif, respons terhadap pelecehan, dan refleksi berkala terhadap kebiasaan komunikasi.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, kepekaan gender perlu tampak dalam proses pengambilan keputusan, kerja tim, produksi pesan, serta evaluasi dampak komunikasi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan studi pustaka yang ditelaah, komunikasi gender di lingkungan mahasiswa dapat dipahami melalui interaksi antara stereotip sosial, pembagian peran, penilaian terhadap gaya bicara, representasi di ruang digital, dan negosiasi makna.
Literatur yang dikaji menunjukkan bahwa kampus merupakan konteks yang relevan untuk memeriksa bagaimana norma gender dapat dipertahankan atau dipertanyakan melalui komunikasi.
Akan tetapi, artikel ini tidak menyajikan data lapangan sehingga tidak dapat menyatakan tingkat kejadian stereotip gender pada mahasiswa secara umum atau di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya secara khusus.
Upaya membangun komunikasi yang lebih setara dapat dimulai melalui pembagian tugas yang transparan, kesempatan bicara yang seimbang, kritik yang berfokus pada perilaku dan argumen, evaluasi candaan berbasis gender, serta literasi media dan gender.
Penelitian lanjutan disarankan melakukan wawancara atau observasi pada kelompok mahasiswa yang jelas batasannya, misalnya dalam diskusi kelas atau organisasi kampus.
Penelitian tersebut perlu menjelaskan pemilihan informan, prosedur pengumpulan data, etika penelitian, dan cara analisis sehingga kesimpulan dapat ditelusuri berdasarkan bukti empiris.
DAFTAR PUSTAKA
Angela, N., Rafli, Z., & Iskandar, I. (2023). Representasi gender dalam percakapan virtual mahasiswa dan dosen. Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 12(2). https://doi.org/10.31000/lgrm.v12i2.8580
Chusniatun, Inayati, N. L., & Harismah, K. (2022). Identifikasi stereotip gender mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta: Menuju penerapan pendidikan berperspektif gender. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 32(2). https://journals.ums.ac.id/index.php/jpis/article/view/21610
Hanifah, N. R., Atriska, F. E., Damayanti, F. F., Santoso, M. D. S. P., & Listyani, R. H. (2024). Representasi perlawanan stereotip gender di lingkungan Universitas Negeri Surabaya. Jurnal Kajian Gender dan Anak, 7(2). https://doi.org/10.24952/gender.v7i2.6511
Nadira, N. D., Danadharta, I., & Ayodya, B. P. (2024). Analisis resepsi mahasiswa Ilkom Untag terhadap pesan toxic masculinity melalui foto Instagram Jefri Nichol. Sintesa, 3(1), 80–94. https://doi.org/10.30996/sintesa.v3i01.10506
Purnamasari, N. P., & Tutiasri, R. P. (2021). Analisis resepsi remaja perempuan terhadap gaya hidup berbelanja fashion melalui tayangan video 'Belanja Gak Aturan' dalam akun TikTok @handmadeshoesby. Representamen, 7(1). https://doi.org/10.30996/representamen.v7i01.5129
Qibtiyah, A. (2017). Sensitivitas gender dan pola komunikasi mahasiswa/i UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam, 16(2), 153–168. https://doi.org/10.14421/musawa.2017.162.153-168
Zamista, A. A., Azmi, K., & Onia, S. I. (2024). Bridging the gender gap: Investigating disparities in student communication skills in the digital education era. An-Nisa’ Journal of Gender Studies, 17(1), 1–12. https://doi.org/10.35719/annisa.v17i1.219
Can computer supported collaborative learning (CSCL) promote counter-stereotypical gender communication styles in male and female university students? (2014). Procedia - Social and Behavioral Sciences, 116, 4384–4392. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.01.952
Connell, R. W., & Messerschmidt, J. W. (2005). Hegemonic masculinity: Rethinking the concept. Gender & Society, 19(6), 829–859. https://doi.org/10.1177/0891243205278639
Hall, S. (Ed.). (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. Sage Publications.
West, C., & Zimmerman, D. H. (1987). Doing gender. Gender & Society, 1(2), 125–151. https://doi.org/10.1177/0891243287001002002
Wood, J. T. (1994). Gendered lives: Communication, gender, and culture. Wadsworth.
European Institute for Gender Equality. (2024). Gender stereotypes. https://eige.europa.eu/
World Health Organization. (2021). Gender and health. https://www.who.int/health-topics/gender
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. (2019). From access to empowerment: UNESCO strategy for gender equality in and through education 2019–2025. UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda