Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Normalisasi Pelecehan Seksual: Psikologi di Balik Misogini dan Budaya Seksisme

Normalisasi Pelecehan Seksual: Psikologi di Balik Misogini dan Budaya Seksisme

M
Penulis: Michele Iskandar
15 September 2026, 13.56 WITA Editor: Alvin Pradana
7 menit baca
Normalisasi Pelecehan Seksual
Metta Calista
Damar Hariska Tri Atmojo

JurnalPost.com — Candaan seksual, komentar mengenai bentuk tubuh perempuan, objektifikasi mahasiswi, hingga ucapan vulgar terhadap dosen perempuan sering kali dianggap sebagai percakapan biasa di lingkungan pertemanan. Namun, ketika perempuan dijadikan objek pembicaraan seksual tanpa persetujuan, persoalannya tidak lagi sekadar soal humor.

Sejumlah percakapan yang beredar di ruang digital memperlihatkan pola serupa. Tubuh perempuan dibicarakan, fantasi seksual dikemukakan secara terbuka, dan istilah yang merendahkan digunakan seolah menjadi bagian normal dari interaksi sehari-hari.

IKLAN

Fenomena semacam ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih luas: mengapa pelecehan seksual verbal dan perilaku misoginis dapat dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat?

Jawabannya tidak sederhana. Pelecehan seksual tidak selalu berbentuk kekerasan fisik yang ekstrem. Perilaku seksual yang tidak diinginkan dapat muncul dalam bentuk ucapan, pesan, gestur, tekanan, maupun tindakan lain yang membuat seseorang merasa terhina, terancam, atau tidak nyaman.

Candaan seksual, catcalling, komentar mengenai tubuh seseorang hingga pesan bernuansa seksual yang tidak diinginkan dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut.

Pelecehan Seksual Tidak Selalu Berbentuk Fisik

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat terkadang mengasosiasikan pelecehan seksual hanya dengan pemerkosaan atau kontak fisik secara paksa.

Padahal, pelecehan dapat muncul dalam beragam bentuk.

Pelecehan verbal, misalnya, dapat berupa catcalling, komentar seksual, lelucon vulgar, atau pembicaraan mengenai tubuh seseorang tanpa persetujuan.

Sementara itu, pelecehan nonverbal dapat berbentuk pesan seksual yang tidak diinginkan, gestur tertentu, pengiriman materi eksplisit, hingga perilaku menguntit.

Dalam lingkungan pendidikan maupun pekerjaan, penyalahgunaan relasi kuasa juga dapat menjadi persoalan ketika seseorang menggunakan jabatan atau kewenangannya untuk memperoleh keuntungan seksual.

Permasalahan semakin kompleks ketika perilaku tersebut dianggap sebagai candaan biasa.

Ucapan seperti “hanya bercanda” terkadang digunakan untuk mengabaikan dampak yang dirasakan oleh korban. Padahal, sebuah candaan tidak otomatis menjadi dapat diterima apabila pihak yang menjadi sasaran merasa terhina atau tidak nyaman.

Misogini dan Budaya yang Merendahkan Perempuan

Istilah misogini berasal dari istilah Yunani yang secara umum merujuk pada kebencian, penghinaan, atau prasangka terhadap perempuan.

Dalam praktiknya, misogini tidak selalu muncul sebagai pernyataan terang-terangan bahwa seseorang membenci perempuan.

Misogini dapat hadir melalui kebiasaan merendahkan kemampuan perempuan, menganggap tubuh perempuan sebagai objek seksual, membatasi kebebasan perempuan, hingga menganggap pelecehan sebagai sesuatu yang wajar.

Salah satu contoh yang kerap diperdebatkan adalah catcalling.

Sebagian pelaku mungkin menganggapnya sebagai pujian atau bentuk menggoda. Namun, bagi orang yang menjadi sasaran, perilaku tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, takut, malu, bahkan terancam.

Persoalannya bukan hanya mengenai niat pelaku, tetapi juga bagaimana tindakan tersebut diterima oleh orang lain.

Normalisasi perilaku seperti ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan sosial.

Konformitas: Ketika Seseorang Mengikuti Kelompok

Salah satu konsep penting dalam psikologi sosial adalah konformitas.

Konformitas terjadi ketika seseorang menyesuaikan sikap atau perilakunya dengan norma dan ekspektasi kelompok tempat ia berada.

Fenomena tersebut dapat terjadi dalam kelompok pertemanan.

Bayangkan sebuah kelompok yang terbiasa membuat komentar seksual mengenai perempuan. Seorang anggota baru mungkin pada awalnya merasa tidak nyaman.

Namun, ketika seluruh anggota kelompok tertawa dan menganggapnya biasa, ia dapat merasa terdorong untuk mengikuti perilaku tersebut agar diterima.

Tekanan sosial semacam ini dapat membuat seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai dengan pandangan pribadinya.

Ketika candaan seksis terus mendapatkan respons positif dari kelompok, batas antara perilaku yang pantas dan tidak pantas pun semakin kabur.

Pada akhirnya, seksisme dapat berkembang menjadi norma sosial di lingkungan tersebut.

Pengaruh Lingkungan dan Pola Asuh

Lingkungan keluarga juga memiliki peran besar dalam pembentukan cara seseorang memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Anak mempelajari banyak nilai sosial melalui orang tua, keluarga, sekolah, lingkungan tempat tinggal, maupun media yang dikonsumsinya.

Jika sejak kecil seseorang terus mendengar bahwa laki-laki harus mendominasi sementara perempuan harus selalu tunduk, pemikiran tersebut dapat terbawa hingga dewasa.

Pandangan seperti perempuan tidak perlu memiliki karier, tidak boleh berbeda pendapat dengan laki-laki, atau tugas perempuan hanya melayani pasangan merupakan contoh konstruksi gender yang dapat memperkuat ketimpangan.

Masalahnya muncul ketika nilai tersebut diwariskan tanpa pernah dipertanyakan.

Generasi berikutnya kemudian menganggapnya sebagai sesuatu yang alamiah, padahal sebenarnya merupakan nilai sosial yang dipelajari.

Karena itu, misogini dapat bertahan bukan semata-mata karena keputusan satu individu, tetapi juga karena lingkungan sosial terus mereproduksi pola pemikiran serupa.

Bystander Effect: Melihat, tetapi Memilih Diam

Faktor lainnya adalah bystander effect atau efek pengamat.

Dalam psikologi sosial, istilah ini menggambarkan situasi ketika seseorang justru lebih kecil kemungkinannya untuk bertindak ketika banyak orang lain berada di sekitarnya.

IKLAN

Seseorang mungkin menyaksikan temannya melontarkan komentar seksual terhadap perempuan tetapi memilih diam.

Ia dapat berpikir bahwa orang lain akan menegur pelaku.

Masalahnya, ketika semua orang memiliki pikiran yang sama, akhirnya tidak ada seorang pun yang melakukan sesuatu.

Fenomena serupa dapat terjadi di media sosial.

Komentar misoginis dapat dibaca ribuan orang tanpa mendapat perlawanan berarti. Ketika ujaran semacam itu terus dibiarkan, pelaku dapat memperoleh kesan bahwa perilakunya diterima oleh lingkungan.

Diam memang tidak selalu berarti setuju.

Namun, lingkungan yang terus membiarkan perilaku merendahkan perempuan dapat menciptakan ruang bagi perilaku tersebut untuk berkembang.

Normalisasi Dimulai dari Hal yang Dianggap Kecil

Misogini tidak selalu bermula dari tindakan kekerasan besar.

Ia dapat dimulai dari kebiasaan yang dianggap sederhana: komentar mengenai tubuh perempuan, lelucon seksis, meremehkan pendapat perempuan, hingga membicarakan seseorang sebagai objek seksual.

Ketika perilaku tersebut terus dilakukan dan tidak pernah dipersoalkan, masyarakat dapat kehilangan sensitivitas terhadap pelecehan.

Inilah yang membuat pembahasan tentang normalisasi menjadi penting.

Sesuatu yang sering dilakukan belum tentu berarti benar.

Sesuatu yang dianggap biasa oleh sebuah kelompok juga belum tentu dapat diterima oleh orang yang menjadi sasaran.

Edukasi Laki-laki Sejak Dini

Upaya mengurangi misogini tidak cukup hanya dilakukan ketika sebuah kasus menjadi viral.

Pendidikan mengenai kesetaraan gender, batas pribadi, persetujuan atau consent, serta penghormatan terhadap orang lain perlu diberikan sejak usia dini.

Anak laki-laki perlu memahami bahwa maskulinitas tidak harus dibuktikan melalui dominasi terhadap perempuan.

Mereka juga perlu diajarkan bahwa menolak candaan seksis bukan berarti lemah.

Sebaliknya, berani menghentikan teman yang merendahkan perempuan merupakan bentuk tanggung jawab sosial.

Pendidikan tersebut tentunya bukan hanya tanggung jawab laki-laki. Orang tua, sekolah, komunitas, media, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membentuk lingkungan yang lebih sehat.

Membangun Kesadaran Bersama

Pencegahan pelecehan seksual tidak dapat dilakukan oleh korban seorang diri.

Masyarakat perlu menciptakan lingkungan di mana seseorang merasa aman untuk menyampaikan ketidaknyamanan tanpa takut diejek atau justru disalahkan.

Ketika melihat teman membuat komentar seksual yang tidak pantas, seseorang dapat memilih tidak ikut tertawa.

Ketika menemukan konten misoginis di media sosial, pengguna dapat menolak, melaporkan, atau memberikan edukasi sesuai situasi.

Tindakan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi norma sosial terbentuk dari perilaku yang terus diulang.

Jika pelecehan dapat dinormalisasi melalui kebiasaan, penolakan terhadap pelecehan juga dapat dinormalisasi dengan cara yang sama.

Refleksi terhadap Perilaku Sendiri

Langkah penting lainnya adalah melakukan refleksi.

Seseorang yang tumbuh di lingkungan patriarkal mungkin tanpa sadar pernah mengucapkan atau melakukan sesuatu yang mengandung unsur seksisme.

Kesadaran bukan berarti seseorang harus terus-menerus menyalahkan dirinya.

Yang lebih penting adalah kemampuan mengenali perilaku bermasalah, menerima kritik, kemudian memperbaikinya.

Pertanyaan sederhana dapat menjadi awal refleksi: apakah komentar tersebut tetap akan diucapkan jika orang yang dibicarakan berada di depan kita? Apakah sebuah candaan tetap terasa lucu apabila kita atau anggota keluarga kita menjadi sasarannya?

Refleksi semacam itu dapat membantu seseorang memahami batas antara humor dan penghinaan.

Memutus Normalisasi Misogini

Normalisasi pelecehan seksual dan misogini merupakan persoalan yang berkaitan dengan banyak faktor, mulai dari tekanan kelompok, pendidikan keluarga, norma gender, hingga sikap masyarakat ketika melihat perilaku tersebut terjadi.

Karena itu, penyelesaiannya juga tidak dapat mengandalkan satu pihak.

Pendidikan mengenai persetujuan, kesetaraan gender, dan penghormatan terhadap perempuan harus berjalan beriringan dengan keberanian masyarakat untuk tidak membiarkan pelecehan menjadi budaya.

Candaan seksual mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun bagi orang yang menjadi sasaran, dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama.

Mengubah budaya tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar.

Perubahan dapat dimulai dengan berhenti tertawa ketika perempuan direndahkan, berani menegur teman ketika candaan sudah melewati batas, dan membiasakan diri melihat perempuan sebagai manusia yang memiliki martabat dan hak yang sama, bukan sebagai objek.


Sumber artikel: https://jurnalpost.com/normalisasi-pelecehan-seksual-psikologi-di-balik-misogini-dan-budaya-seksisme/97684/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 14.39 WITA

  • #Kesetaraan
  • #Patriarki
  • #bystander effect
  • #catcalling
  • #kesetaraan gender
  • #misogini
  • #normalisasi pelecehan seksual
  • #pelecehan verbal
  • #psikologi sosial
  • #seksisme

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kamitetep, Si Kecil yang Nyaris Tak Terlihat: Ini Bahayanya

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Poltekkes Kemenkes Jakarta II Latih Kader Kesehatan Pancoran Jadi Agen Edukasi Gigi Tiruan

Agen BRILink di Bojonegoro Permudah Transaksi Warga Lansia yang Belum Terbiasa Mobile Banking

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Menatap Masa Depan Digital: Ketika Teknologi AI Hadir di Waduk Jatiluhur

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.