JurnalPost.com — Candaan seksual, komentar mengenai bentuk tubuh perempuan, objektifikasi mahasiswi, hingga ucapan vulgar terhadap dosen perempuan sering kali dianggap sebagai percakapan biasa di lingkungan pertemanan. Namun, ketika perempuan dijadikan objek pembicaraan seksual tanpa persetujuan, persoalannya tidak lagi sekadar soal humor.
Sejumlah percakapan yang beredar di ruang digital memperlihatkan pola serupa. Tubuh perempuan dibicarakan, fantasi seksual dikemukakan secara terbuka, dan istilah yang merendahkan digunakan seolah menjadi bagian normal dari interaksi sehari-hari.
Fenomena semacam ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih luas: mengapa pelecehan seksual verbal dan perilaku misoginis dapat dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat?
Jawabannya tidak sederhana. Pelecehan seksual tidak selalu berbentuk kekerasan fisik yang ekstrem. Perilaku seksual yang tidak diinginkan dapat muncul dalam bentuk ucapan, pesan, gestur, tekanan, maupun tindakan lain yang membuat seseorang merasa terhina, terancam, atau tidak nyaman.
Candaan seksual, catcalling, komentar mengenai tubuh seseorang hingga pesan bernuansa seksual yang tidak diinginkan dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut.
Pelecehan Seksual Tidak Selalu Berbentuk Fisik
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat terkadang mengasosiasikan pelecehan seksual hanya dengan pemerkosaan atau kontak fisik secara paksa.
Padahal, pelecehan dapat muncul dalam beragam bentuk.
Pelecehan verbal, misalnya, dapat berupa catcalling, komentar seksual, lelucon vulgar, atau pembicaraan mengenai tubuh seseorang tanpa persetujuan.
Sementara itu, pelecehan nonverbal dapat berbentuk pesan seksual yang tidak diinginkan, gestur tertentu, pengiriman materi eksplisit, hingga perilaku menguntit.
Dalam lingkungan pendidikan maupun pekerjaan, penyalahgunaan relasi kuasa juga dapat menjadi persoalan ketika seseorang menggunakan jabatan atau kewenangannya untuk memperoleh keuntungan seksual.
Permasalahan semakin kompleks ketika perilaku tersebut dianggap sebagai candaan biasa.
Ucapan seperti “hanya bercanda” terkadang digunakan untuk mengabaikan dampak yang dirasakan oleh korban. Padahal, sebuah candaan tidak otomatis menjadi dapat diterima apabila pihak yang menjadi sasaran merasa terhina atau tidak nyaman.
Misogini dan Budaya yang Merendahkan Perempuan
Istilah misogini berasal dari istilah Yunani yang secara umum merujuk pada kebencian, penghinaan, atau prasangka terhadap perempuan.
Dalam praktiknya, misogini tidak selalu muncul sebagai pernyataan terang-terangan bahwa seseorang membenci perempuan.
Misogini dapat hadir melalui kebiasaan merendahkan kemampuan perempuan, menganggap tubuh perempuan sebagai objek seksual, membatasi kebebasan perempuan, hingga menganggap pelecehan sebagai sesuatu yang wajar.
Salah satu contoh yang kerap diperdebatkan adalah catcalling.
Sebagian pelaku mungkin menganggapnya sebagai pujian atau bentuk menggoda. Namun, bagi orang yang menjadi sasaran, perilaku tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, takut, malu, bahkan terancam.
Persoalannya bukan hanya mengenai niat pelaku, tetapi juga bagaimana tindakan tersebut diterima oleh orang lain.
Normalisasi perilaku seperti ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan sosial.
Konformitas: Ketika Seseorang Mengikuti Kelompok
Salah satu konsep penting dalam psikologi sosial adalah konformitas.
Konformitas terjadi ketika seseorang menyesuaikan sikap atau perilakunya dengan norma dan ekspektasi kelompok tempat ia berada.
Fenomena tersebut dapat terjadi dalam kelompok pertemanan.
Bayangkan sebuah kelompok yang terbiasa membuat komentar seksual mengenai perempuan. Seorang anggota baru mungkin pada awalnya merasa tidak nyaman.
Namun, ketika seluruh anggota kelompok tertawa dan menganggapnya biasa, ia dapat merasa terdorong untuk mengikuti perilaku tersebut agar diterima.
Tekanan sosial semacam ini dapat membuat seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai dengan pandangan pribadinya.
Ketika candaan seksis terus mendapatkan respons positif dari kelompok, batas antara perilaku yang pantas dan tidak pantas pun semakin kabur.
Pada akhirnya, seksisme dapat berkembang menjadi norma sosial di lingkungan tersebut.
Pengaruh Lingkungan dan Pola Asuh
Lingkungan keluarga juga memiliki peran besar dalam pembentukan cara seseorang memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Anak mempelajari banyak nilai sosial melalui orang tua, keluarga, sekolah, lingkungan tempat tinggal, maupun media yang dikonsumsinya.
Jika sejak kecil seseorang terus mendengar bahwa laki-laki harus mendominasi sementara perempuan harus selalu tunduk, pemikiran tersebut dapat terbawa hingga dewasa.
Pandangan seperti perempuan tidak perlu memiliki karier, tidak boleh berbeda pendapat dengan laki-laki, atau tugas perempuan hanya melayani pasangan merupakan contoh konstruksi gender yang dapat memperkuat ketimpangan.
Masalahnya muncul ketika nilai tersebut diwariskan tanpa pernah dipertanyakan.
Generasi berikutnya kemudian menganggapnya sebagai sesuatu yang alamiah, padahal sebenarnya merupakan nilai sosial yang dipelajari.
Karena itu, misogini dapat bertahan bukan semata-mata karena keputusan satu individu, tetapi juga karena lingkungan sosial terus mereproduksi pola pemikiran serupa.
Bystander Effect: Melihat, tetapi Memilih Diam
Faktor lainnya adalah bystander effect atau efek pengamat.
Dalam psikologi sosial, istilah ini menggambarkan situasi ketika seseorang justru lebih kecil kemungkinannya untuk bertindak ketika banyak orang lain berada di sekitarnya.
Seseorang mungkin menyaksikan temannya melontarkan komentar seksual terhadap perempuan tetapi memilih diam.
Ia dapat berpikir bahwa orang lain akan menegur pelaku.
Masalahnya, ketika semua orang memiliki pikiran yang sama, akhirnya tidak ada seorang pun yang melakukan sesuatu.
Fenomena serupa dapat terjadi di media sosial.
Komentar misoginis dapat dibaca ribuan orang tanpa mendapat perlawanan berarti. Ketika ujaran semacam itu terus dibiarkan, pelaku dapat memperoleh kesan bahwa perilakunya diterima oleh lingkungan.
Diam memang tidak selalu berarti setuju.
Namun, lingkungan yang terus membiarkan perilaku merendahkan perempuan dapat menciptakan ruang bagi perilaku tersebut untuk berkembang.
Normalisasi Dimulai dari Hal yang Dianggap Kecil
Misogini tidak selalu bermula dari tindakan kekerasan besar.
Ia dapat dimulai dari kebiasaan yang dianggap sederhana: komentar mengenai tubuh perempuan, lelucon seksis, meremehkan pendapat perempuan, hingga membicarakan seseorang sebagai objek seksual.
Ketika perilaku tersebut terus dilakukan dan tidak pernah dipersoalkan, masyarakat dapat kehilangan sensitivitas terhadap pelecehan.
Inilah yang membuat pembahasan tentang normalisasi menjadi penting.
Sesuatu yang sering dilakukan belum tentu berarti benar.
Sesuatu yang dianggap biasa oleh sebuah kelompok juga belum tentu dapat diterima oleh orang yang menjadi sasaran.
Edukasi Laki-laki Sejak Dini
Upaya mengurangi misogini tidak cukup hanya dilakukan ketika sebuah kasus menjadi viral.
Pendidikan mengenai kesetaraan gender, batas pribadi, persetujuan atau consent, serta penghormatan terhadap orang lain perlu diberikan sejak usia dini.
Anak laki-laki perlu memahami bahwa maskulinitas tidak harus dibuktikan melalui dominasi terhadap perempuan.
Mereka juga perlu diajarkan bahwa menolak candaan seksis bukan berarti lemah.
Sebaliknya, berani menghentikan teman yang merendahkan perempuan merupakan bentuk tanggung jawab sosial.
Pendidikan tersebut tentunya bukan hanya tanggung jawab laki-laki. Orang tua, sekolah, komunitas, media, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membentuk lingkungan yang lebih sehat.
Membangun Kesadaran Bersama
Pencegahan pelecehan seksual tidak dapat dilakukan oleh korban seorang diri.
Masyarakat perlu menciptakan lingkungan di mana seseorang merasa aman untuk menyampaikan ketidaknyamanan tanpa takut diejek atau justru disalahkan.
Ketika melihat teman membuat komentar seksual yang tidak pantas, seseorang dapat memilih tidak ikut tertawa.
Ketika menemukan konten misoginis di media sosial, pengguna dapat menolak, melaporkan, atau memberikan edukasi sesuai situasi.
Tindakan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi norma sosial terbentuk dari perilaku yang terus diulang.
Jika pelecehan dapat dinormalisasi melalui kebiasaan, penolakan terhadap pelecehan juga dapat dinormalisasi dengan cara yang sama.
Refleksi terhadap Perilaku Sendiri
Langkah penting lainnya adalah melakukan refleksi.
Seseorang yang tumbuh di lingkungan patriarkal mungkin tanpa sadar pernah mengucapkan atau melakukan sesuatu yang mengandung unsur seksisme.
Kesadaran bukan berarti seseorang harus terus-menerus menyalahkan dirinya.
Yang lebih penting adalah kemampuan mengenali perilaku bermasalah, menerima kritik, kemudian memperbaikinya.
Pertanyaan sederhana dapat menjadi awal refleksi: apakah komentar tersebut tetap akan diucapkan jika orang yang dibicarakan berada di depan kita? Apakah sebuah candaan tetap terasa lucu apabila kita atau anggota keluarga kita menjadi sasarannya?
Refleksi semacam itu dapat membantu seseorang memahami batas antara humor dan penghinaan.
Memutus Normalisasi Misogini
Normalisasi pelecehan seksual dan misogini merupakan persoalan yang berkaitan dengan banyak faktor, mulai dari tekanan kelompok, pendidikan keluarga, norma gender, hingga sikap masyarakat ketika melihat perilaku tersebut terjadi.
Karena itu, penyelesaiannya juga tidak dapat mengandalkan satu pihak.
Pendidikan mengenai persetujuan, kesetaraan gender, dan penghormatan terhadap perempuan harus berjalan beriringan dengan keberanian masyarakat untuk tidak membiarkan pelecehan menjadi budaya.
Candaan seksual mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun bagi orang yang menjadi sasaran, dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama.
Mengubah budaya tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar.
Perubahan dapat dimulai dengan berhenti tertawa ketika perempuan direndahkan, berani menegur teman ketika candaan sudah melewati batas, dan membiasakan diri melihat perempuan sebagai manusia yang memiliki martabat dan hak yang sama, bukan sebagai objek.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda