JurnalPost.com - Membaca adalah jendela dunia karena memungkinkan manusia untuk belajar tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui. Akibatnya, membaca menjadi penting dan berpengaruh bagi masa depan dunia. Namun, kondisi perkembangan minat dan kemampuan membaca masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Terutama di kalangan masyarakat dan kalangan remaja. Banyak remaja Indonesia yang masih belum sadar akan pentingnya membaca. Lebih jauh lagi, remaja merupakan generasi penerus yang diharapkan dapat menjunjung tinggi martabat negara. Agar dapat bersaing dengan daerah bahkan negara lain, yang harus mampu berpikir kritis dan luas. Kita harus menyadari beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca remaja di Indonesia. Begitu pula dengan tidak adanya kebiasaan membaca yang ditanamkan pada anak sejak dini. Kemudian distribusi fasilitas pendidikan yang tidak merata, serta kurangnya fasilitas pendidikan yang berkualitas. Tidak dapat dipungkiri masih banyak anak yang putus sekolah, dan fasilitas pendidikan yang tidak mendukung kegiatan belajar mengajar.
Hal ini secara tidak langsung berdampak pada perkembangan literasi berkualitas di Indonesia. Terakhir, masih minimnya produksi buku di Indonesia akibat masih banyaknya penerbit di daerah yang tertinggal, karena insentif bagi produsen buku dinilai tidak adil, dan pajak bagi penulis yang menerima royalti rendah. Selanjutnya, seperti halnya pengenalan media sosial dan fitur game online. Membuatnya lebih menarik bagi remaja daripada membaca. Mungkin banyak dari kita yang merasakan efek positif dari media sosial. Namun, media sosial memiliki dampak negatif yaitu kecanduan. Dalam hal itu, seseorang akan malas membaca atau bahkan belajar. Hal ini jangan sampai terjadi sebagai generasi harapan bangsa, karena akan mempersulit mencari pekerjaan dan bersaing dengan daerah bahkan negara lain.
Lebih jauh lagi, generasi muda akan berjuang untuk mencapai potensi penuh mereka jika mereka tidak tertarik membaca. Melihat beberapa kondisi tersebut, kurangnya minat membaca berdampak signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis kita. Akibatnya, kita mudah terpengaruh berita bohong atau hoax, minimnya pengetahuan dan wawasan, serta sulit mengembangkan potensi diri yang berdampak signifikan terhadap kualitas bangsa Indonesia dan berkontribusi terhadap keterbelakangan negara. Minimnya minat baca di Indonesia tidak bisa dipungkiri menjadi masalah yang harus dibenahi. Untuk mengatasi masalah ini, kita bisa melakukan hal-hal sederhana seperti mengingatkan diri sendiri betapa pentingnya membaca. Selanjutnya, kita harus membangun budaya membaca dari sekarang.
Lebih jauh, berdasarkan Karim (2014), terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan pihak pengajar, orang tua ataupun pihak lain yang berperan sebagai pengajar untuk meningkatkan minat baca. Yang pertama adalah Pengajar harus menjelaskan bagaimana memahami gagasan bacaan. Banyak anak yang tidak berminat membaca karena tidak memahami gagasan yang disajikan. Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan bahwa membaca itu sangat sulit. Selain memahami ide, langkah pertama yang paling penting dalam membangkitkan minat anak dalam membaca adalah memperluas kosa kata mereka. Anak terbiasa menggunakan kamus dalam kegiatan ini. Anak dapat menggunakan kamus untuk menentukan arti dari sebuah kata atau istilah.
Pengajar dapat meningkatkan tingkat pemahaman dan interpretasi anak dalam menarik kesimpulan dengan menggunakan bacaan singkat sebagai latihan. Pengajar mengarahkan sebanyak mungkin saat mengajar membaca agar anak terampil dalam memahami dan menginterpretasikan bahan bacaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, bahan bacaan harus mencakup tidak hanya bahan bacaan umum, tetapi juga bahan bacaan khusus. Pengajar, misalnya, dapat memilih bahan bacaan berdasarkan minat dan perkembangan anaknya. Selain itu, pengajar memastikan untuk memilih bahan bacaan yang baru, terkini, atau lama, dan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Selanjutnya, jika pengajar memberikan latihan membaca pengajar harus dapat memantaunya dengan baik. Pengajar dapat mengoreksi kebiasaan membaca anak yang salah, seperti intonasi, penggalan kalimat, dan pengucapan. Begitu pula jika anak melakukan kegiatan membaca di rumah, hendaknya dilakukan dalam suasana yang tenang. Perpustakaan erat kaitannya dengan penanaman kegemaran membaca. Akibatnya, pengajar harus mengenalkan anak pada perpustakaan. Pengajar menginstruksikan anak bagaimana menggunakan katalog, mencari buku, dan mencatat informasi dari buku-buku yang mereka butuhkan. Selanjutnya, pengajar harus mendemonstrasikan kepada anaknya cara membaca yang baik.
Lebih jauh, selain dapat dilakukan seorang pengajar, menumbuhkan minat baca juga harus dilakukan oleh diri sendiri. Langkah pertama dalam meningkatkan minat baca adalah membangun motivasi minat baca dengan cara memudahkan media mendapatkan informasi bacaan. Meningkatkan minat baca harus dimulai dengan motivasi diri. Membaca memperluas perspektif kita untuk memasukkan informasi yang sebelumnya tidak diketahui. Langkah selanjutnya adalah mulai membaca sesuatu yang menarik minat. Salah satu kesalahan paling umum seseorang yang ingin mulai membaca adalah memiliki gambaran tentang buku dan bacaan yang dia buat sendiri, di mana bacaannya berat dan membosankan.
Terlepas dari kenyataan bahwa ada banyak jenis buku dengan karakteristik yang berbeda. Satu hal yang pasti: sesuaikan dengan preferensi. Akibatnya, keinginan untuk membaca tidak hanya berasal dari pikiran, tetapi juga dari hati. Selanjutnya, yang perlu Anda lakukan hanyalah menjadwalkan waktu membaca yang cocok dan nyaman. Untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, minat baca harus dipicu dari dalam diri. Ajukan pertanyaan tentang segala sesuatu di lingkungan dan cari jawaban di buku. Cara lainnya, melihat buku di toko atau perpustakaan dan bertanya, Keingintahuan biasanya sangat efektif dalam memotivasi diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Selain itu, mintalah rekomendasi buku dari seseorang. Ini juga merupakan salah satu cara paling efektif untuk 'memaksa' diri untuk segera mulai membaca. Karena buku yang direkomendasikan biasanya lebih berharga, buku itu akan menjadi menarik untuk dibaca.
Penulis : Sherla Kurniasari Alya S, Mahasiswi UNS
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda