JurnalPost - Kata rebahan sudah tidak asing lagi terdengar di kalangan anak muda sekarang ini, terutama untuk para mahasiswa. Bersantai dan berleha-leha sambil menonton Money Heist adalah sebuah pilihan yang sayang jika disia-siakan, apalagi jika mahasiswa dihadapkan dengan banyaknya tugas dan juga persiapan untuk ujian yang masih memiliki jeda beberapa hari sebelum hari-H. selagi tenggat waktunya belum besok, maka waktu yang singkat tidak dirasakan kegentingannya. Dengan banyaknya kejadian yang tidak disukai hari ini membuat seorang procrastinator melampiaskan ketidakyamanannya dengan melakukan hal-hal yang dia suka tanpa menyadari akan hal-hal yang lebih penting yang harus diselesaikannya terlebih dahulu.
Menunda- nunda pekerjaan memiliki dampak yang buruk bagi sesorang, mungkin dampak ini akan lebih terasa jika telah dilakuakan berulang kali, tetapi jika kebiasaan ini sudah mandarah daging, maka seorang procrastinator harus berhati-hati karena ini bisa berakibat fatal bagi dirinya di masa yang akan datang (Farran, B. 2004). Contoh yang sering dijumpai pada mahasiswa adalah dengan menunda persiapan ujian. Sering kali keputusan untuk menunda memberikan penyelasan di akhir karena hasil dari sistem kebut semamalam tidak efektif. Contoh lain adalah saat mengerjakan tugas, mahasiswa bisa saja melakukan research lebih banyak dan lebih lengkap jika tugasnya dikerjakan dari jauh-jauh hari tetapi jika menggunakan sistem kebut semalam, alhasil banyak tugas yang tidak dikerjakan secara maksimal. Namun, setelah mengetahui kerugian dari menunda pekerjaan, seorang procrastinator sering mengulang aksinya. Lantas apakah ini keputusan yang rasional menurut ilmu ekonomi?
Riset ekonom behavioral George Akerlof (1991) menemukan bahwa meski menunda pekerjaan adalah suatu pilihan rasional, pilihan ini tidak terlepas dari bias kognitif. Ia menemukan bahwa opportunity cost yang dirasakan saat ini lebih jelas bagi seseorang daripada opportunity cost yang akan dirasakan di masa depan. Fenomena ini dikenal dengan hyperbolic discouting. Individu memiliki tendensi alamiah untuk mendiskon suatu manfaat yang terjadi di masa depan (future value) secara berlebihan sehingga individu memilih smaller-sooner reward dibanding larger-later reward. Karenanya, mengorbankan kenikmatan instan untuk keberhasilan yang sifatnya masih jauh di masa depan terasa berat, untuk itu menunda-nunda pekerjaan seperti menonton Netflix manfaatnya dirasakan saat itu juga dibandingkan dengan keberhasilan tugas yang membawa dampak positif pada karir di masa yang akan datang.
Menurut teori mikroekonomi, biaya dari suatu keputusan adalah hilangnya utilitas yang mungkin diperoleh seorang individu dari alternatif pilihan terbaik ketika individu tersebut memilih pilihan tertentu, kita sebagai mahasiswa mempunyai tujuan untuk memaksimakan utilitas dan memiminimalisasi kerugian, maka opportunity cost yang terendah menjadi keputusan yang tepat (Arnold C. Harberger 1972). Saat menunda-nunda pekerjaan sesorang menilai bahwa kenikmatan dari bersantai lebih besar dari ekspektasi hasil yang akan didapatkan dari penggunaan waktu untuk bekerja saat itu juga.maka dari itu opportunity cost yang menentukan pilihannya.
Richard Thaler (2015), bapak behavioral economics, menemukan bahwa hyperbolic discounting terlihat jelas pada kasus tabungan pensiun. Sangat banyak dijumpai orang yang menghabiskan pendapatannya demi kesenangan sesaat daripada menabung untuk tabungan pensiun. Ini mengindikasikan bahwa orang-orang memang memiliki kecenderungan untuk menunda-nuda hal yang lebih penting (procrastinate) dalam membuat keputusan yang memberikan kesejahteraan di masa depan.
Seorang procrastinator diyakini memiliki motivasi yang rendah untuk bekerja .tetapi kenapa mereka mempunya motivasi yang rendah? Terdapat dua kemungkinan, yang pertama adalah kecilnya insentif untuk segera bekerja. Sebagai seorang invidu yang rasional aksinya didorong oleh insentif, invidu enggan mengorbankan waktu, tenaga yang bisa dia pakai untuk bersantai untuk bekerja jika pekerjaan yang ia kerjakan tidak memiliki manfaat yang besar. Yang kedua, adalah tidak adanya konsekuensi negative yang akan didapatkan si penunda pekerjaan apabila tidak segera bekerja. Kemungkinan-kemungkinan ini berkaitan dengan loss aversion, seorang individu selalu mendahuluakan situasi di mana ia dapat kehilangan sesuatu dibandingkan situasi dimana ia mendapat sesuatu (Fleischer,2017). Atau dalam kata lain kehilangan atau kekalahan adalah suatu biaya yang diproritaskan.
Lalu bagaimana cara berhenti menjadi seorang procrastinator? Sebenarnya pilihan untuk menunda pekerjaan adalah keputusan yang subjektif, sesorang dapat mengubah keputusannya didasari dari banyak variabel dan cara pandangnya terhadap beban dan utilitis yang akan dihadapi dari pilihan bekerja atau bersantai. Maka dari itu cara untuk berhenti dari menunda pekerjaan adalah dengan mengoreksi bias kognitif dalam menilai manfaat atau biaya dari pilihan masa sekarang. dan juga dengan menyadari bahwasanya kita hidup bukan untuk masa sekarang tetapi untuk masa depan juga. Namun, tentu saja, dalam dunia nyata manusia tidak akan sepenuhnya rasional. Kita semua dipengaruhi oleh emosi dan variabel acak. Maka dari itu cara pandang adalah kunci dalam mengubah kebiasaan ) Thaler, R. H. , 2015).
(Ditulis oleh Zikrina Harahap)
Referensi • Farran, B. (2004). Predictors of academic procrastination in college students. Dissertation Abstracts International: Section B: The Sciences and Engineering, 65(3-B), 1545. • Akerlof, G. A. (1991). Procrastination and obedience. American Economic Review, 81(2), 1-19. • Fleishcner, L. (2017). Utilizing Behavioral Economics to Understand Procrastination: Why It Is Difficult for People to Make Choices for Their Future Selves, Stony Brook University, 9-10. • Thaler, R. H. (2015). Misbehaving: The making of behavioral economics. • https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-1-349-01653-2_7 • https://www.instagram.com/kanopi_febui/
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda