Nama di papan jalan membuat kita lewat. Wajah di layar membuat kita bertanya.
JurnalPost.com - Di Sumatra Utara, terdapat jalan sepanjang 71,3 kilometer yang membentang dari Medan, melintasi Deli Serdang, hingga Kabupaten Karo. Jalan itu memakai nama seorang pahlawan nasional, Letnan Jenderal Jamin Ginting. Pada 2023, penamaan jalan tersebut memperoleh penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Namun, nama yang kita lewati setiap hari belum tentu merupakan nama yang benar-benar kita kenal. Berapa banyak dari kita yang mampu menceritakan perjuangan sosok di balik nama Jalan Jamin Ginting?
Pertanyaan tersebut kini menemukan ruang baru melalui layar lebar. Sejak 1 Oktober 2026, film Djamin Setia Selamanya tayang di bioskop Indonesia. Bahkan sebelum satu adegan diputar, film produksi Erjege Pictures ini sudah mengambil keputusan penting: wajah siapa yang akan diingat penonton sebagai Djamin Ginting?
Pilihan itu jatuh kepada Rafi Sudirman, musisi dan aktor muda yang dipercaya memerankan tokoh pahlawan asal Tanah Karo tersebut.
Menurut saya, pemilihan pemeran atau casting dalam film sejarah bukan sekadar mencari aktor yang mampu menghidupkan karakter. Keputusan tersebut juga berkaitan dengan bagaimana ingatan kolektif masyarakat dibentuk.
Siapa yang memegang kendali atas representasi seorang pahlawan turut menentukan wajah yang kelak melekat dalam ingatan penonton.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memperdebatkan tepat atau tidaknya pemilihan Rafi Sudirman. Saya juga tidak hendak menilai kualitas aktingnya tanpa melakukan pengamatan yang memadai. Yang menarik untuk dibahas justru bagaimana sebuah keputusan kreatif dapat dibaca melalui perspektif ilmu komunikasi.
Satu Keputusan, Lima Pertanyaan
Pada 1948, ilmuwan komunikasi Amerika Serikat Harold Lasswell memperkenalkan model komunikasi yang dikenal melalui lima pertanyaan: siapa mengatakan apa, melalui saluran apa, kepada siapa, dan dengan efek apa.
Model tersebut dapat digunakan untuk membaca keputusan pemilihan pemeran dalam film Djamin Setia Selamanya.
Siapa yang berbicara?
Di balik film ini terdapat Erjege Pictures dan sutradara Rako Prijanto. Nama Rako memiliki hubungan dengan kisah keluarga Djamin Ginting karena sebelumnya ia menyutradarai film 3 Nafas Likas pada 2014, yang mengangkat perjalanan hidup Likas Tarigan, istri Djamin.
Putri Djamin Ginting, Riahna Jamin Gintings, juga terlibat dalam produksi film ini. Keterlibatan keluarga menunjukkan adanya upaya menghadirkan kembali perjalanan sang pahlawan melalui medium yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini.
Apa yang dikatakan?
Film ini mengangkat perjalanan Djamin sejak menempuh pendidikan di Handelsschool pada masa kolonial Belanda, bergabung dengan Gyugun pada masa pendudukan Jepang, hingga terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dengan memilih pemeran muda, film tersebut menawarkan gambaran Djamin sebagai sosok yang pernah menjalani masa muda, mengambil keputusan, menghadapi ketidakpastian, dan memperjuangkan keyakinannya.
Ia tidak lagi hadir semata-mata sebagai nama jalan atau monumen sejarah, melainkan sebagai manusia dengan pengalaman hidup.
Melalui saluran apa?
Pesan sejarah disampaikan melalui film bioskop, pemberitaan, materi promosi, dan musik.
Rafi Sudirman bahkan menciptakan lagu berjudul Selamanya Ku Janji sebagai salah satu soundtrack film. Lagu tersebut menggambarkan hubungan emosional antara Djamin Ginting dan Likas Tarigan.
Menariknya, album perdana Rafi yang dirilis pada 26 September 2025 juga menggunakan judul Hari Ini, Esok & Selamanya. Kata "selamanya" seolah menjadi benang merah antara perjalanan musikal Rafi dan film sejarah yang dibintanginya, meskipun kesamaan tersebut tidak serta-merta berarti dirancang sebagai strategi komunikasi.
Kepada siapa?
Film ini menyasar masyarakat luas, termasuk masyarakat Karo yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya dengan Djamin Ginting.
Selain itu, film tersebut berpotensi menjangkau generasi muda yang sebelumnya lebih mengenal Rafi Sudirman melalui musik dan dunia hiburan dibandingkan melalui sejarah perjuangan kemerdekaan.
Dengan efek apa?
Efek yang diharapkan tentu bukan sekadar meningkatnya jumlah penonton, melainkan tumbuhnya ketertarikan masyarakat untuk mengenal Djamin Ginting secara lebih mendalam.
Namun, apakah film benar-benar berhasil meningkatkan pengetahuan sejarah penonton? Pertanyaan tersebut membutuhkan penelitian khalayak, bukan hanya angka penjualan tiket atau respons di media sosial.
Siapa Penjaga Gerbang Wajah Sang Pahlawan?
Model Lasswell membantu menjelaskan proses penyampaian pesan, tetapi belum sepenuhnya menerangkan bagaimana sebuah pesan dipilih dan dibentuk sebelum diterima masyarakat.
Di sinilah teori gatekeeping menjadi relevan.
Kurt Lewin mengembangkan gagasan mengenai proses penyaringan dalam aliran informasi dan pengambilan keputusan. Konsep tersebut kemudian diterapkan David Manning White pada 1950 melalui penelitian mengenai seorang redaktur surat kabar yang disebut sebagai "Mr. Gates".
Penelitian White menunjukkan bahwa informasi yang sampai kepada masyarakat telah melewati proses seleksi.
Dalam produksi film biografi atau biopic, mekanisme serupa dapat ditemukan.
Sebelum penonton menyaksikan sosok Djamin Ginting di layar, kisah hidupnya telah melewati berbagai keputusan kreatif. Peristiwa sejarah mana yang dipilih? Bagian kehidupan mana yang ditonjolkan? Konflik apa yang dianggap penting? Dan siapa yang dipercaya menjadi wajah sang pahlawan?
Semua keputusan itu membentuk gambaran sejarah yang akhirnya diterima penonton.
Keterlibatan keluarga Djamin Ginting dalam produksi film juga menarik untuk dicermati. Kedekatan emosional dan pengetahuan keluarga dapat membantu menjaga keaslian cerita serta memberikan konteks yang tidak selalu ditemukan dalam dokumen sejarah.
Namun, kedekatan tersebut sekaligus menghadirkan pertanyaan kritis: bagaimana film menjaga keseimbangan antara penghormatan kepada tokoh dan keberanian menggambarkan kompleksitas perjalanan hidupnya?
Saya tidak sedang menyimpulkan bahwa film ini mengabaikan kompleksitas sejarah. Justru pertanyaan tersebut penting diajukan agar film biografi tidak hanya dipahami sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai karya yang membuka ruang pembacaan kritis.
Proses gatekeeping juga terlihat dalam pemilihan pemeran pendamping.
Claresta Taufan dipercaya memerankan Likas Tarigan. Sebelum terlibat dalam film ini, Claresta telah dikenal melalui film Pangku dan memperoleh penghargaan Rising Star dalam Marie Claire Asia Star Awards 2025 yang berlangsung dalam rangkaian Busan International Film Festival.
Pilihan pemeran semacam ini membawa konsekuensi representasi. Setiap aktor datang dengan pengalaman, citra publik, dan karakteristik yang telah dikenal penonton.
Dengan demikian, pemilihan pemeran bukanlah keputusan yang sepenuhnya netral dalam proses pembentukan makna.
Dari Nama di Papan Jalan ke Wajah di Layar
George Gerbner dan Larry Gross melalui penelitian Living with Television: The Violence Profile pada 1976 menjelaskan bagaimana paparan media, khususnya televisi dalam jangka panjang, dapat berhubungan dengan pembentukan persepsi masyarakat terhadap realitas.
Pendekatan tersebut dikenal dalam kajian komunikasi sebagai teori kultivasi.
Meskipun awalnya dikembangkan untuk memahami pengaruh paparan televisi yang berulang, teori ini memberikan perspektif menarik untuk mempertanyakan bagaimana representasi tokoh sejarah dalam media audiovisual dapat memengaruhi ingatan masyarakat.
Nama Jamin Ginting mungkin sudah akrab bagi masyarakat yang setiap hari melintasi jalan tersebut. Namun, keakraban terhadap nama tidak otomatis menghasilkan pemahaman mengenai perjalanan hidupnya.
Film menawarkan pengalaman yang berbeda.
Melalui gambar bergerak, dialog, ekspresi, dan rangkaian peristiwa, penonton diajak membayangkan sosok Djamin Ginting sebagai manusia yang hidup pada masa penuh pergolakan.
Setelah menonton, sebagian orang mungkin akan mengaitkan nama Djamin Ginting dengan wajah, suara, dan gestur Rafi Sudirman.
Di titik inilah saya melihat besarnya tanggung jawab film sejarah.
Film dapat menjadi pintu masuk menuju pengetahuan yang lebih luas. Penonton yang penasaran mungkin terdorong membaca buku sejarah, menelusuri arsip, atau mendengarkan cerita masyarakat Karo tentang perjuangan Djamin Ginting.
Namun, ada kemungkinan lain yang patut dipertimbangkan. Bagi sebagian penonton, representasi dalam film justru dapat menjadi satu-satunya gambaran tentang tokoh tersebut.
Tentu saja, teori kultivasi tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa satu kali menonton film akan langsung mengubah persepsi seseorang. Pengaruh tersebut perlu dibuktikan melalui penelitian yang mempertimbangkan pengalaman, pengetahuan awal, serta intensitas paparan media.
Karena itu, penting untuk membedakan antara potensi pengaruh film dan dampak yang benar-benar telah terbukti.
Tiga Hal yang Layak Kita Minta
Menurut saya, ada tiga hal yang patut menjadi perhatian ketika film sejarah menghadirkan kembali seorang pahlawan nasional kepada generasi baru.
Pertama, keterbukaan dari pihak produksi.
Produser dan tim kreatif perlu memberikan penjelasan mengenai proses riset sejarah, keterlibatan masyarakat Karo, serta pertimbangan dalam memilih pemeran utama.
Keterbukaan tersebut dapat membantu masyarakat memahami batas antara fakta sejarah dan interpretasi artistik.
Kedua, tanggung jawab media.
Media perlu membedakan informasi produksi, materi promosi, dan penilaian kritis terhadap film.
Pemberitaan mengenai pemilihan aktor tidak seharusnya langsung berubah menjadi penilaian atas kualitas akting tanpa dasar pengamatan yang memadai.
Begitu pula ulasan film perlu dibangun melalui pembacaan karya secara utuh, bukan semata-mata berdasarkan popularitas pemerannya.
Ketiga, sikap kritis penonton.
Film sejarah sebaiknya diperlakukan sebagai pintu masuk untuk mengenal masa lalu, bukan satu-satunya sumber pengetahuan.
Setelah menyaksikan Djamin Setia Selamanya, penonton dapat mencari informasi dari buku, arsip sejarah, penelitian akademik, serta cerita masyarakat Karo yang mewarisi ingatan mengenai perjuangan Djamin Ginting.
Sikap tersebut penting agar pengalaman menonton tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi berkembang menjadi proses memahami sejarah.
Pada akhirnya, Jalan Jamin Ginting memang membentang sepanjang 71,3 kilometer. Namun, panjang sebuah jalan tidak menentukan seberapa dalam masyarakat mengenal tokoh yang namanya diabadikan.
Keputusan casting, tanggung jawab para penjaga gerbang informasi, dan rasa ingin tahu penonton memiliki peran dalam menjaga ingatan sejarah.
Nama di papan jalan membuat kita lewat. Wajah di layar membuat kita berhenti.
Dan pertanyaan yang kita bawa pulang setelah film selesai mungkin justru menjadi awal untuk benar-benar mengenal sosok Djamin Ginting.
Profil Penulis
Abdul Rachman Hidayat adalah mahasiswa Program Magister (S2) Ilmu Komunikasi, STIKOM InterStudi, angkatan 2026.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda