Jakarta, JurnalPost.com — Film animasi fantasi-komedi asal Tiongkok, All Wishes Come True, mulai menarik perhatian penonton Indonesia setelah resmi tayang di bioskop sejak awal September 2026.
Antusiasme penonton terlihat salah satunya di bioskop Cinepolis Depok Town Square, Depok. Sejumlah penonton mengaku tertarik dengan film tersebut karena menawarkan perpaduan antara mitologi klasik Tiongkok, komedi, serta visual animasi modern.
Lia (23), mahasiswa Universitas Indonesia, mengaku telah lama menantikan penayangan All Wishes Come True. Ketertarikannya terhadap film tersebut muncul setelah sebelumnya menyaksikan animasi Tiongkok lainnya, Ne Zha.
“Saya sangat tertarik dan sudah lama menantikan All Wishes Come True karena saya menyukai film animasi dari berbagai negara.”
Menurut Lia, pengalaman menonton Ne Zha membuatnya penasaran dengan cara All Wishes Come True mengangkat kebudayaan dan mitologi Tiongkok ke dalam film animasi.
“Ternyata setelah ditonton memang bagus, tidak hanya ceritanya, tetapi plot yang ditawarkan juga sangat menarik. Film ini berhasil membuat cerita mitologi klasik terasa lebih modern, tetapi unsur budayanya tetap ada.”
Pendapat serupa disampaikan Eki (27). Ia menilai salah satu kekuatan film tersebut berada pada kemampuannya menggabungkan kisah fantasi dengan tema perkembangan karakter yang masih relevan bagi penonton dewasa.
“Karakternya juga punya perkembangan yang jelas, dari orang-orang yang awalnya punya kepentingan masing-masing sampai akhirnya belajar bertanggung jawab dan memikirkan orang lain.”
Menurutnya, All Wishes Come True tidak hanya ditujukan bagi penggemar animasi, tetapi juga dapat dinikmati oleh penonton dari berbagai kelompok usia.
Tayang di Indonesia Lebih Awal
Distributor Feat Pictures sebelumnya mengumumkan bahwa All Wishes Come True mulai ditayangkan di Indonesia pada 2 September 2026.
Jadwal tersebut bahkan dua hari lebih cepat dibandingkan rencana perilisan global film di sejumlah negara lain pada 4 September.
Kehadirannya di Indonesia mengikuti keberhasilan film tersebut di pasar domestik Tiongkok.
All Wishes Come True mengisahkan delapan manusia biasa yang nekat menyamar sebagai dewa untuk menyusup ke Penglai, tempat penyimpanan harta karun di alam surgawi.
Awalnya, masing-masing karakter memiliki kepentingan pribadi. Namun perjalanan mereka justru membawa para tokoh tersebut pada perubahan besar.
Mereka mulai belajar mengenai tanggung jawab, keadilan, dan kepentingan bersama hingga akhirnya memperoleh keabadian dan dikenal sebagai Delapan Dewa atau Eight Immortals, salah satu legenda terkenal dalam tradisi Tiongkok.
Sukses di Box Office Tiongkok
Sebelum masuk ke Indonesia, All Wishes Come True lebih dahulu mencatat kesuksesan di Tiongkok setelah dirilis pada 18 Juli 2026.
Dalam lima hari pertama penayangannya, film tersebut meraup sekitar 400 juta yuan. Film itu juga memperoleh skor awal 8,3 dari 10 di platform ulasan Douban.
Momentum tersebut berlanjut sepanjang musim panas.
Berdasarkan data Maoyan yang dikutip Xinhua, pendapatan All Wishes Come True telah mencapai sekitar 1,90 miliar yuan hingga 11 September 2026.
Angka itu menempatkannya sebagai salah satu film berpendapatan tertinggi selama musim panas 2026 di Tiongkok.
Setelah mencatat kesuksesan domestik, film tersebut mulai dibawa ke berbagai pasar internasional, termasuk Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, Inggris, serta sejumlah negara Eropa.
Pemutaran perdana di Amerika Utara digelar di Los Angeles, California, pada 13 Agustus 2026 sebelum film tersebut ditayangkan di bioskop Amerika Serikat dan Kanada sehari kemudian.
Film berbahasa Mandarin dengan teks bahasa Inggris tersebut diputar di lebih dari 100 bioskop terpilih.
Respons positif juga muncul dari sejumlah penonton di Amerika Utara.
Penulis lagu sekaligus kreator konten Hannah Avison memberikan penilaian tinggi terhadap kualitas visual dan alur ceritanya.
“Animasi film sangat indah dan memanjakan mata. Ada begitu banyak kejutan dan plotnya sungguh menarik. Saya terus dibuat penasaran sepanjang film.”
Aktor dan produser Hollywood John Kyle Sutton juga menilai film seperti All Wishes Come True dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak penonton internasional untuk mengenal kebudayaan Tiongkok.
Mitologi Klasik Dikemas Lebih Modern
All Wishes Come True disutradarai sekaligus ditulis oleh Mou Zhengyang.
Film tersebut mengambil inspirasi dari legenda Delapan Dewa yang dikenal dalam tradisi Taoisme Tiongkok, tetapi tidak menampilkan para tokohnya sebagai figur sempurna sejak awal.
Mereka justru digambarkan sebagai manusia muda dengan berbagai kelemahan, kepentingan, dan kesalahan.
Pendekatan tersebut sengaja dipilih untuk membuat karakter terasa lebih dekat dengan penonton masa kini.
Dalam pandangan Mou, keabadian dalam cerita bukan semata-mata mengenai pencapaian kekuatan supranatural, tetapi juga menjadi simbol perubahan diri, kedewasaan, dan tumbuhnya rasa tanggung jawab.
Pendekatan modern juga terlihat dalam penggambaran Penglai.
Dunia para dewa tidak hanya ditampilkan sebagai tempat sakral yang terpisah jauh dari kehidupan manusia. Film tersebut justru menggambarkannya seperti sebuah organisasi dengan sistem peringkat, target, hingga evaluasi.
Konsep itu memberi unsur komedi sekaligus membuat legenda klasik terasa lebih dekat dengan kehidupan modern.
Visual Terinspirasi Seni Tradisional Tiongkok
Unsur budaya tidak hanya hadir melalui alur cerita.
Tim produksi juga memadukan estetika tradisional Tiongkok dengan teknologi animasi modern untuk membangun dunia fantasi dalam film tersebut.
Produser Cao Linlin mengatakan tim produksi melakukan riset langsung ke sejumlah lokasi budaya, termasuk Istana Yongle di Shanxi serta Gunung Qingcheng di Sichuan.
Kedua tempat tersebut kemudian menjadi salah satu referensi untuk merancang dunia dan elemen visual film.
Beberapa objek dalam film bahkan terinspirasi dari karya seni kuno, termasuk kereta yang ditarik ikan berdasarkan mural tradisional.
Palet warna film juga mengambil inspirasi dari lukisan Tahun Baru Tiongkok dan berbagai bentuk seni rakyat.
Identitas Budaya Jadi Kekuatan
Mou Zhengyang menilai perkembangan animasi Tiongkok kini tidak lagi hanya bergantung pada kemajuan teknologi.
Menurutnya, teknologi animasi sudah semakin berkembang, sehingga karakter dan identitas budaya justru menjadi pembeda penting antara karya dari satu negara dengan negara lainnya.
“Kami memiliki pola penceritaan yang serupa, tetapi masing-masing memiliki ekspresi budaya yang unik.”
Ia juga menilai kreator lokal mempunyai peran penting dalam menjaga autentisitas sebuah cerita yang berakar pada tradisi masyarakatnya.
“Hanya kreator animasi lokal yang dapat menceritakan kisah Tiongkok secara autentik dengan baik.”
Pendekatan tersebut terlihat dalam All Wishes Come True. Film itu tidak menghilangkan unsur tradisionalnya demi mengejar pasar internasional.
Sebaliknya, legenda, seni, mitologi, dan budaya Tiongkok justru menjadi identitas utama yang dibawa ke dalam kemasan animasi modern.
Bagi penonton Indonesia seperti Lia dan Eki, perpaduan tersebut membuat legenda yang telah berusia berabad-abad terasa lebih dekat dengan generasi sekarang.
Kesuksesan All Wishes Come True juga memperlihatkan bagaimana cerita yang berakar kuat pada budaya lokal tetap memiliki peluang menjangkau penonton lintas negara ketika dikemas dengan bahasa sinema yang universal.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda