Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  2. Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  3. PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  5. Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  1. Beranda
  2. Featured
  3. KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

M
Penulis: M. Zainul Arifin
31 Oktober 2026, 11.28 WITA Editor: Alvin Pradana
10 menit baca
km tilongkabila dan masyarakat pelabuhan
Keterangan foto utama: KM Tilongkabila bersandar di Pelabuhan Luwuk, Sulawesi Tengah, pada 20 Oktober 2026. (Foto: Dokumentasi M. Zainul Arifin)

JurnalPost.com - “ABK dek, siap muka belakang. ABK dek, siap muka belakang. Siapkan kapal sandar kanan/kiri. Siapkan kapal sandar kanan/kiri.”

Seruan itu menjadi suara yang akrab di telinga para penumpang KM Tilongkabila setiap kali kapal hendak bersandar di pelabuhan. Di atas kapal, awak bersiap melakukan proses sandar. Sementara itu, di daratan, sejumlah orang telah menunggu kedatangannya.

IKLAN

Mereka adalah masyarakat pelabuhan, mulai dari buruh bagasi, sopir taksi, hingga pedagang asongan yang menggantungkan sebagian penghasilannya pada aktivitas kapal dan penumpang.

foto mang venus
Baca Juga

Siapa MING VENUS? DJ Asal Surabaya yang Punya 101 Ribu Followers TikTok

Ketika KM Tilongkabila benar-benar bersandar, saya melihat sebuah pemandangan yang menarik. Bukan sekadar pertemuan antara kapal dan dermaga, melainkan perjumpaan berbagai kehidupan yang memiliki kepentingan dan harapan masing-masing.

Pemandangan itu menemani perjalanan saya seorang diri dari Pelabuhan Gili Mas, Lombok, menuju Pelabuhan Gorontalo pada 15–20 Oktober 2026.

Tujuan akhir perjalanan saya adalah Desa Domisil Moonow, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Dari Gorontalo, perjalanan masih harus dilanjutkan melalui jalur darat selama kurang lebih lima hingga enam jam.

Selama menggunakan KM Tilongkabila, saya berkesempatan menyaksikan aktivitas di sembilan pelabuhan, yakni Gili Mas, Bima, Labuan Bajo, Makassar, Bau-Bau, Raha, Kendari, Luwuk, dan Gorontalo.

Amaia
Baca Juga

Sempat Ragu Pilih Matematika atau Ekonomi, Amaia Berhasil Raih Medali Perunggu OSN 2026

Setiap pelabuhan memiliki suasana tersendiri. Namun, ada satu kesamaan yang terus saya temukan: kedatangan kapal selalu menghadirkan kesibukan dan membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk mencari penghasilan.

Kehidupan Penumpang di Atas KM Tilongkabila

Menunggu kapal bersandar memberikan kesempatan bagi saya untuk mengamati kehidupan para penumpang, meskipun hanya sepintas.

Sebagian besar memilih tidur atau berbaring untuk beristirahat. Ada pula yang sibuk menggunakan telepon genggam, menghubungi keluarga di rumah, atau berbincang dengan sesama penumpang.

Satu pemandangan yang cukup menarik perhatian saya adalah seorang penumpang asal Lombok yang asyik membuat rujak mangga. Peralatannya pun lengkap, mulai dari cobek, ulekan, cabai, hingga berbagai bumbu lainnya.

Ronald Dewa
Baca Juga

Ronald Dewa Rilis 'Salah Mencinta', Kisah Cinta Tulus yang Berakhir Luka

Di tengah beragam aktivitas tersebut, saya juga memperhatikan kebiasaan membaca. Sepanjang pengamatan saya, jumlah penumpang yang terlihat membaca buku bahkan tidak lebih dari hitungan jari satu tangan.

Di bagian luar kapal, khususnya sisi kiri dan kanan dek lima serta dek enam, tersedia sejumlah kursi yang dapat digunakan penumpang untuk bersantai sambil menikmati pemandangan laut.

Di dek lima terdapat tiga kursi di sisi kanan dan lima kursi di sisi kiri. Sementara itu, dek enam memiliki tujuh kursi di sisi kanan dan enam kursi di sisi kiri. Setiap kursi dapat ditempati hingga tiga orang.

Area tersebut juga banyak dimanfaatkan oleh penumpang yang merokok. Di dalam ruangan kapal, aktivitas merokok tidak diperbolehkan untuk mencegah risiko kebakaran.

Di tempat inilah percakapan antarsesama penumpang sering berlangsung.

“Berangkat dari mana?”

“Asli mana?”

“Turun di mana?”

“Hendak ke mana?”

“Ada tujuan apa ke sana?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi pembuka perkenalan. Kadang percakapan berkembang menjadi cerita panjang, tetapi tidak jarang pula berhenti setelah beberapa pertanyaan.

Menariknya, nama justru menjadi salah satu hal yang jarang ditanyakan. Para penumpang lebih sering ingin mengetahui asal, tujuan, dan alasan seseorang melakukan perjalanan.

Buruh Bagasi, Mereka yang Berpacu dengan Waktu

Setiap kapal mendekati pelabuhan, para buruh bagasi mulai bersiap. Mereka menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas bongkar muat barang bawaan penumpang.

Di setiap pelabuhan yang saya singgahi, para buruh bagasi umumnya mengenakan seragam sebagai penanda pekerjaan mereka.

Warna seragamnya berbeda-beda. Di Pelabuhan Gili Mas, misalnya, saya melihat seragam oranye dan biru. Di Bima, biru langit lebih dominan, sedangkan di Labuan Bajo berwarna merah gelap.

Di Makassar, para buruh bagasi mengenakan seragam cokelat. Di Bau-Bau terlihat seragam oranye dan merah, sementara di Raha terdapat beberapa warna, seperti biru langit, hijau, merah, dan oranye.

Di Kendari, saya melihat seragam hijau muda dan biru langit. Di Luwuk terdapat seragam merah gelap dan oranye, sedangkan di Gorontalo, buruh bagasi mengenakan seragam biru.

Sesaat sebelum kapal benar-benar bersandar, mereka telah menunggu di tepi dermaga. Sebagian terlihat membantu proses persiapan sandar, seperti menangkap tali penahan kapal dan menyiapkan tangga turun.

Begitu pintu kapal terbuka, suara langkah kaki mulai terdengar riuh.

Para buruh bagasi bergegas memasuki kapal, menyusuri lorong demi lorong, dan mendatangi penumpang yang mungkin membutuhkan bantuan mengangkut barang.

Ketika bertemu calon pengguna jasa, proses tawar-menawar biasanya berlangsung. Besaran upah tidak selalu diketahui sejak awal karena bergantung pada kesepakatan.

Menurut saya, pekerjaan mereka patut dihargai. Mereka mengandalkan tenaga dan kesempatan yang tersedia untuk memperoleh penghasilan.

Setelah mencapai kesepakatan, buruh bagasi akan membawa barang bawaan penumpang menuju area parkir. Jika jaraknya cukup jauh, mereka menggunakan gerobak, seperti yang saya lihat di Pelabuhan Bungkutoko, Kendari.

Di tengah kesibukan tersebut, penumpang sebaiknya tidak berkerumun di lorong kapal. Para buruh bagasi membutuhkan ruang untuk bergerak cepat, menurunkan barang, dan kembali ke kapal untuk melayani penumpang lainnya.

Pekerjaan mereka tidak hanya mengangkut barang dari kapal menuju daratan, tetapi juga membantu calon penumpang membawa barang dari area parkir ke atas kapal.

Di Pelabuhan Luwuk, saya bahkan melihat beberapa buruh bagasi berdiri di pinggir jalan dekat pelabuhan sambil memperhatikan kendaraan yang datang.

Ketika sebuah mobil memberi isyarat hendak masuk ke kawasan pelabuhan, dua atau tiga orang di antara mereka segera mendekat. Ada yang mengikuti kendaraan yang berjalan perlahan, bahkan berusaha melihat melalui jendela untuk memastikan apakah penumpangnya membutuhkan jasa angkut barang.

Pemandangan serupa terlihat di Bima. Seorang buruh bagasi tampak berada di sisi kendaraan bak terbuka yang membawa calon penumpang.

Aktivitas tersebut memperlihatkan betapa pentingnya kedatangan kapal bagi mereka. Kesempatan mendapatkan pelanggan harus dicari di tengah persaingan dan keterbatasan waktu.

Sopir Taksi dan Harapan Mendapatkan Penumpang

Selain buruh bagasi, sopir taksi menjadi kelompok lain yang turut menyambut kedatangan kapal.

Mereka biasanya berkumpul di sekitar gerbang keluar untuk menawarkan jasa transportasi kepada penumpang yang baru turun.

“Pakai taksi?” atau “Ada yang jemput?” merupakan pertanyaan yang kerap terdengar.

Jika melihat penumpang duduk bersama barang bawaannya, beberapa sopir akan mendekat untuk menawarkan perjalanan menuju tempat tujuan.

IKLAN

Bagi penumpang, kehadiran mereka bisa memberikan kemudahan, terutama jika belum memiliki kendaraan penjemput.

Sementara bagi para sopir, setiap kapal yang bersandar menghadirkan peluang memperoleh pelanggan.

Pedagang Asongan yang Menggantungkan Harapan pada Kedatangan Kapal

Kedatangan KM Tilongkabila juga menjadi kesempatan bagi pedagang asongan untuk memperoleh penghasilan.

Sebagian pedagang duduk di dekat pintu keluar-masuk kapal sambil menunggu pembeli. Sebagian lainnya berjalan menyusuri ruang penumpang dengan membawa berbagai barang dagangan.

Ada yang menjual mi instan, nasi, rokok, pakaian, dan kebutuhan lainnya. Mereka terus menawarkan dagangan hingga mendekati waktu keberangkatan kapal.

Sekitar lima belas menit sebelum kapal kembali berlayar, para pedagang mulai meninggalkan kapal.

Di antara mereka, saya juga melihat anak-anak yang tampaknya masih berada pada usia sekolah. Dari penampilan mereka, saya memperkirakan sebagian berusia di bawah lima belas tahun.

Anak-anak itu berjalan dari satu ruangan ke ruangan lainnya sambil membawa barang dagangan.

Melihat mi dan rokok di tangan mereka, saya merasa seolah sedang menyaksikan anak-anak yang terlalu dini bersentuhan dengan tanggung jawab kehidupan orang dewasa.

Di wajah mereka, saya menangkap sesuatu yang sulit dijelaskan selain harapan.

Aktivitas perdagangan tidak hanya berlangsung di atas kapal. Kawasan pelabuhan juga dipenuhi pedagang yang menawarkan makanan, minuman, serta berbagai kebutuhan penumpang.

Ada yang menjajakan es jeruk, air mineral, dan roti sambil berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ketika dagangannya habis, mereka kembali mengambil persediaan dan melanjutkan berjualan.

Di Pelabuhan Bima, saya melihat sejumlah pedagang bahkan berjualan hingga mendekati pintu terminal keberangkatan.

Padahal, pada salah satu dinding terdapat tulisan:

“Pedagang Asongan Dilarang Berjualan di Area Ini.”

Namun, aktivitas berjualan tetap berlangsung. Barangkali kebutuhan hidup membuat larangan tersebut tidak sepenuhnya diindahkan.

Masih di Bima, sekitar lima puluh meter dari terminal, tepatnya di balik dinding pembatas pelabuhan, terdengar suara seorang ibu menawarkan bawang merah.

“Eeee. Bawang merah, bawang merah. Bawang merah di sini,” teriaknya kepada orang-orang yang melintas.

Suaranya terdengar jelas di tengah aktivitas pelabuhan.

Saat itu, waktu menunjukkan sekitar pukul 11.30. Matahari terasa begitu terik. Tidak ada yang melindungi kepala ibu tersebut selain jilbab merah yang dikenakannya.

Sementara itu, beberapa pedagang lainnya dapat duduk berteduh di bawah payung berukuran besar.

Pemandangan sederhana itu membuat saya kembali menyadari bahwa perjuangan mencari nafkah memiliki wajah yang berbeda-beda.

Pertemuan dengan Seorang Anak di Pelabuhan Makassar

Di antara berbagai pengalaman selama perjalanan, ada satu peristiwa di Pelabuhan Makassar yang meninggalkan kesan mendalam.

Ketika berjalan di tengah keramaian pedagang, seorang anak kecil mendekati saya dan menarik baju yang saya kenakan.

Usianya saya perkirakan sekitar enam hingga tujuh tahun. Di sekitar lokasi tersebut, saya juga melihat anak-anak lain yang usianya tampak lebih besar.

Anak itu beberapa kali menarik baju saya, berharap mendapatkan uang.

Namun, saya tidak segera memberinya.

Saat itu, saya diliputi kebimbangan. Saya khawatir pemberian uang justru membuatnya menganggap bahwa meminta-minta merupakan cara yang mudah untuk memperoleh sesuatu.

Akan tetapi, setelah meninggalkan tempat tersebut, muncul perasaan bersalah karena saya tidak mengeluarkan sedikit pun uang dari dompet.

Saya pun menyadari bahwa persoalan yang dihadapi anak tersebut tentu tidak sesederhana keputusan memberi atau tidak memberi uang.

Barangkali ada keadaan keluarga, kesulitan ekonomi, atau persoalan lain yang tidak saya ketahui.

Sampai sekarang, pengalaman itu meninggalkan harapan dalam diri saya: semoga anak tersebut mendapatkan kesempatan menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak lain pada umumnya, termasuk belajar, bermain, dan menikmati masa kecilnya.

KM Tilongkabila, Lebih dari Sekadar Kapal Penumpang

Perjalanan bersama KM Tilongkabila memberikan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya.

Di setiap pelabuhan, saya menyaksikan bagaimana kedatangan kapal menggerakkan aktivitas masyarakat.

Bagi penumpang, kapal yang bersandar berarti perjalanan semakin dekat dengan tujuan. Ada yang akan bertemu keluarga, memulai pekerjaan, atau melanjutkan perjalanan menuju daerah lain.

Namun, bagi masyarakat pelabuhan, suara kapal yang mendekat memiliki makna berbeda.

Bagi buruh bagasi, kedatangan kapal berarti kesempatan menawarkan tenaga. Bagi sopir taksi, terbuka peluang mengantarkan penumpang. Sementara bagi pedagang asongan, setiap penumpang yang turun atau naik kapal bisa menjadi pembeli.

Mereka bekerja dengan cara masing-masing, menghadapi persaingan, panas matahari, dan keterbatasan waktu.

Pengalaman selama enam hari perjalanan itu membuat saya memahami bahwa sebuah kapal tidak hanya mengangkut manusia dan barang.

Kapal juga membawa peluang ekonomi, mempertemukan berbagai kehidupan, dan menghidupkan harapan masyarakat di sekitar pelabuhan.

KM Tilongkabila, bagi saya, bukan semata-mata sarana transportasi laut. Di setiap dermaga yang disinggahinya, selalu ada orang-orang yang menunggu, bekerja, dan berharap mendapatkan rezeki.

Ketika kapal kembali meninggalkan pelabuhan, sebagian penumpang melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya. Sementara masyarakat pelabuhan kembali menjalani kehidupan sehari-hari, menunggu kesempatan yang datang bersama kapal selanjutnya.

Dan di sanalah saya melihat makna lain dari perjalanan: bukan hanya tentang tempat yang kita tuju, melainkan juga tentang kehidupan orang-orang yang kita temui sepanjang jalan.


Tentang Penulis

M. Zainul Arifin berasal dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Ia merupakan bagian dari Komunitas Kelas Reading Buya Syafii di Lombok Timur dan saat ini tinggal di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/km-tilongkabila-dan-masyarakat-pelabuhan/98437/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 13.59 WITA

  • #Buruh Bagasi
  • #KM Tilongkabila
  • #Masyarakat Pelabuhan
  • #Pedagang Asongan
  • #Pelabuhan
  • #Perjalanan Laut
  • #Transportasi Laut

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Masih 16 Tahun, Firsya Rahma Mardiana Bikin Bangga! Siswi SMAN 3 Ciamis Ini Borong 3 Medali Nasional

Jalan Terpanjang, Ingatan Terpendek? Wajah Baru Djamin Ginting di Layar Lebar

Bermodal Cermin hingga Terbang ke Thailand, Perjalanan Cikibul Bangun Karier sebagai Kreator Gaming TikTok

Uciha Masbro, Kreator Gaming yang Makin Serius Eksis di Dunia Konten Digital

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Pilihan Editor

  1. 1 Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?
  2. 2

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

  3. 3

    Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

  4. 4

    Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

  5. 5

    Awali Hari dengan Salat Subuh Berjamaah dan Senam Pagi, MAN 1 Bulukumba Tanamkan Semangat Sehat Lahir dan Batin

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.