JurnalPost.com - “ABK dek, siap muka belakang. ABK dek, siap muka belakang. Siapkan kapal sandar kanan/kiri. Siapkan kapal sandar kanan/kiri.”
Seruan itu menjadi suara yang akrab di telinga para penumpang KM Tilongkabila setiap kali kapal hendak bersandar di pelabuhan. Di atas kapal, awak bersiap melakukan proses sandar. Sementara itu, di daratan, sejumlah orang telah menunggu kedatangannya.
Mereka adalah masyarakat pelabuhan, mulai dari buruh bagasi, sopir taksi, hingga pedagang asongan yang menggantungkan sebagian penghasilannya pada aktivitas kapal dan penumpang.
Ketika KM Tilongkabila benar-benar bersandar, saya melihat sebuah pemandangan yang menarik. Bukan sekadar pertemuan antara kapal dan dermaga, melainkan perjumpaan berbagai kehidupan yang memiliki kepentingan dan harapan masing-masing.
Pemandangan itu menemani perjalanan saya seorang diri dari Pelabuhan Gili Mas, Lombok, menuju Pelabuhan Gorontalo pada 15–20 Oktober 2026.
Tujuan akhir perjalanan saya adalah Desa Domisil Moonow, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Dari Gorontalo, perjalanan masih harus dilanjutkan melalui jalur darat selama kurang lebih lima hingga enam jam.
Selama menggunakan KM Tilongkabila, saya berkesempatan menyaksikan aktivitas di sembilan pelabuhan, yakni Gili Mas, Bima, Labuan Bajo, Makassar, Bau-Bau, Raha, Kendari, Luwuk, dan Gorontalo.
Setiap pelabuhan memiliki suasana tersendiri. Namun, ada satu kesamaan yang terus saya temukan: kedatangan kapal selalu menghadirkan kesibukan dan membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk mencari penghasilan.
Kehidupan Penumpang di Atas KM Tilongkabila
Menunggu kapal bersandar memberikan kesempatan bagi saya untuk mengamati kehidupan para penumpang, meskipun hanya sepintas.
Sebagian besar memilih tidur atau berbaring untuk beristirahat. Ada pula yang sibuk menggunakan telepon genggam, menghubungi keluarga di rumah, atau berbincang dengan sesama penumpang.
Satu pemandangan yang cukup menarik perhatian saya adalah seorang penumpang asal Lombok yang asyik membuat rujak mangga. Peralatannya pun lengkap, mulai dari cobek, ulekan, cabai, hingga berbagai bumbu lainnya.
Di tengah beragam aktivitas tersebut, saya juga memperhatikan kebiasaan membaca. Sepanjang pengamatan saya, jumlah penumpang yang terlihat membaca buku bahkan tidak lebih dari hitungan jari satu tangan.
Di bagian luar kapal, khususnya sisi kiri dan kanan dek lima serta dek enam, tersedia sejumlah kursi yang dapat digunakan penumpang untuk bersantai sambil menikmati pemandangan laut.
Di dek lima terdapat tiga kursi di sisi kanan dan lima kursi di sisi kiri. Sementara itu, dek enam memiliki tujuh kursi di sisi kanan dan enam kursi di sisi kiri. Setiap kursi dapat ditempati hingga tiga orang.
Area tersebut juga banyak dimanfaatkan oleh penumpang yang merokok. Di dalam ruangan kapal, aktivitas merokok tidak diperbolehkan untuk mencegah risiko kebakaran.
Di tempat inilah percakapan antarsesama penumpang sering berlangsung.
“Berangkat dari mana?”
“Asli mana?”
“Turun di mana?”
“Hendak ke mana?”
“Ada tujuan apa ke sana?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi pembuka perkenalan. Kadang percakapan berkembang menjadi cerita panjang, tetapi tidak jarang pula berhenti setelah beberapa pertanyaan.
Menariknya, nama justru menjadi salah satu hal yang jarang ditanyakan. Para penumpang lebih sering ingin mengetahui asal, tujuan, dan alasan seseorang melakukan perjalanan.
Buruh Bagasi, Mereka yang Berpacu dengan Waktu
Setiap kapal mendekati pelabuhan, para buruh bagasi mulai bersiap. Mereka menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas bongkar muat barang bawaan penumpang.
Di setiap pelabuhan yang saya singgahi, para buruh bagasi umumnya mengenakan seragam sebagai penanda pekerjaan mereka.
Warna seragamnya berbeda-beda. Di Pelabuhan Gili Mas, misalnya, saya melihat seragam oranye dan biru. Di Bima, biru langit lebih dominan, sedangkan di Labuan Bajo berwarna merah gelap.
Di Makassar, para buruh bagasi mengenakan seragam cokelat. Di Bau-Bau terlihat seragam oranye dan merah, sementara di Raha terdapat beberapa warna, seperti biru langit, hijau, merah, dan oranye.
Di Kendari, saya melihat seragam hijau muda dan biru langit. Di Luwuk terdapat seragam merah gelap dan oranye, sedangkan di Gorontalo, buruh bagasi mengenakan seragam biru.
Sesaat sebelum kapal benar-benar bersandar, mereka telah menunggu di tepi dermaga. Sebagian terlihat membantu proses persiapan sandar, seperti menangkap tali penahan kapal dan menyiapkan tangga turun.
Begitu pintu kapal terbuka, suara langkah kaki mulai terdengar riuh.
Para buruh bagasi bergegas memasuki kapal, menyusuri lorong demi lorong, dan mendatangi penumpang yang mungkin membutuhkan bantuan mengangkut barang.
Ketika bertemu calon pengguna jasa, proses tawar-menawar biasanya berlangsung. Besaran upah tidak selalu diketahui sejak awal karena bergantung pada kesepakatan.
Menurut saya, pekerjaan mereka patut dihargai. Mereka mengandalkan tenaga dan kesempatan yang tersedia untuk memperoleh penghasilan.
Setelah mencapai kesepakatan, buruh bagasi akan membawa barang bawaan penumpang menuju area parkir. Jika jaraknya cukup jauh, mereka menggunakan gerobak, seperti yang saya lihat di Pelabuhan Bungkutoko, Kendari.
Di tengah kesibukan tersebut, penumpang sebaiknya tidak berkerumun di lorong kapal. Para buruh bagasi membutuhkan ruang untuk bergerak cepat, menurunkan barang, dan kembali ke kapal untuk melayani penumpang lainnya.
Pekerjaan mereka tidak hanya mengangkut barang dari kapal menuju daratan, tetapi juga membantu calon penumpang membawa barang dari area parkir ke atas kapal.
Di Pelabuhan Luwuk, saya bahkan melihat beberapa buruh bagasi berdiri di pinggir jalan dekat pelabuhan sambil memperhatikan kendaraan yang datang.
Ketika sebuah mobil memberi isyarat hendak masuk ke kawasan pelabuhan, dua atau tiga orang di antara mereka segera mendekat. Ada yang mengikuti kendaraan yang berjalan perlahan, bahkan berusaha melihat melalui jendela untuk memastikan apakah penumpangnya membutuhkan jasa angkut barang.
Pemandangan serupa terlihat di Bima. Seorang buruh bagasi tampak berada di sisi kendaraan bak terbuka yang membawa calon penumpang.
Aktivitas tersebut memperlihatkan betapa pentingnya kedatangan kapal bagi mereka. Kesempatan mendapatkan pelanggan harus dicari di tengah persaingan dan keterbatasan waktu.
Sopir Taksi dan Harapan Mendapatkan Penumpang
Selain buruh bagasi, sopir taksi menjadi kelompok lain yang turut menyambut kedatangan kapal.
Mereka biasanya berkumpul di sekitar gerbang keluar untuk menawarkan jasa transportasi kepada penumpang yang baru turun.
“Pakai taksi?” atau “Ada yang jemput?” merupakan pertanyaan yang kerap terdengar.
Jika melihat penumpang duduk bersama barang bawaannya, beberapa sopir akan mendekat untuk menawarkan perjalanan menuju tempat tujuan.
Bagi penumpang, kehadiran mereka bisa memberikan kemudahan, terutama jika belum memiliki kendaraan penjemput.
Sementara bagi para sopir, setiap kapal yang bersandar menghadirkan peluang memperoleh pelanggan.
Pedagang Asongan yang Menggantungkan Harapan pada Kedatangan Kapal
Kedatangan KM Tilongkabila juga menjadi kesempatan bagi pedagang asongan untuk memperoleh penghasilan.
Sebagian pedagang duduk di dekat pintu keluar-masuk kapal sambil menunggu pembeli. Sebagian lainnya berjalan menyusuri ruang penumpang dengan membawa berbagai barang dagangan.
Ada yang menjual mi instan, nasi, rokok, pakaian, dan kebutuhan lainnya. Mereka terus menawarkan dagangan hingga mendekati waktu keberangkatan kapal.
Sekitar lima belas menit sebelum kapal kembali berlayar, para pedagang mulai meninggalkan kapal.
Di antara mereka, saya juga melihat anak-anak yang tampaknya masih berada pada usia sekolah. Dari penampilan mereka, saya memperkirakan sebagian berusia di bawah lima belas tahun.
Anak-anak itu berjalan dari satu ruangan ke ruangan lainnya sambil membawa barang dagangan.
Melihat mi dan rokok di tangan mereka, saya merasa seolah sedang menyaksikan anak-anak yang terlalu dini bersentuhan dengan tanggung jawab kehidupan orang dewasa.
Di wajah mereka, saya menangkap sesuatu yang sulit dijelaskan selain harapan.
Aktivitas perdagangan tidak hanya berlangsung di atas kapal. Kawasan pelabuhan juga dipenuhi pedagang yang menawarkan makanan, minuman, serta berbagai kebutuhan penumpang.
Ada yang menjajakan es jeruk, air mineral, dan roti sambil berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ketika dagangannya habis, mereka kembali mengambil persediaan dan melanjutkan berjualan.
Di Pelabuhan Bima, saya melihat sejumlah pedagang bahkan berjualan hingga mendekati pintu terminal keberangkatan.
Padahal, pada salah satu dinding terdapat tulisan:
“Pedagang Asongan Dilarang Berjualan di Area Ini.”
Namun, aktivitas berjualan tetap berlangsung. Barangkali kebutuhan hidup membuat larangan tersebut tidak sepenuhnya diindahkan.
Masih di Bima, sekitar lima puluh meter dari terminal, tepatnya di balik dinding pembatas pelabuhan, terdengar suara seorang ibu menawarkan bawang merah.
“Eeee. Bawang merah, bawang merah. Bawang merah di sini,” teriaknya kepada orang-orang yang melintas.
Suaranya terdengar jelas di tengah aktivitas pelabuhan.
Saat itu, waktu menunjukkan sekitar pukul 11.30. Matahari terasa begitu terik. Tidak ada yang melindungi kepala ibu tersebut selain jilbab merah yang dikenakannya.
Sementara itu, beberapa pedagang lainnya dapat duduk berteduh di bawah payung berukuran besar.
Pemandangan sederhana itu membuat saya kembali menyadari bahwa perjuangan mencari nafkah memiliki wajah yang berbeda-beda.
Pertemuan dengan Seorang Anak di Pelabuhan Makassar
Di antara berbagai pengalaman selama perjalanan, ada satu peristiwa di Pelabuhan Makassar yang meninggalkan kesan mendalam.
Ketika berjalan di tengah keramaian pedagang, seorang anak kecil mendekati saya dan menarik baju yang saya kenakan.
Usianya saya perkirakan sekitar enam hingga tujuh tahun. Di sekitar lokasi tersebut, saya juga melihat anak-anak lain yang usianya tampak lebih besar.
Anak itu beberapa kali menarik baju saya, berharap mendapatkan uang.
Namun, saya tidak segera memberinya.
Saat itu, saya diliputi kebimbangan. Saya khawatir pemberian uang justru membuatnya menganggap bahwa meminta-minta merupakan cara yang mudah untuk memperoleh sesuatu.
Akan tetapi, setelah meninggalkan tempat tersebut, muncul perasaan bersalah karena saya tidak mengeluarkan sedikit pun uang dari dompet.
Saya pun menyadari bahwa persoalan yang dihadapi anak tersebut tentu tidak sesederhana keputusan memberi atau tidak memberi uang.
Barangkali ada keadaan keluarga, kesulitan ekonomi, atau persoalan lain yang tidak saya ketahui.
Sampai sekarang, pengalaman itu meninggalkan harapan dalam diri saya: semoga anak tersebut mendapatkan kesempatan menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak lain pada umumnya, termasuk belajar, bermain, dan menikmati masa kecilnya.
KM Tilongkabila, Lebih dari Sekadar Kapal Penumpang
Perjalanan bersama KM Tilongkabila memberikan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya.
Di setiap pelabuhan, saya menyaksikan bagaimana kedatangan kapal menggerakkan aktivitas masyarakat.
Bagi penumpang, kapal yang bersandar berarti perjalanan semakin dekat dengan tujuan. Ada yang akan bertemu keluarga, memulai pekerjaan, atau melanjutkan perjalanan menuju daerah lain.
Namun, bagi masyarakat pelabuhan, suara kapal yang mendekat memiliki makna berbeda.
Bagi buruh bagasi, kedatangan kapal berarti kesempatan menawarkan tenaga. Bagi sopir taksi, terbuka peluang mengantarkan penumpang. Sementara bagi pedagang asongan, setiap penumpang yang turun atau naik kapal bisa menjadi pembeli.
Mereka bekerja dengan cara masing-masing, menghadapi persaingan, panas matahari, dan keterbatasan waktu.
Pengalaman selama enam hari perjalanan itu membuat saya memahami bahwa sebuah kapal tidak hanya mengangkut manusia dan barang.
Kapal juga membawa peluang ekonomi, mempertemukan berbagai kehidupan, dan menghidupkan harapan masyarakat di sekitar pelabuhan.
KM Tilongkabila, bagi saya, bukan semata-mata sarana transportasi laut. Di setiap dermaga yang disinggahinya, selalu ada orang-orang yang menunggu, bekerja, dan berharap mendapatkan rezeki.
Ketika kapal kembali meninggalkan pelabuhan, sebagian penumpang melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya. Sementara masyarakat pelabuhan kembali menjalani kehidupan sehari-hari, menunggu kesempatan yang datang bersama kapal selanjutnya.
Dan di sanalah saya melihat makna lain dari perjalanan: bukan hanya tentang tempat yang kita tuju, melainkan juga tentang kehidupan orang-orang yang kita temui sepanjang jalan.
Tentang Penulis
M. Zainul Arifin berasal dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Ia merupakan bagian dari Komunitas Kelas Reading Buya Syafii di Lombok Timur dan saat ini tinggal di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda