Safaa Naila Humam
Di tengah kesibukan, tumpukan tugas, serta tekanan untuk terus produktif, banyak orang mencari tempat singgah untuk menenangkan pikiran. Banyak di antara mereka yang menjadikan coffee shop sebagai tempat untuk beristirahat sejenak dari rutinitas. Aroma kopi yang hangat, suasana ruangan yang tenang, serta sudut-sudut yang nyaman menjadikan tempat ini lebih dari sekadar tempat untuk menikmati minuman atau berkumpul. Bagi sebagian orang, coffee shop menjadi tempat pulang sementara bagi jiwa yang lelah. Fenomena ini kini semakin sering ditemui di berbagai kalangan. Coffee Shop tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat nongkrong, tetapi juga menjadi ruang nyaman untuk menikmati waktu sendiri, menata kembali, atau melepas penat.
Kehadiran coffee shop ini seolah menjadi tempat singgah sementara di tengah aktivitas sehari-hari. Coffee shop kini tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati secangkir kopi. Survei Cimigo (2025) menunjukkan bahwa banyak konsumen memanfaatkan coffee shop untuk bersantai, bekerja, maupun belajar. Fenomena ini juga dirasakan oleh sejumlah mahasiswa perantau yang menjadikan coffee shop sebagai ruang untuk me time dan mencari suasana yang nyaman di tengah kesibukan perkuliahan.
Coffee Shop dan Kenyamanan yang Dicari Anak Kos
Me time memiliki makna yang berbeda bagi setiap individu. Shafa (21), seorang mahasiswa perantau di Jatinangor, memaknai coffee shop sebagai tempat singgah sekaligus ruang yang nyaman untuk meluangkan waktu bagi diri sendiri di tengah kesibukan perkuliahan. Menurutnya, suasana yang tenang dan fasilitas yang tersedia membuat coffee shop menjadi tempat yang ideal untuk beristirahat sejenak, mengerjakan tugas, maupun sekadar menikmati waktu sendiri. Di tengah kesibukan kuliah dan kehidupan sebagai anak kos, Shafa menganggap coffee shop sebagai tempat untuk mengambil jeda dari rutinitas harian.
Menurutnya, suasana yang tenang, nyaman, dan tidak terlalu berisik membuat coffee shop cocok untuk mengerjakan tugas bersama teman maupun sekadar menikmati waktu sendiri. Selain itu, harga yang terjangkau serta tempat yang estetik juga menjadi daya tarik. “biasanya suasana yang tenang, banyak orang boleh laa tapi ga yang terlalu berisik gitu deh, terus juga tempatnya estetik dan nyaman buat nugas, nongkrong atau me time dan harganya terjangkau,” ujarnya. Shafa biasanya memilih coffee shop berdasarkan harga, ketersediaan stop kontak, serta suasana tempat. Ia biasanya menyesuaikan tempat dengan kebutuhan dan suasana hati. Jika ia ingin fokus mengerjakan tugas, ia lebih memilih area indoor ber-AC. Namun saat ingin bersantai atau, ia memilih area outdoor untuk menghirup udara diluar ruangan.
Shafa mengungkapkan bahwa ia lebih sering datang bersama teman sambil mengerjakan tugas. Namun sesekali ia memilih untuk datang sendiri agar tidak merasa jenuh berada di kos terus-menerus. Meski demikian, suasana coffee shop yang ramai terkadang menganggu fokusnya. Karena itu, ia merasa bahwa menentukan tempat yang tepat menjadi hal yang penting. “kaloo lagi butuh tenang mending cari tempat yang ga banyak orang,” ungkapnya. Bagi Shafa, coffee shop bukan sekadar tempat untuk membeli minuman, tetapi juga sebagai tempat untuk bersantai mengisi ulang semangat di tengah kesibukan perkuliahan. Dalam suasana yang tepat, tempat ini dapat menjadi ruang sederhana untuk sejenak beristirahat, menenangkan pikiran, sekaligus kembali produktif.
Ruang Nyaman untuk Belajar dan Menepi Sejenak
Sementara itu, Egga (20), mahasiswa asal Jakarta yang saat ini menempuh pendidikan di Padang. Baginya, coffee shop menawarkan suasana yang nyaman untuk belajar sekaligus menjadi ruang untuk menepi sejenak dari rutinitas yang melelahkan. Egga menjadikan coffee shop sebagai tempat untuk beristirahat sekaligus mencari suasana baru. Menurutnya, kenyamanan tempat menjadi hal utama saat memilih coffee shop. Suasana yang bersih, pencahayaan yang terang, serta fasilitas yang lengkap membuat coffee shop terasa nyaman untuk berlama-lama. “Suasana yang nyaman, bersih, fasilitas bagus, serta pencahayaan yang bagus cerah.” ungkapnya.
Bagi Egga, hal-hal seperti toilet yang terawat dan ruang salat yang memadai juga menjadi faktor penting. Ia percaya bahwa fasilitas tersebut mencerminkan standar kebersihan sebuah coffee shop. Selain itu, ia juga sering datang ke coffee shop untuk belajar serta mengerjakan tugas. Salah satu tempat favoritnya memiliki area khusus yang dinamakan “Ruang Tenang” fasilitas yang mendukung untuk belajar. “Kebetulan di dekat sini ada tempat yang menyediakan "Ruang Tenang" itu untuk belajar dan fasilitasnya sangat okee,” ujarnya. Egga mengungkapkan lebih sering datang sendiri karena merasa lebih nyaman dan bisa menikmati waktu dengan tenang. Meski begitu, ia pernah mengalami momen kelelahan saat terlalu lama belajar di coffee shop. Bagi Egga, kedai kopi bukan sekadar tempat nongkrong, tetapi juga ruang untuk belajar, menenangkan diri, dan melepas penat dari jadwal perkuliahan yang padat.
Kedai Kopi sebagai Ruang Produktif
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Hafiidh (20). Bagi dirinya, coffee shop tidak hanya berfungsi sebagai tempat menikmati kopi, tetapi juga menjadi ruang yang nyaman untuk bekerja, beristirahat, maupun berkumpul bersama teman. Kehadiran suasana yang tenang dan fasilitas yang memadai membuat coffee shop menjadi salah satu tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu. Menurut Hafiidh, suasana yang kondusif serta tempat yang nyaman, terutama area indoor, menjadi hal yang ia nikmati saat mengunjungi coffee shop. Selain itu, ia juga memperhatikan ukuran ruangan serta fasilitas tambahan seperti toilet dan stop kontak. “saat memilih coffee shop, saya biasanya memperhatikan ruang yang tersedia (luas atau tidaknya) dan berbagai fasilitas penunjang seperti toilet dan stop kontak,” ungkapnya.
Hafiidh mengaku bahwa ia lebih sering memilih kedai kopi yang tenang karena biasanya ia datang untuk work from anywhere (WFA). Namun, sesekali ia datang untuk berkumpul bersama teman dan mencari tempat yang lebih ramai untuk merasakan suasana yang berbeda. Walaupun ia lebih senang waktu berbincang dengan teman, tetapi ia seringkali datang sendirian untuk menyelesaikan tugasnya. Bagi Hafiidh, coffee shop bukan sekadar tempat untuk menikmati minuman, tetapi juga menjadi ruang fleksibel untuk bekerja, melepas penat, dan menikmati waktu dengan nyaman.
Dari berbagai cerita di tengah aktivitas yang seakan tidak pernah berhenti, menyediakan waktu untuk diri sendiri sering kali dianggap sebagai hal yang penting. Meluangkan waktu bukan suatu hal yang berlebihan, melainkan suatu keperluan yang sering kali diabaikan. Coffee Shop menjadi tempat lebih dari sekadar tempat untuk membeli inuman. Tempat itu berubah menjadi ruang kecil untuk sejenak berhenti, bernapas, menenangkan pikiran, dan mengisi kembali energi.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk menemukan jeda. Namun, satu hal yang sama adalah ketenangan merupakan sesuatu yang harus diupayakan. bukan hanya dinantikan. Dari sudut sebuah kedai kopi yang sederhana, saya menyadari bahwa merawat diri tidak sebatas beristirahat, tetapi juga tentang menjaga diri tetap baik dalam dunia yang terus bergerak. Karena pada akhirnya, coffee shop bukan hanya sekadar tempat singgah, tetapi ruang ketenangan yang memberikan kenikmatan.
Safaa Naila Humam, pengamat sosial, Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda