JurnalPost.com - Di kalangan Gen Z, coffee shop sekarang bukan cuma menjadi tempat untuk menikmati kopi atau berkumpul bersama teman. Banyak mahasiswa juga menjadikannya pilihan untuk mengerjakan tugas kuliah. Pemandangan laptop terbuka, charger di dekat meja, dan secangkir kopi yang menemani pekerjaan sudah cukup umum ditemui. Kebiasaan ini menarik untuk dibahas karena muncul pertanyaan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa: apakah mengerjakan tugas di coffee shop benar-benar membuat seseorang lebih produktif, atau justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk menikmati suasana?
Memilih kafe sebagai tempat belajar sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Suasana yang berbeda dari kamar atau kos bisa membuat kegiatan belajar terasa tidak monoton. Sebagian mahasiswa merasa lebih bersemangat ketika berada di lingkungan yang nyaman, terutama saat harus menyelesaikan tugas yang menumpuk. Coffee shop juga bisa menjadi tempat untuk berdiskusi dan bertukar ide ketika tugas membutuhkan kerja sama. Artinya, ada alasan yang masuk akal di balik kebiasaan tersebut.
Fenomena ini dapat dikaitkan dengan penelitian Thahira dan rekan-rekannya (2025) berjudul Work From Café: Eksplorasi Place Attachment yang Terbentuk pada Pengunjung Kafe di Kota Malang. Penelitian yang melibatkan empat informan tersebut menemukan bahwa kenyamanan furnitur, pencahayaan, dan kebersihan menjadi faktor fisik yang berperan dalam membentuk keterikatan pengunjung terhadap kafe. Faktor sosial, seperti kesempatan menghabiskan waktu lebih lama, rasa memiliki terhadap tempat, serta perasaan aman dan dihargai, juga ditemukan berperan dalam keterikatan tersebut. Temuan ini menjelaskan mengapa kondisi tempat dan suasana sosial dapat menjadi bagian dari pertimbangan seseorang ketika memilih kafe untuk beraktivitas.
Namun, berada di tempat yang mendukung kegiatan belajar tidak selalu berarti pekerjaan akan selesai dengan baik. Laptop yang terbuka dan buku yang tersusun di atas meja memang memberikan kesan sedang sibuk, tetapi belum tentu menunjukkan hasil yang sebenarnya. Perhatian bisa terbagi antara tugas, percakapan dengan teman, notifikasi ponsel, dan aktivitas pengunjung lain. Tanpa disadari, waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan justru habis untuk hal-hal di luar tujuan awal.
Fenomena ini semakin menarik ketika dikaitkan dengan media sosial. Foto kopi di samping laptop, meja yang tertata rapi, dan suasana kafe yang estetik sering muncul dalam unggahan anak muda. Unggahan seperti itu tidak bisa langsung dianggap sebagai bentuk pamer karena setiap orang punya alasan berbeda ketika membagikan aktivitasnya. Meski begitu, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan kegiatan seseorang. Foto laptop dan secangkir kopi tidak bisa menjadi ukuran apakah tugas benar-benar dikerjakan atau hanya dibuka sesaat untuk mengambil gambar.
Perbedaan antara produktif dan terlihat produktif menjadi hal yang perlu diperhatikan. Produktivitas berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan dan hasil yang berhasil dicapai, sedangkan kesan produktif lebih berhubungan dengan bagaimana aktivitas tersebut terlihat oleh orang lain. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di coffee shop, tetapi pulang dengan tugas yang belum selesai. Sebaliknya, ada juga mahasiswa yang datang dengan tujuan jelas, menyelesaikan pekerjaannya, lalu pulang tanpa merasa perlu mengunggah aktivitasnya ke media sosial.
Kondisi tempat juga memengaruhi kegiatan belajar. Tingkat kebisingan, kenyamanan kursi, pencahayaan, koneksi internet, dan ketersediaan colokan bisa menentukan apakah seseorang mampu berkonsentrasi. Tidak semua mahasiswa nyaman mengerjakan tugas di tengah musik dan percakapan pengunjung lain. Ada yang merasa suasana ramai membantunya tetap bersemangat, tetapi ada pula yang membutuhkan ketenangan agar bisa memahami materi dengan baik. Karena itu, coffee shop tidak bisa dianggap sebagai tempat belajar yang paling cocok untuk semua orang.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah biaya. Menghabiskan waktu di kafe biasanya membuat seseorang perlu membeli makanan atau minuman. Jika dilakukan sesekali, pengeluaran tersebut mungkin tidak menjadi masalah. Namun, apabila hampir setiap tugas dikerjakan di coffee shop, biaya yang terlihat kecil bisa terkumpul menjadi cukup besar dalam sebulan. Bagi mahasiswa yang masih mengandalkan uang bulanan, kebiasaan ini perlu dipertimbangkan agar keinginan mendapatkan suasana nyaman tidak justru membebani pengeluaran.
Sebelum memilih belajar di kafe, mahasiswa bisa menentukan pekerjaan yang ingin diselesaikan, memperkirakan waktu yang dibutuhkan, lalu memeriksa hasilnya sebelum pulang. Cara ini bukan berarti setiap kunjungan harus selalu serius tanpa jeda. Istirahat dan menikmati suasana tetap wajar, selama keduanya tidak mengambil alih tujuan utama. Jika tugas sulit dikerjakan karena tempat terlalu ramai, berpindah ke perpustakaan atau belajar di rumah juga bisa menjadi pilihan. Menyesuaikan tempat dengan kebutuhan membantu mahasiswa menggunakan waktu dan biaya secara lebih sadar.
Pada akhirnya, nugas di coffee shop tidak bisa langsung disebut sebagai kebiasaan yang produktif ataupun sekadar membuang waktu. Semuanya bergantung pada tujuan dan cara seseorang memanfaatkan tempat tersebut. Jika suasana kafe membantu tugas selesai sesuai target, pilihan itu tentu bisa bermanfaat. Namun, jika sebagian besar waktu justru habis untuk mengobrol, membuka media sosial, atau membuat konten, kebiasaan belajar tersebut perlu dievaluasi. Coffee shop boleh menjadi tempat untuk mencari suasana, tetapi hasil pekerjaan tetap menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. Sebab, produktivitas bukan ditentukan oleh tempat seseorang duduk atau foto yang diunggah, melainkan oleh pekerjaan yang benar-benar berhasil diselesaikan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda