Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  2. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  3. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  4. Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  5. Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Nugas di Coffee Shop: Produktif atau Sekadar Mencari Suasana?

Nugas di Coffee Shop: Produktif atau Sekadar Mencari Suasana?

A
Penulis: Athila Chiang
14 Oktober 2026, 11.08 WITA Editor: Danang Purnama
5 menit baca
Cozy Café Study Session
Ilustrasi seorang mahasiswa mengerjakan tugas menggunakan laptop di coffee shop. Suasana kafe yang nyaman menjadi pilihan untuk belajar dan mencari inspirasi, meski efektivitasnya dalam meningkatkan produktivitas masih menjadi perdebatan. (Ilustrasi AI)

JurnalPost.com - Di kalangan Gen Z, coffee shop sekarang bukan cuma menjadi tempat untuk menikmati kopi atau berkumpul bersama teman. Banyak mahasiswa juga menjadikannya pilihan untuk mengerjakan tugas kuliah. Pemandangan laptop terbuka, charger di dekat meja, dan secangkir kopi yang menemani pekerjaan sudah cukup umum ditemui. Kebiasaan ini menarik untuk dibahas karena muncul pertanyaan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa: apakah mengerjakan tugas di coffee shop benar-benar membuat seseorang lebih produktif, atau justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk menikmati suasana?

Memilih kafe sebagai tempat belajar sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Suasana yang berbeda dari kamar atau kos bisa membuat kegiatan belajar terasa tidak monoton. Sebagian mahasiswa merasa lebih bersemangat ketika berada di lingkungan yang nyaman, terutama saat harus menyelesaikan tugas yang menumpuk. Coffee shop juga bisa menjadi tempat untuk berdiskusi dan bertukar ide ketika tugas membutuhkan kerja sama. Artinya, ada alasan yang masuk akal di balik kebiasaan tersebut.

IKLAN

Fenomena ini dapat dikaitkan dengan penelitian Thahira dan rekan-rekannya (2025) berjudul Work From Café: Eksplorasi Place Attachment yang Terbentuk pada Pengunjung Kafe di Kota Malang. Penelitian yang melibatkan empat informan tersebut menemukan bahwa kenyamanan furnitur, pencahayaan, dan kebersihan menjadi faktor fisik yang berperan dalam membentuk keterikatan pengunjung terhadap kafe. Faktor sosial, seperti kesempatan menghabiskan waktu lebih lama, rasa memiliki terhadap tempat, serta perasaan aman dan dihargai, juga ditemukan berperan dalam keterikatan tersebut. Temuan ini menjelaskan mengapa kondisi tempat dan suasana sosial dapat menjadi bagian dari pertimbangan seseorang ketika memilih kafe untuk beraktivitas.

Cinematic Barista Crafting Latte Art
Baca Juga

Kerja Sampingan sebagai Gaya Hidup: Membaca Minat Gen Z pada Dunia Barista Lewat Kacamata Kalcer

Namun, berada di tempat yang mendukung kegiatan belajar tidak selalu berarti pekerjaan akan selesai dengan baik. Laptop yang terbuka dan buku yang tersusun di atas meja memang memberikan kesan sedang sibuk, tetapi belum tentu menunjukkan hasil yang sebenarnya. Perhatian bisa terbagi antara tugas, percakapan dengan teman, notifikasi ponsel, dan aktivitas pengunjung lain. Tanpa disadari, waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan justru habis untuk hal-hal di luar tujuan awal.

Fenomena ini semakin menarik ketika dikaitkan dengan media sosial. Foto kopi di samping laptop, meja yang tertata rapi, dan suasana kafe yang estetik sering muncul dalam unggahan anak muda. Unggahan seperti itu tidak bisa langsung dianggap sebagai bentuk pamer karena setiap orang punya alasan berbeda ketika membagikan aktivitasnya. Meski begitu, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan kegiatan seseorang. Foto laptop dan secangkir kopi tidak bisa menjadi ukuran apakah tugas benar-benar dikerjakan atau hanya dibuka sesaat untuk mengambil gambar.

IKLAN

Perbedaan antara produktif dan terlihat produktif menjadi hal yang perlu diperhatikan. Produktivitas berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan dan hasil yang berhasil dicapai, sedangkan kesan produktif lebih berhubungan dengan bagaimana aktivitas tersebut terlihat oleh orang lain. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di coffee shop, tetapi pulang dengan tugas yang belum selesai. Sebaliknya, ada juga mahasiswa yang datang dengan tujuan jelas, menyelesaikan pekerjaannya, lalu pulang tanpa merasa perlu mengunggah aktivitasnya ke media sosial.

Kondisi tempat juga memengaruhi kegiatan belajar. Tingkat kebisingan, kenyamanan kursi, pencahayaan, koneksi internet, dan ketersediaan colokan bisa menentukan apakah seseorang mampu berkonsentrasi. Tidak semua mahasiswa nyaman mengerjakan tugas di tengah musik dan percakapan pengunjung lain. Ada yang merasa suasana ramai membantunya tetap bersemangat, tetapi ada pula yang membutuhkan ketenangan agar bisa memahami materi dengan baik. Karena itu, coffee shop tidak bisa dianggap sebagai tempat belajar yang paling cocok untuk semua orang.

Ilustrasi produktivitas kerja
Baca Juga

Kerja Keras Tak Lagi Cukup: Gen Z Kurang Produktif atau Sistem Kerja yang Bermasalah?

Hal lain yang tidak kalah penting adalah biaya. Menghabiskan waktu di kafe biasanya membuat seseorang perlu membeli makanan atau minuman. Jika dilakukan sesekali, pengeluaran tersebut mungkin tidak menjadi masalah. Namun, apabila hampir setiap tugas dikerjakan di coffee shop, biaya yang terlihat kecil bisa terkumpul menjadi cukup besar dalam sebulan. Bagi mahasiswa yang masih mengandalkan uang bulanan, kebiasaan ini perlu dipertimbangkan agar keinginan mendapatkan suasana nyaman tidak justru membebani pengeluaran.

Sebelum memilih belajar di kafe, mahasiswa bisa menentukan pekerjaan yang ingin diselesaikan, memperkirakan waktu yang dibutuhkan, lalu memeriksa hasilnya sebelum pulang. Cara ini bukan berarti setiap kunjungan harus selalu serius tanpa jeda. Istirahat dan menikmati suasana tetap wajar, selama keduanya tidak mengambil alih tujuan utama. Jika tugas sulit dikerjakan karena tempat terlalu ramai, berpindah ke perpustakaan atau belajar di rumah juga bisa menjadi pilihan. Menyesuaikan tempat dengan kebutuhan membantu mahasiswa menggunakan waktu dan biaya secara lebih sadar.

Pada akhirnya, nugas di coffee shop tidak bisa langsung disebut sebagai kebiasaan yang produktif ataupun sekadar membuang waktu. Semuanya bergantung pada tujuan dan cara seseorang memanfaatkan tempat tersebut. Jika suasana kafe membantu tugas selesai sesuai target, pilihan itu tentu bisa bermanfaat. Namun, jika sebagian besar waktu justru habis untuk mengobrol, membuka media sosial, atau membuat konten, kebiasaan belajar tersebut perlu dievaluasi. Coffee shop boleh menjadi tempat untuk mencari suasana, tetapi hasil pekerjaan tetap menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. Sebab, produktivitas bukan ditentukan oleh tempat seseorang duduk atau foto yang diunggah, melainkan oleh pekerjaan yang benar-benar berhasil diselesaikan.


Focused Café Co Working Moment
Baca Juga

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Soroti Tantangan Belajar di Era Digital: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kita?

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/nugas-di-coffee-shop-produktif-atau-sekadar-mencari-suasana/98160/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.18 WITA

  • #Coffee Shop
  • #Gen Z
  • #Mahasiswa
  • #Produktivitas
  • #Tugas Kuliah
  • #gaya hidup
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Pilihan Editor

  1. 1 Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan
  2. 2

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  3. 3

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

  4. 4

    Inovasi Kemasan Aktif dan Cerdas Berbasis Biopolimer Umbi-Umbian untuk Memperpanjang Umur Simpan dan Mengurangi Kerugian Pangan Pascapanen

  5. 5

    Inovasi Teh Kulit Jeruk: Pemanfaatan Limbah Pangan Fungsional untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.