JurnalPost.com - Design Thinking adalah proses berulang yang bisa digunakan ketika ingin memahami pengguna, mempertanyakan asumsi, dan mendefinisikan kembali suatu masalah, Jadi ini penting banget bagi kalian yang tertarik di bidang Start Up. Bisa dibilang design thinking ini adalah proses yang bertujuan untuk menemukan solusi terbaik dan tepat sasaran supaya kebutuhan bisnis serta pelanggan terpenuhi. Untuk mendapatkan solusi terbaik tersebut, ada 5 tahapan penting dalam design thinking yaitu:
1. Empathize
Empathize adalah proses mendapatkan pemahaman empati tentang masalah yang coba diselesaikan. Empati ini memungkinkan perancang desain untuk mengesampingkan asumsi mereka tentang dunia, dan fokus pada wawasan tentang pengguna dan kebutuhan mereka. Saat melakukan empathize, kita bisa membuat Empathy Map seperti contoh diatas.
Membuat Empathy Map bisa dilakukan dengan cara mengetahui apa yang dikatakan users terkait produk kita, apa yang dipikirkan users terkait produk kita, apa yang dilakukan users terkait produk kita, dan apa yang dirasakan users terkit produk kita. Serta membuat apa saja pain dan gain dari produk kita. Semua proses mancari informasi ini bisa dilakukan dengan cara research langsung kepada users.
2. Define Semua informasi yang didapatkan selama empathize akan berguna pada tahap define. Di sini informasi tersebut akan dianalisis lebih jauh supaya inti dari masalah yang ada makin jelas. Pada tahap define terdapat 3 tahap yakni:a.
a. Problem Prioritization

Problem Prioritization bisa dilakukan salah satunya dengan menggunakan metode Eisenhower Matrix yaitu cara atau strategi yang akan diterapkan untuk memilih mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu antara hal yang penting dan hal yang mendesak.
b. Membuat User Persona

User persona adalah karakter yang dibuat berdasarkan riset untuk merepresentasikan user yang akan menggunakan servis atau produk kita. User persona dapat membantu kita untuk mengerti lebih dalam mengenai user. Mulai dari kebutuhan mereka, pengalaman, perilaku, hingga tujuan.
c. Membuat Customer Journey Map

Customer Journey Map adalah perjalanan interaksi pengguna dengan perusahaan, produk, atau layanan yang kamu sediakan. Selain itu, Customer Journey Map (CJM) juga bisa didefinisikan sebagai representasi visual yang menggambarkan hubungan dan interaksi customer dengan organisasi/brand tertentu. Dengan ketiga metode tersebut maka kita dapat mengetahui apa yang kita butuhkan, apa yang akan kita lakukan, menentukan sudut pandang dan design awal sebagai ide kita, kita juga dapat memberikan tanggapan yang lebih baik, menangkap yang user pikirkan, tindakan yang dilakukan, dan emosinal user kita.
3. Ideate

Pada tahap ini kita perlu berdiskusi dalam mencari ide-ide untuk memecahkan masalah. Kolaborasi berbagai divisi juga bisa dilakukan supaya makin banyak ide segar bermunculan. Nantinya semua ide yang terkumpul perlu didiskusikan kembali untuk memilih ide yang dirasa paling dekat untuk menjawab masalah. Langkah — langkah yang dilakukan pada tahap ideate ini adalah:
a. Defined Problem Defined Problem dapat dilakukan dengan cara membuat Problem Statement, Point Of View (POV) dan How Might We.
b. Ideation Dalam ideation ini membagikan ide solusi berdasarkan masing — masing how might we yang telah dibuat.
c. Prioritization Solution Prioritization solution ini berguna memilih ide solusi yang paling tepat untuk menjawab masalah yang dirasakan users. Prioritization Solution ini bisa dilakukan dengan metode KANO model, ICE, atau RICE.
d. MVP Plan Membuat mvp plan penting dilakukan untuk semakin memahami MVP yang telah dibuat. 4. Prototype

Prototype adalah bagian penting dari desain pengalaman pengguna (UX) yang biasanya muncul setelah tahapan ideation. Prototype yaitu sebuah metode dalam pengembangan produk dengan cara membuat rancangan, sampel, atau model dengan tujuan pengujian konsep atau proses kerja dari produk. Prototype sendiri bukanlah produk final yang nantinya akan diedarkan. Prototype dibuat untuk kebutuhan awal development software untuk mengetahui apakah fitur dan fungsi dalam program berjalan sesuai dengan kebutuhan yang telah direncanakan. Sehingga pengembang produk dapat mengetahui kekurangan dan kesalahan lebih awal sebelum mengimplementasikan fitur lain ke dalam produk dan merilis produk.
Prototype dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
a. Low Fidelity Prototype Merupakan prototipe yang mempunyai tingkat presisi ataupun tingkat detail yang rendah. Ini merupakan cara cepat untuk membuat visualisasi dari konsep produk. Jenis prototipe ini hanya berfokus pada pengecekan fungsi dan juga interaksi antar screen. Ada 2 cara untuk membuat sebuah Low Fidelity Prototype, yaitu Paper Prototyping dan Clickable Wireframe.
b. High Fidelity Prototype Berfokus untuk menjelaskan interaksi antar screen, dengan mengedepankan tampilan visual dari Interface Design untuk setiap konten yang ada di dalam produk. Desain yang dibuat bisa di-tap atau clickable oleh user ketika melakukan evaluasi. Ada 2 cara untuk membuat sebuah High Fidelity Prototype, yaitu:
• Membuatnya dengan menggunakan software desain atau mockup apps. • Mengubah tampilan Mockup ke dalam struktur Code (Programming) sehingga bisa terbaca oleh browser ataupun aplikasi.
5. Test

Seorang designer secara ketat menguji seluruh produk menggunakan solusi terbaik yang diidentifikasi selama pembuatan prototype (test). Ini adalah tahap akhir dari design thinking. Namun dalam proses berulang, hasil yang dihasilkan dalam tahap pengujian sering digunakan untuk mendefinisikan kembali. Tahap test ini dapat dilakukan salah satunya dengan usability testing menggunakan Maze. Penulis: Britannia Abigail Rosalind
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda