JurnalPost.com - Secara umum usia santri yang sedang menjalani pendidikan di pesantren adalah usia remaja. Jamak diketahui bahwa usia ini sangat rentan dapat terpengaruh oleh hal-hal negative karena masih dalam masa pencarian identitas. Namun disisi yang lain, di usia ini pula bila mendapat pembinaan yang intens dan terarah, maka mereka sangat berpotensi kelak menjadi generasi yan gunggul dan mencerahkan.
Tertuntun dengan hal ini, BMH sebagai lembaga amil zakat berbasis ormas melakukan upaya nyata dan terukur dalam membina dan dan mendidik anak generasi bangsa dengan mendirikan dan mendukung penuh hadirnya pesantren di berbagai wilayah, khususnya di daerah pelosok dan pedalaman di Indonesia.
Dalam hal membangun karakter positf, pendidikan ala Pesantren masih menjadi tempat terbaik. Berbagai hal cara membangun karakter anak dapat dilakukan tanpa tercampur dengan gaya hidup dunia luar. Karakter yang terbangun adalah karakter yang mudah di aplikasikan dalam hidup keseharian. Pendidikan karakter yang menyatukan berbagai sisi kehidupan yang dilingkupi oleh syariat agama dan landasan tauhid yang lurus dan kokoh.
Bila berkunjung ke ratusan pesantren Hidayatullah diseluruh Indonesia, akan ditemui lokasi pesantren yang asri, bersih dan rapi. Lingkungannya ditata dengan sangat baik dan terencana. Lingkungan tersebut dapat terwujud karena partisipasi semua stakeholder internal pesantren, termasuk para santri.
Setiap hari santri diberi peran pada semua aktifitas kebaikan yang dilakukan di pondok, termasuk soal kebersihan lingkungan. Setiap pagi dan sore santri aktif melakukan bersih-bersih, mulai dari menyapu jalan dan halaman, mengumpul lalu membuang sampah ke lokasi yang sudah ditentukan. Kemudian, membersihkan masjid dan asrama. Begitupun toilet dan tempat makan. Mereka dibagi per group sesuai zona tugas masing-masing dan setiap kelompok ditetapkan satu pemimpinnya.
Harapannya kelak mereka memiliki karakter yang peduli pada lingkungan dan terlatih memimpin serta terbiasa dipimpin. Sejatinya pemimpin yang berhasil adalah mereka sebelumnya berhasil dipimpin.
“Begitulah keseharian santri dilingkungan Pesantren Hidayatullah Medan. Setiap pagi dan sore mereka aktif membersihkan lingkungan. Rutinitas ini merupakan upaya pihak pondok untuk membentuk karakter santri agar peduli pada lingkungan dan menjadi memimpin yang bertanggungjawab”, Terang Lukman BAMS, Ketua BMH Sumatera Utara yang biasa mendampingi santri binaan di berbagai kegiatan.
Berbagai aktifitas kebaikan yang dilakukan para santri akan mengalirkan kebaikan kepada kita semua yang telah menitipkan dana zakat, infaq dan sedekah melalui BMH. (Lbams)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda