Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Vision Board, Manifestasi, dan Krisis Makna: Membaca Ulang Visi Hidup di Era Media Sosial

Vision Board, Manifestasi, dan Krisis Makna: Membaca Ulang Visi Hidup di Era Media Sosial

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
16 Agustus 2026, 04.52 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Vision Board
Ilustrasi seorang mahasiswa merenungkan vision board yang dipenuhi berbagai gambaran impian dan gaya hidup, mencerminkan pergulatan antara aspirasi, manifestasi, dan pencarian makna hidup di tengah pengaruh media sosial.

Oleh: Willy Mulyady Firdaus — Mahasiswa Universitas Siber Asia

JurnalPost.com - Setiap pergantian tahun, linimasa media sosial dipenuhi satu ritual yang sama: potongan gambar rumah impian, mobil idaman, tubuh ideal, dan kata-kata motivasi ditempel berdesakan di atas karton berwarna — sebuah “vision board”. Tren ini bukan hal baru, namun memasuki 2026 ia kembali menjadi perbincangan hangat, tidak hanya ramai di TikTok dan Instagram, tetapi juga merambah acara komunitas dan workshop kreatif yang mendorong orang membuatnya bersama-sama. Vision board dijual sebagai alat visual untuk menuntun tindakan dan motivasi sepanjang tahun — sebuah representasi visual dari kata yang sering kita ucapkan tanpa benar-benar merenunginya: visi.

IKLAN

Fenomena ini menarik untuk dibaca lebih dalam, sebab di baliknya tersembunyi persoalan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar tren dekorasi musiman. Ia menyentuh langsung dua hal yang menjadi inti kajian Human Literacy: bagaimana manusia memahami dirinya sendiri (self concept), dan bagaimana manusia merumuskan arah hidupnya (vision and mission). Pertanyaannya bukan apakah vision board itu berguna atau tidak, melainkan: visi macam apa yang sedang kita rayakan hari ini — visi yang lahir dari perenungan mendalam, atau sekadar wishlist yang dipercantik agar layak diunggah?

HUMAN LITERACY
Baca Juga

KETIKA AI BISA MENIRU KITA: HUMAN LITERACY SEBAGAI BENTENG DI ERA DEEPFAKE DAN ALGORITMA

Ketika Visi Direduksi Menjadi Kolase

Di balik popularitasnya, vision board erat berkelindan dengan budaya “manifestasi” yang meyakini bahwa memvisualisasikan sesuatu secara intens dapat menariknya menjadi kenyataan. Kreator konten berlomba membagikan cara membuat vision board digital, teknik afirmasi harian, hingga meditasi terpandu untuk memperkuat “energi” di baliknya. Sepintas, ini terdengar seperti pemberdayaan diri yang positif. Namun jika ditelisik dari perspektif estetika humanisme, ada pergeseran makna yang patut diwaspadai: visi — yang semestinya lahir dari proses reflektif tentang nilai, makna, dan tujuan eksistensial — disederhanakan menjadi kumpulan gambar rumah, mobil, dan angka rekening, lalu ditempel di karton seolah keinginan material otomatis setara dengan arah hidup.

Fenomena ini bahkan melahirkan kritik dari dalam komunitasnya sendiri. Muncul unggahan-unggahan yang mempertanyakan sisi gelap dari “vision board party”, mulai dari tekanan sosial untuk tampil paling ambisius di depan teman-teman, hingga kekecewaan tahunan karena target yang ditempel tidak pernah benar-benar tercapai. Ironisnya, alih-alih menjadi kompas yang menenangkan, vision board justru dapat berubah menjadi sumber kecemasan baru — sebuah daftar kegagalan yang dipajang di dinding kamar.

Visi yang autentik tidak lahir dari kolase gambar, melainkan dari keberanian bertanya: untuk apa sebenarnya saya hidup dan bertindak?

Doomscrolling
Baca Juga

KETIKA SCROLL TIDAK BERUJUNG: MENJAGA MINDFULNESS DAN FOCUS DI ERA DIGITAL

IKLAN

Self Concept: Visi Sebagai Cermin, Bukan Topeng

Dalam kajian self concept, cara seseorang memandang dirinya sangat menentukan bagaimana ia menyusun tujuan hidupnya. Persoalannya, banyak vision board hari ini justru diisi bukan oleh apa yang benar-benar diinginkan pembuatnya, melainkan oleh apa yang dianggap “pantas diinginkan” menurut standar media sosial: rumah bergaya Pinterest, tubuh yang difilter sempurna, gaya hidup yang sebenarnya bukan cerminan nilai pribadi, melainkan cerminan algoritma. Ketika visi disusun dari luar diri, bukan dari proses mengenal diri yang jujur, maka yang lahir bukanlah visi, melainkan topeng aspirasi orang lain yang dikenakan tanpa disadari.

Vision Tanpa Mission Hanyalah Angan

Persoalan kedua terletak pada hilangnya pasangan sejati dari visi, yaitu misi. Vision board pada umumnya berhenti pada gambar hasil akhir — rumah, mobil, jumlah tabungan — tanpa memuat langkah, nilai, atau alasan mendalam mengapa hal tersebut layak diperjuangkan. Padahal, dalam kerangka Human Literacy, visi dan misi adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan: visi menjawab “mau menjadi apa saya”, sedangkan misi menjawab “bagaimana dan mengapa saya menempuh jalan itu”. Tanpa misi, visi hanyalah angan-angan indah yang mudah luntur begitu motivasi awal tahun mulai memudar di bulan Februari.

Doomscrolling
Baca Juga

Anatomi Lupa: Catatan tentang Doomscrolling dan Hilangnya Kemampuan Merindukan

Di sinilah pentingnya membedakan antara manifestasi sebagai ritual estetis dan visi sebagai proses eksistensial. Manusia yang benar-benar memahami dirinya tidak berhenti pada menempelkan gambar, melainkan bertanya lebih jauh: nilai apa yang ingin saya hidupi, kontribusi apa yang ingin saya berikan, dan mengapa arah ini bermakna bagi saya, bukan bagi tampilan linimasa saya. Pertanyaan semacam ini menuntut mindfulness and focus — kesadaran penuh untuk berhenti sejenak dari kebisingan tren, dan benar-benar hadir dalam proses merenungkan arah hidup sendiri.

Merebut Kembali Makna Visi

Bukan berarti vision board sepenuhnya tidak berguna. Sebagai alat bantu visual, ia tetap dapat menjadi pengingat yang menyenangkan, selama disusun setelah proses refleksi yang jujur, bukan sebagai pengganti refleksi itu sendiri. Vision board yang sehat semestinya lahir dari pertanyaan reflektif tentang diri dan nilai, disertai ruang kosong yang menandakan kesempatan tak terduga dan pertumbuhan yang belum terbayangkan, bukan dipenuhi sesak oleh daftar kepemilikan yang menekan.

Pada akhirnya, fenomena vision board mengajarkan kita satu hal penting dari perspektif estetika humanisme: keindahan sejati sebuah visi tidak terletak pada kerapian kolasenya, melainkan pada kejujuran proses yang melahirkannya. Generasi muda hari ini tidak kekurangan alat untuk memvisualisasikan mimpi — mulai dari aplikasi digital hingga karton dan gunting. Yang justru langka adalah keberanian untuk berhenti sejenak, menatap ke dalam diri, dan bertanya dengan jujur: visi ini benar-benar milik saya, atau sekadar milik linimasa yang saya scroll setiap malam? Menjawab pertanyaan itu, bukan menempel gambar rumah impian, adalah langkah pertama yang sesungguhnya menuju visi dan misi hidup yang autentik.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/vision-board-manifestasi-dan-krisis-makna-membaca-ulang-visi-hidup-di-era-media-sosial/97163/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.03 WITA

  • #Universitas Siber Asia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pilihan Editor

  1. 1 Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?
  2. 2

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  4. 4

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

  5. 5

    Perpres Ojol: Benarkah Pengemudi Sudah Mendapat Perlindungan yang Adil?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.