Oleh: Willy Mulyady Firdaus — Mahasiswa Universitas Siber Asia
JurnalPost.com - Setiap pergantian tahun, linimasa media sosial dipenuhi satu ritual yang sama: potongan gambar rumah impian, mobil idaman, tubuh ideal, dan kata-kata motivasi ditempel berdesakan di atas karton berwarna — sebuah “vision board”. Tren ini bukan hal baru, namun memasuki 2026 ia kembali menjadi perbincangan hangat, tidak hanya ramai di TikTok dan Instagram, tetapi juga merambah acara komunitas dan workshop kreatif yang mendorong orang membuatnya bersama-sama. Vision board dijual sebagai alat visual untuk menuntun tindakan dan motivasi sepanjang tahun — sebuah representasi visual dari kata yang sering kita ucapkan tanpa benar-benar merenunginya: visi.
Fenomena ini menarik untuk dibaca lebih dalam, sebab di baliknya tersembunyi persoalan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar tren dekorasi musiman. Ia menyentuh langsung dua hal yang menjadi inti kajian Human Literacy: bagaimana manusia memahami dirinya sendiri (self concept), dan bagaimana manusia merumuskan arah hidupnya (vision and mission). Pertanyaannya bukan apakah vision board itu berguna atau tidak, melainkan: visi macam apa yang sedang kita rayakan hari ini — visi yang lahir dari perenungan mendalam, atau sekadar wishlist yang dipercantik agar layak diunggah?
Ketika Visi Direduksi Menjadi Kolase
Di balik popularitasnya, vision board erat berkelindan dengan budaya “manifestasi” yang meyakini bahwa memvisualisasikan sesuatu secara intens dapat menariknya menjadi kenyataan. Kreator konten berlomba membagikan cara membuat vision board digital, teknik afirmasi harian, hingga meditasi terpandu untuk memperkuat “energi” di baliknya. Sepintas, ini terdengar seperti pemberdayaan diri yang positif. Namun jika ditelisik dari perspektif estetika humanisme, ada pergeseran makna yang patut diwaspadai: visi — yang semestinya lahir dari proses reflektif tentang nilai, makna, dan tujuan eksistensial — disederhanakan menjadi kumpulan gambar rumah, mobil, dan angka rekening, lalu ditempel di karton seolah keinginan material otomatis setara dengan arah hidup.
Fenomena ini bahkan melahirkan kritik dari dalam komunitasnya sendiri. Muncul unggahan-unggahan yang mempertanyakan sisi gelap dari “vision board party”, mulai dari tekanan sosial untuk tampil paling ambisius di depan teman-teman, hingga kekecewaan tahunan karena target yang ditempel tidak pernah benar-benar tercapai. Ironisnya, alih-alih menjadi kompas yang menenangkan, vision board justru dapat berubah menjadi sumber kecemasan baru — sebuah daftar kegagalan yang dipajang di dinding kamar.
Visi yang autentik tidak lahir dari kolase gambar, melainkan dari keberanian bertanya: untuk apa sebenarnya saya hidup dan bertindak?
Self Concept: Visi Sebagai Cermin, Bukan Topeng
Dalam kajian self concept, cara seseorang memandang dirinya sangat menentukan bagaimana ia menyusun tujuan hidupnya. Persoalannya, banyak vision board hari ini justru diisi bukan oleh apa yang benar-benar diinginkan pembuatnya, melainkan oleh apa yang dianggap “pantas diinginkan” menurut standar media sosial: rumah bergaya Pinterest, tubuh yang difilter sempurna, gaya hidup yang sebenarnya bukan cerminan nilai pribadi, melainkan cerminan algoritma. Ketika visi disusun dari luar diri, bukan dari proses mengenal diri yang jujur, maka yang lahir bukanlah visi, melainkan topeng aspirasi orang lain yang dikenakan tanpa disadari.
Vision Tanpa Mission Hanyalah Angan
Persoalan kedua terletak pada hilangnya pasangan sejati dari visi, yaitu misi. Vision board pada umumnya berhenti pada gambar hasil akhir — rumah, mobil, jumlah tabungan — tanpa memuat langkah, nilai, atau alasan mendalam mengapa hal tersebut layak diperjuangkan. Padahal, dalam kerangka Human Literacy, visi dan misi adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan: visi menjawab “mau menjadi apa saya”, sedangkan misi menjawab “bagaimana dan mengapa saya menempuh jalan itu”. Tanpa misi, visi hanyalah angan-angan indah yang mudah luntur begitu motivasi awal tahun mulai memudar di bulan Februari.
Di sinilah pentingnya membedakan antara manifestasi sebagai ritual estetis dan visi sebagai proses eksistensial. Manusia yang benar-benar memahami dirinya tidak berhenti pada menempelkan gambar, melainkan bertanya lebih jauh: nilai apa yang ingin saya hidupi, kontribusi apa yang ingin saya berikan, dan mengapa arah ini bermakna bagi saya, bukan bagi tampilan linimasa saya. Pertanyaan semacam ini menuntut mindfulness and focus — kesadaran penuh untuk berhenti sejenak dari kebisingan tren, dan benar-benar hadir dalam proses merenungkan arah hidup sendiri.
Merebut Kembali Makna Visi
Bukan berarti vision board sepenuhnya tidak berguna. Sebagai alat bantu visual, ia tetap dapat menjadi pengingat yang menyenangkan, selama disusun setelah proses refleksi yang jujur, bukan sebagai pengganti refleksi itu sendiri. Vision board yang sehat semestinya lahir dari pertanyaan reflektif tentang diri dan nilai, disertai ruang kosong yang menandakan kesempatan tak terduga dan pertumbuhan yang belum terbayangkan, bukan dipenuhi sesak oleh daftar kepemilikan yang menekan.
Pada akhirnya, fenomena vision board mengajarkan kita satu hal penting dari perspektif estetika humanisme: keindahan sejati sebuah visi tidak terletak pada kerapian kolasenya, melainkan pada kejujuran proses yang melahirkannya. Generasi muda hari ini tidak kekurangan alat untuk memvisualisasikan mimpi — mulai dari aplikasi digital hingga karton dan gunting. Yang justru langka adalah keberanian untuk berhenti sejenak, menatap ke dalam diri, dan bertanya dengan jujur: visi ini benar-benar milik saya, atau sekadar milik linimasa yang saya scroll setiap malam? Menjawab pertanyaan itu, bukan menempel gambar rumah impian, adalah langkah pertama yang sesungguhnya menuju visi dan misi hidup yang autentik.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda