Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Di Antara Layar dan Kenyataan: Ketika Media Sosial Membentuk Standar Hubungan

Di Antara Layar dan Kenyataan: Ketika Media Sosial Membentuk Standar Hubungan

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
12 Agustus 2026, 22.28 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Di Antara Layar dan Kenyataan

Penulis: Azzahra Aqilah Putri Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia

"Kalau dia sayang, pasti ngasih bunga setiap bulan." "Kalau dia green flag, pasti selalu antar-jemput." "Kalau dia benar-benar cinta, pasti dia upload kamu."

IKLAN

Kalimat-kalimat seperti itu rasanya sudah menjadi bagian dari kehidupan di media sosial. Setiap hari kita disuguhi video, unggahan, atau cerita tentang pasangan yang dianggap romantis, mulai dari hadiah kecil, makan malam mewah, hingga unggahan penuh kasih sayang. Lama-kelamaan, muncul pertanyaan: apakah itu memang gambaran hubungan yang ideal, atau hanya standar yang terbentuk dari apa yang terus kita lihat?

Ahmad Naufal Fauzan
Baca Juga

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Tanpa disadari, banyak orang mulai menjadikan gambaran tersebut sebagai tolok ukur dalam menjalani hubungan. Padahal, standar itu belum tentu lahir dari kebutuhan, nilai, atau kesepakatan bersama pasangan. Bisa jadi, standar tersebut terbentuk karena kita terus-menerus terpapar pada representasi hubungan yang sama di media sosial.

Akibatnya, hubungan yang sedang dijalani perlahan mulai dibandingkan dengan hubungan orang lain. Ketika pasangan tidak melakukan hal-hal yang sering muncul di media sosial, muncul pertanyaan seperti, "Kenapa ya pasanganku tidak pernah melakukan hal itu? Apa dia tidak sayang sama aku?" Padahal, sebelumnya hal-hal tersebut mungkin tidak pernah dianggap sebagai masalah. Gambaran hubungan romantis di media sosial perlahan berubah menjadi standar baru yang dianggap perlu dipenuhi.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Social Learning Theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, manusia belajar melalui proses mengamati perilaku orang lain (observational learning). Seseorang tidak harus mengalami sesuatu secara langsung untuk mempelajarinya. Dengan melihat perilaku yang sama berulang kali, seseorang dapat menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.

Dalam konteks media sosial, hubungan romantis yang terus ditampilkan menjadi sumber pembelajaran mengenai bagaimana sebuah hubungan "seharusnya" dijalani. Semakin sering seseorang melihat pasangan saling memberi hadiah, mengunggah foto bersama, atau membuat kejutan romantis, semakin besar kemungkinan ia menganggap perilaku tersebut sebagai ciri hubungan yang ideal.

Mahasiswa melakukan transaksi mandiri menggunakan QRIS dan kotak pembayaran tunai di Kantin Kejujuran kampus.
Baca Juga

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Setelah standar itu terbentuk, muncul proses berikutnya: membandingkan. Cara pasangan menunjukkan kasih sayang, memberi perhatian, atau berkomunikasi mulai dinilai menggunakan ukuran yang berasal dari media sosial. Seseorang mungkin berpikir, "Kenapa hubungan orang lain terlihat lebih romantis?" atau "Mengapa pasanganku tidak pernah melakukan hal seperti itu?" Tanpa disadari, kualitas hubungan mulai diukur berdasarkan potongan kehidupan orang lain yang muncul di layar.

Kecenderungan tersebut dijelaskan oleh Social Comparison Theory dari Leon Festinger. Menurut Festinger, manusia memiliki dorongan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain sebagai cara mengevaluasi diri. Dalam konteks hubungan romantis, kecenderungan ini membuat seseorang menggunakan hubungan orang lain sebagai acuan untuk menilai apakah hubungannya sudah cukup baik atau belum.

Masalahnya, perbandingan sering kali dilakukan terhadap hubungan yang hanya menampilkan sisi terbaiknya. Ketika seseorang terus-menerus membandingkan hubungannya dengan gambaran yang tampak sempurna di media sosial, ia bisa mulai merasa hubungannya kurang romantis, kurang membahagiakan, atau bahkan kurang layak dipertahankan. Perasaan tersebut dapat memunculkan ekspektasi yang semakin tinggi, rasa iri, ketidakpuasan, hingga konflik yang sebenarnya berawal dari standar yang tidak pernah disepakati bersama pasangan.

Namun, muncul pertanyaan yang lebih mendasar. Jika media sosial terus menampilkan hubungan romantis melalui hadiah, liburan, atau unggahan penuh kasih sayang, apakah itu benar-benar merepresentasikan kenyataan?

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya
Baca Juga

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

IKLAN

Kita jarang melihat pertengkaran, kesalahpahaman, proses saling memahami, atau masa-masa sulit yang juga merupakan bagian dari sebuah hubungan. Media sosial lebih sering menjadi tempat membagikan momen terbaik daripada dinamika yang terjadi di balik layar.

Melalui konsep hiperrealitas, Jean Baudrillard menjelaskan bahwa manusia modern semakin banyak berinteraksi dengan representasi yang tampak nyata hingga perlahan sulit membedakan mana kenyataan dan mana konstruksi. Representasi tersebut akhirnya terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri.

Dalam konteks hubungan romantis, apa yang terus kita lihat di media sosial dapat perlahan dianggap sebagai gambaran hubungan yang ideal. Padahal, yang tampil di layar hanyalah potongan momen yang telah dipilih, disunting, dan dipublikasikan. Hubungan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks daripada sekadar foto, video, atau unggahan berdurasi beberapa detik.

Di sinilah psikologi dan filsafat saling melengkapi. Psikologi membantu menjelaskan bagaimana seseorang belajar dari lingkungannya dan mengapa ia terdorong membandingkan hubungannya dengan hubungan orang lain. Sementara itu, filsafat mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana sebenarnya standar hubungan ideal itu berasal?

Apakah standar tersebut benar-benar lahir dari pengalaman dan kebutuhan kita sendiri, atau justru dibentuk oleh representasi hubungan yang terus-menerus kita konsumsi di media sosial? Jika yang kita lihat hanyalah versi terbaik yang dipilih untuk dipublikasikan, mungkinkah selama ini kita sedang mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ada?

Pada akhirnya, mungkin yang perlu dievaluasi bukanlah apakah hubungan kita sudah memenuhi standar media sosial, melainkan apakah hubungan tersebut sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan kesepakatan yang dibangun bersama pasangan. Sebab, hubungan yang sehat tidak selalu tampak sempurna di layar. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memberi rasa aman, saling menghargai, mampu berkomunikasi ketika menghadapi masalah, dan menyediakan ruang bagi kedua belah pihak untuk terus bertumbuh.

Barangkali, hubungan yang paling sehat bukanlah hubungan yang paling sering dipamerkan, melainkan hubungan yang tetap bertahan dan berkembang ketika kamera dimatikan.

Referensi :

Fakhri N., Konsep Dasar dan Implikasi Teori Perbandingan Sosial. (2017). Jurnal Psikologi Talenta, 3(1). https://doi.org/10.26858/talenta.v3i1.13066

Kamaruddin S. A, Arlin A., & Andi G. R. C. Komodifikasi Media Sosial Dalam Perspektif Teori Jean Baudrillard : Studi Kasus Tiktok Indonesia. (2024). Bosowa Journal of Education, 5(1), 177-180. https://doi.org/10.35965/bje.v5i1.5462

McLeod, S. (2025, October 16). Albert Bandura’s social learning theory. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/bandura.html

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/di-antara-layar-dan-kenyataan-ketika-media-sosial-membentuk-standar-hubungan/96965/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.03 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

Mengurangi Risiko Penggunaan Plastik Kresek Hitam pada Pedagang Kuliner Lokal

Jika Bisa Mengulang Hidup, Akankah Kita Memilih Jalan yang Sama?

Moral Dialektika sebagai Ruang Kontemplasi Gerakan Intelektual Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

Pilihan Editor

  1. 1 Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan
  2. 2

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

  3. 3

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  4. 4

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  5. 5

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.