Oleh: Rama Eka Yudha Program Studi PJJ Informatika Universitas Siber Asia
JurnalPost.com - Jam dua pagi, ibu jari saya masih bekerja. Naik, naik, naik. Layar menyala biru di kamar gelap, dan setiap kali video berganti, dunia sedikit bergeser: orang asing menari, anak kucing jatuh, berita berdarah, iklan merayu, lalu kembali ke orang asing menari. Saya tidak memilih satu pun dari itu. Tetapi saya tidak bisa berhenti. Di luar, kucing tetangga mengeong. Saya tidak mendengarnya. Saya sudah lupa bahwa saya punya tubuh yang duduk di kursi, bahwa tenggorokan saya haus, bahwa esok pagi ada pekerjaan yang menunggu. Yang ada hanyalah jempol, layar, dan perasaan aneh yang tidak bisa saya namai - perasaan sudah kenyang tetapi tetap lapar.
Saya menyebutnya lupa. Bukan lupa nama atau alamat, melainkan lupa bahwa saya sedang hidup. Dan saya tidak sendirian. Fenomena ini punya nama yang lucu dan sedih sekaligus: doomscrolling. Di Indonesia, kita mengenalnya sebagai “scroll tanpa akhir”, kebiasaan menyapu layar tanpa tujuan, menyerap konten demi konten sampai waktu hilang dan rasa ikut hilang. Belakangan muncul pula istilah brain rot, konten yang begitu dangkal dan berulang sehingga otak terasa membusuk pelan-pelan, seperti buah yang dibiarkan di luar lemari es. Anak-anak SMA membuat lelucon tentangnya. Orang dewasa membuat video tentangnya. Semua orang tahu, semua orang ketawa, lalu kembali menggeser layar.
Dari sudut pandang estetika humanisme, yang menempatkan martabat manusia sebagai pusat, fenomena ini lebih dari sekadar kebiasaan buruk. Ia adalah pencurian. Yang dicuri bukan waktu, sebab waktu tetap berjalan dengan atau tanpa kita. Yang dicuri adalah perhatian - empat huruf yang sebetulnya merupakan kemampuan paling manusiaawi yang kita miliki. Hewan mungkin bisa lapar dan kenyang, tetapi hanya manusia yang bisa memilih untuk memperhatikan sesuatu dengan penuh, untuk tinggal sejenak pada satu wajah, satu kalimat, satu langit sore. Perhatian adalah pintu menuju makna. Tanpa perhatian, keindahan menjadi tidak mungkin, cinta menjadi tidak mungkin, bahkan rasa sakit pun menjadi datar.
Saya mulai curiga bahwa ekonomi perhatian yang dibangun oleh platform digital tidak bekerja untuk saya, melainkan bekerja pada saya. Saya adalah produk, dan setiap detik saya terpaku pada layar adalah minyak yang dipompa dari sumur jiwa. Algoritma tidak berniat jahat; ia hanya tidak tahu bahwa saya manusia. Ia tahu saya sebagai pola klik, bukan sebagai makhluk yang punya ibu yang menua, punya kawan yang sedang sedih, punya buku yang setengah dibaca di lemari. Maka ketika algoritma menggeser saya dari satu konten ke konten lain dengan kecepatan kilat, ia sebenarnya mengajari saya satu hal: bahwa tidak ada yang layak dihentikan, bahwa segala sesuatu bisa dilewatkan, bahwa bertahan adalah tindakan yang membosankan.
Tetapi di situlah humanisme berbicara lirih: bertahan justru adalah tindakan yang paling manusiaawi. Mindfulness, dalam arti yang paling sederhana, bukan meditasi mistik di puncak gunung. Ia hanyalah keberanian untuk diam di satu tempat dengan satu hal, tanpa lari. Memperhatikan nafas, memperhatikan kopi yang sedang dingin, memperhatikan istri yang sedang menceritakan harinya. Saat saya menulis kalimat ini, jempol saya bergerak sendiri ke layar ponsel, dan saya harus menahannya. Perlawanan itu kecil, tetapi nyata. Ia adalah latihan kembali ke tubuh, kembali ke detik ini, kembali ke kenyataan bahwa saya tidak dilahirkan untuk menjadi konsumen perhatian, melainkan untuk menjadi penjaga perhatian.
Saya percaya fokus adalah bentuk cinta yang paling jujur. Ketika saya memberi perhatian penuh kepada seseorang, saya memberinya potongan hidup saya yang tidak bisa diulang. Itulah sebabnya anak yang diceritakan sambil orang tuanya menatap layar merasa ditinggalkan, meski tidak ada yang pergi. Itulah sebabnya sahabat yang curhat sementara kita mengecek notifikasi merasa ditolak, meski kita mengangguk. Perhatian adalah mata uang yang lebih sakral daripada uang; ia tidak bisa disimpan, hanya bisa diberikan atau dibuang. Generasi kita mungkin mewarisi planet yang memanas, tetapi warisan yang lebih sunyi adalah kemampuan untuk menatap sesuatu lebih dari tiga belas detik tanpa gelisah.
Maka saya mulai berlatih hal-hal kecil yang bodoh saja. Mematikan notifikasi saat makan. Membaca buku cetak yang tidak bisa di-scroll. Berjalan tanpa earphone, membiarkan suara lampu pengap kelapa sawit dan obrolan tetangga masuk ke telinga. Saya tidak menjadi orang suci. Saya masih tergelincir ke layar pada malam-malam yang sepi. Tetapi setiap kali saya sadar, saya mengembalikan diri ke napas, ke kaki yang menyentuh lantai, ke udara yang masuk ke paru-paru. Itu cukup. Itu lebih dari cukup. Sebab estetika humanisme tidak menuntut kesempurnaan; ia hanya meminta kejujuran untuk kembali, lagi dan lagi, ke tempat di mana manusia seharusnya berada: di sini, sekarang, dengan orang-orang yang dicintai, dengan pekerjaan yang dihormati, dengan dunia yang terlalu indah untuk dilewati begitu cepat.
Nanti malam, sebelum tidur, saya akan meletakkan ponsel di luar kamar. Bukan karena saya takut pada layar, melainkan karena saya ingin mengingat bagaimana rasanya mengantuk tanpa gangguan, bagaimana rasanya rindu pada esok hari tanpa harus menggulir lidah pada berita yang tidak penting. Saya ingin kembali bisa merindukan. Sebab kemampuan merindukan, seperti kemampuan memperhatikan, hanya dimiliki oleh mereka yang masih ingat bahwa hidup adalah sesuatu yang terjadi di antara konten, bukan di dalamnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda