Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Anatomi Lupa: Catatan tentang Doomscrolling dan Hilangnya Kemampuan Merindukan

Anatomi Lupa: Catatan tentang Doomscrolling dan Hilangnya Kemampuan Merindukan

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
03 Agustus 2026, 01.24 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Doomscrolling

Oleh: Rama Eka Yudha Program Studi PJJ Informatika Universitas Siber Asia

JurnalPost.com - Jam dua pagi, ibu jari saya masih bekerja. Naik, naik, naik. Layar menyala biru di kamar gelap, dan setiap kali video berganti, dunia sedikit bergeser: orang asing menari, anak kucing jatuh, berita berdarah, iklan merayu, lalu kembali ke orang asing menari. Saya tidak memilih satu pun dari itu. Tetapi saya tidak bisa berhenti. Di luar, kucing tetangga mengeong. Saya tidak mendengarnya. Saya sudah lupa bahwa saya punya tubuh yang duduk di kursi, bahwa tenggorokan saya haus, bahwa esok pagi ada pekerjaan yang menunggu. Yang ada hanyalah jempol, layar, dan perasaan aneh yang tidak bisa saya namai - perasaan sudah kenyang tetapi tetap lapar.

IKLAN

Saya menyebutnya lupa. Bukan lupa nama atau alamat, melainkan lupa bahwa saya sedang hidup. Dan saya tidak sendirian. Fenomena ini punya nama yang lucu dan sedih sekaligus: doomscrolling. Di Indonesia, kita mengenalnya sebagai “scroll tanpa akhir”, kebiasaan menyapu layar tanpa tujuan, menyerap konten demi konten sampai waktu hilang dan rasa ikut hilang. Belakangan muncul pula istilah brain rot, konten yang begitu dangkal dan berulang sehingga otak terasa membusuk pelan-pelan, seperti buah yang dibiarkan di luar lemari es. Anak-anak SMA membuat lelucon tentangnya. Orang dewasa membuat video tentangnya. Semua orang tahu, semua orang ketawa, lalu kembali menggeser layar.

60091
Baca Juga

Satu Negara, Beragam Pengalaman: Memahami Kesehatan Mental dalam Perspektif Multikultural di Tengah Dinamika Sosial-Politik

Dari sudut pandang estetika humanisme, yang menempatkan martabat manusia sebagai pusat, fenomena ini lebih dari sekadar kebiasaan buruk. Ia adalah pencurian. Yang dicuri bukan waktu, sebab waktu tetap berjalan dengan atau tanpa kita. Yang dicuri adalah perhatian - empat huruf yang sebetulnya merupakan kemampuan paling manusiaawi yang kita miliki. Hewan mungkin bisa lapar dan kenyang, tetapi hanya manusia yang bisa memilih untuk memperhatikan sesuatu dengan penuh, untuk tinggal sejenak pada satu wajah, satu kalimat, satu langit sore. Perhatian adalah pintu menuju makna. Tanpa perhatian, keindahan menjadi tidak mungkin, cinta menjadi tidak mungkin, bahkan rasa sakit pun menjadi datar.

IKLAN

Saya mulai curiga bahwa ekonomi perhatian yang dibangun oleh platform digital tidak bekerja untuk saya, melainkan bekerja pada saya. Saya adalah produk, dan setiap detik saya terpaku pada layar adalah minyak yang dipompa dari sumur jiwa. Algoritma tidak berniat jahat; ia hanya tidak tahu bahwa saya manusia. Ia tahu saya sebagai pola klik, bukan sebagai makhluk yang punya ibu yang menua, punya kawan yang sedang sedih, punya buku yang setengah dibaca di lemari. Maka ketika algoritma menggeser saya dari satu konten ke konten lain dengan kecepatan kilat, ia sebenarnya mengajari saya satu hal: bahwa tidak ada yang layak dihentikan, bahwa segala sesuatu bisa dilewatkan, bahwa bertahan adalah tindakan yang membosankan.

Tetapi di situlah humanisme berbicara lirih: bertahan justru adalah tindakan yang paling manusiaawi. Mindfulness, dalam arti yang paling sederhana, bukan meditasi mistik di puncak gunung. Ia hanyalah keberanian untuk diam di satu tempat dengan satu hal, tanpa lari. Memperhatikan nafas, memperhatikan kopi yang sedang dingin, memperhatikan istri yang sedang menceritakan harinya. Saat saya menulis kalimat ini, jempol saya bergerak sendiri ke layar ponsel, dan saya harus menahannya. Perlawanan itu kecil, tetapi nyata. Ia adalah latihan kembali ke tubuh, kembali ke detik ini, kembali ke kenyataan bahwa saya tidak dilahirkan untuk menjadi konsumen perhatian, melainkan untuk menjadi penjaga perhatian.

Saya percaya fokus adalah bentuk cinta yang paling jujur. Ketika saya memberi perhatian penuh kepada seseorang, saya memberinya potongan hidup saya yang tidak bisa diulang. Itulah sebabnya anak yang diceritakan sambil orang tuanya menatap layar merasa ditinggalkan, meski tidak ada yang pergi. Itulah sebabnya sahabat yang curhat sementara kita mengecek notifikasi merasa ditolak, meski kita mengangguk. Perhatian adalah mata uang yang lebih sakral daripada uang; ia tidak bisa disimpan, hanya bisa diberikan atau dibuang. Generasi kita mungkin mewarisi planet yang memanas, tetapi warisan yang lebih sunyi adalah kemampuan untuk menatap sesuatu lebih dari tiga belas detik tanpa gelisah.

Midnight Doomscrolling in a Tangled Mind
Baca Juga

Brain Rot: Ketika Otak Terjebak dalam Doomscrolling

Maka saya mulai berlatih hal-hal kecil yang bodoh saja. Mematikan notifikasi saat makan. Membaca buku cetak yang tidak bisa di-scroll. Berjalan tanpa earphone, membiarkan suara lampu pengap kelapa sawit dan obrolan tetangga masuk ke telinga. Saya tidak menjadi orang suci. Saya masih tergelincir ke layar pada malam-malam yang sepi. Tetapi setiap kali saya sadar, saya mengembalikan diri ke napas, ke kaki yang menyentuh lantai, ke udara yang masuk ke paru-paru. Itu cukup. Itu lebih dari cukup. Sebab estetika humanisme tidak menuntut kesempurnaan; ia hanya meminta kejujuran untuk kembali, lagi dan lagi, ke tempat di mana manusia seharusnya berada: di sini, sekarang, dengan orang-orang yang dicintai, dengan pekerjaan yang dihormati, dengan dunia yang terlalu indah untuk dilewati begitu cepat.

Nanti malam, sebelum tidur, saya akan meletakkan ponsel di luar kamar. Bukan karena saya takut pada layar, melainkan karena saya ingin mengingat bagaimana rasanya mengantuk tanpa gangguan, bagaimana rasanya rindu pada esok hari tanpa harus menggulir lidah pada berita yang tidak penting. Saya ingin kembali bisa merindukan. Sebab kemampuan merindukan, seperti kemampuan memperhatikan, hanya dimiliki oleh mereka yang masih ingat bahwa hidup adalah sesuatu yang terjadi di antara konten, bukan di dalamnya.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/anatomi-lupa-catatan-tentang-doomscrolling-dan-hilangnya-kemampuan-merindukan/96411/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.15 WITA

  • #Doomscrolling
  • #Universitas Siber Asia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Pilihan Editor

  1. 1 Biaya yang Tak Masuk Inflasi
  2. 2

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  3. 3

    Perpres Ojol: Benarkah Pengemudi Sudah Mendapat Perlindungan yang Adil?

  4. 4

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  5. 5

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.