Surabaya, JurnalPost.com - Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) merupakan program yang dirancang oleh Dinas Pendidikan yang juga merupakan program rancangan dari Kampus Merdeka dengan tujuan untuk memastikan mahasiswa mendapatkan keterampilan serta kompetensi utama, terbaik, dan terkini demi menunjang masa depan karir mahasiswa. Program MSIB ini juga merupakan program magang yang dipercepat dan diakselerasikan dengan pengalaman belajar yang lebih baik. Melalui program MSIB, mahasiswa dapat belajar tentang bagaimana cara bekerja, menjalankan jobdesc, bertanggung jawab atas pekerjaan yang diberikan, serta bagaimana menjalin komunikasi dan job attitude baik dengan atasan maupun masyarakat berdasarkan kualifikasi pekerjaan dan instansi yang dipilih.
Program MSIB ini ditujukan untuk mahasiswa program studi apapun – sesuai dengan kualifikasi yang ditawarkan, dan untuk mahasiswa semester 5 sampai dengan 7. Pada tahun 2022, program MSIB Batch 3 telah menawarkan sebanyak lebih dari 100 kualifikasi pekerjaan dari beberapa perusahaan dan atau instansi milik pemerintah dan atau perusahaan lainnya. Salah satu instansi yang dipilih oleh penulis adalah instansi milik pemerintah daerah yaitu Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surabaya, dengan kualifikasi pekerjaan yaitu sebagai Pendamping Layanan Administrasi Kependudukan. Pada penempatan magang, pihak dispendukcapil sepakat untuk menyebarkan hampir 200 peserta magang ke seluruh kelurahan yang ada di Kota Surabaya.
Kota Surabaya memiliki 31 kecamatan dengan 154 kelurahan, dengan total jiwa sebanyak 2.827.892 jiwa serta luas wilayah sebesar 350,54 km². Berdasarkan data kelurahan yang menjadi tempat magang penulis adalah Kelurahan Menur Pumpungan. Kelurahan Menur Pumpungan terletak di Jalan Manyar III No. 1, Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Kelurahan ini menaungi sebanyak 10 RW dan 56 RT dengan total penduduk 16. 785 penduduk. Melihat tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi ini, pemerintah Kota Surabaya mencoba membuat inovasi teknologi berupa aplikasi untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan pendaftaran dan pencatatan dokumen kependudukan. Inovasi teknologi tersebut berupa Aplikasi e-klampid yang berevolusi menjadi Klampid New Generation pada masa pemerintahan Walikota Eri Cahyadi. Namun, pada realisasinya, aplikasi ini masih tergolong baru sehingga masyarakat masih gagap dalam penggunaannya.
Klampid New Generation adalah aplikasi yang dibuat oleh pemerintah daerah Surabaya yang memiliki fungsi untuk membantu pengurusan administrasi kependudukan secara online, mencakup perkawinan, kelahiran, kematian, pindah, dan datang serta pemutakhiran data penduduk. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas melalui program Magang Merdeka, Dispendukcapil membuka lowongan bagi mahasiswa sebagai peserta magang. Hal ini dikarenakan selain bisa digunakan sebagai tempat praktik belajar bekerja, mahasiswa juga dinilai mampu dalam mengakses dan belajar mengoperasikan aplikasi baru dengan cepat dan tepat. Tidak hanya itu, sosialisasi terkait aplikasi KNG masih terbilang kurang memadai sehingga jumlah masyarakat yang dapat mengaksesnya juga masih terbilang rendah.
Inovasi pelayanan masyarakat yang diinginkan pemerintah melalui upaya digitalisasi pun menjadi terhambat dan kurang efektif dikarenakan kurangnya wawasan masyarakat terkait aplikasi KNG. Namun, melalui survey lapangan juga masih ditemui kekurangan dalam penggunaan aplikasi KNG, diantaranya lambatnya akses / upload berkas, reset passowrd yang berulang – ulang sehingga menyebabkan terblokirnya user, dan masih banyak lagi. Hal ini terlihat dalam salah satu ulasan yang tertera di playstore terkait aplikasi KNG. Menyatakan bahwa “saya kasih bintang 3 karena mungkin maksudnya baik, untuk memudahkan pelayanan masyarakat... tapi.. seperti aplikasi – aplikasi lain bikinan pemerintah, selalu tidak sempurna... seperti aplikasi yang dibikin oleh orang yang tidak mahir dan berkompeten bikin aplikasi... tidak mudah digunakan, lelet.. untuk upload foto saja susah.. lama loadingnya..” ujar salah satu ulasan pengguna Klampid New Generation.
Berdasarkan hasil survey lapangan tersebut, mahasiswa sebagai golongan terpelajar dinilai harus mampu seminimal mungkin untuk mencerdaskan dan memberi sedikit wawasan terkait aplikasi tersebut kepada warga / masyarakat. Dimulai dari kelompok / individu terkecil seperti karang taruna, masyarakat dengan kisaran umur 15-20 tahun yang tidak gagap teknologi. Kelompok / individu tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengurus dokumen kependudukan. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan dapat memberikan wawasan tentang bagaimana cara akses aplikasi tersebut kepada liminduk yang bertugas untuk turun ke masyarakat. Sehingga masyarakat tidak perlu bingung dan bersusah payah untuk datang ke Kelurahan. Dengan cara – cara tersebut, diharapkan kehadiran mahasiswa sebagai peserta magang di seluruh kelurahan Surabaya dapat membantu upaya pemerintah dalam upaya digitalisasi dan memudahkan pengurusan dokumen melalui aplikasi Klampid New Generation. (hun)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda