Oleh: Nollis Indah Noer Fauziah Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon
JurnalPost.com - Pepatah banyak mengatakan “Carilah ilmu sampai ke Negeri China”, mungkin pepatah itu yang cocok untuk menggambarkan realitas hidup yang dialami Nono Juharno. Beliau merupakan seorang pensiunan guru, yang dalam meraih gelarnya harus beradu nasib di Kota orang dengan keterbatasan biaya.
Hanya dengan bermodalkan nekat dan rasa semangat belajarnya, ia rela meninggalkan kota kelahirannya (Kota Majalengka). Pada masa itu teknologi dan transportasi belum berkembang seperti sekarang, informasi mengenai jenjang perkuliahan di masa itu pun sangat terbatas, ditambah budaya di masyarakat yang mengabaikan pendidikan.
Akan tetapi, hal itu tidak membuat Juharna (panggilan akrabnya) patah semangat. Beliau selalu mencari informasi dengan mengandalkan koran bekas dan radio butut dirumahnya. Karena keterbatas ekonomi keluarga, yang membuatnya sedikit kesulitan untuk membeli koran edisi terbaru. Rasa optimis yang sangat besar untuk mengubah nasib keluarga, beliau tidak menghiraukan cemoohan dari tetangga sekitar. Banyak yang beranggapan bahwa untuk apa berkuliah? Bahkan dengan terang-terangan ada yang berkata “anak penjual emperan di pasar, sok banget pengen jadi sarjana!!! Mimpimu ketinggian!”. Hinaan dan cemoohan itulah yang membuat rasa semangatnya semakin menggelora untuk menjadi sarjana.
Awal mula ia tertarik untuk melanjutkan pendidikannya hingga jenjang Strata S-1, karena ingin membuktikan kepada semua khalayak bahwa orang kampung layak untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi dan ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Pada zaman itu menjadi seorang PNS merupakan dambaan yang dimiliki semua orang dan sangat jarang diminati didaerah-daerah yang masih pelosok, termasuk di desa Juharna yakni Desa Kulur. Masyarakat desa saat itu lebih cenderung tertarik untuk menjadi seorang juragan tanah daripada melanjutkan pendidikannya. Di samping karena kurangnya rasa ketertarikan terhadap pendidikan, keterbatasan biaya untuk bersekolah pun menjadikan alasan mereka untuk tidak melanjutkannya.
Selama beberapa tahun Juharna memendam keinginannya untuk meneruskan ke jenjang kuliah, karena melihat perekonomian keluarga yang serba pas-pasan. Dimana ayahnya hanya seorang tukang pandai (membuat golok, pisau, perkakas, dll) yang mendapatkan uang ketika ada pesanan saja dan mantan seorang pejuang kemerdekaan RI yang kurang dapat perhatian dari pemerintah. Ibunya berjualan diemperan pasar dengan penghasilan tak menentu di setiap harinya. Juharna merupakan anak kedua dari dua bersaudara, beliau memiliki seorang Kakak yang berprofesi menjadi supir elf dan hanya bersekolah sampai kelas 4 SD.
Sebelum memutuskan untuk merantau, Juharna sempat bekerja sebagai juru mesin tik atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan sekretaris di Polres Majalengka. Ia bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah guna bekalnya nanti ketika sudah merantau. Karena mengingat kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk membiayai perkuliahannya. Faktor ekonomi juga membuat beliau bersemangat untuk mencari pekerjaan yang layak, salah satunya dengan berusaha untuk berkuliah.
Hingga akhirnya, setelah merasa cukup uang yang didapat selama beberapa tahun bekerja, Juharna mengatakan keinginannya untuk berkuliah kepada kedua orangtuanya. Ketika pertama kali mengatakan ingin berkuliah, orangtua Juharna merasa kaget dan bingung. Juharna berkata kepada orangtuanya guna meyakinkan kedua orangtuanya “Bu, Pak... Aku ingin menjadi sarjana, ingin jadi PNS dan sukses...”. Setelah mempertimbangkan cukup lama, pada akhirnya orangtua Juharna mengizinkannya untuk berkuliah. Izin telah dikantongi, Juharna mencari informasi mengenai kampus melalui koran-koran bekas karena untuk membeli koran baru rasanya sangat mahal dan lebih baik menggunakan uang yang dimiliki untuk kebutuhan sehari-hari.
Setelah mencari mengenai informasi kampus, Juharna memantapkan pilihannya pada kampus IKIP Bandung yang sekarang berganti nama menjadi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung. Juharna dengan semangat mengumpulkan persyaratan-persyaratan untuk mendaftar dikampus tersebut, sebelum mengikuti ujian tertulis yang akan di selenggarakan setelah berhasil mendaftar persyaratan administrasi. Saat beliau akan mengirimkan persyaratan mendaftar di Kantor Pos Indonesia yang berada di Majalengka, ternyata pendaftaran untuk kampus IKIP Bandung telah ditutup. Rasa kecewa, sedih, malu dan bingung tak dapat terbendung dari diri Juharna. Beliau kemudian pulang dan memberitahu kedua orangtuanya bahwa pendaftaran telah ditutup dan koran yang dilihatnya ternyata terbitan bulan lalu, orangtuanya menenangkan dan memberi semangat masih ada kampus lain.
Bak angin segar ditengah kegundahannya, Juharna mendapatkan informasi yang berasal dari saudara jauhnya yang berada di Kota Sumedang. Bahwa disana terdapat kampus baru yaitu STKIP Sebelas April yang sekarang berganti nama UNSAP (Universitas Sebelas April), dengan semangat yang kembali menggelora ia kembali mendaftar dikampus saran dari saudara jauhnya. Pada saat memilih jurusan, ia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Setelah berhasil mendaftar dan lolos dikampus tersebut, Juharna memutuskan merantau ke Kota Sumedang.
Tak berselang lama, kabar mengenai persiapan Juharna untuk berkuliah dan merantau berhembus dipenjuru desa. Banyak yang mengatakan bahwa impiannya tidak akan terwujud dan secara terang-terangan meragukan kemampuan yang dimiliki Juharna. Hingga terdengar oleh keluarga Juharna, namun tak menurutkan tekat dan niat ia untuk berkuliah.
Setelah berkuliah di Kota Sumedang, Juharna tinggal di salah satu rumah warga sekitar kampus. Karena kesupelannya dalam bergaul menjadikannya banyak mempunyai teman dan kenalan, sehingga ia tidak merasa kesepian saat merantau jauh dari rumahnya. Sampai sekarang keluarga dari pemilik rumah tersebut menganggap Juharna adalah saudara mereka. Juharna cukup lama tinggal di Kota Sumedang, bahkan ia berencana untuk menjadi penduduk tetap disana. Akan tetapi, ia teringat kedua orangtuanya yang sudah cukup tua di kampung, hal itu menyebabkan Juharna kembali ke kota asalnya yaitu Kota Majalengka.
Ketika menunggu wisuda kampus yang cukup lama karena proses akreditasi. Untuk menambah uang jajan, ia aktif menjadi atlet voli di desa tempat ia tinggal dan beberapa kali menjadi sales keliling yang menawarkan produk-produk alat rumah tangga.
Sampai akhirnya ia berhasil lulus dan menyandang gelar Sarjana Pendidikan pada tahun 1989 dan mampu membuktikan bahwa orang kampung layak untuk bersekolah tinggi. Pada tahun tersebut juga ia berhasil menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS Guru) di SMPN 1 Majalengka. Beliau telah mengabdi menjadi guru selama 32 tahun, banyak suka duka yang telah dilewatinya. Serta membungkam mulut yang meragukan kesungguhannya dalam meraih cita-cita.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda