JurnalPost.com - Istilah Fear of Missing Out atau yang kerap disebut FOMO merupakan keadaan dimana seseorang mengalami rasa takut kehilangan yang mengacu pada persepsi bahwa orang lain lebih bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik daripada diri sendiri. Kejadian FOMO sangat melibatkan rasa iri yang mendalam dan dapat mempengaruhi diri sendiri.
Kejadian terkait FOMO bukanlah suatu hal yang baru dihadapi, namun sudah dipelajari sejak tahun 1996 oleh Dr. Dan Herman yang membuat artikel dan membahas tentang “Fear of Missing Out”. Pada saat ini pun kejadian FOMO kembali dikenal karena tingginya angka penggunaan sosial media oleh banyak kalangan, menurut laporan We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sudah mencapai sebanyak 191 juta orang pada bulan Januari 2022. Jumlah tersebut meningkat sebanyak 12,35% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 170 juta orang. Dengan angka pengguna media sosial yang jumlahnya cukup besar, tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu kelompok yang menggunakan media sosial tersebut adalah kalangan mahasiswa.
Kondisi yang saat ini dapat dilihat bahwa mahasiswa lebih sering menggunakan sosial media untuk berkabar dan juga menunjukkan kegiatan apa saja yang dilakukan ataupun dicapai. Melalui tingginya dan maraknya angka pengguna media sosial, mahasiswa yang umumnya saling terhubung satu sama lain melalui media sosial yang kemudian pada akhirnya dapat menimbulkan perasaan tidak ingin tertinggal dan merasa setiap hal yang dijalankan dan dicapai belum sebaik dengan yang orang lain kerjakan atau capai.
Melalui perasaan yang timbul pada diri setiap individu tersebut, akhirnya akan berdampak menimbulkan kegelisahan pada diri mereka dan berujung pada sebuah ketakutan, yaitu ketakutan untuk kehilangan momen. Situs media sosial telah menjadi pengaruh besar terhadap kejadian FOMO. Setiap individu dapat mengembangkan persaan juga emosi nya yang dikarenakan timbulnya rasa iri atau keinginan untuk dapat menjalani atau mencapai apa yang orang lain dapatkan. Media sosial juga telah menciptakan wadah yang mudah diakses dan menjadi pusat bagi orang-orang yang selalu update untuk mencari tahu apa yang dilakukan orang lain pada saat itu.
Hasil penelitian terkait FOMO yang dilakukan oleh Australian Psychological Society (APS) menghasilkan data bahwa remaja secara signifikan lebih besar kemungkinannya mengalami fenomena FoMo dibandingkan kelompok dewasa karena penggunaan media sosial yang tinggi. Artinya, media sosial sangat berpengaruh pada remaja dalam pembentukan identitas diri, juga didapatkan bahwa perempuan disebut lebih banyak mengalami FoMO daripada laki-laki.
Melalui ketertarikan seseorang terhadap penggunaan media sosial tentu tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang tersebut menimbulkan sifat FOMO pada diri mereka, konsekuensi negatif dari FoMO bagi remaja adalah masalah identitas diri, kesepian, gambaran diri negatif, timbulnya sifat obsesif, perasaan terpinggirkan, dan iri hati (Akbar dkk, 2018). Selain itu, menurut Anggraeni (2021), perasaan FOMO yang dialami dan dibiarkan dapat memberi dampak akan munculnya hal negatif seperti kelelahan, stress, depresi, bahkan masalah tidur. Perasaan tersebut mampu mempengaruhi ketidakpuasan seorang individu pada hidup mereka dan merasa apa yang telah dilakukan atau dicapai seakan tidak pernah cukup (selalu merasa kurang akan segala yang dimiliki). Tidak hanya menyebabkan permasalahan di atas, seseorang yang mengalami kejadian FOMO dapat menjadi lebih boros dan bersifat lebih impulsive karena lebih banyak mengeluarkan biaya untuk tetap up date supaya tidak merasa kalah dari yang lainnya.
Lalu, bagaimana cara untuk kita dapat menghindari atau mengurangi sifat FOMO pada diri kita? Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari sifat FOMO yang saat ini sedang marak terjadi dikalangan remaja, yaitu :
1. Merubah fokus akan hal yang kita lihat melalui media sosial supaya tidak merasa tertinggal dengan orang lain. 2. Lebih fokus terhadap diri sendiri. 3. Menghargai diri sendiri dan pencapaian yang sudah didapatkan, karena setiap individu memiliki ‘waktu’ nya sendiri untuk mendapat apa yang diinginkan. 4. Mencari koneksi yang nyata untuk dapat saling membantu satu sama lain dalam hal pengembangan diri. 5. Membatasi penggunaan media sosial dan gadget. 6. Bersyukur akan segala hal yang sudah dilalui dan dicapai, serta tidak membandingkan diri sendiri dengan individu lainnya.
Oleh: Rifa Kamila DwiQonita, Mahasiswa Universitas Airlangga
Sumber :
Akbar, dkk. 2018. KETAKUTAN AKAN KEHILANGAN MOMEN (FOMO) PADA REMAJA KOTA SAMARINDA. Psikostudia: Jurnal Psikologi. Universitas Mulawarman Samarinda : Samarinda. Anggraeni, Ellynda Kusuma. 2021. Fear Of Missing Out (FOMO), Ketakutan Kehilangan Momen. Diakses pada 6 Juni 2022 dari https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/13931/Fear-Of-Missing-Out-FOMO-Ketakutan-Kehilangan-Momen.html
Scott, Elizabeth. 2021. How to Deal With FOMO in Your Life : The Origin of FOMO and How It Affects Our Health. Diakses pada 6 Juni 2022 dari https://www.verywellmind.com/how-to-cope-with-fomo-4174664
We Are Social. Digital 2022: Another Year of Bumper Growth. Diakses pada 6 Juni 2022, dari https://wearesocial.com/uk/blog/2022/01/digital-2022-another-year-of-bumper-growth-2/
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda