Disusun oleh: Alexia Rosalyn Alamsyah (Universitas Negeri Surabaya)
JurnalPost.com - Belajar teori sastra sering kali dianggap rumit. Sebagian besar individu berpikir bahwa mempelajari teori sastra akan membuang-buang waktu karena manfaatnya tidak langsung terlihat. Namun, bagi saya, belajar teori sastra justru menjadi kunci untuk menafsirkan makna yang lebih dalam dari sebuah karya sastra. Berbagai teori memberikan wawasan luas dan unik tentang interpretasi karya sastra, dan dengan teori inilah saya dapat menganalisis suatu karya dengan tidak hanya di permukaannya saja, tetapi juga pada makna dan ide-ide tersembunyi di dalamnya. Dengan bantuan teori sastra, saya percaya bahwa proses mengapresiasi karya sastra menjadi lebih kaya dan bermakna.
Hal yang paling menarik bagi saya saat mempelajari teori sastra adalah tentang teori sastra konteks psikologis. Secara pribadi, saya cenderung menyukai karya sastra yang membuat saya merasakan sesuatu, membangun empati, dan membuat saya merenungkan bacaan tersebut. Teori sastra konteks psikologis membantu saya memahami bagaimana sebuah karya dapat memengaruhi kondisi internal pembaca. Ketika beberapa elemen psikologis terlibat dalam sebuah bacaan, hal tersebut mampu mendorong saya merasakan sensasi emosional tinggi, seolah-olah saya sedang terlibat dalam percakapan dengan karakter atau keadaan dalam buku tersebut, namun bukan secara fisik. Selain membuat proses membaca menjadi lebih imajinatif, proses ini juga membuat saya mampu untuk mengidentifikasi diri melalui respons emosional.
Selain pendekatan psikologis, saya juga mempelajari teori sastra dalam kaitannya dengan filsafat, tetapi teori ini ternyata lebih rumit dan berat. Kompleksitas itulah yang menjadi alasan utama mengapa saya semakin tertarik untuk memahami bagaimana konsep-konsep filosofis berperan dalam karya sastra. Faktanya, banyak orang berasumsi bahwa mempelajari filsafat dapat menjauhkan seseorang dari beberapa keyakinan. Stigma negatif inilah yang menjadi penghalang seseorang dalam mempelajari ilmu filsafat. Namun pada kenyataannya, ketika saya menelusuri konteks teori sastra dalam sudut pandang filosofis, hal itu menghasilkan interpretasi yang berbeda. Teori ini tidak membuat saya berpikir negatif, sebaliknya, teori ini membantu saya melihat masalah dalam hidup dari perspektif yang lebih kritis, terbuka, dan reflektif. Teori sastra filosofis membantu saya memahami bahwa sastra bukan hanya tentang cerita, tetapi juga aktivitas manusia lainnya untuk memahami eksistensi, kebebasan, moralitas, dan hubungannya dengan dunia.
Eksistensialisme adalah salah satu cabang teori sastra filosofis yang ingin saya pelajari lebih lanjut. Alasannya adalah karena saya penggemar Jean-Paul Sartre, dan saya bisa mengatakan bahwa dialah yang membawa saya ke dunia eksistensialisme. Salah satu karyanya yang berjudul Existentialism Is a Humanism, yang belum selesai saya baca, tetapi halaman-halaman awal buku ini sudah memberi saya wawasan luas dan pendekatan yang kuat terhadap tema kebebasan manusia, serta tanggung jawab manusia. Menurut Sartre, manusia telah dikutuk untuk bebas dan gagasan ini membuat saya mempertimbangkan kembali hubungan antara pilihan dan hasil dalam hidup. Selain Sartre, saya juga penggemar konsep Albert Camus (absurdisme) dan Franz Kafka, sebagai perwujudan kecemasan eksistensial yang menarik karena penulisan pribadinya. Dan sekarang saya sedang membaca The Metamorphosis, salah satu karya yang menunjukkan bagaimana transformasi mencekam pada tokoh utama bisa menjadi gambaran keterasingan manusia dan ketidakberdayaan mereka di hadapan kehidupan.
Saya tidak sependapat dengan beberapa orang yang mengatakan bahwa membaca sastra lama tidak lagi relevan pada dunia sekarang. Kenyataannya, karya-karya lama justru memberikan pandangan sejarah yang dapat dibandingkan dengan kondisi saat ini. Membaca literatur kuno tidak hanya meremajakan pemikiran masa lalu, tetapi juga memperluas pengetahuan kita tentang bagaimana manusia telah berkembang selama berabad-abad dan bertindak sesuai dengan lingkungan sosial, politik, dan moral pada saat dia hidup.
Suatu kali, saya mencoba menganalisis sebuah film yang dianggap emosional dan berat oleh banyak penonton, yaitu Dead Poets Society. Saya bisa melihat alasan mengapa film ini menjadi sangat terkenal setelah menontonnya. Film ini berkisah tentang kehidupan remaja yang sedang dalam proses penemuan diri, sebuah proses yang penuh dengan gejolak psikologis dan dilema filosofis tentang tujuan hidup. Karakter-karakter tersebut berada di bawah tekanan akademis dan sosial, masalah identitas pribadi, kebebasan, serta ekspektasi keluarga.
Film ini menyajikan skenario bagaimana remaja biasanya berada di persimpangan jalan, di mana penerimaan berkonflik dengan ekspresi diri. Konflik internal karakter Neil ini dapat diartikan sebagai ketidaksesuaian antara dirinya yang sebenarnya dan citra yang telah ditanamkan oleh lingkungan dan keluarga. Melalui pendekatan psikologis, saya dapat mengamati pengaruh faktor eksternal terhadap proses pembentukan identitas diri dan bagaimana kegagalan mengungkapkan suara batin yang juga sangat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Dari analisis ini, jelas bahwa eksistensialisme mulai berpengaruh, memberikan pemikiran mendalam tentang aspek kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab pribadi.
Carpe diem dalam film ini bukan hanya seruan untuk hidup, tetapi juga pesan eksistensialis dan sudah waktunya untuk cukup berani membuat keputusan sadar dalam hidup. Logikanya, eksistensialisme tidak mampu berdiri sendiri tanpa keberanian. Contoh karakternya adalah Todd, yang tidak dapat mengatasi bayang-bayang ketakutan dan keraguan untuk menjadi dirinya sendiri. Meskipun proses penerimaannya lambat, namun hal ini menunjukkan bagaimana orang membangun hidup mereka dalam hal aktivitas kecil, jujur, dan otentik. Saya menggunakan analisis itu untuk menyadari bahwa proses karakter dalam film ini bukan hanya proses emosional, tetapi juga proses keberanian untuk menciptakan makna hidup secara sadar.
Melanjutkan dua teori paling berpengaruh dalam hidup saya serta yang membangkitkan rasa ingin tahu saya, dalam proses belajar saya tentang teori sastra, saya juga mendapatkan materi teori-teori lain yang sama pentingnya. Pertama adalah teori sastra struktural yang menawarkan wawasan tentang bagaimana plot, tokoh, latar, dan tema saling berhubungan. Teori ini membuat saya menyadari bahwa sebuah karya tidak terjadi secara kebetulan, melainkan karena dibangun melalui sistem yang terkoordinasi dan saling terhubung. Selanjutnya, teori sastra konteks sosiologis adalah salah satu teori yang cukup sering dibahas selama perkuliahan. Saya dulu mempertanyakan mengapa porsi yang begitu besar diberikan pada teori ini, tetapi seiring berjalannya waktu, saya mulai menghargai fakta bahwa karya sastra tidak pernah terlepas dari konteks sosial tempat mereka diciptakan. Pertimbangannya adalah bahwa struktur sosial bersifat dinamis dan tiap saat sering menciptakan sebuah konflik.
Dalam batas-batas sosiologi, sastra adalah potret masyarakat, dan di dalamnya, ketidaksetaraan, nilai-nilai budaya, dan bahkan konflik sosial yang ada pada waktu tertentu dapat diidentifikasi. Dengan bantuan teori ini, saya memahami bahwa semua cerita memiliki hubungan dengan realitas sosial yang lebih luas. Selain itu, ada teori sastra interdisipliner, yang mengakhiri semester pertama, juga dipresentasikan sebagai salah satu teori untuk memahami karya sastra melalui kombinasi beberapa disiplin ilmu sekaligus. Ini adalah teori yang sangat rumit, yang menunjukkan bahwa sastra dapat diperiksa dari sudut pandang wawasan filsafat, sosiologi, psikologis, antropologis, sejarah, ilmu komunikasi, dan bahkan politik. Melalui ketiga teori lainnya inilah saya perlahan-lahan menyadari bahwa sastra bukan hanya sekadar teks, tetapi jendela menuju banyak dimensi kehidupan manusia.
Secara keseluruhan, mempelajari teori sastra baik dari aspek psikologis maupun filsafat, serta tiga teori terakhir, sangat memengaruhi persepsi saya terhadap sebuah karya sastra serta seluk-beluk kehidupan. Teori-teori ini tidak hanya membuat saya tahu cara membaca atau menonton, tetapi juga menafsirkan, menganalisis, dan merenung. Pertimbangan inilah yang semakin menyadarkan saya bahwa sastra bukan sekadar hiburan, tetapi salah satu sarana untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang pengalaman manusia. Teori sastra pada awalnya tampak tidak terlalu mudah bagi saya, tetapi saya mulai memahaminya sebagai jembatan antara saya dan beberapa ide, pikiran, serta pertanyaan besar tentang manusia dan dunia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda